
"Begini Pak Ansel, hasil chek lab kami mengatakan istri anda berada di bawah pengaruh obat tidur yang terus menerus, sehingga sukar baginya untuk terbangun" jelas Dokter Wildan setelah membaca surat hasil lab di tangannya.
"Jadi maksud Dokter selama ini istri saya tidak benar mengalami koma?." Rahang Ansel terlihat mengeras menahan emosi.
"Kami tidak tau pasti apakah istri Anda sempat mengalami koma atau tidak. Yang jelas cairan infus yang masuk ke tubuh istri anda mengandung obat tidur" jelas Dokter Wildan.
"Dasar kepar*t"
Tanpa permisi Ansel keluar dari ruangan Dokter Wildan, yang langsung di cegah oleh Ciko.
"An, mau kemana?, sabar" ucap Ciko menarik tangan Ansel kembali ke ruangan Dokter Wildan.
"Kemana lagi kalau bukan untuk memberi pelajaran Dokter sialan itu" jawab Ansel. Ansel begitu marah dan emosi sampai wajahnya terlihat merah, urat lehernya hampir keluar, tangannya terkepal sangat kuat.
"Tenang An, bukan sekarang waktunya. Kamu fokuslah merawat istrimu. Biar Dokter dan perawat itu menjadi urusanku." Ciko mendudukkan tubuh Ansel ke kursinya tadi.
"Gak Cik, aku harus memberi pelajaran Dokter itu dengan tanganku sendiri." Ansel berdiri kembali dan ingin pergi, namun langsung di tahan oleh Ciko.
"Nanti, tenanglah. Aku sudah menyuruh orang untuk mengamankannya sebelum menyerahkannya ke pihak berwajib. Nanti kamu bisa memukulinya sepuasmu, Okeh!." Ciko memeluk pria beranak satu itu posesif, sambil mengelus elus dadanya, supaya emosi sahabatnya itu turun.
"Istigfar An" ucap Ciko lagi.
"Astagfirullohal 'azim" gumam Ansel terus beristigfar dalam hati. Dan benar, emosinya langsung turun, tubuhnya yang tadi sempat tegang, langsung terasa rileks.
"Saat melakukan operasi, di ruangan itu tidak hanya ada satu Dokter. Bisa dua atau tiga, dan pasti di sana ada mahasiswi calon Dokter yang membantu, di tambah perawat. Untuk memastikan apakah istri Anda sempat mengalami koma, kalian bisa menanyakan pihak rumah sakit itu" ujar Dokter Wildan.
"Akan kupastikan rumah sakit itu hancur dan gulung tikar" geram Ansel. Ya Tuhan, emosinya selalu saja naik jika membahas yang bersangkutan dengan rumah sakit itu.
"Iya An" Ciko yang berdiri di belakang Ansel, mengelus elus dada Ansel yang emosinya naik turun.
"Kalau begitu kami permisi dulu Dokter Wildan, trimaksih sebelumnya" pamit Ciko. Dia tau jika teman satu sekolahnya itu harus menjalankan tugasnya lagi.
"Sama sama" balas Dokter Wildan tersenyum.
Setelah bersalaman, Ciko pun membawa Ansel keluar dari ruangan Dokter Wildan, kembali masuk ke ruang perawatan Drabia.
__ADS_1
"Bagaimana An?, apa kata Dokter Wildan?" tanya Pak Ilham tidak sabaran.
"Selama ini Drabia berada dalam pengaruh obat tidur Yah. Dokter Demian ingin membunuh Drabia tanpa mengotori tangannya Yah. Entah apa alasannya, aku gak tau Yah" jawab Ansel kembali emosi lagi.
"Ssst! sabar sabar An." Ciko kembali mengelus elus dada Ansel yang mulai naik turun.
Pak Ilham menggela napasnya kasar. Pak Ilham sangat mengenal putrinya, sangat kasar dan bar bar. Pasti Drabia sudah pernah membuat sakit hati Dokter Demian di masa lalu.
**
Waktu berlalu
Kini di kamar perawatan itu tinggal Ansel dan Salwa. Hari sudah malam, melihat Salwa yang sudah tertidur di pangkuannya, Ansel pun memindahkannya ke dalam box bayi. Setelah memindahkannya, Ansel naik ke atas brankar, membaringkan tubuhnya di samping Drabia yang masih tertidur pulas. Ansel memeluk tubuh itu dan mengecup pipinya dari samping. Berharap esok pagi istrinya itu sudah membuka mata kembali. Ansel pun memejamkan matanya untuk beristirahat.
Malam ini Ansel merasakan tidurnya sangat lelap. Sehingga sampai tak mendengar putrinya menangis dari dalam bok bayi.
Drabia yang mendengar tangisan bayi di ruangan itu, perlahan membuka kelopak matanya, di iringi air mata mengalir dari sudut matanya.
'Apa itu suara anakku?' batin Drabia.
"Ansel" ucap Drabia sangat lirih.
Jangankan bisa mendengar suaranya, bahkan tangisan Salwa saja, Ansel tak bisa mendengarnya.
Wajar saja Ansel tertidur dengan lelap. Selama sepuluh Bulan ini, kualitas tidurnya sangat buruk. Ansel tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan istrinya yang mengalami koma. Belum lagi Ansel harus sering bangun di malam hari karna Salwa menangis minta susu, pipis dan pup.
"Ansel" panggil Drabia lagi, namun pendengaran Ansel sepertinya tak berpungsi.
Drabia pun berusaha memutar lehernya ke arah Ansel yang terlelap memeluknya, lalu menjatuhkan satu kecupan di kening pria itu.
Dab benar saja, Ansel langsung terusik tidurnya. Dan pendengarannya kembali berpungsi. Mendengar suara Salwa menangis, Ansel langsung terbangun dan membuka mata. Di lihatnya Drabia sudah membuka mata, meski itu terlihat sedikit.
"Drabia, kamu bangun sayang."
Drabia berusaha mengulas senyumnya pada Ansel yang menatapnya berbinar bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah" ucap Ansel, tak terasa air matanya menetes sangking bahagianya.
"Yah! huaaaa!" tangis Salwa dari box bayinya.
Ansel langsung menoleh ke arah box bayi yang berada di samping brankar. Di lihatnya Salwa sudah berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahnya. Kalau sudah seperti itu, pasti putrinya itu sedang membuang kotoran.
Dan benar, aroma tak sedap langsung menusuk ke rongga hidung Ansel saat mencoba memeriksa popoknya. Ansel pun membawa Salwa ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan itu. Setelah selesai membersihkannya, membawanya kembali keluar.
"Ini putrimu, putri kita" ucap Ansel meletakkan Salwa di samping Drabia.
Drabia yang terbaring lemah, diam memandangi bayi perempuan itu. Bayi itu sudah besar dan hampir bisa berjalan. Lalu sudah berapa lama dia tertidur tak sadarkan diri?.
"Aku memberinya nama Salwa seperti keinginanmu" ucap Ansel lagi mengusap kepala Drabia dengan lembut.
"Salwa" lirih Drabia. Dia ingin meraih tubuh kecil itu ke pelukannya namun tangannya tak mampu ia gerakkan.
"Salwa, ayo panggil Mama, sayang" suruh Ansel pada bayi perempuan yang duduk di samping Drabia itu. Supaya putri mereka itu memanggil wanita Drabia.
"Ma" ucap Salwa menuruti permintaan sang Ayah.
Drabia langsung mengulas senyumnya dan meneteskan air matanya, terharu. Drabia ingin berbicara banyak, namun otot mulutnya terasa kaku sangking lamanya tertutup tak pernah di gerakkan sama sekali.
"Ma ma" ucap Salwa lagi tersenyum sampai menampakkan giginya yang baru numbuh.
"Dia anak yang pintar dan ceria seperti kamu. Bahkan dia sudah tau kalau kamu itu Ibunya" ungkap Ansel tersenyum." Setiap kali mengajaknya menemuimu, dia selalu kegirangan" ucap Ansel lagi.
"Aku...ingin... menciumnya" pinta Drabia dengan suara perlan dan lambat.
Ansel menganggukkan kepalanya, lalu menyuruh Salwa untuk mencium Drabia.
"Salwa, ayo cium Mama, Nak" suruhnya mendekatkan Salwa ke wajah Drabia, Salwa langsung mengecup pipi Drabia dengan bibir kerucutnya. Kemudian baru Drabia yang mengecup pipi bayi yang di lahirkannya itu untuk pertama kali.
Drabia menangis, sedih bercampiur bahagia. Bahagia karna anaknya terselamatkan, dan malah sudah tumbuh besar dan sehat. Sedih karna tidak bisa merawat Salwa, dan bahkan tidak memberinya asi sama sekali.
*Bersambung
__ADS_1