My Wife Drabia

My Wife Drabia
44.Yang paling rumit


__ADS_3

"Ansel, semua para investor ingin menarik saham mereka. Dan akan mengalihkannya ke perusahaan bar."


Ansel mengentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Ciko.


"Kenapa?, apa yang terjadi sampai para investor ingin menarik saham mereka?" tanya Ansel.


"Tentu karna pembagian hasil. Perusahaan baru itu menawarkan pembagian hasil yang lebih tinggi di banding perusahaan ini" jelas Ciko.


Ansel menghela napasnya kasar. Dua Tahun belakangan ini perusahaan itu sudah berada di ambang kehancuran, meski masih bisa bertahan.


Sekarang apa yang harus ia lakukan.Dia tidak akan sanggup jika harus menaikkan harga saham lagi. Jika memaksa menaikkannya sama saja akan membuat perusahaan akan bangkrut juga, dan bahkan bisa terlilit hutang.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ansel melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif, meninggalkan ciko begitu saja tanpa memberikan sedikitpun solusi.


Sampai di parkiran mobilnya, Ansel langsung masuk ke dalam mobil. Ansel menyugar kasar rambutnya ke belakang, lalu menyandarkannya ke setir mobil. Begitu berat cobaan yang dia hadapi, Ansel tak sanggup lagi.


"Drabia, kamu dimana?" lirihnya.


Andaikan saja Drabia ada di sisinya, mungkin Ansel akan lebih kuat menghadapi setiap cobaan. Tapi istrinya itu bersembunyi entah dimana. Ansel sudah menyuruh orang mencarinya kemana mana, namun tak di temukan.


**


Di lantai teratas gedung perusahaan itu, Ibu Nimas marah marah pada Ciko. Karna mendengar investor perusahaan itu ingin menarik saham masing masing, jika harga saham mereka tidak di naikkan.


"Emang perusahaan mana yang menawarkan harga saham lebih tinggi dari perusahaan ini?" tanya Ibu Nimas pada Ciko yang berdiri do depannya.


"Perusahaan Citra Indah Bu Nimas" jawab Ciko sedikit menunduk, karna wanita paru baya itu menatapnya horor.


"Cintra Indah?" gumam Ibu Nimas, matanya memicing memikirkan siapa pemilik perusahaan yang baru berdiri setahun yang lalu itu.


"Perusahaan itu menawarkan harga saham jauh di atas harga saham perusahaan ini" ucap Ciko.


"Kalau begitu naikkan harga saham perusahaan ini" perintah Ibu Nimas tanpa berpikir.


"Perusahaan ini sudah sangat terpuruk semenjak Pak Ilham menarik sahamnya Bu. Untuk menutupi kekurangan saham perusahaan ini. Ansel terpaksa meminjam uang ke Bank dan menguras seluruh tabungannya. Dan pinjaman perusahaan ini juga belum lunas. Jika harga saham mereka di naikkan, perusahaan ini tidak akan mendapat untung apa apa Bu" jelas Ciko.


'Siapa sebenarnya pemilik perusahaan itu?. Masih baru, tapi sudah mampu bersaing dengan perusahaan perusahaan besar' batin Ibu Nimas.


"Kalau begitu saya permisi Bu" pamit Ciko.


"Kalau begitu aku juga pergi Tante. Buat apa aku di sini, anak Tante gak menyukai aku. Dan Juga aku gak mau juga sama anak Tante kalau perusahaannya bangkrut" ujar gadis bernama Inara itu menlongos pergi.


"Kalau begitu, kembalikan tas, kalung dan sendal yang kubelikan tadi sama kama!." Ibu Nimas mengejar Inara dan langsung menarik tas yang dipakai gadis itu.


"Ini ambil aja, aku bisa mencari calon suami yang lebih kaya." Inara mengembalikan tas di tangannya dengan kasar ke tangan Ibu Nimas lalu pergi.

__ADS_1


**


Di tempat lain, seorang pria bertubuh sedikit gendut membuka pintu ruangan no satu perusahaan itu. Wanita cantik di dalam ruangan itu langsung tersenyum ke arahnya.


"Bagaimana?" tanya pria itu.


Wanita berpakaian syar'i itu menganggukkan kepalanya," berhasil" ucapnya.


"Tapi aku kasihan padanya" ucapnya meneduhkan pandangannya.


Pria tua itu pun menghela napasnya, dia juga kasihan dengan orang yang mereka hancurkan perusahaannya." Setelah ini kamu bisa membantunya" ucap pria itu.


Wanita cantik itu mengangguk.


Tok tok tok!


"Masuk!" sahut Drabia saat mendengar seseorang mengetok pintu ruangannya.


Seorang pria wanita berparas cantik masuk dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Drabia, Ansel akan menjual perusahaannya. Apa kamu akan berniat membelinya?" tanya wanita itu.


"Bagaimana menurutmu?" tanya wanita bernama Drabia itu.


"Hm! lakukanlah" perintahnya pada sahabatnya itu.


"Bagaimana dengan Ansel?" tanya Lea lagi.


Drabia menghela napasnya panjang.


"Tenang saja, dia akan baik baik saja." Pak Ilham yang menjawab.


"Baiklah, aku akan menyuruh orang sebagai perwakilan menemui Ansel" ujar Lea.


"Hm! sekarang ayo kita pulang" ajak Drabia berdiri dari tempat duduknya.


"Yuk!" balas Lea


Sedangkan Pak Ilham, ia mendudukkan tubuhnya di kursi kerja Drabia. Dan melanjutkan pekerjaan putrinya itu.


Sampai di parkiran, Drabia langsung masuk ke dalam mobilnya, melajukannya menuju rumah. Tentunya rumah barunya setelah pulang dari luar Negri. Begitu juga dengan Lea, dia pun melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.


**


"Ansel, kamu serius mau jual perusahaan ini?" tanya Ciko pada Ansel yang sibuk di depan laptopnya.

__ADS_1


"Aku gak sanggup lagi untuk mempertahankan perusahaan ini. Mungkin sampai di sini aja rezekinya" jawab Ansel dengan wajah bersedih.


Perusahaan itu adalah peninggalan mendiang sang papa. Pasti sang Papa dulu tidak mudah untuk membangunnya. Dan kini hancur di tangannya.


Ciko menepuk pelan bahu Ansel." Aku yakin, suatu saat kamu bisa sukses kembali. Sukses dengan usaha yang kamu bangun dari nol" ucapnya memberi semangat.


"Aku akan membangun usaha restoran dengan sisa uang yang kumiliki. Aku berharap kamu masih mau membantuku" ujar Ansel mengulas senyumnya, meski raut sedih di wajahnya masih terlihat.


"Tentu, kita akan berjuang bersama" balas Ciko.


"Kita akan berjuang bersama" tiba tiba Dafa datang menyambung pembicaraan mereka.


"Perwakilan dari perusahaan Citra Indah besok akan datang meninjau perusahaan inj. Setelah itu baru mereka akan membicarakan harga" ujar Dafa mendudukkan tubuhnya di sofa.


Ansel mengangguk lemah tak berdaya. Ciko dan Dafa pun hanya bisa menandang kasihan kepadanya.


"Siapa sebenarnya pemilik perusahaan itu?" tanya Ciko penasaran.


"Gak tau, dengar dengar katanya perempuan" jawab Ansel.


"Kalau masih muda, setelah membeli perusahaan ini. Semoga wanita itu jodohku, amin!" ujar Ciko mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.


Dafa dan Ansel langsung memutar mata. Di antara mereka bertiga, Ciko yang belum menikah. Sedangkan Dafa sudah menikah setahun lebih yang lalu.


"Ini sudah sore. Aku pulang dulu. Hari ini istriku menjemputku, dia sudah di bawah" pamit Dafa berdiri dari tempat duduknya.


"Aku gak punya istri, jadi aku di sini aja" balas Ciko menekuk bibirnya ke bawah.


"Makanya menikah, cari cewek" ledek Ansel tersenyum.


"Kamu aja istrinya gak pulang pulang" balas Ciko.


Ansel menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu menghela napasnya." Aku yakin, suatu hari nanti, dia akan pulang. Kami akan menjalani hidup bahagia penuh dengan cinta." Ansel mengulas senyumnya, membayangkan suatu hari nanti, mereka akan menjalani hidup berumah tangga, dan di karuniai satu anak laki laki, satu perempuan.


"Semoga saja, istrimu menerima kemiskinanmu" tambah Ciko yang dari tadi duduk di meja kerja Ansel.


"Dia akan menerimaku apa adanya" Ansel memperbaiki posisi duduknya sambil menghela napas kasar." Yang menjadi permasalahan kami adalah Ibuku" lanjutnya.


"Sampai saat ini, Ibuku masih tidak bisa menerima Pak Ilham dan Drabia. Aku rasa Drabia juga begitu. Itu yang paling rumit untuk kuhadapi."


* Bersambung


#Otor mau nangis😭😭😭😭😭, gak ada yang komen. Otak otor jadi buntu, tingkat kehaluannya semakin lemah.


#Gak seru ya ceritanya?😒😒😒😒

__ADS_1


__ADS_2