My Wife Drabia

My Wife Drabia
43. Egois


__ADS_3

"Mama!" teriak Ansel saat memasuki rumah Ibunya."Mama!" panggilnya sekali lagi.


"Ansel, ada apa sayang?. Kamu sudah pulang, dimana Drabia dan Pak Ilham. Kamu berhasilkan menemukan mereka."


Ansel tersenyum miring mendengar cercaan Ibunya. Salut melihat akting Ibunya yang pura pura tidak tau apa apa.


"Ada orang yang ingin melenyapkan mereka Ma" ucap Ansel.


"A-apa?" Ibu Nimas yang terkejut langsung menutup mulutnya.


Ansel samakin tersenyum miris, melihat kemampuan aktik Ibunya yang pantas di beri penghargaan red karpet. Ansel pun mengeluarkan handphonnya dan memutar rekaman suara orang yang mengobrol di dalamnya.


Ibu Nimas tercengang, wajahnya langsung pias mendengar suaranya sendiri dari handphon milik Ansel.


"Ansel tidak akan mebiarkan orang orang ini bebas Ma. Tidak akan membiarkan mereka menghabisi istri dan AYAHKU" tekan Ansel saat mengatakan kata Ayah.


Ibu Nimas terdiam, tapi seketika raut wajahnya berubah marah pada Ansel.


"Aku Ibumu, aku lebih berhak atasmu dari pada mereka. Tapi mereka bukan siapa siapamu!. Pak Ilham hanya sahabat Papamu!" bentak Ibu Nimas tiba tiba.


"Hanya sahabat Papa Ma?" Ansel menatap nanar Ibunya." Kenapa baru sekarang Mama menyadari itu?. Setelah Ansel besar dan bisa mengurus perusahaan. Kenapa gak dari dulu Ma.Seharusnya Mama menjauhkan aku dari Pak Ilham. Bukan setelah Mama tidak membutuhkannya lagi" lirih Ansel, kecewa.


"Pak Ilham bekerja di perusahaan Papamu, itu di gaji. Jangan berpikir kalau Pak Ilham bekerja di perusahaan itu hanya mengabdi saja tanpa di bayar" ujar Ibu Nimas.


Ansel menggeleng gelengkan kepalanya. Ternyata selama ini dia tidak mengenal siapa Ibunya. Baru sekarang baru dia tau, seperti apa asli Ibunya itu.


"Baiklah Ma, mulai sekarang Ansel juga tak ingin bekerja di perusahaan peninggalan Papa lagi. Ambil semua harta Papa Ma, Ansel gak peduli." Ansel langsung keluar dari rumah Ibunya, karna tak ingin berdebat lagi.


"Ansel! Mama melakukan itu untuk kamu!. Untuk kebahagiaan kamu!. Supaya Pak Ilham tidak mengatur hidupmu lagi!. Supaya kamu bebas menentukan kebahagiaanmu!" marah Ibu Nimas berteriak teriak, Namun Ansel mengindahkannya, masuk ke dalam mobilnya dan lansung melajukamnya.


Ansel benar benar kecewa dengan Ibunya. Ansel tidak mengerti apa yang ada di pikiran wanita yang melahirkannya itu.


**


"Ansel, perusahaan sudah di ambang kehancuran. Pak Ilham sudah menarik sahamnya. Dan para penanam saham lainnya juga sebagian akan menarik sahamnya. Karna kamu tidak pernah datang ke perusahaan lagi. Kepeminpinan perusahaan itu tidak jelas lagi Ansel" jelas Ciko pada Ansel yang duduk dengan santai memainkan ponsel di tangannya.

__ADS_1


"Biarkan saja" jawab Ansel santai. Ia tak peduli lagi dengan perusahaan itu. Jika tak membawa berkah dalam hidupnya, untuk apa?.


"Kasihan kami yang akan jadi pengangguran An!" Ciko mendramatiskan wajahnya. Kalau perusahaan itu tutup, jelas Ciko akan jadi pengangguran. Dan mencari pekerjaan juga tidak mudah, membuat kepalanya sakit memikirkannya.


"Kalian bisa cari pekerjaan lain, atau membuka usaha sendiri" balas Ansel.


"Bagaimana dengan karyawan lainnya?. Apa kamu gak memikirkan nasib mereka?" tanya Ciko.


"Sudah ada yang mengatur rejeki mereka" jawab Ansel lagi. Buat apa dia mikirin hidup orang banyak, sedangkan hidupnya tak bisa ia pikirkan saat ini.


Ciko menghela napasnya, lalu memandang ke arah Dafa yang hanya diam memperhatikan Ansel dari tadi.


"Trus kalau kamu tidak bekerja, dan tidak melakukan apa apa. Lalu bagaimana kamu akan melanjutkan hidup?. Kamu pikir semua uangmu gak akan habis?. Nanti kamu bayar air listrik rumahmu ini pakai apa?" cerca Ciko lagi. Semoga sahabatnya itu tidak mengurung diri lagi. Jika tak ingin meminpin perusahaan, setidaknya bekerja dan semangat melanjutkan hiudup.


Ansel menghentikan tangannya yang sibuk bermain ponsel, lalu menoleh ke arah Ciko yang duduk di sampingnya.


"Lalu apa tujuanku hidup?" tanya balik Ansel.


Bola mata Ciko langsung bergerak ke atas sebelah kanan. Berpikir apa tujuan Ansel hidup. Ciko tidak tau, dia sendiri juga terkadang bingung apa tujuannya hidup.


Ansel dan Ciko langsung menoleh ke arah Dafa.


"Jika kamu membiarkan perusahaan itu bangkrut. Ibumu pasti akan semakin membenci Pak Ilham dan Istrimu" ucap Dafa lagi.


Ansel menghela napasnya. Benar yang dikatakan sahabatnya itu. Jika dia membiarkan perusahaan peninggalan Papanya hancur. Maka Ibunya akan semakin membenci Pak Ilham dan Drabia.


"Lakukanlah demi istrimu dan Pak Ilham." Dafa menepuk pelan bahu Ansel.


Ansel pun mengangguk dengan tatapan meneduh. Meski tak bersemangat, demi kedamaian hati Ibunya, dia akan kembali meminpin perusahaan peninggalan sang Papa.


**


Hari pun berlalu begitu cepat, kini dua Tahun sudah Ansel tidak pernah bertemu istrinya dan Pak Ilham. Bukan Ansel tidak mencarinya, namun kedua orang itu entah dimana bersembunyi, sampai Ansel tidak bisa menemukannya lagi.


"Ansel!"

__ADS_1


Ansel yang sedang sibuk bekerja di ruangannya menoleh ke arah pintu. Ibu Nimas masuk bersama seorang wanita yang terlihat masih muda.


"Iya Ma, ada apa?" tanya Ansel datar tanpa senyum.


"Ini namanya Inara, cantik 'kan" IBu Nimas tersenyum ke arah Ansel dan gadis di sampingnya bergantian.


Ansel mengedikkan bahunya, sudah mengerti maksud dan tujuan Ibunya itu membawa wanita lain bertemu dengannya.


"Lihat dulu dong!" ujar Ibu Nimas.


"Untuk apa Mama memperkenalkan wanita itu padaku?. Sudah jelas jelas aku ini pria beristri" tanya Ansel menatap Ibunya tajam.


"Ansel, aku ini Ibumu!. Jika kamu bisa menuruti permintaan Pak Ilham. Kenapa kamu tidak bisa menuruti permintaan Mama?" marah Ibu Nimas. Sudah dua Tahun ia berusaha meluluhkan hati Ansel supaya mau membuka hati untuk wanita lain. Namun Ansel masih tak tersentuh sama sekali.


"Karna hanya mereka yang tulus menyayangi Ansel Ma. Bahkan Mama sendiri tidak tulus menyayangi Ansel" jawab Ansel berbicara merapatkan gigi giginya.


"Tulus bagaimana? Hah!. Kalau saja kamu tidak menguntungkan bagi mereka. Apa kamu pikir Pak Ilham peduli denganmu?, tidak Ansel !" bentak Ibu Nimas.


"Dulu Pak Ilham itu miskin. Tapi setelah Papamu meninggal, dia menggantikan Papamu meminpin perusahaa. Setelah itu baru kehidupannya jauh lebih baik" ungkap Ibu Nimas.


"Oh ya?" Ansel tersenyum miring ke arah Ibu Nimas.


"Bagaimana dengan Mama?. Yang berasal dari keluarga tidak mampu?. Mama itu hanya seorang buruh biasa. Bahkan kehidupan Pak Ilham dulu jauh lebih baik dari pada Mama" balas Ansel mengingatkan masa lalu Ibunya.


Ibu Nimas terdiam.


"Kalau Mama tidak ingin jatuh miskin. Berhenti menyakitiku dan istriku Ma. Gara gara Mama aku berpisah dari istriku. Gara gara Mama aku tidak tau istriku dimana sekarang" geram Ansel menahan emosinya, matanya berkaca kaca, tak sanggup menahan rindu pada istrinya.


"Mama egois!" lirih Ansel.


"Kamu yang egois Ansel. Kamu lebih peduli dengan perasaan mereka dari pada Mama wanita yang melahirkanmu!." Ibu Nimas tidak terima di katakan egois anaknya sendiri.


Ansel pun berdiri dari kursinya, keluar dari ruangannya karna tak ingin melanjutkan pertengkaran dengan Ibunya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2