My Wife Drabia

My Wife Drabia
72. Temani aku di sini


__ADS_3

"Gak boleh pergi kerja" rengek Drabia memeluk tubuh Ansel yang sudah selesai bersiap berangkat kerja.


"Kalau aku gak pergi kerja, siapa yang mengurus perusaaan sayang?" Ansel mengusap kepala istrinya itu dengan sayang. Semenjak mengetahui kalau dia benar hamil, Drabia selalu ingin menempelinya.


"Gak boleh, temani aku di sini aja" ucap Drabia dengan mata berkaca kaca.


"Kamu ikut aja, di sana kamu bisa istirahat" ujar Ansel.


"Gak mau, di sini aja" tolak Drabia bibirnya bergetar dan menekuk ke bawah.


Ansel tak tega melihatnya, ia pun mengagkat tubuh istrinya itu, membawanya ke arah sofa.


"Baiklah, aku akan menyuruh Ciko mengantar berkas berkas ke sini" pasrah Ansel, mengalah demi istri dan si buah hati.


Drabia pun menyandarkan kepalanya ke dada Ansel. Dan Ansel mengusap usap kepalanya terus menerus.


Beberapa hari ini istrinya itu mengalami ngidam yang parah. Tidak suka makan setiap pagi dan selalu muntah setiap bangun tidur. Membuatnya manja dan ingin lebih di perhatikan dan di sayang sayang.


"Tapi nanti siang aku boleh pergi kan?" tanya Ansel. Nanti siang ia ada meeting di perusahaan.


Drabia diam dan ceberut.


"Perusahaan itu milikmu loh! sayang. Nanti kalau aku di rumah terus gimana?. Siapa yang ngurus?" bujuk Ansel, tanpa berhenti mengusap usap rambut wanitanya itu dari belakang.


"Lapar tapi gak selera makan" rengek Drabia, manja. Ansel kasihan melihatnya, tapi Ansel tidak bisa membantunya.


"Masa sih gak ada yang anak kita pengen?" tanya Ansel lembut, kini satu tangannya mengusap perut Drabia.


Drabia berpikir, kira kira makanan apa yang pengen ia makan. Tapi Drabia tidak tau.


Ansel pun mengecup kening istrinya itu. Lima hari tidak selera makan, tubuhnya sudah terlihat mulai kurus.


"Biasanya kamu sukanya makanan yang ada asem asemnya" ujar Ansel, membantu istrinya itu berpikir, mungkin Drabia bisa megingat makanan kesukaannya.


Air liur Drabia pun berdesir," Masakin tomyan" ucapnya, menyebutkan makanan yang terlintas di pikirannya.

__ADS_1


Ansel pun mengulas senyumnya, lega akhirnya ada makanan yang di inginkan istrinya itu.


"Ya sudah, tunggu di sini ya, biar kumasakin."


"Ikut ke dapur" manja Drabia.


Ansel pun berdiri dari tempat duduknya, lalu menurunkan Drabia dari gendongannya, menuntunnya berjalan ke luar kamar.


Sampai di dapur, Ansel mendudukkan Drabia di kursi meja makan. Lalu melangkah ke arah kulkas untuk mengambil bahan bahan untuk membuat tomyan.


"Saya bantuin ya Pak" tawar si Bibi di rumah itu melihat Ansel mengeluarkan isi kulkas.


"Iya Bi, tolong bersihin udang sama cuminya ya Bi" ucap Ansel. Dia memang butuh bantuan, supaya istrinya itu tidak terlalu lama menunggu.


Si Bibi pun mengangguk, lalu manganbil cumi dan udang dari tangan Ansel, membawanya ke whastapel.Sedangkan Ansel, dia membuat bumbunya dan memotong motong bahan lainnya.


Kurang lebih setengah jam, tomyannya pun sudah jadi. Ansel memindahkannya ke dalam mangkok dan membawanya ke meja makan.


"Sayang" panggil Ansel meletakkan semangkok tomyan di depan Drabia.


Drabia langsung berlari ke arah whastapel, merasakan perutnya mual tiba tiba, mencium aroma udang dari dalam mangkok.


Selesai memuntahkan isi perutnya yanv hanya lendir berwarna bening. Drabia menangis karna tak tahan merasakan sakitnya muntah.


"Ssst!" Ansel menghapus air mata istrinya itu, lalu menggendongnya, membawanya kembali ke dalam kamar.


"Lapar" tangis Drabia, perutnya terasa lapar, namun tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya setiap pagi.


"Iya sayang, katakan aja kamu pengen makan apa. Atau kamu ingin kita mencari makanan di luar?" ucap Ansel tidak tau harus berbuat apa.


Drabia menganggukkan kepalanya, munkin kalau mereka keluar, Ia bisa menemukan makanan yang ia pengen.


"Ya udah, ayo" Ansel berdiri dari pinggir kasur yang di dudukinya dari tadi, kemudian membantu istrinya itu turun dari atas kasur.


"Sebentar, aku ganti baju dulu sama bedakan" ucap Drabia saat Ansel menarik tangannya ke arah pintu.

__ADS_1


Ansel terdiam dan mengerutkan keningnya. Mereka hanya mencari makanan, bukan ingin pergi jalan jalan. Dan juga istrinya itu sudah rapi, memakai gamis rumahan dan jilbab, hanya saja tidak memakai bedak. Untuk apa lagi istrinya itu mengganti pakaiannya?.


"Sudah selesai" ujar Drabia sumiringah, wajahnya terlihat senang setelah selesai mengganti pakaiannya dengan gamis yang lebih bagus.


"Ya udah, ayo" Ansel menarik tangan istrinya itu, membawanya keluar kamar.


Sampai di halaman rumah, Ansel membuka pintu mobil untuk Drabia dan membantunya duduk. Setelah menutup pintunya, baru Ansel menyusul masuk dan langsung melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah, melaju dengan kecepatan rendah.


"Adeknya sudah tau belum pengen makan apa?" tanya Ansel melihat Drabia dari tadi diam sibuk memperhatikan setiap tempat penjual makanan.


"Belum" jawab Drabia menekuk bibirnya ke bawah namun wajahnya tampak berbinar. Sepertinya istrinya itu senang di bawa jalan jalan.


Ansel pun mengulurkan satu tangannya ke perut Drabia, mengelusnya dengan lembut." Kesayangan Ayah pengen makan apa sih sebenarnya?, atau kesayangan Ayah ini sebenarnya pengen mutar mutar aja?" tanya Ansel tersenyum.


Sepertinya benar, anak mereka itu pengen mutar mutar aja. Terlihat dari wajah istrinya yang berbinar senang semenjak dari rumah.


Drabia menatap wajah Ansel dengan mata menyipit dan bibir di tekuk ke bawah. Ketahuan deh, adek bayinya pengen jalan jalan.


"Ya udah, tapi kesayangan Ayah makan ya" bujuk Ansel dengan suara lembut dan membujuk.


Waktu anak anak, istrinya itu memang tidak betah di rumah. Sehingga sering main kabur ke rumahnya, meski harus berjalan kaki cukup jauh. Mungkin adek bayinya sama seperti Ibunya, suka jalan jalan dan ngelayap. Gak apa apa, selagi masih di dalam kandungan, kalau sudah lahir dan besar, Ansel tidak akan membiarkamnya.


Drabia menganggukkan kepalanya," tapi belum suka makan" ucapnya.


Pagi pagi memang dia tidak bisa makan semejak mengalami ngidam. Sebentar lagi, kalau pagi mulai beranjak siang.


Ansel pun pasrah mengikuti ke inginan istrinya itu. Yang penting si bumil manja, hatinya senang riang gembira. Masalah kerjaan, sepertinya Ansel harus minta tolong sama Papa mertua tersayang untuk membantunya meminpin perushaan lagi.


"Anak Ayah mau jalan muter kemana lagi nih?" tanya Ansel, mereka sudah lebih satu jam berada di perjalanan, tapi nampaknya si bumil masih belum ingin berhenti.


Drabia nampak berpikir, kenama kira kira arah yang pengen ia lewati?.


"Ke rumah Lea yuk, tapi kita beli makanan dulu" jawab Drabia setelah berpikir seperkian detik.


"Makana apa ?" Ansel mengulas senyumnya pada Drabia, sambil satu tangannya terangkat mengusap lembut kepalanya.

__ADS_1


"Goreng pisang"


*Bersambung


__ADS_2