Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 55


__ADS_3

"Nduk, ada tamu ".


Gendis baru sadar ada orang disampingnya, ia mendongakkan wajahnya dan terkejut, dengan orang yang berdiri disampingnya.


" Mas Sean !"


" Apa kabar Ndis ?"


" Ba... baik Mas, ( Gendis masih memandang dengan tak percaya, ada Sean dihadapannya), Mas, ada acara apa di Belanda ?" Sambung Gendis.


" Aku sengaja datang ke sini untuk bicara dengan kamu".


Bu Indri, yang merasa jadi obat nyamuk berbicara. Sementara ada desiran tak biasa di relung hati Gendis.


" Duduk disana aja, jadi enak ngobrolnya, ibu ke dapur dulu".


" Ya bu ,makasih". Jawab Sean pendek.


Ibu memandang Gendis sekejab sebelum beliau pergi. Tersirat rasa khawatir di wajah anak perempuannya. Tapi ia yakin Gendis bisa mengatasi ini.


" Kita duduk disana Mas".


Gendis menunjuk sofa tepat dibelakang rumah.


Sean mengikuti langkah Gendis. Ia lihat Gendis semakin cantik. Dulu saat menjadi istrinya Gendis memang cantik, tapi tak secantik ini.


Kedewasaannya menambah nilai plus pada pribadi dan penampilannya. Atau sebetulnya dulu seperti ini, namun Sean kurang memperhatikannya, entahlah.... waktu berlalu itu menyisakan penyesalan di hati Sean sampai sekarang.


"Duduklah Mas".


" Ya terima kasih".


Mereka terdiam begitu lama, tak ada yang memulai pembicaraan. Suasana kaku dan sangat canggung menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Sean memulai pembicaraan.


" Sebelumnya, apa yang akan kuutarakan ini, mungkin akan membuat kamu marah, kecewa sekaligus benci padaku, tapi... aku tak bisa hanya diam, membayangkan sesuatu yang terus menyiksa batin, setelah aku bicara ini, semua kuserahkan padamu. Mau kau apakan aku".


Desiran di dada Gendis berdetak semakin cepat. Ada rasa tak enak yang muncul di hatinya.


Tapi ia berusaha menenangkan diri, dengan berpura-pura tidak masalah. Walaupun suara yang keluar mengandung getaran yang berbeda. Terasa sumbang dan sedikit aneh.


" Bicaralah, aku akan mendengarkan, Mas Sean jauh-jauh datang dari Indonesia pasti ada hal penting yang akan Mas sampaikan".


Sean menarik nafas dalam, rasa ragu sudah hilang di hatinya. Sekarang bicara, atau semua hilang begitu saja dalam sekejab.


Aku bukan Sean yang dulu, Gendis meninggalkanku karena aku pria yang plin plan, sekarang aku harus bicara, apapun hasilnya.

__ADS_1


" Aku tahu dari mama, kamu seminggu lagi akan menikah, aku juga maklum pada pertemuan kita dulu saat di Indonesia kamu sama sekali tak cerita tentang ini".


Keheningan menyelimuti mereka, hanya terdengar suara burung bernyanyi yang bertengger di pepohonan sahut menyahut.


" Jika... masih kamu beri kesempatan, aku ingin ..... kita bersama lagi. Aku..... tak bisa hidup tanpa kamu.... , aku rasakan itu, saat kamu memilih pergi , dan meninggalkanku sendirian di Indonesia".


Sean mengambil nafas dalam lagi, sebagai upaya untuk menyingkirkan rasa deg-degan di hatinya.


" Aku sadar, salahku padamu tak terhitung.... dan bahkan mungkin tak termaafkan, mungkin ini bisa disebut egois, tapi aku minta padamu, untuk kau beri kesempatan satu kali lagi, untuk menebus kesalahanku selama ini, sekaligus akan aku tunjukkan padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu".


Luruh sudah yang selama ini Gendis simpan dari hatinya. Selama pernikahan, Sean tak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Gendis, padahal kalimat itu selama ini telah ditunggu Gendis. Dan saat ini kalimat itu meluncur dengan lancar tanpa beban tapi terdengar penuh makna di telinga Gendis.


Airnat berlomba meloncat dari kedua bola mata indah Gendis. Punfaknya berguncang dengan hebat.


Kenapa hal ini terjadi di saat ia kan menikah dengan orang lain. Kalimat itu Gendis harapkan jauh sebelum hari ini. Jika saja Sean bilang itu dari dulu, mungkin Gendis akan berusaha bertahan sampai hari ini untuk tetap sendiri.


Menyadari itu, Sean mendekat je arah Gendis dan duduk dihadapan Gendis.


" Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih, aku hanya ingin berterus terang padamu, aku juga tidak menuntut jawabanmu sekarang, aku tak ingin membuatmu bingung".


Sean memegang tangan Gendis yang tampak bergetar.


" Maafkan aku, karena terlambat mengatakan...


Gendis menundukkan kepalanya, tangisnya benar-benar tumpah saat itu. Rasa sedih yang selama ini ia tahan, tumpah saat itu juga. Laksana bendungan yang selama ini airnya tertampung penuh, sekarang terpaksa jebol karena tak kuat menampung air yang selama ini dibendung.


" Gendis.... maafkan aku, jangan menangis seperti ini".


Sean masih memegang tangan Gendis, beberapa kali dia bahkan mengusap air mata Gendis.


Agak lama, baru Gendis bisa menguasai diri.


Ia memandang lurus mata Sean.


" Maafkan aku Mas, aku nggak bisa kembali pada Mas, seperti yang mas tahu, aku akan segera menikah".


" Aku tahu, tapi kamu tidak.mencintainya, kamu mencintai aku".


" Aku sayang padanya Mas, dia sangat baik, karena dialah hidupku berubah, karena dia aku bisa tertawa lagi, aku tidak bisa meninggalkannya.... tidak bisa....dia sangat baik".


Air mata jatuh lagi di pipi mulus Gendis. Dia merasa tak berdaya, antara rasa cinta yang teramat dalam kepada Sean, dan rasa terima kasihnya pada Larry, karena selama ini memperlakukan. Gendis dengan penuh perhatian.


" Ya, aku paham, aku tidak akan memaksa, aku sadar diri, selama ini, aku hanya meninggalkan luka di hatimu".


Sean berdiri, dia duduk lagi disebelah Gendis. Mereka saling diam. Tak ada yang terlihat indah. Bahkan sofa yang mereka dudukipun, terasa dipenuhi paku yang mengarah ke bokong mereka.

__ADS_1


Burung yang sbelumnya terdengar merdu bernyanyi, sekarang terasa menambah rasa sunyi di hati mereka.


" Mama dan papa akan datang ke pernikanmu, itu pesan mama, jika kamu izinkan, aku akan datang ke pernikahanmu, jika tidak aku akan kembali ke Indonesia, tiga hari lagi".


Gendis hanya diam, dia sibuk dengan airmatanya yang tak.mau juga berhenti.


" Sampaikan salamku pada calon suamimu, percayalah kalau keputusanmu tetap melanjutkan pernikahan, aku ikhlas, yang penting kamu harus bahagia".


Gendis sebetulnya tak.mau mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Sean. Karena semakin Sean bicara, semakin menambah beban di hatinya.


Ia masih menangis saat Sean berpamitan untuk kembali ke hotel, sehingga tak ada jawaban dari Gendis.


Sean pamit pada bu Indri, Bu Indri memeluk Sean dengan rasa sayang sebagai orang tua. Walaupun tak mendengar pembicaraan mereka, bu Indri yakin, Sean dan Gensis dalam kondisi tidak bahagia.


" Kalian hafus sama-sama kuat, apapun keputusan kalian, semoga ini menjadi jalan yang terbaik untyk kalian berdua, ya Nak".


" Ya bu".


" Mainlah kesini lagi, jika sudah tak ada Gendis disini, setidaknya ada ibu dan ayah, yang akan menyambutmu sebagai anak".


Sean menganggukkan kepala, dia sudah tak kuasa untuk menjawab, apalagi air d matanya sudah memaksa untyk meloncat keluar.


Sean mencium punggung tangan mantan ibu mertuannya.


" Assalamualaikum Ibu".


" Waalaikum sallam".


Ibu mengantar Sean sampai di halaman rumah.


Sean mulai mengayuh sepedanya, ia berjalan sangat pelan, sampai di luar halaman air mata tak terbendung lagi keluar dari mata Sean, ia biarkan saja.


Untuk mengurangi beban di batinya, tak ada beda antara laki-laki dan perempuan, jika memang harus menangis, menangislah.


Jika beban itu tak mau kau bagikan pada orang lain, setidaknya dirimu sendiri akan merasa sedikit lega.


🍎🍎🍎🍎


Sudah dulu ya kaaaa....


Nanti Insha allah aku tambah satu episode sebagai penutup.


Jangan lupa like, koment n vote


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2