
Ansel mengulas senyumnya, menjatuhkan satu kecupan di kening Drabia, mengecupnya cukup lama.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kamu lagi" ucap Ansel lembut sembari membelai wajah Drabia.
Dada Drabia naik turun, meski sangat menginginkannya, tapi rasa sakit yang teramat itu masih membayanginya.
"A-aku..."
Drabia tidak melanjutkan kalimatnya saat mendengar doa yang di bacakan Ansel di depan wajahnya. Setelah itu Ansel membelai lembut pipinya, mencium keningnya kembali. Sehingga ciuman itu perlahan turun mengabsen kedua kelopak matanya, kedua pipi dan terakhir bibirnya.
Perlakuan Ansel sangat lembut, membuat Drabia refleks memejamkan mata, dan tanpa sadar menghembuskan napas halusnya dari bibir manisnya.
Mendengar itu senyum Ansel terukir begitu indah di bibirnya. Membuatnya semakin yakin untuk menunaikan hak dan kewajibannya mereka. Tanpa ragu ragu, Ansel pun melakukan penyatuan yang sempurna, berhasil membuat istrinya itu hilang kewarasan.
Untuk pertama kali membuat malam pengantin mereka begitu indah, meski bukan yang pertama. Tapi rajutan kasih ini penuh gelora cinta mengatas namakan sang Maha cinta. Ansel menumpahkan seluruh cintanya pada Drabia. Melumurinya dengan madu cinta yang begitu manis dan dahsyat. Menciptakan nyayian cinta yang saling memuji dan mengagumi.
Pagi hari yang indah, Drabia membuka kelopak matanya saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya. Dilihatnya Ansel tersenyum duduk di sampingnya, sudah lengkap dengan baju koko dan sarung beserta kopiahnya.
"Ayo bangun, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ucap Ansel lembut.
Drabia menganggukkan kepalanya tersenyum malu malu mengingat kejadian tadi malam. Wajanya tampak merona yang semakin memancarkan kecantikan alaminya pagi itu.
Tadi malam Ansel sangat berhasil menghilangkan rasa takutnya. Rasa sakit dulu, menggantinya dengan rasa begitu nikmat.
Melihat Drabia masih terdiam di pembaringannya. Ansel pun berdiri dari pinggir kasur, lalu mengangkat tubuh Drabia setelah melilitnya dengan selimut, membawanya ke kamar mandi.
"Mandilah, aku ke masjid dulu" ucap Ansel setelah menurunkan Drabia di bawah shawer. Ansel pun pergi setelah memberi kecupan di kening, di kedua pipi dan bibir istrinya itu. Berhasil membuat Drabia merekahkan senyumnya. Senyum yang begitu tulus dan indah.
Selesai membersihkan diri dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Drabia pun keluar kamar menuruni anak tangganke lantai bawah rumah itu. Drabia akan memasak untuk mereka berdua.
Saat sibuk memasak, Ansel yang baru datang dari masjid langsung memeluknya dari belakang, dan menjatuhkan satu kecupan di pipinya.
"Assalamu alaikum Drabia istriku" ucap Ansel.
"Walaikum salam suamiku" balas Drabia tersenyum.
"Hm..tetaplah seperti ini, jangan pernah menampakkan tubuhmu pada pria lain" ucap Ansel masih belum melepas pelukannya.
Drabia menganggukkan kepalanya, sebelum Ansel meminta itu, ia sudah meniatkan itu setelah sah mereka menikah.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat cantik dengan memakai hijab. Ya..meski sebenarnya aku lebih suka melihat penampilanmu tadi malam. Kamu begitu s*ksi dan indah tanpa pakaian."
Bukh!
"Sakit Drabia" keluh Ansel melepas pelukannya setelah Drabia menyikut perutnya.
"Jangan di bahas, malu." Drabia yang sibuk mengaduk aduk masakannya, wajahnya merona.
Ansel mengulas senyumnya, ia pun kembali memeluk tubuh istrinya itu.
"Seharusnya Ayah dari dulu menikahkan kita" ucap Ansel lagi menyesali Ayah mertuanya yang tidak memintanya cepat manikahi Drabia.
"Gak ah, gak niat nikah muda" sanggah Drabia.
"Supaya aku menjagamu sayang" gemas Ansel. Menangkap pikiran Drabia yang menanggapi ucapannya menjurus ke hal mesum.
"Kamu kan gak menyukaiku dari dulu" cetus Drabia.
"Siapa bilang?" tanya Ansel. Dia bukan tidak menyukai Drabia, malah jujur saja, Ansel sudah tertarik dengan kecantikan Drabia. Hanya saja Ansel tidak menyiukai penampilan Drabia yang seperti wanita murahan. Suka memamerkan sebagian tubuhnya. Dan Drabia yang suka mabuk dan masuk club.
"Aku" jawab Drabia.
Bukh!
"Aw sayang!" ringis Ansel, kali ini Drabia menginjang kakinya.
"Jangan membahasnya" rengek Drabia. Drabia malu dan telinganya geli jika harus membahas urusan ranjang.
Ansel terkekeh, berpikir saat ini gilirannya menjahili istri jahilnya itu. Ansel pun menaikkan tangannya yang melingkar di perut Drabia, lalu merem*s kedua jantung pisang yang sama besarnya itu.
"Ansel!" rengek Drabia manja. Ingin mengingkari, tapi rasa ini sangat enak. Tapi Drabia malu, apa lagi mereka sedang di dapur.
"Apa sayangku? kamu meyukainya?" bisik Ansel di telinga Drabia yang tertutup hijab.
Drabia menggigit bibir bawahnya. Sudah tau jawabnya, suaminya itu masih bertanya. Ingin rasanya Drabia di bawa ke kembali ke kamar, tapi malu.
Tin nung!
Mendengar bel di rumah itu berbunyi, membuat Ansel menghentikan kejahilannya.
__ADS_1
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam!" balas Drabia, mendengar suara sahabatnya Lea.
Tak lama kemudian, Lea nongol di dapur bersama suaminya, Dafa.
" Ngapain kalian pagi pagi buta ke sini?" sinis Ansel, menatap Dafa tak suka.
Dafa cuek aja, dia pun mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja makan.
"Minta makan" jawab Lea.Tadi bangun tidur, tiba tiba dia ingin sekali memakan masakan Drabia.
"Emang suami mu gak bisa kasih kamu makan. Padahal gajinya dobel loh" sindir Ansel matanya melirik wajah Dafa yang bonyok bonyok bekas bogemannya.
Dafa diam aja tidak tersindir sama sekali. Meski dia membantu Drabia dan Pak Ilham, tapi dia tidak pernah mendapat bayaran apa apa. Dafa membantunya dengan tulus, demi mendapatkan cinta Lea, istrinya.
"Iya, tumben kalian pagi pagi ke sini?." Drabia juga heran, meski Lea dan Dafa sering berkujung. Tapi tidak pernah sepagi itu.
Lea melengkukkan bibirnya ke atas melihat makanan yang di letakkan Drabia di atas meja. Buru buru Lea mengambil piring dari dalam lemari piring, karna sudah tak sabaran mencicipi masakan Drabia. Padalah yang di masak hanya kangkung tumis di campur tempe, udang dan sosis.
"Kamu kenapa Lea?" Drabia menaikkan alisnya melihat Lea begitu tak sabaran ingin makan.
"Lapar" jawab Lea, mengisi piringnya dengan nasi dan kangkung tumis dan langsung melahapnya berdiri.
"Lea, jangan makan berdiri" tegur Dafa, menarik lengan istrinya itu supaya duduk. Lea menyengir lalu menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.
Drabia yang melihat Lea makan dengan rakus pun tersenyum. Kemudian mendekati Lea, dan mengelus perut wanita itu.
"Udah ada ponakanku di sini ya?" tanya Drabia.
Lea langsung menghentikan kunyahan di mulutnya dan mengarahkan pandangannya ke wajah Drabia yang tersenyum.
Lea tidak tau, apa ada ponakan di perutnya atau tidak. Tadi pas saat bangun tidur, tiba tiba saja dia menginginkan masakan Drabia. Sehingga ia merengek pada Dafa, supaya mereka ke rumah Drabia pagi itu juga.
Sedangkan Ansel dan Dafa pun sama sama diam memperhatikan ke dua wanita itu.
"Aku belum tau" jawab Lea jantungnya dekdegan.
"Ayo makan yang banyak, setelah itu kita periksa ke Dokter" ujar Drabia.
__ADS_1
*Bersambung.