
"Dimana Ciko?" tanya Drabia melihat Ciko belum datang.
"Katanya masih di jalan" jawab Dafa.
Drabia mengangguk, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang di tarik Ansel untuknya.
"La, ayo duduk" Panggil Drabia menepuk kursi kosong di sampingnya supaya Lala yang masih berdiri duduk di sampingnya.
Lala tersenyum kaku, ternyata nyalinya tidak sekuat itu untuk ikut bergabung dengan orang orang petinggi perusahaan tempatnya bekerja. Dan juga sebenarnya Lala enggan untuk ikut, namu tidak enak juga jika harus menolak ajakan Drabia selaku pemilik perusahaan.
Tak lama menunggu, akhirnya Ciko datang juga. Ciko mendudukan di kursi yang berada di samping Lala dan Dafa. Karna hanya kursi itu yang kosong.
"Akhirnya kamu datang juga" ujar Drabia.
"Kenapa aku gak datang?" tanya Ciko cetus. Kalau dia tidak datang, Drabia akan memecatnya.
"Ini Lala, sapa dia" suruh Drabia seperti perintah.
"Sayang" tegur Ansel, melihat istrinya itu terlalu jauh ikut campur hidup Ciko dan Lala.
"Mungkin Ciko gak berani dekatin wanita, makanya aku bantu" ucap Drabia tersenyum.
Ciko mendengus, Kemudian merubah raut wajahnya tersenyum ke arah Lala. Membuat Lala menunduk malu malu meong.
"Ciko" ucap Ciko mengulurkan tangannya ke arah Lala.
Lala pun mengulurkan tangannya ragu rahu, segan menerima jabatan tangan salah satu bos perusahaan tempatnya bekerja itu. Lala merasa tidak sepadan jika harus berdampingan dengan Ciko.
"Arilla" balas Lala.
Nama aslinya adalah Arilla, tapi orang tuanya lebih suka memanggilnya Lala. Jadilah nama panggilannya Lala kemana mana.
Ciko terdiam memandangi wajah Lala dengan Intens. Wanita itu memang bukan wanita berkulit putih. Tapi wajahnya terlihat manis, apa lagi di bagian bibir wanita itu ketika tersenyum.
"Gak usah gitu kali liatinnya" Drabia menaril tangan Lala dari genggaman Ciko yang tidak di lepasnya dari tadi.
Ciko yang tersadar dari lamunannya berdecak, dia ingin menyelami hatinya ketika menatap intens wanita itu. Malah si Ibu bos menyadarkannya. Jadi putus angan angannya.
Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang membawa hidangan yang sudah di pesan saat memboking meja itu. Biar tidak terlalu lama menunggu.
"Mantap nih" air liur Ciko langsung berdesir melihat ikan kerapu bakar di atas piring saji, bersama sambal yang pastinya rasanya pedas. Dan ada juga Ayam bakar, steak, Cumi dan udang bakar." Seharusnya dari dulu Ansel menikahi Ibu Bos, biar kita sering sering kaya gini" celetuk Ciko tak sabaran menyatap hidangan di atas meja.
__ADS_1
"Dulu aku kan belum sukses, mana mau dia" balas Drabia.
"Sayang, kok ngomong gitu" tegur Ansel. Dia bukan pria matre, hanya saja dulu Drabia bukan tipe calon istri idamannya.
"Benar kan?" Drabia tersenyum ke arah Ansel.
"Mana ada begitu" cetus Ansel.
"Trus?" Drabia ingin mendengar kenapa Ansel tak ingin menikahinya dari dulu. Padahal sudah tau jawabannya.
"Belum waktunya aja kita berjodoh. Ayo makan, jangan banyak bicara lagi." Ansel pun mencubit ayam bakar di depannya, menyuapkannya ke mulut Drabia.
Drabia meneriman suapan ayam dari tangan Ansel sambil tersenyum, tanpa memutus pandangannya dari wajah tampan suaminya itu.
"Aw! sayang kok digigit" keluh Ansel karna Drabia menjahilinya. Dikiranya Drabia sedang terpesona, ternyata hanya ingin membuat Ansel Khilaf dengan senyumnya.
Ciko yang melihat keromantisan kedua atasannya itu mendengus. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Daga dan Lea. Ternyata pasangan suami istri itu pun melakukan hal yang sama, Dafa menyuapi Lea makan.
"La, ke KUA yuk sekarang, biar kita juga bisa suap suapan" celetuk Ciko. Berhasil membuat Lala merona salah tingga. Ingin melambung tinggi menikah dengan Bos, untuk bermimpi saja Lala takut.
"Gak usah buru buru, kalian kenalan aja dulu. Kalau cocok baru ke KUA" ujar Ansel.
"Iya Cik" sambung Dafa.
"Iya, kalian jalani aja dulu" timpal Lea.
"Iya La" Drabia menyentuh lengan Lala yang ada di pankuannya, melihat Lala seperti tidak nyaman di tengah tengah mereka.
Lala mengangguk sembari tersenyum hambar. Meski pun dia wanita miskin, tapi tidak sembarangan juga jika harus memilih laki laki untuk menikah dengannya. Tidak asal kaya aja.
Sambil makan, mereka pun mengombrol ringan. Sesekali bergurau dan saling mengejek. Tapi yang paling sering mendapat ejekan adalah Ansel.
Ansel yang sekarang bucin. Ansel yang dulu tertipu wanita bernama Hafshah.
"Dulu aja kamu nolak Drabia, sekarang kamu malah bucin" cibir Ciko.
"Namanya juga proses membangun hubungan. Pasti ada kendala dan masalah yang di hadapi" bela Ansel bijak.
"Dulu kamu terlalu mengagung angungkan Hafshah. Padahal lebih buruk dari Drabia" cibir Ciko lagi.
"Itu sudah lewat. Sekarang istriku ini wanita yang paling baik sedunia" bangga Ansel melingkarkan satu tangannya ke pinggang Drabia dari belakang.
__ADS_1
"Bukan yang paling hina" Drabia ikut ikutan mencibir suaminya.
"Sayang!" rajuk Ansel manja, tidak ada yang berpihak padanya.
Drabia tertawa cekikikan, melihat kemanjaan Ansel yang sering terjadi akhir akhir ini. Drabia pun mencubit danging ikan dari atas piring saji, menyuapkannya ke mulut Ansel.
"Gak usah sok manja kali" Ciko melempar Ansel dengan buah potong di depannya mengenai di bagian keningnya.
"Woi ! ini kepala tau" cetus Ansel tidak terima, langsung membalas melempar Ciko dengan tissu bekas. Namun yang kena bukan Ciko melainkan Lala.
"Sayang, Lala yang kena tuh" tegur Drabia.
"Maaf La, gak sengaja" ucap Ansel.
"Gak apa apa Pak" balas Lala tersenyum.
Ciko pun mengambil tissu yang jatuh di pangkuan Lala." Sabar ya, kita harus mengalah sama bos, entar kita di pecat kalau melawan" ujarnya pada Lala.
Lala tersenyum hambar.
"An, Drabia, kami pulang duluan. Kami sudah selesai makan" pamit Dafa. Dari tadi diam sibuk menikmati makanan di depannya bersama Lea.
"Kok pulang?, cepat kali?" Drabia langsung menoleh ke arah Lea dan Dafa.
"Lea badannya gampang capek, tubuhnya masih lemah" jawab Dafa memang seperti itu kenyataannya.
Drabia pun mengangguk paham." Kalau begitu hati hati" ucapnya.
"Kalau begitu kami pulang duluan.Nanti kalian juga hati hati pulangnya." Lea beranjak dari kursinya lalu mendekati Drabia, memeluk sahabatnya itu melakuka cipka cipiki.
Sepeninggal Lea dan Dafa. Drabia, Ansel, Ciko dan Lala melanjutkan makan mereka. Setelah makanan mereka habis semua, tak lama kemudian, mereka pun memilih pulang. Drabia juga sedang hamil, tidak bagus lama lama di luar.
"Cik, antar Lala pulang ya" suruh Drabia saat berdiri dari kursinya.
"Siap Bu bos" balas Ciko semangat.
"Lala, kamu pulang di antar Ciko ya. Gak usah takut, Ciko aman kok" ujarnya pada Lala.
"Iya Bu bos" balas Lala tersenyum.
Mereka pun sama sama meninggalkan restoran itu.
__ADS_1
"Aku pikir kamu akan lebih kelihatan cantik dengan rambut panjang" ucap Ciko saat akan melajukan kenderaannya.
*Bersambung.