Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 20


__ADS_3

Dokter datang malam itu juga,


" Bu Gendis harus banyak istirahat, mungkin akhir-akhir ini ada acara di kantor, jadi beliau kecapekan".


" Ya dok, mau ada acara di kantor, jadi dia pulang malam terus".


" Saya pulang dulu Pak Sean, semoga bu Gendis segera pulih".


" Terima kasih Dok".


Setelah mengantarkan dokter keluar Sean masuk ke kamar Gendis lagi, ia lihat istrinnya sedang tertidur.


Sean merebahkan diri di samping Gendis, malam ini ia harus menemani istrinya, sebab kondisi Gendis masih panas tinggi.


Ia menunggu sampai Gendis bangun, untuk memberikan obat. Ia sengaja tidak tidur untuk menunggui Gendis.


Sudah tengah malam saat ia lihat tampak Gendis menggigil kedinginan. Tanpa fikir panjang, Sean segera memeluk tubuh Gendis untuk mengurangi rasa dingin yang dirasakan oleh Gendis.


Benar saja, tak lama kemudian Gendis tampak tenang, ia tertidur lagi, melihat itu, Sean sangat lega, Ia pun tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Gendis. Ia memilih tetap memeluk Gendis, supaya tidur Gendis pulas.


Tapi sepertinya itu alasan saja,mungkin sebenarnya, dia juga merasa nyaman dengan keadaan dimana ia memeluk Gendis seperti ini.


Jam lima empat pagi Gendis terbangun dari tidurnya, ia akan berdiri, saat ada sesuatu yang menghalangi.


Tangan dan kaki Sean melingkar ke tubuhnya. Saat itu juga Gendis terpatung. Ia tak bisa bergerak.


Ia sedang benar-benar dikuasai oleh rasa malu, berarti semalam ia tak bermimpi, saat melihat Sean mengurusnya dengan baik, saat Sean memeluknya. Dia mengira sedang halu, tapi ternyata tidak, suaminnya saat ini sedang memeluknya.


Ia biarkan saja kenyamanan itu tetap seperti adanya, dari samping ia memandang wajah suaminya.


Tak ada duannya Tuhaaaan, dia benar-benar pria yang sempurna, badan yang kokoh, dagu yang tegas, serta wajah yang keren, ini adalah suamiku, aku tak.pernah bermimpi memiliki suami sekeren ini.


Tanganya terulur mengelus wajah tampan suaminnya tanpa sadar. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Sean bergerak sedikit. Dan itu cukup membuat Gendis panik. Ia pura-pura tidur lagi.


Tapi nyatanya, Sean hanya menggerakkan tubuhnya sebentar, dengan posisi masih memeluk Gendis.


Dada Gendis berdegub dengan kencang, ia sudah tak bisa tidur lagi, hanya memejamkan mata tidak bisa membuatnya tertidur, justru getaran di dadanya semakin kencang.


Sementara ia juga menahan pingin banget ke belakang. Ia.memberanikan diri mengangkat tangan suaminya, berhasil, kedua ia mulai.memindahkan kaki kanannya turun dari tempat tidur, disusul oleh kaki kirinya. Berhasil.


Tapi ia terpekik tertahan, saat kepalannya terasa ternyata masih berputar, bagian bawahnya juga terasa perih.


Ia terduduk di pinggiran tempat tidur.


" Gendis, kenapa kamu mau kemana ?"


Ternyata, teriakan kecil Gendis cukup membuat Sean terbangun.


" Aku mau ke kamar mandi, tapi kepalaku masih pusing".

__ADS_1


Tanpa berfikir panjang, Sean segera mengangkat tubuh ramping istrinya untuk dibawa ke kamar mandi.


Dengan cekatan ia mendudukkan Gendis di atas closed yang sudah terbuka, dan dengan hati-hati menolong Gendis membuka celana dalamnya.


Gendis diam saja, sebab ia juga merasakan tubuhnya sangat lemas.


" Mas keluar dulu ya, nanti kalau sudah aku panggil".


" I iya, ya ".


Dengan wajah tampak bingung Sean keluar.


Sampai di luar, dada Sean berdegub dengan kencang, Ia menyandarkan tubuhnya di tembok kamar mandi, ia belum bisa meredakan debaran dadanya saat Gendis memanggilnya lagi.


" Maaaas, sudah".


Sean menarik nafas sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi lagi. Dan berusaha meredakan debaran di dadanya, supaya tak jatuh keluar.


Sampai di dalam ternyata Gendis sudah rapi, padahal tadi Sean berharap dialah yang memakaikan CD untuk Gendis, ( ngarep). he he he


Sean mengangkat tubuh Gendis.


"Kamu minum obat dulu ya, badanmu masih panas, walaupun sudah tidak kaya semalam".


Gendis hanya menganggukkan kepalannya saja.Ia memperhatikan suaminya, melayaninya, Gendis berfikir dalam hati.


Apa iya, dia tidak mencintaiku aku, lihatlah, ia melayaniku dengan tulus. Tapi kalau mencintaiku, kenapa dia masih berhubungan dengan Alexa kekasihnya.


Suamimu tak mencintaimu. Itu hanya bentuk tanggung jawabnya sebagai suami saja, kamu jangan berharap Gendis.


Fikiran terakhirnya membuat Gendis dirundung sedih kembali, tak terasa bergulir lagi setetes air mata di pipinya.


Jadi benar, semalam itu dia memperkosaku, karena dia merasa aku adalah miliknya, bukan wanita yang dicintainya.


" Kenapa Ndis, kepalamu sakit ya ? kamu kok nangis ?"


Gendis sibuk dengan fikirannya sendiri, sehingga ia tak sadar suaminnya sudah dihadapannya.


Dengan wajah khawatir Sean memagang dahi Gendis.


" Ia kamu masih panas, ini obatnya diminum dulu, nanti kamu istirahat lagi".


Sean membantu mendudukkan Gendis, sementara Gendis semakin tersiksa dengan perlakuan manis Sean.


Kenapa dia nggak milih kami saja salah satu, supaya semua menjadi lega.


Fikiran kacau Gendis dipotong oleh kata-kata Sean.


" Sudah kamu sekarang nggak usah kerja, kalau kamu mau kerja kamu bisa bantu aku mengelola swalayan, kamu bisa mengelola salah satu, atau ikut aku saja. Bila ada bayar finalty sebab kamu belum dua tahun kerja, biar aku yang bayar. Kamu nggak boleh capek. Kalau begitu terus kamu jadi sakit-sakitan".

__ADS_1


" Baru juga sakit, belum sakit-sakitan".


" Kalau bisa ya jangan sampai sakit, tapi stop sakitnya, cobalah untuk nggak bandel, sekarang nggak usah banyak bantah, istirahat sampai kamu sembuh, aku nanti yang datang ke perusahaan kamu, mengundurkan diri dan..."


" Nggak usah biar aku saja".


" Nggak bisa, untuk saat ini kamu harus ikut apa yang suami kamu katakan, ini untuk kebaikan kita ".


" Tapi Mas....".


" Stop, saat ini aku nggak.mau dibantah".


Gendis hanya diam, sambil.menggerutu dalam hati.


Buat apa kuliah dengan predikat suma cum laude, kalau endingnya cuma rebahan aja di rumah.


Seolah tahu apa yang difikirkan oleh istrinya, Sean melanjutkan lagi bicaranya.


" Aku nggak melarang kamu kerja, tapi.... ayo kita besarkan bersama usahaku, supaya semakin berkembang".


Gendis sudah tak bisa bicara. Jika suami sudah memberikan jalan keluar, apalagi yang bisa istri katakan, apalagi jalan keluarnya adalah yang terbaik untuk semua.


" Nanti aku minta izin ke perusahaan kamu, aku langsung kesana".


Suara bel berbunyi, Sean menuju ke pintu,


" Aku tadi menghubungi mama, supaya nemenin kamu sementara aku ke perusahaan kamu minta izin".


" Ya", jawab Gendis pendek sambil matanya berbinar, sebab dia tidak di rumah sendiri, akhirnya saat suaminya berangkat dia memiliki teman.


" Gendis kenapa ?" Mama Sean langsung ngeloyor masuk ke kamar Sean.


" Sean Gendis dimana ini, kok di kamar nggak ada ?"


Sean kaget, ia lupa selama ini, mereka tidur terpisah.


" I ini Ma, di kamar ini", sambil berjalan mendahului mamanya, menuju kamar Gendis.


" Sean ?! kalian tidur terpisah ?", tanya Mama menyimpan kecewa.


" Nggak Ma, itu cuma gara-gara Gendis sakit saja". Jawab Sean dengan bingung dan gagap.


" Apa maksudnya ?, makanya Gendis nggak hamil juga, jadi selama ini kalian pisah ranjang ?!" tanya mama dengan suara sedikit direndahkan menyimpan marah.


Mama segera membuka pintu kamar Gendis. Ia lihat mama sehingga Gendis tersenyum. Tapi senyumnya menghilang saat ia lihat mama sama sekali tidak tersenyum, justru wajah mama terlihat kecewa.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


cut ya ka,

__ADS_1


Yuk bantuin like, koment n vote sebagai penyemangatku menulis karya selanjutnya.


Saranghaeyo 😘😘😘😘


__ADS_2