
Malam sudah larut, Ansel masih belum pulang dari perusahaan. Dia memasuki setiap ruangan ruangan yang ada di gedung itu dengan perasaan sedih. Setelah perusahaan itu laku terjual. Besok ia tidak akan menapakkan kakinya di gedung itu lagi.
"Pah! maafin Ansel Pah!" lirih Ansel tak dapat membendung air matanya lagi."Ansel gagal menjaga perusahaan Papa."
"Apa yang harus Ansel lakukan Pah?. Supaya hati Mama tidak sekeras batu."
"Supaya Mama bisa menerima Drabia dan Ayah Ilham."
"Pah! kenapa Papa begitu cepat meninggalkan Ansel Pah" isak tangis Ansel tak dapan membendung kesedihannya lagi. Katakan dia pria lemah, memang saat ini ia sudah tak berdaya.
"Mama jahat Pah! Mama gak menyayangi Ansel" adunya kepada sah Papa yang sudah tiada.
"Pah! jemput Ansel. Ansel kesepian Pah!. Ansel gak sanggup lagi hidup sendirian."
Ansel terus menangis di salah satu ruangan gedung perusahaan itu. Tidak ada tempatnya bersandar diri.
"Papa!!!" teriak Ansel sekuat tenaga. Cobaan ini terlalu berat untuknya. Ansel menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Istrinya dan mertuanya entah dimana rimbanya. Pergi menjauh karna ulah sang Mama. Kini perusahaan peninggalan sang Papa, hancur sudah. Ansel merasa sendirian menghadapi cobaan ini. Biasanya ada Pak Ilham yang selalu membantunya, menguatkannya.
Puas meratapi kehidupannya, Ansel berdiri dari lantai, melangkah gontai dari ruangan kosong itu, untuk pulang.
Sampai di rumah, Ansel langsung di sambut dengan kemarahan Ibu Nimas. Yang tidak terima dengan keputusan Ansel menjual perusahaan peninggalan mendiang suaminya.
"Apa apaan kamu Ansel?. Kamu menjual perusahaan itu tanpa meminta pendapat Mama!" marah Ibu Nimas dengan suara tinggi.
Ansel menghentikan langkahnya sebentar, menatap nanar pada Ibunya. Dan tanpa mengatakan apa pun, melanjutkan langkahnya kembali ke arah tangga untuk naik ke lantai dua rumah itu. Rasanya Ansel sudah tidak punya kekuatan untuk berdebat dengan Ibunya.
"Ansel!" teriak Ibu Nimas melihat Ansel mengabaikannya. semakin lama sifat aslinya semakin kelihatan.
Ansel yang sudah berada di dalam kamarnya, merebahkan diri di atas kasur, tanpa meperdulikan teriakan Ibunya.
Buarr!
"Ansel!"
Ansel yang sempat memejamkan mata, refleks membukanya kembalj mendengar debuman pintu yang di Buka Ibu Nimas dan suara keras wanita itu memanggilnya.
"Mama gak mau jika harus hidup miskin Ansel."
Ansel menatap teduh Ibu Nimas yang berjalan mendekatinya. Sepertinya wanita itu bukan Ibu kandungnya. Ibunya tidak seperti itu. Ibunya wanita lemah lembut dan penyayang. Ansel tidak menjawab, ia memilih memejamkan matanya kembali, karna sudah lelah dan ngantuk.
"Ansel!" panggil Ibu Nimas melihat Ansel mengabaikannya.
__ADS_1
"Sudahlah Ma, Ansel lagi sakit" ujar Anse. Tubuhnya terasa gak enakan, sepertinya masuk angin dan demam.
Ibu Nimas pun menyentuh lengan Ansel. Dan benar saja, tubuhnya terasa hangat, Ansel demam.
Ansel pun menarik lengan Ibunya, supaya duduk di sampingnya. Setelah Ibu Nimas duduk, Ansel memindahkan kepalanya ke atas pangkuan wanita yang melahirkannya itu.
"Kenapa Mama berubah, Ansel kangen dengan Mama yang dulu" gumam Ansel memindahkan sebelah tangan Ibunya ke atas kepalanya.
Ibu Nimas terdiam sambil memandangi wajah Ansel yang nampak sembab dan lelah. Anaknya itu habis menangis.
"Mama jangan kawatir. Meski perusahaan itu di jual. Tapi aku masih bisa bekerja, aku bisa mencari uang yang banyak untuk Mama. Ansel tidak akan membiarkan hidup Mama kesusahan" ucap Ansel, mengecup lengan wanita itu. Setelah itu diam sampai ketiduran sendiri.
"Ansel!" panggil Ibu Nimas melihat Ansel tak bergerak.
'Tubuhnya sangat panas' batinnya.
**
Di tempat lain
Wanita yang terjaga dari tadi terus memandangi laptop yang menyala di depannya. Raut wajahnya nampak sedih dan kawatir melihat vidio rekaman cctv yang tersambung langsung ke laptopnya. Dia terus mencermati pria yang terbaring lemah di atas ranjang, bersama seorang wanita paru baya duduk di sampingnya.
'Dia sampai sakit memikirkan perusahaan Om Hendry' batin wanita itu menghela napas kasar.
Selama dua Tahun, itulah yang dilakukan Drabia. Dia terus memantau Ansel lewat cctv yang terpasang di rumah dan di perusahaan, dan bahkan di dalam mobil milik Ansel, tanpa sepengetahuan Ansel.
Melihat Ibu Nimas membawa Ansel keluar kamar. Drabia pun mengambil handphonnya untuk menghubungi sahabatnya, Lea.
"Halo Lea!' sapa Drabia setelah Lea menerima panggilannya.
"Siapa sayang?."
Drabia mendengar suara seorang laki laki dari balik telepon. Dapat di pastikan, itu adalah suami Lea.
"Drabia" terdengar Lea menjawab.
"Mengganggu ya?" tanya Drabia tak enak hati sudah menepon tengah malam.
"Sedikit!" jawab pria yang berada di samping Lea.
Drabia memutar mata, menebak kalau suami istri itu sedang bermesraan.
"Ada apa?" tanya Pria itu mengambil handphon dari tangan Lea.
__ADS_1
"Sepertinya Ansel sakit. Coba cari tau kemana Nenek lampir itu membawanya berobat" suruh Drabia pada suami sahabatnya itu.
"Hm! baiklah, selamat malam" patuh pria itu dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Hei! aku belum selesai bicara" kesal Drabia dengan wajah berbinar. Ikut senang dengan sahabatnya yang mendapat suami yang baik.
Tak lama kemudian handphon di tangannya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Drabia langsung membuka pesan itu lalu membacanya. Pesan itu berisi alamat rumah sakit kemana Ibu Nimas membaw Ansel berobat.
Drabia langsung turun dari atas kasur, bergegas keluar kamar. Drabia akan mengunjungi Ansel ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Drabia langsung masuk ke kamar perawatan Ansel. Di lihatnya Ansel terbaring lelap di atas brankar. Sedangkan Ibu Nimas terlelap di atas sofa dengan posisi duduk.
Perlahan Drabia menyentuk lengan Ansel, lalu mengecup punggung tangan itu.
'Ya ampun, tubuhnya hangat sekali' batin Drabia.
"Drabia, sayang, akhirnya kamu datang" lirih Ansel, saat merasakan subuah kecupan mendarat di keningnya.
Ansel segera membuka matanya." Drabia!"panggilnya sedikit keras, sehingga Ibu Nimas terbangun.
"Ansel, kamu kenapa sayang?" Ibu Nimas langsung mendekati Ansel.
Ansel mengarahkan pandangannya ke arah sang Mama." Aku merasakan, Drabia datang ke sini Ma" jawab Ansel.
Raut wajah Ibu Nimas berubah tak suka." Tidurlah, jangan memikirkan wanita itu sekarang" ujarnya.
"Drabia istriku Ma" balas Ansel tak suka juga.
"Ya, dia istrimu" Ibu Nimas kembali berjalan ke arah sofa untuk tidur.
Ansel memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Tadi dia sangat yakin, Drabia mendatanginya. Meski ia tertidur, namun aroma farpum wanita itu menusuk masuk ke dalam hidungnya.
Ansel pun turun dari atas brankar, untuk mencari Drabia. Ia yakin istrinya masih berada di sekitar rumah sakit itu.
"Drabia!" panggil Ansel setelah berada di lorong rumah sakit.
"Drabia! aku tau kamu ada di sini!" seru Ansel lagi, berjalan sambil mendorong tiang infusnya.
"Drabia!"
*Bersambung
#Otor ngambek nih! kalau kalian mingkem๐๐๐
__ADS_1