
"Drabia! Bangun Drabia!" teriak Ansel sambil menangis." Drabiaaaaa! Baguuuuuun!."
Ansel menangis sejadi jadinya, tak peduli suaranya menimbulkan kebisingan di rumah sakit itu.
"Kamu belum mati kan Drabia?. Kamu hidup, lihatlah tubuhmu gak membusuk. Kamu masih bernapas. Ayo, bagunlah." Ansel membaringkan tubuhnya di sambing Drabia, memeluk erat tubuh itu."Jangan tinggalin aku Drabia" tangisnya pilu.
"Drabia" ucap Lea yang datang menyusul dengan Dafa dan yang lainnya ke ruangan itu. Melepas pelukan Dafa dari tubuhnya, lalu melangkahkan kakinya ke arah brankar dan Ansel berada." Aku tadi melihat kelopak matanya mengerjap."
Sontak Ansel yang mendengarnya mengangkat kepalanya dari dada Drabia, mengarahkan pandangannya ke wajah tirus istrinya itu. Namun Drabia masih setia memejamkan matanya.
"Tadi aku melihat kelopak matanya mengerjab" ulang Lea lagi kalau dia tidak salah lihat, setelah memastikan Drabia ternyata masih terlelap dalam pimpinya.
"Biar saya periksa" Dokter yang biasa merawat Drabia itu, melangkah mendekati brankar. Setelah Ansel turun dari, Dokter itu melakukan pemeriksaan pada Drabia. Kemudian Dokter itu menghela napas, ternyata keadaan pasien belum mengalami peningkatan." Maaf, kondisi pasien masih sama, belum mengalami perubahan" jelasnya.
"Tapi Dok...."
"Sayang, mungkin tadi itu hanya penglihatanmu saja. Karna terlalu berharap Drabia sadar"potong Dafa, mendekati istrinya itu, membawanya ke dalam pelukannya.
Ansel kembali menelan kekecewaan, sampai kapan istrinya itu berada di antara hidup dan mati?. Ansel kembali mendekati Drabia, memeluk wanita itu, menangis.
"Katakan Drabia, apa yang harus kulalukan padamu?. Supaya kamu mau membuka matamu, Drabia."
Pak Ilham yang dari tadi diam dan menangis di atas kursi rodanya, mendekati Drabia dan menggenggam sebelah tangan putrinya itu." Bangunlah, Nak!. Jangan buat kamu bersedih berkepanjangan seperti ini" lirihnya terisak. Menangis sampai tubuhnya bergetar hebat.
April yang berdiri di belakang kursi roda suaminya. Mengusap bahu Pak Ilham, untuk menenangkan pria paru yang tak lagi muda itu.
Ibu Nimas pun mendekati Drabi, mengecup kening putrinya itu dengan air mata yang mengalir deras dari sudut matanya." Maafkan Mama yang pernah menyakitimu, yang pernah ingin...."
Ibu Nimas tidak bisa melanjutkan kalimatnya, untuk mengatakan pernah ingin membunuh putrinya itu. Sekarang Ibu Nimas menyesalinya setelah orang lain yang melakukannya pada putrinya.
"Dokter cabut semua alat alat yang menempel dari tubuh istriku."
Sontak semua menoleh ke arah Ansel, yang sedang menghapus air matanya. Yang terlihat begitu yakin dengan apa yang dia katakan. Bukankah barusan pria itu menangis dan belum siap melepas istrinya?. Apa yang membuat Ansel berubah pikiran?.
"Apa Pak Ansel yakin?" tanya Dokter itu memastikan.
"Sudah Dok!" jawabnya namu air matanya mengalir kembali.
__ADS_1
"Baiklah" Dokter itu menghela napasnya, lalu kembali mendekati pasien, melepas satu persatu alat yang melekat pada tubuh Drabia, di bantu perawat yang selalu mendampinginya. Dan hanya menyisakan pendeteksi detak jantungnya saja.
Ansel mengundurkan langkahnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Dokter! putriku kenapa?" tanya Pak Ilham melihat tubuh putrinya bergerak seperti meronta ronta saat selang oksiget di tarik dari hidungnya.
Ansel yang mendengarnya, langsung berdiri dari lantai, kembali mendekati brankar.
"Drabia!" panggilnya memegang tangan Drabia yang ikut bergerak gerak." Kamu sudah bangun sayang?."
Drabia terus meronta ronta, sepertinya ia mengalami kesusahan bernapas setelah selang oksigennya di cabut.
"Dokter!, tolong istriku, dia mengalami susah bernapas" seru Ansel melihat Drabia membuka mulutnya, berusaha bernapas dari mulut.
"Itu refleks dari tubuhnya, setelah kehilangan alat alat yang membuat ia bertahan hidup selama ini. Dan bisa jadi itu proses untuk menghembuskan napas terakhirnya" jelas Dokter itu.
Ansel mengindahkannya, ia pun meraih selang oksigen itu meletakkannya kembali ke hidung Drabia. Langsung saja tubuh Drabia berhenti meronta, dan kembali tidur dengan tenang.
"Drabia" panggil Ansel, lalu menatap monitor yang memantau detak jantung istrinya itu. Yang menyatakan Drabia masih hidup."Drabia, kamu masih hidup, kan?."
Ansel mengulas senyumnya, saat tak sengaja melihat kelopak mata Drabia mengerjap dengan pelan.
Lagi, Ansel melihat kelopak mata Drabia mengerjab. Membuat senyum Ansel semakin mengembang.
"Dokter! lihatlah istriku masih hidup" seru Ansel.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun melihat itu. Drabia mengerjabkan matanya.
"Ayah, Drabia masih hidup, putrimu masih hidup Yah" seru Ansel menghapus air matanya. Kali ini ia menangis terharu.
'Kenapa dia masih bisa hidup?. Aku pikir setelah melepas semua alat alat di tubuhnya, dia akan mati. Tapi malah terbangun dari mimpi buruknya' batin Dokter itu menatap wajah Drabia dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.
Pak Ilham mendekati Drabia, begitu juga dengan Ibu Nimas, April, Lea dan Dafa, untuk memastikan kalau Drabia masih bernapas, dan masih dalam keadaan hidup meski alat alat di tubuhnya sudah di lepas.
"Drabia, Nak!. Bagun Nak!" ucap Pak Ilham menangis terisak memegang sebelah tangan Drabia.
"Iya Drabia, buka matamu Drabia" sambung Lea menyentuh kaki Drabia dan sedikit memijatnya.
__ADS_1
Kelopak mata Drabia terlihat sedikit mengerjap. Sepertinya ia berusaha membuka matanya, namun ia tak punya tenaga.
Ceklek!
Sontak mereka semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu, mendengar ada yang membukanya dari luar.
"Yah! Huaaaaa!"
"Salwa terbangun langsung cariin Bapak, Pak!" ucap Bi Nina, sekarang bertugas khusus untuk mengurus keperluan Salwa, dan sesekali menjaga Salwa jika Ansel dan Ibu Nimas ada kesibukan.
Ansel pun mengambil Salwa dari gendongan Bi Nina yang sudah berdiri di samping. Lalu mendudukkannya di samping Drabia.
"Kamu bisa dengar putri kita menangis Drabia?. Ini putri kita, dia sangat merindukanmu, sayang. Dia sudah besar, dia sangat cantik dan pintar sepertimu" ucap Ansel lagi, membiarkan Salwa menangis di samping Drabia yang terbaring lemah.
"Ayo sayang, bangunin Mama kamu sayang" ucap Ansel lagi pada putrinya Menyentuhkan tangan mungil Salwa ke wajah Drabia. Dan bahkan memukulkan pelan tangan mungil itu ke kelopak mata istrinya. Sehingga kelopak mata itu berhasil mengerjap kembali, dan perlahan terbuka sedikit, sangat sedikit.
"Salwa, lihat Nak!. Mama kamu bangun." Ansel menghapus air matanya dari sudut natanya, melihat Drabia sedikit membuka matanya.
Semua pun menyaksikan itu, termasuk Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu.
"Alhamdulillah" gumam Pak Ilham dan yang lainnya serentak.
"Suster, pasang kembali infus ke tangan pasien" perintah Dokter itu kepada perawat wanita yang berdiri di sampingnya.
"Baik Dok!" patuh perawat itu.
Dokter itu pun melakukan pemeriksaan kepada Drabia. Memastikan pasien itu masih hidup dan bahkan sudah sadar dari komanya.
Namun saat perawat itu kembali memasang infus ke tangannya, terlihat Drabia menatap ke arah Ansel sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha menarik tangannya. Namun Drabia tak punya tenaga.
Selesai melakukan pemeriksaan, Dokter itu menghembuskan napas lega." Alhadulillah, pasien sudah sadar. Ini sebuah mukzijat. Semua sudah baik, hanya tinggal pemuluhan" ucapnya.
Semua mengulas senyum, meski air mata mengalir di pipi masing masing.
"Kalau begitu saya permisi" pamit Dokter itu langsung meninggalkan ruangan itu, di ikuti perawat yang selalu mendampinginya.
"Drabia!" panggil Ansel melihat Drabia kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
*Bersambung