
Mama dan papa masih menemani Sean dalam diam. Sememtara Sean fokus dengan memandang satu titik diluar rumah.
Ia tidak tahu lagi apa yang saat ini bisa dilakukan.Telepon dan pesan yang dikirimkan tak satupun yang mendapatkan reaksi dari Gendis.
Semua sampai ke tujuan, tapi tak satupun yang berbalas.
Baru kali ini Sean merasakan ketakutan. Ketakutan yang amat sangat ditinggal oleh Gendis.
Kenapa juga semalam ia lebih mementingkan Alexa. Sementara Gendis ditinggalkan begitu saja di pelataran parkir gedung bioskop.
Penyesalannya tak berkesudahan.
" Sean, ada apa ? kamu mau cerita ?"
Tiba-tiba Sean menjatuhkan diri di pangkuan papa-nya. Dia tidak menjawab, tapi suara tangisnyalah yang keluar dari mulutnya.
Kedua orang tua Sean diam. Mereka tidak pernah sama sekali melihat kondisi Sean seperti ini sepanjang hidup mereka.
Mereka turut hanyut ikut bersedih melihat kondisi anak mereka. Tapi tak satupun baik papa atau mama Sean bertanya lagi.
Mereka maklum masalah yang dihadapi oleh Sean pasti tidak gampang. Dan pasti berhubungan dengan Gendis. Sebab Gendis tak ikut dengannya.
" Ceritalah kalau kamu sudah siap, sekarang istirahatlah dulu, kelihatannya kamu belum tidur semalaman ?!"
Mama mengangkat tubuh Sean yang bersimpuh di pangkuan papa.
" Ayo mama antar ke kamar, kamu pasti lelah".
" Ngga usah Ma, aku nggak pa pa".
" Tapi kamu butuh istirahat Nak".
" Nggak pa pa Ma".
" Gendis, Gendis pergi Ma, dia ninggalin aku", Sean sudah tidak kuat lagi bicara, air matanya hampir jebol lagi.
Papa diam, antara kasihan dan marah dengan Sean berkumpul jadi satu. Nggak mungkin Gendis pergi tanpa alasan.
" Lalu bagaimana Gendis bisa dia pergi. dia nggak mungkin pergi tanpa alasan ?!" Tanya papalembut tapi tegas.
" Aku, semalam meninggalkan dia pelataran parkir gedung bioskop Pa".
" Kamu tinggal kemana?"
" Nonton sama teman-teman....".
" Kamu punya otak pa nggak Sean, nggak mungkin Gendis sampai nggak mau pulang jika alasannya hanya itu".
" Ya Pa, aku belum selesai bicara".
Sean menguatkan diri untuk berani bicara dengan papanya.
" Aku tinggalkan Gendis nonton film dengan... dengan kekasihku Pa".
plak
plak
Dua kali pukulan mendarat di pipi kiri dan kanan Sean.
" Sudah dewasa tapi pikiranya mirip ABG labil, kamu sudah punya istri kenapa kamu pacaran lagi hah ??!!"
__ADS_1
Tanya papa sambil berteriak, papa tidak tahan dengan pilihan hidup Sean, dia tak habis fikir anaknya yang sangat bertanggung jawab dan dewasa, bisa melakukan sesuatu yang kekanak-kanakkan.
"Aku yang salah Pa"
" Tentu saja kamu salah".
" Bisa-bisanya ngajak istri nonton film yang dibawa masuk gedung malah kekasihnya !!, pikiran orang ****** mana lagi kalau bukan kamu!"
Sepadan. Walalaupun kata-kata papanya kasar Sran menyadari benar, apa yang dikatakan papa memang benar.
Papa menghubungi Gendis, sampai tiga kali baru diangkat.
" Gendis, ada yanv ingin paoa bicarakan, nanti terserah keputusan Gendis apa, papa hormati".
" Jangan sekarang Pa, aku butuh waktu".
" Baiklah, tapi papa minta kamu beritahu sekarang kamu dimana ?"
" Nggak usah, besok aha kalau Gendis sudah siap, Gendis akan hubungi papa".
" Baiklah papa tunggu".
Pak Adinata mematikan ponselnya.
" Menalukan, tindakan yang betul-betul pengecut, jika terjadi apa-apa dengan Gendis papa nggak akan memaafkanmu. Dengar itu !!"
Sean hanya bisa menundukkan kepala dengan sedih.
"Jika dulu kamu bilang kamu sudah punya kekasih papa nggak bakalan menjodohkan kamu dengan Gendis. Sangat disayangkan Gendis yang cerdas dan cantik itu kamu sia-siakan".
Papa terduduk tak berdaya, beliau sangat menyesal menjodohkan Sean dengan Gendis. Kadihan Gendis. Anak yang baik itu menerima lamaran karena budi baik kami.
Papa sungguh menyesal.
Mereka yang ada disitu turut sedih mendengar kalimat yang disampaikan Pak Adinata.
Walaupun lirih, tapi cukup didengar oleh mama maupun Sean.
Sean maduk ke dalam kamar, ia tak peduli dengan dirinya sendiri. Ia harus mencari Gendis.
Setelah mandi ia mengajak salah satu sopir papanya untuk menemaninya mencari Gendis.
Jakarta sudah ia kelilingi, bahkan beberapa kali ia bolak balik ke stasiun kereta api, tapi ia tidak juga menemukan Gendis.
Gendis bagai menghilang di telan bumi.
Sedang Gensis sendiri berada di kamar hotel sendirian.
Dia sudah mulai tenang. Ia harus menyelesaikan masalah ini. Gendis tak mau ibu dan ayahnya tahu kondisinya yang sebenarnya, ia memilih untuk menata hatinya.
Dengan keyakinan bahwa Sean berada di kantor, Gendis pulang ke apartemen untuk mengambil keperluannya.
Ia ambil yang diperlukan saja, termasuk dokumen penting miliknya. Siapa tahu ia butuh.
Gendis segera keluar dari apartemen, ia belum mau bertemu dengan Sean, hatinya masih sakit.
Untuk memberi kabar pada ibunya bahwa ia baik-baik saja, ia belum berani. Ia takut, saat bicara ia menangis. Gendis tak mau membebani ibunya dengan masalahnya.
Gendis kembali lagi ke hotel, ia mulai menulis surat lamaran, ia tak mau meratapi nasib. Gendis bukan wanita seperti itu.
Hari ini aku akan mulai mencari kontrakan. Akan aku tunjukkan pada suamiku, aku bukan wanita ang mudah disepelekan. Aku Gendis, aku bukan tipe wanita perengek. Aku kuat.
__ADS_1
Gendis terus memotivasi dirinya sendiri. Walaupun ia sudah mulai mencintai suaminya, Tapi Ia tak.mau cinta digunakan untuk mempermainkan.
" Pa, bisa besok kita ketemu?"
" Tentu Nak, dimana ? jam berapa?"
" Jam tiga, di rumah makan Cairo ".
" Baiklah, besok kita ketemu disana".
" Jangan beritahu Sean, aku akan pergi jika besok ada Sean".
" Baiklah Nak, besok papa menemui kamu sendiri"
" Asalamuallaikum Pa".
" Waalaikum salam Nak, hati-hati ya Nak".
" Ya Pa", hati siapa yang tak sedih, mendengar perhatian dari mertuanya.
Gendis sedih, tapi bagaimanapun ia harus kuat.
Ia sudah memiliki satu keputusan yang tentu saja tidak akan ditolak oleh papa mertuanya, dan tak akan merugikan siapapun, termasuk hatinya.
Gendis mulai melanjutkan menulis lamaran kerja lagi, ia tak mau harinya tak berguna hanya untuk memikirkan suaminya yang tidak mencintainya.
🍒🍒🍒🍒🍒
Sean pulang ke apartemen, tentu saja ia berharap Gemdis sudah ada disana.
Tapi, begitu masuk ke rumahnya, seketika kesepian menyergap hatinya.
Kosong, hampa, hatinya betul-betul hampa. Andai saja dia tidak bertindak bodoh, Gendis masih ada disini, bersamanya.
Sean baru menyadari, bahwa ia benar-benar mencintai istrinya, saat istrinya sudah pergi darinya.
Sean masuk ke dalam kamar.
Kenapa ada aroma Gendis disini?
" Ndiiiis, Gendiiiiis".
Ia mencari-cari di kamar mandi, lemari ia buka. Dan alangkah terkejutnya saat ia lihat baju kerja Gendis yang biasa digantungkan disitu sudah tak ada lagi.
" Berarti, tadi Gendis kesini?" gumamnya.
Ia berlari ke kamar sebelah.
" Ndiiiis, Gendiiis". Tak ada siapapun
Sean terduduk lemas di sofa, pupus harapannya bertemu dengan Gendis.
Sedihnya tak bisa dikatakan lagi, luar biasa... Penyesalan datangnya pasti terlambat.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Ayoooo sayangkuuuuu like, koment n vote-nya mana ??
Author hafus diberi amunisi juga doooong, biar semangat 😁😁😁😁
Author tunggu yaaaaa
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘