
"Ayah, apa maksud semuanya" tanya Drabia bingung level tinggi.
"Kamu adalah putri Ayah" Pak Ilham menarik Drabia ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening putri satu satunya itu.
"Aku sudah tau itu Ayah." Bukan itu maksud pertanyaan Drabia.
Pak Ilhan menangis sampai bibirnya bergetar di kening Drabia. Membuat Drabia dan Ansel semakin bingung. Apa yang di tangisi Pria itu sampai terdengar begitu pilu.
"Ayah!" tegur Drabia dengan suara lembutnya.
Malah Pak Ilham semakin menangis terisak. Tenggorokannya terasa sakit, seperti ada batu yang mengganjalnya. Sangat sulit bagi Pak Ilham untuk mengeluarkan suara.
"Kamu putri Ayah, kamu putri kandung Ayah" lirih Pak Ilham, suaranya begitu tercekat.
"Drabia percaya itu Ayah. Ayah adalah cinta pertama Drabia." Drabia menghapus lembut air mata Pak Ilham dari pipinya dengan mata berkaca kaca. Meski tak tau apa yang ditangisi Ayahnya.Tapi Drabia dapat merasakan beratnya beban yang menimpa hati Ayahnya.
"Tapi wanita itu adalah Ibu kandungmu."
Duarr!
Seperti di sambar petir bersamaan. Drabia, Ibu Nimas dan Ansel langsung membeku. Pandangan mereka sama sama mengarah ke wajah Pak Ilham yang masih terus terisak memeluk Drabia.
Tubuh Ibu Nimas melemas, tanpa sadar kakinya melangkah mundur ke belakang, bersandar ke body mobil milik Ansel."Gak mungkin" gumamnya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Drabia putrinya, Ibu Nimas tidak percaya. Ternyata putri yang di buangnya, selama ini berada di dekatnya. Pak Ilham begitu pandai menyembunyikan kenyataan.
"Gak mungkin Yah" lirih Drabia menangis." Gak mungkin aku lahir dari wanita itu kan Yah. Ayah gak pernah memiliki hubungan dengan dia kan Yah. Ibuku, Ibu Hana kan Yah?" cerca Drabia tidak terima kenyataan itu.
"Hana Ibu tirimu Nak" jawab Pak Ilham. Ingin menyesali kenyataan, namun tidak bisa. Hana adalah istri pertama Pak Ilham yang sudah meninggal. Setau Drabia, Hana lah wanita yang melahirkannya selama ini.
Itulah sebabnya Pak Ilham menyembunyikan kenyataan Ibu Nimas dan Drabia pada sahabatnya, Hendry. Pak Ilham tidak mau sampai persahabatan mereka hancur karna wanita di depannya. Apa lagi sampai Pak Hendry menuduhnya berhianat.
"Drabia gak mau punya Ibu seperti dia Yah" lirih Drabia.
__ADS_1
"Tapi itulah kenyataannya Nak. Makanya Ayah menyembunyikan kenyataan itu selama ini. Ayah juga tidak terima kenyataan itu. Kenapa putri Ayah harus lahir dari perut wanita itu"ucap Pak Ilham.
Bruk!
Ansel yang terdiam dari tadi, tiba tiba ambruh ke tanah. Kenyataan itu terlalu rumit di cerna otaknya. Drabia anak Pak Ilham dan Ibu Nimas. Dia anak Pak Hendry dan wanita bernama Mutia.
"Ansel!" seru Drabia dan Pak Ilham bersamaan. Mereka pun saling melepas pelukan dan mendekati Ansel yang tidak jauh dari mereka.
"Ansel Ansel, bangun Nak!" Pak Ilham menepuk nepuk pipi Ansel yang tidak sadarkan diri.
Sedangkan Drabia bergegas lari ke arah pos satpam dan langsung mengambil air minum Satpam yang berjaga di pos itu tanpa permisi. Lalu membawanya mendekati Ansel.
Buyarrrr!
Tanpa aba aba langsung menyiramkamnya ke wajah Ansel.
Ansel pun langsung terbangun dan membuka matanya, karna kaget dengan hangatnya air yang menyiram wajahnya.
"Ops hehehehe....!" cengir Drabia baru menyadari kalau yang di ambilnya adalah kopi milik satpam rumah itu.
Ansel menatap Drabia kesal sambil melap air kopi di wajahnya. Drabia selalu begitu, suka membuatnya kesal dan marah.
Drabia malah tersenyum melihat tatapan Ansel. Tatapan itu adalah tatapan Ansel ketika dia kerjai dulu. Drabia seperti melihat Ansel pada masa mereka kecil.
Prankk!
Drabia melempar gelas berbahan stenlis itu ke tanah, lalu menurunkan tubuhnya di dekat Ansel. Melap wajah pria itu dengan jilbabnya.
Ansel menepis lengannya, malah Drabia mengecup pelipis Ansel dari samping, lanjut mengecupi pipi Ansel seluruhnya. Ansel pun menarik Drabia ke dalam pelukannya, memeluk tubuh itu erat.
"Jangan tinggalin aku saat tidur lagi" ucap Ansel. Drabia menganggukkan kepalanya.
"Tuhan menempatkan mereka di tempat yang seharusnya" ucap Pak Ilham pada Ibu Nimas yang terdiam dari tadi.
__ADS_1
Drabia dan Ansel refleks menoleh ke arah Ibu Nimas dan Pak Ilham.
"Aku diam, karna aku tidak ingin merusak kebahagiaan Hendry dulu" ucap Pak Ilham lagi." Karna kamu merawat Ansel dengan baik, makanya aku diam juga. Meski aku tau, kau memiliki Ansel untuk bisa mempertahankan harta Hendry tetap menjadi milikmu."
"Tapi aku menjaga harta peninggalan Hendry, bukan semata mata untukmu, melainkan untuk anaknya, Ansel" tambah Pak Ilham lagi.
"Aku pikir kamu sudah berubah selama ini. Tapi nyatanya kamu masih jahat. Kamu ingin melenyapkan aku dan putriku. Karna tak ingin kebusukanmu di ketahui Ansel"ujar Pak Ilham lagi.
Drabia melangkah mendekati Ibu Nimas. Menatap wanita itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Bahkan Singa sekalipun masih memiliki hati untuk menyayangi anaknya. Entah apa yang ada di pikiran Anda, sampai tega membuangku yang tak berdaya. Sekarang aku tidak tau bagaimana perasaanku pada Anda yang sudah melahirkanku. Aku berterima kasih untuk itu. Pantas saja aku pernah menjadi wanita murahan. Ternyata darah wanita murahan, mengalir di dalam tubuhku" ucap Drabia.
Ansel mendekati Drabia, dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Trimakasih juga sudah membesarkanku dengan kasih sayangmu Ma. Aku tidak akan bisa membalas jasa jasa Mama" sambung Ansel." Bertaubatlah Ma, Allah maha pengampun" ucapnya lagi.
Ibu Nimas hanya bisa terdiam dan menangis menyesali perbuatannya.
Dulu dia mengusir Mutia, wanita yang melahirkan Ansel. Karna wanita itu terus menguasai suaminya. Dan dia membuang putri yang baru di lahirkannya, untuk menyelamatkan pernikahannya dengan Hendry. Ya! dia memang melakukan kesalahan besar telah berselingkuh dan membuang putrinya sendiri. tapi dia punya alasan melakukan itu.
Setelah memberikan bayi itu pada perawat yang membantu persalinan. Selama ini, Ibu Nimas juga mencari bayinya itu. Hanya saja perawat yang membawa anaknya, menghilang sampai sekarang. Tidak pernah nampak batang hidungnya lagi. Dia ingin mengadopsi putrinya itu menjadi anak angkat.
Melihat kondisinya yang begitu sedih dan terpuruk karna kehilangan seorang anak. Di situlah Pak Hendry mencari anak adopsi untuk menyembuhkan kesedihannya.
"Aku tidak seburuk itu" lirihnya.
Ansel kasihan melihat wanita itu. Ia pun melepas pelukannya dari tubuh Drabia, lantas berjalan mendekati Ibu Nimas, dan memeluk wanita itu.
"Ansel yakin, Mama masih memiliki hati. Jangan lagi berniat memusnahkan Ayah Ilham dan Istriku Ma" ucap Ansel.
Wanita itu sudah membesarkannya dengan kasih sayang selama ini. Tidak mungkin hanya karna kesalahan seujung kuku, kebaikan wanita itu hangus begitu saja.
*Bersambung
__ADS_1