
"Ansel, ayo bangun, ini sudah pagi." Drabia menggoyang sedikit lengan Ansel yang terlelap di sampingnya.
Ansel yang terusik, bukannya langsung bangun, malah menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Ansel, kita harus subuhan lagi" ucap Drabia melihat Ansel enggan untuk bangun.
"Sebentar lagi ya, ngantuk banget" gumam Ansel dengan suara paraunya.
Wajar saja dia masih mengantuk, tadi malam dia sering terbangun karna mendengar baby Shaka dan baby Salwa bergantian menangis, karna haus, buang air kecil dan air besar. Belum lagi ia harus membantu Drabia jika ingin ke kamar mandi.
Drabia mengelus lembut wajah tampan yang tepat berada di depan wajahnya, memandangi wajah itu sepuasnya, lalu mengecup kening pria itu. Membuat Ansel membuka mata melihat wajah Drabia yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu usah kurus karna mengurus aku dan anak anak" ucap Drabia lalu menjeda kalimatnya." Kamu juga butuh istirahat dengan baik. Karna kalau kamu sampai sakit, siapa yang akan mengurus kami?." Drabia menyugar rambut Ansel ke belakang sehingga menampakkan seluruh permukaan kening pria tampan itu."Biarkan Shaka dan salwa di urus sama baby sister, apa lagi di malam hari, supaya tidurmu tidak terganggu, saat bangun pagi tubuhmu terasa bugar."
"Aku sudah terbiasa tidur dengan Salwa di kamar ini, bahkan kami sama sama tidur si atas kasur ini. Jangan memisahkan kami, sayang. Dan Shaka, dia baru bersama kita, dia butuh perhatian langsung dari kita sebagai orang tua kandungnya. jadi, aku gak mau menyerahkan pengasuhan mereka kepada baby sister" tolak Ansel.
"Tapi Ansel, kamu harus bekerja lagi. Kalau aku sehat, gak masalah" jelas Drabia.
Cup!
"Jangan kawatir, ada Dafa dan Ciko yang membantuku. Kalau ngantuk, aku bisa tidur siang di kantor" ucap Ansel setelah mengecup kilas bibir Drabia.
Ansel pun mendudukkan tubuhnya, turun dari tempat tidur, Ansel langsung mengangkat tubuh Drabia dari atas kasur, membawanya ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, membawanya kembali keluar.
Di dalam kamar ternyata baby Shaka dan baby Salwa sudah bangun, berdiri di dalam box bayi masing masing.
"Sayang, kita shalatnya gantian ya" ucap Ansel meletakkan tubuh Drabia di atas kursi roda.
Drabia mengangguk, ia pun mendorong kursi rodanya ke arah box bayi, untuk menemani kedua bayi bayi menggemaskan itu.Dan Ansel, ia shalat terlebih dahulu.
Selesai shalat, kini giliran Ansel yang menemani ke dua bayi bayi itu. Supaya tidak menangis dan mengganggu ketika Drabia Shalat.
"Sayang, kalian ikut ke kantor aja ya" ajak Ansel melihat Drabia sudah selesai melaksanakan kewajibannya.
__ADS_1
"Nanti kami mengganggu di sana" tolak Drabia sambil membuka mukenanya.
Ansel mendekati Drabia untuk menyimpan peralatan shalat mereka.
"Gak apa apa, saat ini perkerjaanku lagi gak banyak. Dan juga aku pasti akan bertambah semangat kalau ada kalian." Ansel memeluk Drabia dari belakang, membujuk istrinya itu supaya mau ikut ke kantor." Para karyawan pasti sudah merindukanmu" ucap Ansel lagi.
"Baiklah!" ujar Drabia mengulas senyumnya. Ia sudah lama sekali tidak ke perusahaan. Dia rindu dengan suasana kantor.
Ansel pun mengecup pipi Drabia dari samping, lalu melepas pelukannya.
Selesai bersiap siap, Ansel pun membawa istri dan kedua anaknya ke luar kamar untuk sarapan ke ruang makan. Setelah itu, lalu membawa mereka ke perusahaan.
"Bi Nina duduk di depan aja" ucap Ansel pada wanita paru baya yang sudah lama bekerja dengannya itu.Ansel sengaja membawa Bi Nina, untuk membantu Drabia mengurus baby Shaka dan baby Salwa.
"Iya Pak" balas Bi Nina, membuka pintu kursi penumpang depan, lalu masuk dengan membawa tas yang berisi perlengkapan baby Shaka dan baby Salwa.
Sedangkan Ansel dan Drabia sama sama duduk di kursi penumpang belakang, bersama baby Shaka dan baby Salwa di pangkuan mereka masing masing.
Tanpa menjawab, sang supir yang akan mengantar mereka pun langsung melajukan kenderaannya, membawa ke empat majikannya menuju perusahaan.
Sampai di perusahaan, Ansel langsung membawa keluarga kecilnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ansel!" Drabia mengangkat kedua alisnya melihat ruang kerja Ansel yang sudah seperti ruangan bayi. Ada box bayi, ayunan, tempat bermain yang di penuhi berbagai macam mainan.
"Aku ingin kita sering sering menghabiskan waktu bersama. Karna sudah terlalu banyak waktu yang yang kita lewatkan begitu saja" ucap Ansel sambil mendorong kursi roda Drabia masuk ke dalam ruangan itu.
"Kamu benar" balas Drabia mengulas senyumnya. Drabia pun berdiri dari kursi rodanya, melangkahkan kakinya perlahan ke arah box tempat bermain baby Salwa, dan masuk ke dalamnya bersama baby Shaka di gendongannya.
Ansel pun memindahkan baby Salwa ke dalam box tempatnya bermain selama ini, ketika Ansel bekerja.
"Kalau begitu, aku tinggal dulu, pagi ini aku ada meeting bersama karyawan." pamit Ansel, mengecup kening kesayangan kesayagan itu, lalu pergi keluar dari ruangan itu.
Sepeninggal Ansel, Drabia mengajak kedua anaknya bermain, dengan memainkan mainan anak anak yang ada di dalamnya. Sampa kedua bayi itu lelah dan mengantuk. Drabia pun membaringkan ke dua bayi itu di kiri dan kanannya, kemudian mengusap usap kepala keduanya. Sehingga tak sadar Drabia juga ikut ke tiduran.
__ADS_1
Ansel yang sudah selesai meeting, keluar dari ruang rapat bersama Dafa dan Ciko. Jika Dafa kembali ke perusahaan cabang. Ciko masuk ke dalam ruangannya, begitu juga dengan Ansel.
"Sayang!" panggil Ansel setelah berhasil mendorong pintu di depannya sembari melangkah masuk.
Drabia tidak menyahut, ternyata istrinya itu ikut ke tiduran di dalam box tempat bermain anak anak mereka. Ansel mengulas senyumnya, melihat ketiga kesayangannya itu tertidur pulas.
Cup!
"Sayang!" panggil Ansel dengan lembut setelah mengecup kening Drabia. Namun istrinya itu masih bergeming, tidak terusik sama sekali, padahal Drabia ketiduran dengan posisi duduk bersandar di dinding box besar tempat khusus bermain anak anak itu.
"Lelap banget tidurnya" gumam Ansel, mengulurkan satu tangannya mengelus elus lembut pipi Drabia sambil memandanginya tanpa menyurutkan senyumnya. Jari telunjuknya pun perlahan berjalan ke arah alis Drabia, mengelus ke dua alis itu, turun mengelus hidungnya, terakhir mengelua bibir lembut itu.
Hap!
"Aaa!" teriak Ansel tiba tiba saat merasakan sakit di jari telunjuknya, karna di gigit Drabia secara tiba tiba." Drabia!" geram Ansel mengibas ibaskan tangannya.
Drabia yang telah membuka mata, tersenyum lalu tertawa cekikikan. Ia pun meraih tangan Ansel yang terasa sakit. Meniup niup telunjuk pria itu, supaya sakitnya hilang.
"Kenapa sih sayang, kamu jahil banget?. Gak berubah dari dulu" rajuk Ansel manja, cemberut.Istrinya itu masih tidak berubah, masih jahil dan nakal.
"Aku gemas melihat wajah tampan mu itu" jawab Drabia, lalu mengecup punggung tangan Ansel tanpa melepas netranya dari wajah pria itu.
Ansel kembali mengulas senyumnya, lalu mengangkat tubuh Drabia, membawanya ke kursi meja kerjanya, lalu duduk memangkunya.
"Trimakasih sudah mencintaiku, Drabia istriku" ucap Ansel memeluk erat tubuh Drabia.
Drabia mengelus tangan Ansel yang melingkar di perutnya. Mengangguk sembari mengulas senyumnya.
"Trimakasih juga"
*Tamat
#Trimakasih buat readers yang semua yang sudah membaca karya receh otor ini. bay....peluk cium untuk kalian semua.
__ADS_1