My Wife Drabia

My Wife Drabia
42. Aku harus bagaimana


__ADS_3

"Bagaimana Pak Elang?" tanya Dafa pada hecker yang bertugas melindungi situs perusahaan itu.


"Sebentar" balas pria yang biasa di panggil Pak Elang itu.


Setelah berhasil memulihkan rekaman cctv di ruang Pak Ilham. Mereka pun memutar vidio rekaman itu. Vidio Drabia yang masuk ruangan Pak Ilham, mengatakan kalau dia mendengar pembicaraan Ibu Nimas lewat telepon kepada seseorang. Ibu Nimas menyuruh orang akan menghabisi Pak Ilham. Dan Drabia mengajak Pak Ilham pergi.


"Apa iya Ibu Nimas menyuruh seseorang untuk menghabisi Pak Ilham?" ucap Pak Elang tidak percaya.


"Saya juga tidak percaya. Tapi Drabia mengatakan dia mendengar Ibu Nimas berbicara lewat telepon, menyuruh orang itu untuk menyingkirkan Pak Ilham dan melenyapkannya. Masa iya?, Drabia berbohong. Dia sangat mencintai Ansel dari dulu" balas Dafa.


"Bagaimana? apa perlu vidio ini kita kirim ke hape Ansel?" tanya Pak Elang.


"Kirim aja, mungkin itu bisa jadi bukti untuk Ansel. Jika dia ingin memberitahu Ibunya, kenapa Drabia dan Pak Ilham pergi" jawab Dafa.


Pak Elang pun langsung mengirim vidio itu pada Ansel.


**


Ansel yang sudah menonton vidio yanf di kirim Pak Elang ke hapenya. Hanya bisa duduk termenung di atas kasurnya. Dia berusaha menyangkal jika Ibunya berencana ingin meleyapkan Pak Ilham.


Itu tidak benar. Ansel berpikir jika pun itu benar, pasti ada orang yang mengompori Ibunya. Ibunya wanita yang baik, tidak mungkin Ibunya sejahat itu.


Jika benar, apa yang harus ia lakukan?. Apakah dia harus memenjarakan Ibunya?. Menjemput Drabia dan Pak Ilham, apakah Drabia masih mau menjadi istrinya, dan Pak Ilham masih mau kembali ke perusahaan?.


**


Sudah dua hari, Ansel hanya duduk termenung di kamarnya. Tidak menemui Ibunya sama sekali. Dan Ibu Nimas sendiri pun tidak datang menemuinya.


"Ansel, kalau kamu hanya duduk di sini. Bagaimana dengan perusahaanmu. Perusahaan itu bisa hancur tanpa peminpin. Apa kamu mau membuat kami pengangguran?" tanya Ciko masuk ke kamar Ansel.


"Bagaimana kabar Ibuku?. Apa yang dia lakukan?" tanya balik Ansel menghiraukan ucapan Ciko.


"Lihat ini" Dafa menunjukkan sesuatu di hapenya pada Ansel. sebuah rekaman suara Ibu Nimas berbicara dengan seseorang lewat telepon.


'Pak Ilham sudah terlalu banyak masuk ke dalam kehidupan anakku. Dia terlalu menguasai anakku. Aku tidak menyukai itu. Sampai yang ingin menjadi menantuku, dia yang memutuskan. Padahal aku Ibunya, aku yang melahirkan Ansel. Tapi dia lebih berkuasa. Sudah cukup rasanya aku membiarkan dia mengatur hidup kami. Sekarang tidak lagi' ucap Ibu Nimas.

__ADS_1


Suara itu sangat jelas, Ansel tidak ragu lagi kalau itu suara Ibunya.


'Kamu saja yang bodoh, kamu menyerahkan perusahaan peninggalan suamimu pada Ilham. Padahal Ilham itu bukan siapa siapa kamu. Dia itu orang asing" ujar pria lawan bicara Ibu Nimas di telepon.


'Bagaimana lagi, saat itu aku gak punya pilihan. Ansel masih kecil, dan aku tidak mengerti sama sekali mengurus perusahaan' ucap Ibu Nimas.' *Dan aku hanya tidak suka dengan Pak Ilham yang mengatur hidup anakku. Aku tidak suka Drabia menjadi memantuku. Apa lagi setelah Pak Ilham membuat perjanjian kepada Ansel. Jika Ansel menjalin hubungan dengan wanita lain, maka seluruh harta Ansel jatuh ke tangan Drabia. Jadi apa aku tidak di anggap Ibu dari Ansel?.'


'Aku rasa Pak Ilham memanfaatkan putrinya untuk menguasai harta suamimu. Makanya dia menyuruh Ansel menikahi putrinya.'


'Singkirkan Pak Ilham, kalau bisa habisi dia. Soal Drabia, biar itu menjadi urusanku.'


'kamu yakin?.'


'Aku gak mau mereka menguasai hidup anakku lagi. Ansel anakku, dia milikku, bukan milik mereka.'


'Baiklah, aku akan menyuruh orang yang bisa mengabulkan permintaanmu*."


Dan masih banyak rekam jejak pembicaraan Ibu Nimas dengan beberapa orang di balik telepon. Salah satunya, Ibu Nimas yang menyuruh orang untuk menghalanginya mencari Drabia.


Ansel mengusap wajahnya kasar, dia tidak percaya, Ibunya tega ingin menghabisi Pak Ilham.


"Kalau bisa pertahankan rumah tanggamu An. Soal Ibumu, lambat laun hatinya pasti akan luluh. Yang terpenting, kamu berikan dia perhatian. Jangan buat dia kehilangan kamu meskipun kamu mencintai Drabia" usul Dafa bijak.


"Masalahnya, aku yakin Drabia tidak akan mau lagi bersamaku Daf" lirih Ansel. Tak bisa membayangkan jika dia benar benar kehilangan Drabia istrinya.


"Teruslah berusaha membujuknya" jawab Drafa.


Ansel menggelengkan kepalanya, putus asa." Aku malu" lirihnya." Aku malu dengan perbuatan Ibuku."


Dafa dan Ciko sama sama diam memandang kasihan pada Ansel.


Ciko menepuk pelan bahu Ansel, lalu berbicara." Tenangkanlah dulu pikiranmu. Setelah tenang, baru pikirkan rencanamu ke depannya."


"Iya An, kamu harus ingat, ada kami yang selalu siap membantumu. Aku sudah menyuruh seseorang untuk tetap mengawasi pergerakan Ibumu. Dan menyuruh orang untuk mengawasi Pak Ilham dan Drabia dari jarak jauh. Jadi jangan kawatir, mereka pasti aman. Kamu hanya memikirkan, waktu yang tepat untuk menjemput istrimu." Dafa mengulas senyum tulus ke arah Ansel.


Membuat Ansel ikut tersenyum.

__ADS_1


"Nah gitu dong!, tersenyum" Ciko melingkarkan sebelah lenganya ke leher Ansel.


"Trimaksih sudah selalu ada untukku. Kalian tidak meninggalkan aku meski aku pernah melakukan kesalahan" balas Ansel.


"Kita bukan hanya sahabat, tapi sudah menjadi saudara" balas Ciko.


**


Di tempat lain, Ibu Nimas mengeram karna Ansel berhasil menemukan Drabia dan Pak Ilham.


"Kenapa kalian bisa kehilangan jejak mereka?" tanya Ibu Nimas lewat telepon.


"Maaf bos, sepertinya ada orang yang mengetahui keberadaan kami" jawab pria di balik telepin itu.


"Kalian bodoh! seharusnya kalian hati hati" maki Ibu Nimas.


"Kami terkecoh saat keluar dari bandara bos. Mobil yang membawa mereka sepertinya orang yang sudah tau keberadaan kami. Sehingga dia bisa membawa anak bos dan kawannya lewat jalan lain. Sedangkan kami tidak menghapal jalan di sana bos" jelas Pria itu lagi.


"Ya sudah, sekarang tugas kalian adalah untuk menghabisi Pak Ilham dan putrinya Saya tidak mau sampai waktu anak saya habis untuk memikirkan dan mencari ke dua orang itu" perintah Ibu Nimas.


"Baik bos, kami ini akan lebih berhati hati" ujar pria itu.


"Hm!" balas Ibu Nimas lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.


**


Ansel hanya bisa menarik napas dalam dan mengeluarkannya kasar dari mulut, mendengar percakapan Ibunya melalui telepon bersama seseorang. Yang berhasil di sadap Pak Elang ke hape milik Ansel.


Begitu bencinyakah Ibunya kepada Pak Ilham dan Drabia?. Ansel tidak habis pikir dengan Ibunya.


Tidak tahan menahan ke geraman lagi pada Ibunya. Ansel yang berada di kantornya pun langsung keluar. Ansel akan menemui Ibunya, mengungkap semua rencana Ibunya yang ingin menghabisi Pak Ilham dan Drabia.


"Mama!" panggil Ansel berteriak saat memasuki rumah Ibunya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2