
Pagi ini, Gendis dan Sisca berangkat kerja, hari ini ada pertemuan di salah satu hotel untuk tender suatu produk dalam satu tahun ke depan.
Tapi masing-masing swalayan dan super market harus presentasi, yang paling menjanjikan mendapat laba terbesar akan mendapatkan tender produk tersebut.
Setiap super market dan swalayan menampilkan asistennya untuk presentasi. Tio mengajak Gendis untuk presentasi.
Dari awal sebetulnya Gendis sudah bilang pada Tio, dia takut jika bertemu dengan Sean, tapi Tio meyakinkan bahwa yang datang adalah Pak Adinata, mertua Gendis.
Acara tersebut dimulai pukul sepuluh. Gendis dan Tio berangkat ke hotel tersebut, sampai disana ternyata trman pengusaha sudah berkumpul ramai.
" Mas Tio, sudah menyiapkan asistennya dengan baik?" Tanya Pak Handoko.
" Sudah Pak, dia Sudah masuk ke ruang presentasi".
" Pak Handoko bagaimana?"
" Yang penting semoga lolos".
" Heeeei Pak Tio, apa kabar, kandidatnya pasti Oke ?"
" Masih baru, tapi semoga bisa memenuhi standar".
Dari pintu masuk, muncul Sean. Dia langsung menyapa semua yang ada disitu.
Tio sampai terkaget-kaget, dalam proposal dari swalayan Pak Adinata, Pak Adinatalah yang akan datang.
Tapi ini,
" Halo Io, apa kabar?" Sapa Sean pada Tio
" Sean ?? baik".
" Yang Presentasi pegawai baru ?"
" Ya, kirain Pak Adinata yang datang".
" Awalnya papa, tapi beliau hari ini harus ke Bekasi, bagi-bagi tugas ".
Tio mengangguk-anggukkan kepala.
Acara segera dimulai, ada layar lebar dihadapan mereka, yang menayangkan presentasi pegawai.mereka yang dilakukan di ruang sebelah.
Ada lima belas yang ikut tender, satu persatu mereka mempresentasikan strategi pemasaran masing.
Gendis ada di urutan sepuluh, sekarang sudah urutan delapan.
Dada Tio mulai deg-deg an, antara ikut tender ini atau tidak. Jika tidak, ini adalah kesempatan emas, bila gool laba yang didapat akan sangat besar, tapi jika dilanjutkan Sean akan mengetahui bahwa pegawainya adalah istrinya.
Dilema itu datang berurutan dan belum habis Tio berfikir, di layar sudah tampak Gendis mempresentasikan usulannya.
Tio dan Sean sama-sama tercengang. Saat yang lain presentasi mereka sibuk ngobrol, tapi begitu Gendis maju, mata para boss seakan tersihir, bukan saja oleh wajah cantik Gendis, tetapi melihat begitu meyakinkannya Gendis presentasi membuat mereka terkagum-kagum.
" Io itu asisten barumu ?" Tanya Pak Zul yang seusia dengan papinya.
__ADS_1
" Eh... ya Om".
Mereka semua memandang Gendis dan kembali menengok ke Tio
" Luar biasa keren ini, dia punya trik jitu, Selamat Pak Tio, sepertinya kali ini kita menyerah, sebelum pengumuman".
Mereka tertawa dan bertepuk tangan bersamaan, kecuali Sean dan Tio yang tersenyum kecut, sambilnmelirik Sean yang masih terpaku dengan apa yang dilihatnya.
Begitu Gendis selesai presentasi, Sean segera keluar untuk mendatangi istrinya, ia berlari tanpa menghiraukan yang lain.
" Heei kenapa itu Sean ?" Mereka serempak melihat ke arah pintu.
Melihat hal itu, Tio segera mengejar Sean, mereka yang di dalam ruangan tambah bingung lagi.
" Ada apa mereka berdua ?"
" Iya, seperti melihat hantu saja" jawab yang lain.
Di tempat lain
" Sean ! Sean !" Tio memanggil Sean supaya tidak mendatangi Gendis
Sean berbalik, wajahnya tampak marah. Mereka memiliki postur tubuh yang sama, balik langkah Sean ternyara mencengkeram kerah baju yang dipakai Tio.
" Selama ini kamu tahu dimana istriku, krnapa kamu diam saja ?!!"
Tio masih bingung harus menjawab bagaimana, kejadian ini sangat tiba-tiba.
" Jawaaaaab !!!" Dambil tangan kananya mengepal ingin memukul Tio.
" Aku tidak akan melepaskan kamu jika kamu tidak mau menjelaskan !".
" Kita dilihat banyak orang ".
Sean melihat sekeliling, benar saja, mereka jadi tontonan gratis orang- Orang yang berada disitu.
Dengan pelan Sean menurunkan tangan kananya, serta melrpaskan krahnya dengan kasar.
" Aku tidak memberitahu kamu, aku pikir kamu lebih berat pada Alexa, sebab aku lihat beberapa kali kamu masih jalan dengan Alexa, aku cuma ingin melindungi Gendis".
" Kenapa kamu harus melindungi dia bukzn iztrimu ?!"
" Dia pegawaiku, apakah salah jika atasan melindungi pegawainya".
" Nggak ada yang salah, tapi kamu keterlaluan, Gendis itu istri temanmu! bagaimana mungkin kamu diam saja, melihat istri temanmu bekerja padamu ".
" Kamu yang keterluan, dia istrimu, kenapa dia pergi tidak kamu cari ? Ha..? Karena Alexa kan?"
" Kamu ???!"
" Kenapa ? Aku benar kan?"
Sean tidak tahu, akan menjawab apa. Tapi apa dikatakan Tio memang benar.
__ADS_1
Suara Sean agak turun,
" Kami, aku dan Alexa sudah tidak ada apa-apa, kami putus".
"Oh ya? Lalu kenapa Gendis pergi ?"
Agak lama Sean baru menjawab
" Dia pergi sebelum aku memutuskan Alexa".
" Sudah jadi istrimu ?"
Sean menarik nafas dalam
" Sudah", jawabnya singkat.
" Aku tidak tahu, apakah Gendis mau bertemu denganmu, tapi aku lihat akhir-akhir ini dia bahagia, dia sangat semangat saat bekerja. Aku fikir.... jangan temui dia dulu, jika kamu memang belum betul-betul ingin membahagiakan Gendis. Hargai keputusannya, tapi yang perlu kamu tahu, bukan hanya kamu yang berjuang demi Gendis, aku juga. Tinggal pada siapa nanti Gendis melabuhkan hatinya".
" Dia masih istriku, jangan macam-macam".
" Tentu saja aku tahu itu, aku masih orang timur kan? aku tahu mana batasanya".
Mereka berdua ngobrol sambil.menyandarkan badan ditembak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana masing-masing.
Sementara Sean masih diam dan merenung, kepalanya menengadah sambil memejamkan mata.
" Silahkan kamu temui Gendis, selama kamu yakin, kamu tidak akan menyakiti Gendis lagi".
Setelah bicara seperti itu, Tio berjalan menuju ruang dimana para boss berkumpul.
Menurutnya, apa yang dikatakan Tio memang benar, berapa kali sudah aku menyakiti hatinya, berapa kali juga Gendis meninggalkanku untyk memberi kesempatan. Tidak adil bagi Gendis. Jika aku terus menyakitinya.
Akhirnya, Sean menyadari bahwa apa yang dikatakan Tio memang benar.
Dia berjalan meninggalkan hotel, untuk menuju ke kantor.
Selama dalam perjalanan ia merenung. Ia pria dewasa, tidak seharusnya berfikir secara tidak pasti.
Aku sudah tahu dimana Gendis, aku akan menetapkan hati, supaya tidak menyakiti Gendis lagi. Jika aku sudah siap, aku akan menjemputmu. Dan kau Tio, berjuanglah untuk mendapatkan wanita yang lain, aku akan mempertahankan istriku. Gendis.
Sementara, Gendis dan Tio akan kembali ke kantor, saat teman-teman menyalami mereka berdua.
" Kita belum tahu hasilnya, tapi kelihatnnya, Mba Gendis yang akan mendapatkan proyeknya".
" Semua bagus Pak, semua berjuang keras, hasilnya kita tunggu email aja Pak, jangan mendahului" jawab Gendis sambil tersenyum
" Siap Mba Gendis, selamat ya ".
" Mari Pak, permisi". pamit Gendis
" Mari Bapak-bapak, kami duluan ". Tio juga ijut berpamitan.
" Silahkan-silahkan, hati-hati di jalan".
__ADS_1
Sambil.mengayunkan tangan pertanda selamat tinggal. Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.