
"Baguslah kalau kamu suka" ucap Ansel, tangannya mengusap lembut perut Drabia. Membuat Drabia mengerutkan keningnya. Dari semalam suaminya itu sering kali mengusap dan mencium perutnya.
"Kenapa?" tanya Ansel melihat kerutan di kening istrinya.
"Dari semalam kamu terus mengusap usap perutku. Seolah olah aku sudah hamil" jawab Drabia.
Ansel semakin merekahkan senyumnya, lalu mengecup singkat pipi Drabia, tanpa melepas tangannya dari perut yang masih terlihat rata itu.
"Dia sudah ada di sini" ucap Ansel. Kening Drabia semakin mengerut." Kemarin saat Dokter memeriksa keadaanmu. Mereka menemukan dia ada di dalam sini" jelas Ansel.
"Dia?" Drabia semakin bingung.
"Buah cinta kita" Ansel menurunkan tubuhnya lalu mengecup perut Drabia." Kata Dokter, di dalam sini ada anak kita" ucap Ansel lagi, kembali menegakkan tubuhnya.
Drabia terdiam dan memandangi wajah Ansel yang berbinar bahagia, sambil tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
"Benaran? kenapa baru bilang sekarang?." Jantung Drabia terasa berdebar kencang mendengar apa yang di katakan Ansel.
"Karna aku ingin menikmati kebahagiaan itu sendiri dulu."
Bukh!
"Aw! sakit sayang" keluh Ansel karna Drabia memukul dadanya.
"Kamu curang" ucap Drabia cemberut kemudian menangis terisak."Hiks hiks hiks...!."
"Hei" Ansel menangkup dagu Drabia.
"Kamu curang!" tangis Drabia, bibirnya di tekuk ke bawah menagis seperti anak kecil.
"Kamu yang ajarin aku curang sayang. Kamu dulu suka ngerjain aku" ujar Ansel menghapus air mata Drabia dengan tangannya.
"Itu kan dulu, udah lama masih di ingat ingat" balas Drabia masih menangis terisak.
"Kamu suka ngerjain orang, di kerjain dikit gak tahan" ucap Ansel lagi tersenyum. Dia memang berniat mau mengerjai Drabia dengan tidak memberi tahu Drabia dulu tentang kehamilannya.
Drabia semakin menekuk bibirnya ke bawah.
"Trimakasih ya, sudah mengandung anakku" ucap Ansel lalu mengecup lama kening Drabia.
"Dia juga anakku" cetus Drabia. Enak aja Ansel bilang 'anakku, anakku.' Yang mengandung siapa?, yang lahirin nanti siapa?, yang nyusui juga siapa?.
"Iya deh! anakmu juga" Ansel mengelah melihay wajah istrinya itu masih kesal.
__ADS_1
Melihat masakan ikan mas arsiknya mulai mengering. Ansel pun menurunkan Drabia dari meja masak, Membawanya ke arah meja makan.
"Duduklah, biar aku yang melayanimu" ucap Ansel setelah mendudukkan tubuh Drabia di kursi meja makan.
Drabia mengangguk patuh, ia pun mengusap usap perutnya dengan wajah berbinar. Benarkah dia sudah hamil?. Oh Tuhan, rasanya Drabia tidak yakin. Tapi tidak mungkin Ansel berbohong untuk masalah itu.
Ansel pun memindahkan masakannya ke atas piring saji, lalu membawanya ke meja makan. Kemudian Ansel menyiapkan peralatan makan untuk mereka. Tidak lupa nasi putih dan air putih di dalam teko.
"Makasih suamiku!" ucap Drabia melihat Ansel melayaninya dengan baik.
Cup
Ansel membalasnya dengan mengecup ujung kepala Drabia yang di tutup hijab.
'Maaf sayang, dulu aku begitu tidak menghargai masakanmu. Mulai sekarang, aku akan membayar usahamu dulu untuk menaklukkanku. Dengan melayanimu seperti ini' batin Ansel. Ingat awal pernikahan, ia tak menghargai usaha Drabia sama sekali.
"Makanlah" ujar Ansel setelah duduk di samping Drabia.
Drabia mengangguk senang, air liurnya terus berdesir melihat ikan mas yang dibaluri bumbu bumbu, padahal ikannya belum sampai ke mulutnya.
Dengan semangat Drabia pun mencubit daging ikan itu lalu menyuapkannya ke mulutnya, mengunyahnya perlahan, menikmati rasa ikan itu dengan hikmat.
"Enak" ucapnya mencubit daging ikan itu kembali.
"Kamu gak makan?" tanya Drabia melihat Ansel diam saja.
"Makan sayang, aku hanya ingin melihat reaksimu memakan masakanku" jawab Ansel.
"Masakanmu enak, makanlah. Bukankah kamu harus bekerja lagi?" Drabia mengingatkan, jangan sampai suaminya itu bolos kerja lagi, seperti beberapa hari kemarin.
"Kerja Bu Bos" pasrah Ansel, padahal ia masih ingin menghabiskan waktu dengan istri dan anak mereka yang baru numbuh.
"Hm!" dehem Drabia sibuk menikmati masakan suaminya.
Ansel pun mengisi piringnya dengan nasi, lalu ikut mencubit ikan mas dari piring saji.
selesai makan Ansel dan Drabia langsung kembali ke kamar, untuk bersiap siap berangkat kerja.
"Sayang, kamu ikut ke kantor ya." Ansel yang sudah selesai bersiap mendekati Drabia yang duduk di sofa.
"Aku lagi malas" ucap Drabia.
"Aku masih kangen sama anak kita" Ansel mendudukkan tubuhnya di samping Drabia, lalu mengelus elus perut ke kenyangan itu.
__ADS_1
"Nanti aku datang mengantar makan siang" balas Drabia mengusap kepala Ansel yang bermanja di pundaknya.
"Gak sayang, nanti kamu nyetir, gak boleh." Ansel mengangkat kepalanya daru baru Drabia." Mulai sekarang kamu gak boleh nyetir lagi. Gak boleh pergi sendiri tanpa aku lagi. Aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi. Aku gak yakin, jika Kevin tidak balas dendam sama kita" oceh Ansel.
Drabia pun terdiam, mendadak kawatir dengan keselamatannya dan keluarganya.
"Sepertinya kita butuh keamanan tambahan di rumah ini dan rumah Ayah. Dan juga harus menyewa bodyguard untuk menjaga kita bepergian kemana mana" desah Ansel.
Ia tidak boleh anggap enteng lagi dengan keselamatan mereka, apa lagi saat ini Drabia sedang hamil. Ansel harus ekstra menjaga Drabia. Ansel yakin, meski Kevin nanti masuk penjara lagi, tapi pria itu pasti memiliki orang suruhan.
"Kamu benar" Drabia pun setuju dengan apa yang di katakan Ansel.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu. Gak usah mengantar makan siang. Biar nanti aku aja yang pulang." Ansel mengecup bibir Drabia lantas berdiri dari tempat duduknya." Gak usah di antar, di sini aja" ujarnya, melihat Drabia akan berdiri.
Saat Drabia menyalam tangannya dengan hormat. Ansel pun menjatuhka satu kecupan lagi di ujung kepala Drabia, lalu pergi.
**
Sampai di perusahaan, Ansel tidak lagsung masuk ke ruangannya, melainkan ke ruangan Ciko. Ya, sekarang Ciko menjadi asistennya di perusahaan Drabia. Sedangkan Dafa, di angkat menjadi Direktur di perusahaan bekas perusahaannya.
"Cik, ke ruanganku sebentar" ujar Ansel langsung berlalu.
Ciko langsung berdiri dari kursinya, memenuhi panggilan bosnya. Sampai di ruangan Ansel, Ciko langsung duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ansel tanpa di suruh.
"Ada apa?" tanya Ciko.
"Rekrut security perempuan, yang bisa bela diri, dan sudah memiliki ijin menggunakan senjata api, enam orang" jawab Ansel mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Untuk apa?"Ciko mengeryitkan keninganya ke arah Ansel.
"Untuk menjadi pengawal pribadi Drabia. Aku tidak mau sampai kejadian kemarin terulang kembali. Mulai saat ini dia harus di kawal kemana mana dua puluh empat jam" jelas Ansel.
"Dan tambahkan Security untuk menjaga rumah Ayah dan rumah kami" tambah Ansel lagi.
"Baiklah, itu saja?" tanya Ciko memastikan.
"Supir pribadi perempuan untuk Drabia" tambah Ansel.
"Ada lagi?" tanya Ciko lagi.
"Itu saja" jawab Ansel.
*Bersambung
__ADS_1