Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 19


__ADS_3

Matannya berkilat-kilat memandang tubuh Gendis. Sedangkan Gendis berusaha menutupi sebagian tubuhnya dengan apapun yang ada didekatnya.


Tentu saja melihat itu, Sean semakin kecewa. Kenapa dia berusaha menutupi tubuhnya di depan suaminnya sendiri. Sedang di depan pria itu....


Sean semakin mendekat menujunke arah Gendis. Gendis semakin kebingungan.


" Mas, aku mau pakai baju dulu, plis Mas Sean keluar dulu".


" Kenapa ?, aku suamimu, apa aku tidak boleh melihat tubuh istriku sendiri. atau memang tubuhmu tidak kau peruntukkan untuk suamimu ?!"


Bicara Sean sinis sambil memandang Gendispun matanya dengan sinis.


Kata-kata Sean tampak menghina menurut Gendis.


" Keluar Mas, aku mau pakai baju dulu".


" Kamu malu pada suamimu ? kenapa ? atau menurutmu aku memang tidak berhak melihat tubuhmu, lalu siapa yang berhak ? pria yang belakangan ini sama kamu?".


Mendengar itu Gendis menjadi murka.


" Apa maksud kamu, laki-laki mana ? laki-laki yang tempo hari kita saling ketemu di rumah makan? atau maksud Mas perempuan yang mengganggu rumah tangga orang, yang sedang berduaan dengan Mas".


Wanita licik ini pandai berkelit, ia pandai memutar-mutar lidah.


Sean meraih tubuh langsing istrinya, ia banting tubuh Gendis di atas tempat tidur, dengan kemarahan yang memuncak.


Handuk yang melilit tubuh Gendis lepas. Terlihat mata Sean yang sudah dikuasai oleh setan tampak semakin beringas.


Tubuh istrinya yang ia simpan rapat dalam pakaian muslimahnya, ternyata sangat indah.


" Mas tolong, jangan seperti ini, ada apa sebenarnya ? kenapa Mas Sean jadi begini".


" Tentu saja aku ingin menikmati tubuh indah istriku, kenapa ? salah?".


Gendis menangis, air matanya berlinang. Itupun tidak membuat Sean sadar, justru ia semakin beringas.


Sean naik di atas tubuh polos Gendis. Kedua tangan Gendis ia pegang. Itu sudah cukup membuat Gendis tidak bisa bergerak.


" Mas... tolong jangan begini, sadarlah".


Sean sudah tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan Gendis, ia mulai ....... bibir Gendis dengan beringas, sambil terus memegangi tangan Gendis.


Sementara air mata Gendis semakin deras jatuh ke pipinya.


" Tubuhmu indah sekali Ndis, makanya pria itu jatuh cinta kepadamu".


Gendis sebetulnya tidak paham dengan arah pembicaraan Sean. Tapi ia sadar bertanyapun percuma. Sean sudah dikuasai oleh setan.


Sean mulai mencumbu setiap inci tubuh Gendis, sementara air mata Gendis tak mau juga berhenti.


Gendis diam dalam kepasrahan, mungkin memang harus dengan cara beginilah kehormatannya direngut.


Sementara Sean sibuk dengan keinginan sendiri, keinginan yang didasari oleh rasa marah dan kecewa.


Saat Sean sampai pada batas akhir pencapaian, Sean merasa kesulitan, beberapa kali ia gagal menyatukan tubuhnya dan tubuh Gendis.


Seharusnya, jika Sean berfikir waras, pastinya ia tahu, hanya gadislah yang sulit ditembus.

__ADS_1


Tapi saat ini dia tidak sedang berfikiran waras.


Setelah beberapa kali mencoba dengan paksa, akhirnya lama kelamaan gol juga.


Sean puas, ia bisa memperkosa istrinya, yang berselingkuh dengan pria lain.


Sementara Gendis merintih kesakitan, Hatinya perih, bagian bawahnyapun turut perih.


Sean merebahkan tubuhnya di samping Gendis. Gendis tidak berusaha untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ia lebih memikirkan perasaannya yang sakit. Selain itu, untuk bergerak sedikit saja bagian tubuh bawahnya terasa sakit.


Sementara, berangsur-angsur kesadaran Sean kembali.


Ia mulai menyesali atas apa yang diperbuatnya.


" Maafkan aku Ndis, aku.... aku.... sedang dikuasai oleh amarah".


Gendis masih mengis sesenggukan sambil membelakangi Sean.


Sean akan menutupi tubuh Gendis dengan selimut, saat ia lihat bercak darah di atas seprei.


Sean terkejut. Ia kaget bukan kepalang.


" Gendis, Ndis.... ka...kamu ma...masih perawan ?".


Mendengar itu, tubuh Gendis semakin berguncang hebat, tangisannya semakin meledak, walaupun suara tangisnya lirih terdengar.


Sean segera menutup tubuh istrinya dengan selimut.


Ia segera berjalan menuju sisi tempat tidur untuk bicara langsung dengan Gendis. Ia duduk dwngan menggunakan dengkul sebagai tumpuan


" Gendis, maafkan aku. Aku kira aku aaaahhh..." Sean tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Gendis hanya diam, diperlakukan seperti itu oleh suaminnya. Bagaimanapun pria yang memperkosannya ini adalah suaminnya yang lambat laun juga mulai dicintainya.


Walaupun mungkin perasaan suaminnya berbeda dengannya, tapi.... caranya merengut kegadisannya, menurut Gendis tak bisa dimaafkan.


" Tadi aku lihat kamu masuk kamar hotel, aku, ada pertemuan di hotel itu, saat aku mau pulang, aku lihat kamu dan pria itu masuk ke dalam salah satu kamar hotel, pikiranku.....".


Gendis segera menyahut ucapan Gendis.


" Kamu fikir aku tidur dengan pria yang bukan suamiku, kamu fikir aku wanita munafik, kamu fikir aku layak diperlakukan seperti *******".


Apa yang dikatakan Gendis betul semua, ia merasa bersalah pada Gendis.


" Maafkan aku Ndis, aku, aku emosi, aku gelap mata, kamu istriku, tapi kamu masuk kamar hotel dengan pria lain, itu membuatku...."


" Marah ?!! karena aku milikmu ?!" Sekali lagi Gendis memotong pembicaraan Sean.


" Aku memang milikmu Mas, perlakukan sesuka hatimu!!"


" Gendiiiis, maafkan aku. aku....".


" Sudahlah aku tak mau bicara denganmu lagi, keluarlah".


Gendis bermaksud untuk bangun, ia lupa bahwa dibalik selimut ia tak menggunakan selembar kainpun.


Selimut ia singkapkan, tapi dengan cepat ia tutup kembali. Tapi terlambat, sekali lagi, suaminnya sudah melihat tubuh indahnya lagi.

__ADS_1


Ia bermaksud menuju kamar mandi tapi bagian bawahnya masih terasa sangat nyeri.


" Awaw".


" Sakit ? apanya yang sakit Ndis ?" tanya Sean dengan bloon.


" Kamu mau kemana ? ke kamar mandi ?"


" Tolong Mas, keluarlah dulu".


" Tapi Ndis ...."


Pandangan Gendis membuat Sean ciut nyali.


" Baiklah, aku keluar ".


Setelah Sean menutup pintu, Gendis segera berdiri menuju kamar mandi. Disana sekali lagi ia menangis. Ia merasa terhina, dihina oleh suaminya sendiri.


Gendis segera memutar shower, sekali lagi ia basahi rambutnya.


Tok


tok


tok


" Ndis, kamu sudah lama di kamar mandi, nantinkamu sakit".


Tak ada jawaban


" Gendis!"


Sean merasa khawatir, sebab tak ada jawaban dari dalam.


Ia segera membuka pintu kamar mandi, benar saja terlihat Gendis sedang terkulai lemas di dalam bed tab.


Tanpa berfikir panjang, Sean segera mengangkat tubuh polos Gendis. Badan Gendis sangat panas. Tadi ia tak apa-apa, sekarang badannya sudah sangat panas.


Sean segera meletakkan tubuh Gendis dan menyelimutinnya. Ia mencari pakaian Gendis. Ada baju kimono, ia segera memakaikan pakaian itu, sebumnya sudah ia oles seluruh tubuh Gendis dengan minyak kayu putih.


Ia segera mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Gendis, lambat laun Gendis membuka matannya.


Beralih ke kaki Gendis bagian bawah, Sean memijit-mijit kaki Gendis.


Gendis melihat apa yang dilakukan oleh Sean tanpa daya, ia hanya melihat dari tempat pembaringannya.


Suaminya sangat perhatian padanya. Setelahnya ia sudah tak ingat apa-apa lagi.


Entah pingsan, entah tertidur.


Sementara Sean, menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa kondisi Gendis. Ia merasa panik sebab Gendis sepertinnya pingsan lagi.


😊😊😊😊😊😊😊


Yuk kakasay bantuin Author tambah semangat, dengan meninggalkan jejak berupa like, koment, n vote, eeeeee rate-nya ojo lali ...


Author tunggu yaaaa

__ADS_1


Saranghaeyo 😘😘😘😘


__ADS_2