
"Ada apa Nak?" tanya Pak Ilham melihat putrinya seperti orang panik.
Drabia kembali melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk mengunci pintu ruangan itu rapat rapat. Drabia pun menceritakan kalau dia mendengar Ibu Nimas berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Mereka ingin menghabisi Ayah" ucap Drabia tak bisa menahan air matanya.
Pak Ilham terdiam memandangi wajah putrinya, ingin tidak percaya, tapi rasanya tidak mungkin putrinya berbohong dengan hal sebesar itu.
"Tinggalkan perusahaan ini Yah. Tidak usah pedulikan lagi. Lebih baik kita pergi. Aku gak mau sampai Ayah kenapa kenapa. Aku gak punya siapa siapa selain Ayah" cerca Drabia menangis.
Kenapa baru sekarang Ibu Nimas ingin menyingkirkan Ayahnya?. Kenapa setelah perusahaan itu semakin besar di tangan Ayahnya?. Kenapa setelah Ansel besar dan bisa di andalkan Ibu Nimas?. Kenapa tidak dari dulu?.
Mata Pak Ilham berkaca kaca, ia pun megangguk sedih dan kecewa.
"Iya Nak, kita akan pergi" ucapnya dengan suara tercekat.Tak di sangka kebaikannya di bayar air comberan.
Pak Ilham pun merapikan mejanya di bantu oleh Drabia. Setelah selesai, mereka meninggalkan perusahaan itu tanpa berpamitan pada siapa pun.
Ibu Nimas yang sudah menyudahi pembicaraannya lewat telepon. Langsung keluar dari kamar tamu itu. Ibu Nimas melangkahkan kakinya ke arah dapur, ternyata sudah tidak ada Drabia dan Lea.
'Kemana mereka?' batin Ibu Nimas, tidak melihat Drabia dan Lea di dapur, di ruang tamu dan di ruang keluarga.
'Apa Lea sudah pulang, dan Drabia masuk ke kamar?' batinnya lagi, memilih masuk ke dalam kamarnya.
Sampai di dalam kamar, Ibu Nimas mendudukkan tubuhnya di sofa, menghidupkan tv lewat remot sembari tersenyum miring.
'Sudah cukup kau menguasai harta suamiku Ilham.'
**
Ansel yang terbagun dari tidur lelapnya, meraba raba kasur di sampingnya.
"Sayang!" gumamnya dengan mata terpejam, tanganya tidak menemukan Drabia di sampingnya.
"Sayang, ini udah jam berapa?" tanyanya, masih malas membuka mata.
Ceklek
Ansel langsung membuka kelopak matanya, mendengar ada yang membuka pintu.
__ADS_1
"Ansel kamu sudah bangun?" tanya Ibu Nimas melangkah ke arah ranjang milik Ansel.
"Drabia mana Ma?" tanya Ansel sembari menguap.
"Dari tadi siang sepertinya pergi bersama Lea. Mama gak tau mereka pergi kemana." Ibu Nimas mendudukkan tubuhnya di samping Ansel yang masih terbaring.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Ansel sembari matanya mengarah ke jam yang menempel di dinding kamar itu.
Kening Arsen menemgerut melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12. Lantas Ansel menoleh ke arah dinding kaca kamar itu yang di tutup dengan horden. Sepertinya di luar sangat gelap karna tidak ada cahaya masuk sama sekali. Itu artinya Ansel tidur dari siang hingga larut malam.
"Kenapa dia belum pulang?. Apa dia lagi marah?" tanya Ansel bingung. Bingung kenapa dia bisa tidur selama itu. Dan bingung melihatnya tidur masih memakai baju kerja.
"Mama gak tau, Drabianya juga gak berpamitan sama Mama. Mungkin aja dia pulang ke rumah orang tuanya" jawab Ibu Nimas.
"Hapeku mana Ma?" Ansel mengarahkan pandangannya ke arah meja nakas. Melihat handphonnya di atas meja, Ansel langsung mengambilnya untuk menelepon Drabia. Namun urung melihat handphonnya mati. Ansel berdecak, ia pun meminjam handphon sang Mama.
"Ma, pinjan handphonnya."
"Handphon Mama di kamar, tadi Mama sudah menghubunginya, tapi tidak bisa di hubungi."
"Aku harus memastikannya kalau dia di rumah Ayah." Ansel langsung di serbu rasa kawatir, bergegas turun dari atas kasur berjalan tergesa gesa keluar kamar.
"Ansel besok aja Nak!, ini sudah larut malam!" seru Ibu Nimas mengikuti Ansel dari belakang turun ke lantai bawah rumah itu.
"Kamu juga bisa bahaya Nak, pergi sendirian tengah malam!." Ibu Nimas berusaha mencegah Ansel untuk pergi Ke rumah Pak Ilham. Kalau bisa, Ansel tidak usah pernah bertemu lagi dengan keluarga itu.
Ansel tidak mendengarkannya dan terus berjalan keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya.
Rahang Ibu Nimas mengeras, melihat Ansel pergi tanpa mendengarkannya.
Ansel melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalan sudah sunyi, membuatnya bisa menyetir leluasa.
Sampai di depan rumah Pak Ilham, Ansel membungikan klaksonnya supaya Satpam yang berjaga membuka gerbangnya.
Satpam yang tidur merem melek dengan posisi tidur langsung melek, segera berlari ke arah gerbang dan membukanya.
Ansel langsung melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah itu. Pak Satpam tadi langsung mengikuti.
"Pak! di rumah tidak ada siapa siapa?. Pak Ilham dan istrinya pergi tadi siang. Non Drabianya juga ikut" ucap si Pak Satpam setelah Ansel keluar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Ansel terdiam sebentar.'Pergi' batinnya.
"Kemana?."
"Gak tau Pak, Pak Ilham tidak memberitahunya. Saya hanya di suruh untuk menjaga rumah ini.
Ansel pun mengarahkan pandangannya ke arah rumah di depannya. Rumah itu terlihat gelap, hanya lampu luar saja yang di hidupkan.
"Bapak ada pegang kuncinya, saya mau masuk sebentar" ucap Ansel. Entah kenapa perasaannya semakin tidak enak. Hatinya terasa sakit, merasakan sesuatu yang Ansel sendiri tidak mengerti.
"Sebentar Pak" Pak Satpam itu berlari ke arah pos untuk mengambil kunci dan segera kembali.
"Trimakasih" ucap Ansel menerima kunci rumah itu dari tangan Pak Satpam.
"Sama sama Pak" balas Satpam itu.
Ansel pun melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah itu, membukanya dengan kunci di tangannya. Ansel melangkah masuk, mengidupkan lampu di ruangan itu.
Rumah itu tampak sunyi, wajar saja. Jika pun ada pembantu di rumah itu, pasti sudah tidur. Ansel melangkahkan kakinya ke arah tangga, ia ingin masuk ke kamar Drabia. Entah?, Ansel berharap menemukan sesuatu di kamar itu. Berharap Drabia ada di kamarnya.
Sebelum membuka pintu di kamarnya, Ansel menghela napasnya dalam. Berpikir apa yang terjadi, kenapa Drabia pergi bersama orang tuanya tanpa berpamitan. Dan meninggalkannya saat dalam keadaan terlelap?.
Setelah membuka pintu kamar itu, Ansel mencari saklar lampu dan menekannya. Ansel langsung terdiam melihat kasur dan sofa yang di tutup dengan kain putih. Itu artinya Drabia dan orang tuanya bukan sedang pergi, melainkan pindah rumah.
"Drabia!" lirih Ansel tak terasa air matanya menetes begitu deras.
Apa yang membuat istrinya pergi?, bukankah mereka sudah berbaikan?. Apa mungkin Drabia marah dengan kejadian tadi siang?.
Ansel keluar dari kamar itu, berlari ke arah pos satpam. Ingin bertanya jam berapa Drabia dan orang tuanya berangkat. Mungkin Ansel masih bisa mengejarnya.
"Pak!" panggil Ansel setelah sampai di pos satpam.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Satpam itu.
"Jam berapa mereka berangkat Pak?" tanya Ansel.
"Jam dua tadi siang Pak."
Ansel terdiam, dan menghela napas lemah. Jam dua siang, sekarang sudah hampir jam satu malam. Mungkin Drabia dan kedua orang tuanya sudah sampai di tujuan.
__ADS_1
Apa gerangan yang membuat Pak Ilham membawa putrinya mejauh?.
*Bersambung