
Gendis keluar dari kamar setelah ia selesai membaca al quran setelah subuh.
Karena ia ingat harus memasak untuk suaminya Gendis keluar, sambil berjalan ke arah luar, ia sambil berfikir mau masak apa sekarang?
Ia melihat ke arah jarum jam, sudah jam lima. Biasanya Sean berangkat kerja jam sembilan, masih ada waktu untuk memasakkan suaminya.
Ia memasak air di ketel, Sean nggak mau pakai air dispenser bila bikin kopi, jadi Gendis selalu masak air untk sekedar membuatkan kopi Sean.
Mas Sean sudah subuh belum ya. Fikir Gendis.
Ia mengetuk pintu kamar,
" Mas Sean, bangun Mas, sudah subuh belum?"
Dari luar terdengar suara sahutan
" Heeeeeem"
Gendis melonjak kaget. Kok ada suara dari arah sofa tv. Gendis berjalan mengendap-endap ke arah sumber suara tadi.
Ia melihat Sean sedang tidur disana, ada rasa lega sebab suara tadi adalah suara suaminya.
" Mas bangun, Mas Sean, sudah hampir subuhnya habis, bangun".
Sean menggeliat,
" Eeeeeehm".
" Hei.... bangun bangun bangun, jangan", dengan bar-barnya Gendis menarik kaki Sean sampai menyentuh lantai.
" Hei hei hei, apaan si Gendis, masih ngantuk"
" Ih merajuk kayak bocah, bangun ah, malu sama Allah".
Gendis mulai usil, dia mengelitik pinggang Sean, semakin lama semakin sering sehingga membuat Sean geli tak bisa memejamkan mata lagi.
Ia segera menangkap kedua tangan Gendis, saat itu posisi mereka saling berdekatan. Wajah Gendis tepat berada di depan Sean.
Sean membuka mata,
Dada Sean berdetak dengan kencang, wajah didepannya, sangat cantik dan lembut, walaupun selalu berkerudung wajah ini tidak bisa menutupi kecantikannya.
Desiran itu semakin kencang terasa, Sean mulai melihat ke arah bibir Gendis, mukanya mulai mendekat,
Tiiiiiiiiiiiiiiing
Ketel di atas kompor berbunyi sangat kencang, menyadarkan merek berdua.
Gendis segera berlari ke arah dapur, sambil menenangkan hatinya. Dadanya berdetak dengan kencang.
Tak berbeda dengan Gendis, Seanpun sedang menenangkan diri di sofa, ia segera melangkah menuju ke kamarnya untuk mengambil air wudhu dan sholat.
Pagi ini, Gendis memasak rawon, kemarin dia sempat membeli bumbu yang sudah jadi, hanya dengan menambahkan sedikit bumbu mentah lainnya, rawon buatan Gendis sudah sangat enak.
Ditambah Ia menggoreng perkedel kentang dan tempe goreng, membuat masakan Gendis semakin menambah selera ingin makan.
Dari dalam kamar Sean mencium harum aroma rawon. Yang sepertinya masih diletakkan di atas kompor oleh Gendis.
Sementara pelengkap sudah Gendis tata di meja makan.
Sean keluar dari kamar,
" Kamu masak apa Ndis, baunya harum sampai ke kamar" Ternyata aroma masakan Gendis mengalahkan rasa canggung yang sempat mereka berdua rasakan.
" Aku bikin rawon mas, mau sarapan sekarang, aku taruh mangkok dulu rawonnya, masih di atas panci".
Sean menuju ke arah meja makan, disana lengkap tersedia nasi, perkedel dan tempe goreng, sambel terasi, kecambah pendek dan krupuk udang.
__ADS_1
" Kamu tadi masak semua ini ?", tanya Sean denga wajah keheranan.
" Iya, kenapa?"
" Sebanyak ini ?"
Gendis hanya tersenyum,
" Ini rawonnya, masih panas, tiup-tiup dulu, baru dimakan".
Sean menepuk kedua tanganya,
" Nah ini yang ditunggu, coba gimana rasanya",
" Tambah sambel sama kecambah tambah enak", saran Gendis.
Sean menambahkan sedikit baik sambel maupun kecambah.
Tadi Gendis sudah memasukkan nasi di piring untuk Sean.
" Gimana ??" Gendis menunggu reaksi suaminya habis mencicipi sesendok tadi.
" Hmmmm nomero uno, ini rawon terenak yang pernah aku cobain".
Gendis tersenyum sambil mengambil nasi buat dirinya sendiri.
" Gombal ..."
" Bener mungkin karena yang bikin cantik ya, jadi rasa rawonnya tambah sedep".
Gendis hanya tersenyum sambil mengunyah makanannya.
" Hari ini aku nggak ke kantor, ngantuk banget semalam nggak bisa tidur".
" Oh ya, kenapa nggak bisa tidur?"
" Nggak tahu, boleh nambah lagi mggak rawonnya ?"
Setelah selesai makan mereka istirahat sebentar untuk ngobrol, Sean menuju ke balkon belakang yang dilengkapi dengan alat gym, karena barusan makan banyak perlu baginya untuk berolahraga.
Sementara Gendis membereskan peralatan masaknya.
Gendis merasa, ia tak bisa begini terus, ia ingin sibuk, menjadi ibu rumah tangga menyenangkan, bisa urus suami. Ya cuma suami. Padahal sejatinya berkeluarga tujuannya adalah mendapat keturunan. Tapi keturunan bagaimana, wong suaminya cinta sama Gendis aja nggak.
Selesai memberekan peralatan dapur, Gendis menemui suaminya di balkon.
" Aku mau kerja".
Sean yang sedang treatmill menghentikan gerakannya, ia mematikan alat jalan tersebut.
Sean mengelap dengan handuk mukannya yang basah karena keringat.
Oh Tuhaaaaan, luar biasa keren suamiku. Gendis segera membuang perasaan itu.
" Kamu mau kerja apa ?"
" Kerja apa aja, yang penting aku nggak nganggur di rumah, sayang juga ilmu yang aku geluti jika nggak dipergunakan".
" Mau ikut aku ?"
" Nggak, kalau kamu izinkan besok aku akan mulai memasukkan lamaran pekerjaan, aku akan cari dimana ada lowongan".
" Boleh, kamu liat di berita loker online aja, biasanya banyak tuh disitu loker".
" Ya".
Gendis masuk dan membuka-buka ponselnya, ia mencari-cari loker yang sesuai dengan spesifikasinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Sean muncul dari luar.
" Sudah menemukan ?"
" Belum, masih cari-cari".
Sean masih memperhatikan istrinya, ia lihat wanita itu tekun mencari-cari yang ia butuhkan.
" Kamu, nggak ingin ganti ponsel ?"
Ia lihat istrinya memakai ponsel yang hanya sekedar bisa digunakan. disana sini juga terlihat ponsel itu catnya mulai mengelupas.
" Nggak, kenapa ? ini masih lancar digunakan".
" Tapi fiturnya kan nggak lengkap".
" Yang penting aku bisa nyimpan data, dan mengerjakan tugas dan ponsel. Cukup".
Sean menarik nafas panjang,
Benar-benar wanita yang sama sekali tidak memikirkan penampilan.
Sementara Gendis menemukan yang sesuai dengan spesifikasinya.
" Mas ini ada, sesuai dengan spesifikasiku, cuma..."
" Kenapa ?"
" Yang dicari singgle, ya... setidaknya singgle minimal dua tahun".
Sean diam saja, apa untungnya si bagi Gendis kerja, toh aku sudah mencukupkan. Tapi jika yang dicari kesibukan memang Gendis sangat butuh itu.
" Ya nggak pa pa si, tulis aja singgle, kamu kan masih muda, masih pantes dilihat sebagai singgle".
" Bener nggak pa pa niii".
" Nggak masalah cuma dua tahun ini", jawabnya sambil pergi ke kamarnya.
Gendis mulai menulis surat lamaran, besok ia akan ke perusahaan tersebut.
Sementara harum sabun mandi tercium dari kamar Sean, kelihatannya ia habis mandi.
Benar saja, Sean keluar dari kamar-nya memakai kaos ketat dan celana pendek, dengan aroma wangi sabun.
Gendis menoleh ke arah suaminya, entah kenapa akhir-akhir ini dada Gendis selalu berdetak kencang bila melihat suaminya. Ada kekaguman yang ia simpan di sudut hatinya yang teeeeerdalam.
" Mas, aku minta surat rekomendasi dari perusahaan ya, bahwa aku punya pengalaman kerja".
" Pengalaman yang di Blitar itu ?"
" Ya"
" Kamu minta ke kantor Blitar aja nanti suruh kirim via email".
" Oh ya", Gendis menghubungi kantor suaminya yang ada dikotanya.
" Hallo Pak Wandi, selamat siang, aku boleh minta tolong ?"
" Bu Gendis nggih ? Nggih bu silahkan, ada yang bisa saya bantu".
" Mohon maaf merepotkan, saya mau minta surat rekomendasi selama kerja disini, nanti tolong dikirim lewat email saya saja Pak".
" Oo nggih bu, siap".
" Saya tunggu nggih Pak, matur suwuuun".
" Nggih bu, sami-sami".
__ADS_1
Gendis tersenyum, tinggal selangkah lagi urusannya beres.
Sean melihat ada kegembiraan di wajah istrinya, tanpa sadar ia juga tersenyum, turut gembira melihat kegembiraan istrinya.