
Tiga hari telah berlalu, Gendis belum siuman dari komanya, Sean tak beranjak dari tempat duduknya. Dia tak mau meninggalkan Gendis sedetikpun. Sean sangat menyesali perbuatannya.
" Sean, kamu pulang dulu gih istirahat gantian sama mama".
" Nggak Ma, aku nggak mau saat Gendis siuman dia nggak lihat aku".
Dari luar terdengar suara orang masuk ruangan, ibu dan ayah Gendis.
" Gendiiiiis Nduuuk ya Allah gimana kamu bisa begini?" Ibu Gendis menangis sesenggukan, sedang ayahnya mengelus-elus kepala putrinya.
" Sejak berapa hari Gendis dalam kondisi seperti ini?" Tanya ayah Gendis
" Tiga hari yang lalu yah", jawab Sean sambil menundukan kepala.
Kedua orang tua Gendis, tidak tahu kondisi Gendis selama ini. Gendis tidak pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya pada kedua orang tuannya.
" Bagaimana kalau Gendis kita bawa ke Belanda, disana medis lebih modern, ayah nggak bisa lihat Gendis seperti itu" katanya sedih. Beberapa kali ayah Gendis menyeka air matanya, jarang bertemu anaknya, sekalinya bertemu dalam kondisi seperti ini.
" Saya yang bersalah ibu ayah, maafkan saya", sambil bersimpuh di kaki ibunda Gendis.
" Ya Nak Sean, kita sama-sama berdoa, semoga Gendis segera pulih".
Sebetulnya ada sesal yang teramat dalam di hati Sean, lebih dari permohonan maaf ini, tapi untuk berkata-kata lagi dia rasanya tak sanggup. Tak sanggup lebih jauh menyakiti kedua orang tua istrinya.
Melihat kelesuan Sean, mama Gendis berfikir Sean kurang istirahat, karena menunggu istrinya, dengan tatapan sayang dan berterima kasih Ibu Gendis mengelus kepala Sean.
" Kamu pulanglah istirahat, biar Gendis ibu dan ayah yang gantian menunggu, besok kalau kamu sudah segar kamu bisa jagain Gendis lagi".
Elusan tangan ibu Gendis justru membuat Sean semakin merasa bersalah, ia semakin sesenggukan di pangkuan bu Indri, ibu Gendis.
" Saya nggak bisa ninggalin Gendis bu, saya nggak mau dia nggak lihat saya saat sadar".
" Tapi kamu harus istirahat, jika kamu sakit, lalu siapa yang nungguin Gendis ?, kamu harus sehat juga supaya bisa memberi suport ke Gendis, percayalah Nak, Gendis pasti dengar".
" Ya Sean, kamu istirahat di rumah besok balik lagi kalau sudah fresh".
" Tapi Yah...".
" Sudahlah, pulanglah dulu, istirahatlah".
" Ya Sean, yuk kita pulang dulu, istirahat, besok balik lagi", sahut mama Sean.
Sean terpaksa pulang ke rumah. Dia terpaksa mengikuti anjuran mertua dan orang tuanya, meskipun hatinya berat untuk meninggalkan Gendis.
Keesokan harinya di rumah Tio,
" Mi aku mau jenguk Gendis, mami mau ikut?"
" Ya, nanti aku bawa Chiko, tapi katanya Gendis belum bangun dari operasi?"
" Ya, memang belum", jawab Tio sedih.
" Sabar ya Nak, semoga Gendis baik-baik saja".
"Waktu keluar dari rumah bagaimana kondisi mereka Mi, kok bisa jadi kecelakaan seperti ini?"
__ADS_1
" Mami melihat mereka biasa-biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu, cuma anehnya, mereka pasangan tapi terlihat seperti ada jarak".
" Ya, memang mereka sudah berpisah lama".
" Kamu kok nggak bilang ke mami Gendis menantunya Pak Adinata?"
" Buat apa ?"
" Tapi mereka kan masih suami istri ?"
" Ya, Mi tapi mereka memang sudah nggak bersama lagi".
" Ya tapi dia kan masih istri orang Tio, kamu nggak boleh merendahkan diri begitu".
" Ya Mi, aku salah, tapi perasaan ini nggak bisa dikendalikan".
" Kamu tahu kenapa mereka berpisah seperti itu".
" Aku kurang paham", jawab Tio singkat sambil memandang keluar jendela, di luar tampak hujan semakin deras. Walaupun dia tahu kondisi sebenarnya, tapi menurutnya apa untungnya jika maminya tahu.
Sean mengingat wajah lembut, cantik dan tegasnya Gendis.
Aaah aku tidak boleh seperti ini, jikapun berpisah belum tentu Gendis mau menerima aku. Gendis bukan karakter yang mudah ditaklukkan hanya dengan materi dan rupa.
Semalam Sean sudah lumayan bisa beristirahat, walaupun beberapa kali terbangun, sekarang ia mulai merasa lebih memiliki tenaga daripada sebelumnya.
Pagi ini aku harus ke rumah sakit lagi, aku gak mau ninggalin Gendis terlalu lama. Matanya memandang ke luar jendela, hujan masih deras juga.
Dalam situasi seperti ini, rasanya perasaan Sean semakin sedih, selama ini Gendis sedih karena dia, sejak menikah tak pernah ia membahagiakannya.
Nada pesan
' Sean kamu nggak pa pa, aku dengar kamu kecelakaan dengan wanita itu, bagaimana keadaanmu? kamu baik kan?'
Tak juga dibuka oleh Sean
'Sean akh khawatir, boleh aku menjengukmu?'
Sama seperti pesan pertama, pesan yang inipun diabaikan oleh Sean.
Ponsel berdering lagi tanda panggilan masuk
Dari ayah mertuanya, Sean segera mengambil ponselnya, berbagai fikiran buruk sudah mampir si fikirannya.
" Hallo ayah, gimana ? Gendis baik-baik saja kan? dia nggak pa pa kan?" Sean hampir menangis sambil memberondong mertuanya dengan berbagai pertanyaan.
"Gendis sadar Sean".
" Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, ya Yah aku segera kesana".
" Ya hati-hati di jalan!"
" Pak Bandi Pak Bandi !"
" ada apa Sean teriak-teriak cari pak Bandi?"tanya papa.
__ADS_1
" Gendis Pa, Gendis siuman ?".
" Oh ya, Alhamdulillah, sini aku ikut sarapan dulu, nanti kita ke rumah sakit bareng-bareng".
Dengan semangat Sean mengisi perutnya, ia harus tampak sehat saat bertemu dengan istri tercintanya.
Sampai di rumah sakit,
Gendis tampak sudah duduk, walaupun wajahnya sedikit bingung saat melihat tamu yang masuk.
Sementara ibu Gendis tampak menangis sambil mengelus pundak Gendis.
" Sean ayah mau bicara sebentar, kita keluar ?"
Sean agak keheranan, saat ia dan keluarganya masuk kelihatanya Gendis tidak mengenalinya.
" Bagaimana Pa?" Sean diikuti oleh papanya
" Gendis tidak mengenali siapapun dari kita, dia mengira kita orang asing".
" Astagfirullah...." Sean jatuh terduduk lemas di atas lantai.
" Bagaimana bisa begitu Pak?" tanya Papa Sean
" Kata dokter tadi, jika terjadi benturan keras memang bisa seperti itu, tapi itu sifatnya sementara, karena keterkejutan yang amat dalam".
" Berarti hanya butuh waktu saja kan Pak supaya Gendis bisa pulih seperti sedia kala?"
" Kata dokter seperti itu, dan satu lagi, jangan memaksakan ingatan Gendis cepat kembali, bisa bikin Gendis semakin bingung!"
" Sean ayo masuk lagi, kamu nggak boleh lemah seperti ini, kamu harus kuat dihadapan Gendis, ayo".
Mereka masuk lagi ke dalam rumah dan melihat dua wanita yang menjaga Gendis sama-sama menangis, ibu dan ibu mertuanya.
" Gendis kamu baik-baik saja ?" Tanya Sean dengan pandangan mata penuh kesedihan.
Gendis menganggukkan kepalanya, ia masih bingung memandang tamu-tamu yang datang?
Seperti yang disampaikan oleh ayah Gendis tadi, jangan memaksakan ingatan Gendis untuk segera kembali, supaya ia tak tambah bingung, biarkan ingatannya kembali secara perlahan.
Dari luar terdengar langkah kaki secara bersamaan, tampak Tio, mami dan Chiko masuk ke dalam ruangan.
Entah bagaimana wajah Gendis tampak sumringah,
" Mama ..." panggil Tio
" Sayang Chiko peluk mama Nak ".
Semua yang ada di dalam ruangan tampak tertegun.
😊😊😊😊😊😊j
Maaf yaaaa, besok lagi
Jangan lupa like, koment n vote nya kencengin, author tunggu
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘