Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 28


__ADS_3

Sean mulai melancarkan seranganya, ia tak mau menyianyiakan kesempatan, setelah sekian lama berpisah dengan istrinya. Ia tak mau Gendis pergi darinya, dia harus ada disini bersamanya selamanya.


Sean yakin Gendis mencintainya. justru ia tak yakin dengan dirinya sendiri. Sudah cintakah dia pada Gendis ??.


Entah pikiran bodoh darimana, sehingga pertanyaan itu muncul dari hatinya.


Sean mulai menyatukan diri dengan Gendis, mereka bersama-sama mencapai puncak asmara.


Sean terkapar di samping Gendis, dengan peluh bercucuran. Perjuangannya ternyata mengalahkan hawa dingin AC. Ia memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Gendis.


" Terima kasih sayang, kamu tidak boleh kemana-mana, kamu harus tetap berada disini bersamaku".


Gendis membenamkan diri di tubuh Sean.


Sebetulnya Gendis benci pada dirinya sendiri. Kenapa dia begitu lemah jika berhadapan langsung dengan Sean.


Pada kenyataanya dia sakit hati, jika mengingat tadi ia bertemu Sean berdua dengan Alexa. Lelaki yang tidak memcintainya ini, selalu sukses menaklukkan hatiku.


Makanya ada pepatah mengatakan, secerdas dan segenius apapun kamu. Kamu bisa mendadak bloon bila jatuh cinta. Dan kini Gendus merasakan sendiri. Betapa bloonnya dia di hadapan Sean.


Pagi harinya, Gendis sebetulnya ingin memasak sesuatu, tapi di kulkas tak ada apa-apa yang bisa dimasak, melihat ke kitchen set ia hanya menemukan lauk instan, akhirnya ia memasak apapun yang ada disitu.


Sebelum.masakan siap Sean sudah terbangun dan menghampiri istrinya yang sedang memasak. Sean memeluk istrinya dari belakang.


" Morning honey"


" Pagi"


" Kamu masak apa ? butuh bantuanku ?"


" Nggak, duduk saja disana biar aku yang masak semua, sambil kita bicara !"


Nada bicara Gendis lembut tapi tegas, membuat dada Sean menjadi deg-degan.


Sean memperhatikan istrinya dari belakang, Gendis masih menggunakan lingerie yang dibelikan mama mertuanya yang berwarna hitam, di mata Sean Gendis tampak sexy, dengan rambut basah teruarai.


Dengan tidak bisa menahan diri Sean mendatangi istrinya dan menciumi belakang telinga, leher dan punggung istrinya.


Gendis diam saja, sebetulnya dia sudah mulai agak terpengaruh, tapi ia berusaha menahan diri.


" Duduk, jangan ganggu aku, nanti kita bicara !"


" Kenapa ? kamu takut tergoda dengan cumbuanku?"


" Stop Mas ! jangan berlagak seolah mencintaiku!!" Dengan nada keras dan tegas.


Sean menghentikan gerakannya, dia kaget istrinya membentak-nya, dan yang paling mengagetkan adalah pernyataan Gendis.


" Kenapa kamu berkata seperti itu ?"


" Lalu aku harus berkata apa, saat aku lihat suamiku masih jalan dengan kekasihnya, saat aku beri kesempatan untuk introspeksi diri, bukan menjauh malah aku lihat kamu semakin mesra saja dengan Alexa".


Sean tersenyum, ia senang Gendis cemburu. Ia mendekati istrinya untuk dipeluk. Tapi sebelum melakukan itu Gendis sudah teriak dan menjauh.

__ADS_1


" Stop !! aku nggak main-main, mulai sekarang jangan mendekati aku, jika hatimu masih ada Alexa, ngerti ?!"


Sean mengangguk dengan lesu,


" Tapi kamu istriku, aku...."


" Berhak atas kamu" , potong Gendis. Ia sudah hafal betul kalimat Sean.


" Oke kita ngobrol sambil makan, aku bukan orang yang sentimentil, aku bisa melupakan hal-hal mematikan kreatifitas dengan cepat, jadi sekarang jangan fikirkan perasaanku", bicara seperti itu, sambil Gendis mengambilkan makanan untuk suaminya.


" Maksud kamu apa ?"


Sean mulai.menyuapkan makanan sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya.


Orang bisa tiba-tiba menjadi ***** jika bucin.


" Aku istrimu, kamu tidak berhak menduakan aku, aku akan tetap disini jika kamu memilih aku, dan meninggalkan Alexa, atau sebaliknya, kamu memilih Alexa dan aku akan pergi darimu".


" Tidak, kamu tidak boleh kemana-mana, kamu harus terus bersamaku". jawab Sean cepat.


" Lalu Alexa ?"


Tak ada jawaban, Sean masih bingung bagaimana cara mengakhiri hubungannya dengan Alexa. Alexa pasti akan terluka, padahal mereka berpacaran sejak masih sama-sama kuliah.


" Beri aku waktu Ndis".


" Tidak, aku sudah tidak punya waktu lagi memikirkan ini, cukup setengah tahun aku berikan padamu, itu waktu yang lama dan benar-benar menguras energiku".


" Baiklah, aku akan memutuskan Alexa".


" Ya, hari ini juga".


Sebenarnya Gendis mendengar keraguan di ucapan Sean, tapi ia tak mau ambil pusing. Baginya pernyataan Sean sudah cukup. Ia tak mau membebani pikirannya dengan sesuatu yang belum pasti.


Gendis mengambil ponsel Sean dan menyerahkan pada Sean.


" Telepon dia sekarang katakan kamu ingin bicara padanya hari ini".


Sean mengambil ponsel dari Gendis


" Halo"


" Kenapa telpon ? tumben, kirain sudah nggak ingat aku lagi ?"


Sean ingat, semalam ia meninggalkan Alexa di studio bioskop begitu saja, mungkin dia sekarang marah.


" Maaf yang semalam, nanti kita ketemu, bisa?"


" Buat apa?, untuk kamu tinggalkan begitu saja?


" Maaf sekali lagi Lexa, aku mau bicara penting".


" Baiklah, dimana jam berapa ?".

__ADS_1


"Di tempat biasa kita nongkrong, jam tujuh malam".


" Baiklah, jika kejadian yang sama terulang kembali, aku tidak akan memafkanmu".


" Baik Lexa, maaf".


Sean menutup teleponya, karena Gendis sengaja menghidupkan speaker sebingga pembicaraan mereka didengar oleh Gendis.


" Aku tunggu jawaban keputusan kalian hari ini jam sepuluh malam, paling lambat, satu lagi, jika Mas Sean bohong, semua akan benar-benar berakhir".


Sean hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Sementara dalam hati Sean terjadi perang batin.


Bukan Sean tak mau memutuskan Alexa, tapi dia merasa belum yakin tentang perasaanya pada Gendis.


Memang, jika tak ada Gendis hidupnya sangat hampa, tapi selalu bisa digantikan oleh Alexa. Meskipun tak sekalipun Sean memperlakukan Alexa seperti istri.


Alexa juga menyerahkan hati sepenuhnya untuk Sean. Cinta Alexa pada Sean membuatnya menjadi terpenjara. Dia merasa bersalah jika harus meninggalkan Alexa. Hubungan mereka sudah lama terjalin, tidak bisa begitu saja dilepaskan.


Tapi Sean juga tak memungkiri, jika berada dekat Gendis, dia merasa nyaman, hatinya juga selalu berwarna. Ada perasaan entah seperti apa yang tak bisa ia uraikan dalam kalimat. Ada bahagia, ada sedih, ada gairah, aaaah Sean benar-benar pusing.


Kenapa tidak kalian berdua saja mengisi hariku, sehingga aku tak perlu pusing seperti ini.


Menurut Sean, mereka sama-sama baik, sebab tahu kondisi Sean. Alexa tahu Sean sudah menikah, begitu juga dengan Gendis, ia tahu Sran memiliki kekasih.


Hati kedua wanita ini sangat luas. Jika wanita lain, pasti salah satu, atau keduanya pasti meninggalkan aku.


" Sayang hari ini aku malas berangkat kerja".


Gendis memandang Sean,


" Kenapa?"


" Aku ingin tinggal di rumah seharian ini bersamamu, boleh ?", dengan pandangan mata penuh harap.


" Ah jangan seperti anak belasan tahun".


"Terserah kamu mau bilang apa, hari ini aku mau bilang papa kamu pulang ya, papa dan mama pasti senang".


" Nggak perlu, kita tunggu keputusan kamu nanti malam, aku tak mau....".


Sebelum Gendis selesai berbicara, Sean sudah ....... bibir Gendis.


Ia melancarkan serangan mematikan pada Gendis. Rontaan Gendis tak ada artinya dengan cengkeraman tubuh kekar Sean.


Sean selalu tak bisa menahan diri jika berhadapan dengan Gendis. Rasanya ia selalu ingin ******* habis tubuh Gendis. Tak berbeda dengan saat ini. Kerinduan yang dipendam selama setengah tahun harus ia tuntaskan mulai hari ini dan seterusnya, supaya mereka segera punya dede dan Gendis tak bisa pergi kemana-mana.


😊😊😊😊😊😊😋


Next yaaaaa


Jangan lupa tinggalin jejak like, koment n vote

__ADS_1


Kalau nanti nggak lagi sibuk banget aku kasih deh satu episode lagi, biar readersku tercinta syuukaaa


Saranghaeyo 😘😘😘😘


__ADS_2