
Seminggu lagi, adalah pernikahan Gendis, persiapan sudah dilakukan jauh hari, hari ini waktunya selamatan, Undangan selamatan ini disebarkan ke seluruh warga satu RT, berikut, beberapa orang yang dikenal di luar RT.
Yang memang beginilah tradisi di kota kecil ini.
Selamatan di tenpat Gendis, menempatkan bahan makanan pokok dalam tas besar warna warni. berisi beras, minyak goreng, telur, gula pasir, teh, kopi dan mie instan, tak lupa ada amplop yang berisi uang di dalamnya.
Tujuan sebenarnya adalah untuk mengucap syukur pada Tuhan, karena satu lagi kenikmatan Allah yang diberikan pada keluarga ini.
Acara selamatan diadakan bakda maghrib, Saat semua sedang melantunkan surah yassin, tiba-tiba ada tamu berwajah Eropa datang ke rumah itu.
Dengan mata berwarna biru gelap, postur tinggi langsing, walaupun sudah berumur bule tersebut masih terlihat tampan.
" Enek wong Londo teko, sopo iki yo ?" kasak kusuk para tamu.
" Asalamuallaikum !"
Sapa bule tersebut pada semua orang,
Mereka merasa surprise ada Londo yang bisa mengucapkan salam secara islam.
" Waalaikum sallam", jawab mereka serempak.
" Maaf, betul ini rumah Bu Indri ?" tanya bule tersebut.
Mereka surprise lagi, ada bule yang oandai bahasa indonesia.
Salah satu tamu berdiri dan mempersilahkan bule tersebut untuk duduk di luar. Sebab di dalam sudah penuh tamu yang akan selamatan, dan kursi sudah diletakkan di teras semua.
" Monggo silahkan duduk disini, saya akan panggilkan bu Indri"
" Terima kasih".
Pak RT menuju ke belakang, dari pintu belakang Pak RT memananggil bu Indri.
" De Indri, ini ada tamu ".
" Sinteng nggih Mas, suruh maduk kebelakang saja".
" Wong Londo De'".
Deg, dada bu Indri berdebar sangat kencang, sementara Gendis mendengar itu segera mendekati mereka.
" Sinten Pakde ?" ( Diapa Pakde ?)
" Pakde ndak tahu Ndis, wong londo".
Gendis segera ke depan, diikuti oleh yang lain.
Dambil berjalan ke depan, Gendis bertanya pada ibunya.
" Ibuk ngabari ayah ?"
__ADS_1
" Yo Nduk, kamu kan mau nikah dia ayahmu, dia harus tahu".
Mereka sampai di teras depan rumah. Pria bule itu langsung berdiri terpaku melihat kehadiran mereka.
Sementara orang-orang yang berada di dalam ruang tamu berjubel, penasaran pingin tahu apa yang terjadi. Memenuhi pintu masuk rumah.
Maklum ada bule datang ke kampung mereka itu sangat jarang. Biasanya yang datang ke kampung itu bule kesasar, nggak sengaja lewat kampung mereka. Tapi ini betul-betul bule yang ingin bertemu dengan salah satu penduduk di kampung itu.
" Kamu datang ?!" Tanya Bu Indri dalam bahasa Belanda.
" Ya, aku sudah berjanji, aku ingin memenuhi janjiku ". Jawab Pak Petter.
" Tolong pakai bahasa yang mudah kami mengerti, kita pindah ke ruang dalam, nggak enak sama tetangga, ikut aku", Gendis memerintahkan kedua orang tuanya.
Dan bagaikan kerbau dicocok hidungnya mereka berdua mengikuti langkah Gendis.
Sementara Pak RT, tersenyum melihat warganya yang kepo, berjubel di deoan pintu menyaksikan peristiwa tersebut.
" Sudah ayo masuk, wis tuek-tuek koyok cah cilik, kepo". ( sudah tua kayak anak kecil, kepo )
Mereka tertawa meringis menahan malu.
" Sinten niku Pak RT, bapake Gendis nggih ?" ( Siapa itu Pak RT, bapaknya Gendis ya ?)
Tanya salah satu warga.
" Kelihatanya begitu, wajahnya mirip Gendis".
Sementara di dalam kamar Gendis, yang tampak bikin betah, mereka bertiga ngobrol, sebab di ruang lain sudah penuh dengan tetangga yang ikut membantu selamatan tersebut.
" Bapak bisa bahasa Indonesia ?"
" Sedikit".
" Apa tujuan bapak kesini ?"
Pak Petter tidak menyangka anak gadisnya memiliki kepribadian yang luar biasa, kebanyakan orang Indonesia menganggap lebih tinggi RAS lain, apalagi bule.
Buktinya adalah, mereka akan bangga hanya berfoto bersama dengan orang bule, bila hasilnya dah jadi, akan ditunjukkan kepada orang lain, bahwa mereka bisa foto dengan bule.
Tapi ia tak melihat itu di diri anaknya, kelihatanya istrinya mendidiknya dengan baik.
Semua RAS adalah sama, tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.
" Ibu kamu mengabariku kalau kamu akan menikah".
" Setelah itu, apa?"
Pak Petter merasa diinterogasi oleh anaknya, tapi beliau tidak marah, justru beliau merasa bangga, anaknya tumbuh dengan baik.
" Aku tahu, kamu tidak menerimaku dengan baik, tapi izinkan aku menjadi wali nikahmu, setelah itu terserah padamu, aku tak ingin memaksakan keinginanku padamu dan ibumu".
__ADS_1
Ibu mengelus pundak Gendis dengan lembut.
" Boleh ibu tanya sama bapakmu?"
Air mata mulai menetes pelan di pipi Gendis, Ekspresi wajahnya tawar, tapi ada rasa rindu dan rasa benci tersimpan rapi di sudut hati Gendis untuk ayahnya.
Tapi ia sangat gengsi untuk mengakuinya.
Gendis menganggukkan kepala.
"Lieverd, maaf ... bapak kenapa tidak kembali pada kami selama empat bulan?" Dengan menggunakan bahasa Belanda.
" Ibu, tolong gunakan bahasa indonesia" potong Gendis tegas.
Ibu memandang Gendis,
" Ini bukan rahasia, hanya pertanyaan yang terus memgganggu pikiran ibuk saja".
" Bapak, tolong jawab dengan bahasa indonesia".
Berasa mereka sedang seminar, dan Gendis berkedudukan sebagai moderator.
" Selama empat bulan aku disekap di kamar, karena aku terlalu lama urusan bisnis di luar, Dan sebetulnya bisnis itu hanya alasan, aku ingin lebih lama denganmu. sehingga papa menyelidikiku, dan hasilnya, mereka tahu aku menikahimu, aku dikurung selama empat bulan di kamar, saat mereka melepasku, aku mencarimu seperti orang gila, tapi aku tak pernah bisa menemukanmu".
Air mata bu Indri ikut menetes, jadi selama dua puluh tahun berpisah, mereka hanya salah paham saja.
" Kamu tidak menikah lagi ?"
" Papa memang menjodohkanku dengan orang lain, setelah enam tahun aku tak bisa menemukanmu, aku putuskan untuk menikahi orang lain, tapi dua tahun kemudiam aku berpisah, aku tidak bisa mencintainya".
" Kamu punya anak, dengan wanita itu ?"
" Tidak, kami tidak punya anak".
Pak Petter diam sejenak, ia merasa dadanya begitu sesak, beliau ingin sekali memeluk, iatri dan anak yang sangat ia rindukan, tapi ia tak memiliki keberanian.
" Sebagai bapak dan suami aku memang kurang berani mengambil keputusan, mohon maafkan aku, kalau bisa aku ingin kembali kepada kalian".
Pak Petter bersimpuh di kaki anaknya Gendis.
Sementara Gendis diam tak bergeming.
" Izinkan aku menebus kesalahanku selama dua puluh tahun ini Nak, aku tidak pernah berhenti mencintai kalian, aku yakin ibumu juga masih mencintaiku, dia tak pernah ingin menikah lagi, nomor telepon rumah kami juga masih ia simpan, itu sudah menjadi bukti Nak, bahwa kami masih memiliki ikatan batin".
Gendis sudah tak tahan lagi, ia menumpahkan airmatanya, ayah dan ibu memeluk Gendis.
Mereka menangis sesenggukan, rindu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat, menjadi tumpah dipertemuan tersebut.
Sepertinya kehidupan keluarga ini akan normal seperti keluarga yang lain.
Hanya butuh komunikasi secara langsung, bila suatu masalah ingin diselesaikan.
__ADS_1