
Hari ini, Gendis datang ke perusahaan yang diincarnya, pihak perusahaan akan menghubungi Gendis secepatnya, pelamar berjumlah sekitar 310 orang sementara pekerjaan yang ada lowonganya hanya satu.
Sehingga akan diadakan seleksi berupa tes, dan tes wawancara.
Gendis pulang pergi menggunakan taxi online, sebab di Jakarta ini dia belum tahu seluk beluknya, saat Sean menawarkan untyk mengantarnya, Gendis menolak.
Di rumah sudah ada masakan matang jadi Gendis tidak tergesa-gesa untuk pulang. Ia akan jalan-jalan dulu ke mall. Sambil membeli kebutuhannya sendiri untuk satu bulan ke depan.
Gendis memasuki salah satu mall terbesar di Jakarta, ia mulai menyusuri toko-toko pakaian dan make up.
Gendis memasuki salah satu toko, ia membeli dua stel baju, dan parfume, parfumenya sudah habis.
Saat ia melewati sebuah toko perhiasan, ia tergoda untuk membeli cincin.
Saat ia akan masuk ke toko tersebut, di dalam toko terlihat Sean sedang bersama seorang wanita yang tampak anggun dengan dress pendek sedengkul warna kuning, dilengkapi dengan sabuk menambah anggun penampilannya.
Wanita itu menenteng tas keluaran merk ternama, dia tampak menawan.
Gendis terpaku, dia betul-betul terpaku, dia tak bisa pergi tak juga bisa berbicara. Bibirnya kelu.
Dia hanya bisa memandang dua sejoli tersebut sedang memilih-milih kalung, terakhir Gendis melihat, Sean memasangkan kalung untuk wanita itu.
Mereka akan keluar saat Sean melihat ada Gendis sedang memandangnya. Tak sadar, pegangan tangannya pada Alexa ia lepaskan, ia bermaksud mendatangi Gendis, saat Gendis melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri perhiasan itu, dan terus berjalan melewati Sean. Gendis pura-pura tak mengenali Sean.
Ia menuju ke pramuniaga dan menanyakan letak cincin.
Sekarang Sean-lah yang terpaku, sampai Alexa menyeret tangannya,
" Ayo sayang, kita makan dulu ya aku lapar".
Sean menarik nafas panjang,
" Aku harus kembali ke kantor, jam istirahatku sudah selesai".
" Kamu kan boss, masa takut telat".
" Aku harus memberi contoh yang baik pada karyawankan Lexa?"
Alexa menghentakkan kakinya, pertanda jengkel, sementara Sean sibuk dengan pikirannya, dan langsung berjalan menuju tempat parkir, tanoa memperhatikan Alexa yang sedang merajuk.
Ia baru menyadari Alexa, tak ada bersamanya saat ia sampai di mobil.
Dari tadi Sean sibuk dengan fikirannya sendiri.
Sean tidak berusaha mencari ia masuk ke dalam mobil, dan menunggu Alexa disana.
Tak lama kemudian Alexa datang, dia diam saja sambil cemberut.
Sean memandang Alexa,
" Maaf, aku takut telat".
" Takut telat tak lantas ninggalin aku kan?"
__ADS_1
" Maaf".
" Memang kamu lihat apa sih, keluar dari galeri lamgsung kayak orang linglung?".
" Aku nggak lihat apa-apa Lexa, maaf".
Lexa diam saja, kelihatanya dia memang sedang marah.
Sean diam tak berkata lagi, Lexa ia turunkan di depan rumahnya,
" Aku nggak turun ya Lex, aku takut telat", teriaknya dari dalam mobil.
" Terserah", Jawab Lexa singkat sambil masuk ke halaman rumahnya, yang berbentuk minimalis tapi sangat cantik.
Sean segera membawa mobilnya ke mall lagi, dia bermaksud untuk menjemput Gendis.
Ia berlari ke tempat perhiasan tadi, tapi Gendis sudah tak ada.
Ia berlari lagi ke bawah, Sean berharap Gendis masih ada di halaman depan mall menunggu taxi. Tapi harapannyapun pupus, Gendis tak ada disana.
Sean masuk ke mall lagi dengan lunglai, ia berjalan menuju ke tempat parkir.
Sementara di salah satu cafe yang ada di mall tersebut, Gendis memperhatikan dari jauh tingkah Sean.
Ia belum mau, mendekat pada Sean. hatinya terasa perih, mengingat peristiwa barusan.
Cobaan apalagi Tuhaaan.
Sean memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartemennya, ia berharap Gendis sudah ada di rumah.
Gendis, Gendis . Nama itu terngiang terus di kepalannya.
Sampai di apartemen, ia tak menemukan Gendis, masih sepi.
" Ndis, Gendis"
Sean membuka pintu satu persatu, tak ada Gendis disana. Sean terduduk di ruang tamunya.
Ia khawatir terjadi sesuatu pada Gendis.
Sean segera menghubungi Gendis, aktif, tapi tak diangkat. Beberapa kali Sean menelpon tapibtak diangkat juga.
Saat Sean akan keluar lagi, ponsel notif-nya berbunyi.
' Beri aku waktu' Dari Gendis tak ada kalimat lain lagi.
Sean segera menghubungi Gendis lagi, aktif. tapi tetap tak diangkat.
' Kamu dimana ?", pertanyaan itu tak dibuka dan tak dibaca sampai dua jam ke depan. hal itu membuat Sean semakin khawatir.
' Ya Tuhan, baru saja kami berbaikan, ada cobaan ini lagi, ****** ****** ******', batin Sean dalam hati, sambil tak hentinya dia menyalahkan diri sendiri.
Sementara di luar hujan sangat deras.
__ADS_1
Kekhawatiran Sean semakin menjadi-jadi.
Ada apa ini denganku, betulkah aku tak punya rasa pada Gendis, lalu, apa artinya aku sekhawatir ini.
Sean menghubungi Gendis lagi. tidak aktif.
Benar-benar bikin frustasi. Dia baru di Jakarta. Hujan, di tempat asing.
Sean berjalan kesana kemari, ia tak jenak melakukan aktifitas apapun. Resah ini benar-benar bisa membuatnya gila.
Jam tujuh malam lebih, Sean akan keluar saat pintu apartemen dibuka.
Gendis masuk, ia melihat Sean sekilas, sambil bicara,
" Maaf membuat khawatir".
" Kamu apa-apaan, jika ada masalah biasakan untuk dibicarakan, tidak lari seperti ini".
" Aku nggak lari, hanya butuh waktu".
"Waktu bisa kamu tunggu di rumah kan, tidak harus di luar sana".
Gendis menjadi tersulut emosinya, bukan dia yang salah, lalu kenapa Sean yang marah?. fikirnya.
" Terus mau kamu aku sekarang bagaimana ?, meringkuk di tempat tidur ? menangis tersedu-sedu karena melihat suaminya jalan dengan wanita lain? dan memasangkan kalung pada wanita lain ?"
Sean menjadi terdiam, sebab apa yang dikatakan oleh Gendis semua benar.
Sean merendahkan suaranya,
"Kenyataanya, tidak seperti yang kamu lihat".
" Memang apa yang aku lihat, drama korea romantis ? bukan hal yang sebenarnya ? bulshit".
" Gendis !!!"Sean berteriak mengagetkan Gendis.
Gendis segera berlari ke dalam kamar. Ia kunci pintunya dan segera menjatuhkan diri di tempat tidurnya.
Sean menyadari kesalahannya.
" Gendis, Ndis, maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu, tolong buka Ndis, aku.... "
Gendis memotong kalimat Sean.
" Tolong Mas, beri aku waktu, hanya itu yang kuminta".
Sean ragu-ragu meninggalkan kamar Gendis, sebetulnya ia ingin bicara banyak, tapi kelihatanya Gendis tak mengizinkan.
Sean melangkahkan kakinya kedalam kamar.
Ponselnya berbunyi lagi. Dari Alexa, entahlah tak ada niat sedikitpun di hati Sean untuk mengangkat telepon dari Alexa. Ia biang begitu saja ponselnya di atas tempat tidur, sementara ia langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Sean memutar shower panas dan dingin, dan langsung membasahi kepalanya, tanpa membuka baju.
__ADS_1
Pikirannya betul-betul kacau, rasanya ingin sekali saat ini juga ia memecahkan kaca tabung kamar mandinya.
Tapi untungnya, ia masih bisa mengendalikan diri.