Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 17


__ADS_3

Hari ini saatnya Gendis berangkat kerja lagi. kakinya sudah baikkan. Iya juga malas berada di rumah terus nggak ngapa-ngapain.


Kedatangannya disambut gembira oleh tim-nya, ruangan mereka juga sudah berbeda, selama Gendis tidak berangkat ternyata mereka membereskan semuanya, tentu saja atas petunjuk Pak Alan.


Yang membuat Gendis terharu, ada ucapan selamat datang kembali dari teman-temannya.


Ia memeluk teman-teman wanitanya satu persatu. Dan tak lupa ucapan terima kasih pada semua.


Pulangnya teman-teman mendukung supaya Gendus diantar pulang oleh Pak Alan, sebetulnya Gendis menolak, tapi Alan justru juga ikut menawarkan diri, akhirnya berangkatlah mereka pulang berdua.


Pak Alan mengajak Gendis untuk makan malam dulu, sebab memang hari ini hari terakhir menghias ruang, dan besok tinggal penilaian. Sehingga semuannya keluar kantor jam delapan malam.


Gendis yang memang sudah lapar mengiyakan saja ajakan Alan. Tentu saja hal ini membuat Alan sangat gembira.


Mereka mampir ke rumah makan yang pernah didatangi oleh Gendis dan Sean.


Sean memilih duduk di dekat taman agak ke belakang, disini suasananya sangat romantis.


Memang rumah makan ini berkonsep romantic sehingga lampunya-pun tampak temaram. Dengan dihiasi beberapa lampu kecil-kecil berjejer rapi di atas plafon.


" Coba aku lihat, kaki kamu sudah sembuh betul ?"


Gendis memperlihatkan pergelangan kakinya pada Alan.


" Ini sudah kok".


Mereka tampak seperti sepasang kekasih atau pengantin baru. Banyak yang melirik keberadaan mereka.


Sang wanita tampak cantik dan anggun, sedangkan sang pria tampak gagah.


Mereka makan sambil berbincang dan sebentar-sebentar tertawa mengingat peristiwa tadi saat Lala terinjak kakinya oleh Pak Teguh, tapi Lala tak berani bilang. Sebab Pak Teguh adalah presiden direktur di perusahaan itu.


Sampai jam sembilan mereka baru pulang. Saat Alan membayar di kantin, ada sepasang kekasih yang juga akan membayar makanan mereka.


Si wanita tampak menggelendot manja di bahu si pria.


" Kita mampir ke tanteku sebentar ya, ada yang mau aku ambil".


Sang pria hanya menganggukkan kepala. Sambil.memandang tajam ke arah Gendis.


Gendis tercekat, saat ia lihat pria tersebut Sean. Ia segera memalingkan kepala.


" Yuk Ndis".


" Ayuk, kita langsung pulang atau mau kemana dulu ?" Sebetulnya hati Gendis panas, dan ia ingin cepat-cepat pulang saja, tapi kenapa yang keluar justru kalimat itu.


" Kamu mau kemana ? nonton bioskop ?"


" Bagus nggak filmnya".

__ADS_1


Mereka melanjutkan perbincangan sambil berjalan, sementara Sean yang menyimpan bara, hanya bisa membuntuti istrinya dari belakang, dengan tangan Alexa masih terus menggandeng tangannya.


Ternyata arah mereka berbeda, Alan mengambil jalan ke kiri, sedangkan Sean menuju ke kanan.


" Maaf ya Pak Alan, rasanya saya hari ini capek kapan-kapan aja kita nonton rame-rame".


" Sebetulnya lebih asik kalau berdua".


" Saya yang nggak bisa".


" Kenapa ?"


" Sebab...." Gendis hampir saja membuka siapa dirinya yang sebenarnya, yang merupakan istri seseorang. Tapi ia sadar ia sedang berbicara dengan salah satu orang perusahaan.


" Nggak pa pa Pak Alan, saya capek, pingin istirahat".


" Ooo oke nggak pa pa, kapan-kapan aja ya...".


Gendis hanya menganggukkan kepalannya.


Sementara di tempat lain, Sean tampak lebih pendiam dari tadi. Wajahnya menyiratkan kegundahan.


Dia sebenarnya ingin kembali dan mengejar mobil yang ditumpangi oleh Gendis. tapi ada Alexa.


" Sayang, kita ke hotel yuk?", kalinat Alexa membuyarkan lamunan Sean.


" Apa ?!", tanya Sean kaget.


Sambil bicara seperti itu, tangan Alexa sibuk mengelus-elus paha Sean. wajahnya juga tengadah pasrah menghadap Sean.


Tapi Sean yang memang dari awal pecah konsentrasi tidak merasakan apa-apa.


" Itu sayang, di depan ada hotel".


Dengan keadaan marah dan kecewa pada Gendis, Sean membelokkan mobilnya menuju hotel. Pikirannya masih terbayang bagaimana Gendis dan pria itu saling bercanda saat makan.


Dari Gendis dan pria itu masuk, Sean sudah melihat mereka. Rasanya ia ingin sekali menghajar pria yang bersama dengan istrinya sekaligus menyeret Gendis untuk pulang. tapi ego melarangnnya.


Toh aku juga dengan wanita cantik, kenapa mesti marah.


Mereka memesan kamar. Alexa terlihat sangat bahagia.


Akhirnya Sean akan menjadi milikku juga. Fikir Alexa.


Mereka memasuki kamar dan tanpa berfikir panjang Alexa segera ....... bibir Sean dengan bernafsu. Sean membalas dengan cara yang sama.


Tapi entah kenapa yang ada dalam otaknya hanya Gendis yang sedang berduaan dengan pria lain.


Sean mulai terpengaruh oleh cumbuan Alexa, ia telusuri setiap inci tubuh Alexa.

__ADS_1


Sampai pada lembar terakhir yang dikenakan Alexa, wajah itu muncul lagi. Wajah Gendis yang sedang sholat di malam hari sambil menangis sesenggukan.


Tapi kelebat wajah Gendis, menyadarkan pikiran Sean. Tiba-tiba ia berhenti, dan menjauh dari Alexa.


Sementara Alexa yang dari tadi hanya menikmati cumbuan Sean dengan memejamkan mata akhirnya membuka matanya.


Sebab ia menyadari Sean menjauh dari tubuhnya.


Alexa segera memeluk tubuh Sean dari belakang, ia tak mau moment itu menghilang begitu saja. Ia ingin memiliki Sean seutuhnya.


" Sayaaaang, kenapa berhenti, aku berikan milikku yang berharga satu-satunya untukmu, aku nggak akan menyesal".


" Pakai bajumu, kita pulang".


" Tapi sayang...".


" Ini salah Lexa, kita tidak boleh seperti ini ".


Sean melepas tangan Alexa yang melingkari tubuhnya. Ia mengenakan pakaianya kembali. Sean memungut pakaian Alexa yang tercecer di lantai.


"Pakailah, aku tunggu di mobil", sambil menyerahkan pakaian Alexa, dan tak berani memandang tubuh polos Alexa.


Sean berjalan menuju keluar, sementara Alexa mengenakan pakaiannya satu persatu. Ia tak habis fikir, bagaimana Sean yang terlihat sudah sangat bergairah, tiba-tiba berhenti saat semuannya belum selesai.


Padahal aku sudah ingin menyerahkan tubuhku padanya, karena aku sangat mencintainnya, aku tak mau ia melanjutkan pernikahannya dengan perempuan itu. Tapi kenapa tiba-tiba ia berhenti ?, apakah dia sudah mulai ada rasa dengan istrinya?, tidak bisa ! Sean milikku, wanita itu yang merebut Sean-ku dari sisiku. Aku harus tetap mempertahankan Sean.


Sebetulnya, saat ini Alexa juga merasa malu, sebab ia merasa telah ditolak oleh Sean, tapi semuannya sudah terjadi.


Dengan ogah-ogahan Alexa mengenakan pakaian, ia malu harus berhadapan lagi dengan Sean.


Sampai di mobil, Alexa-lah yang sekarang tidak berani memandang Sean.


" Kita langsung pulang ya, sudah malam"


" Ya", jawab Alexa pendek.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sibuk dengan fikirannya masing-masing.


Sampai di depan rumah Alexa, sediannya Sean akan mengantar sampai di depan pintu, tapi dilarang oleh Alexa.


" Nggak usah sudah malam, kamu pulang aja".


" Lexa.... yang tadi itu.... maafkan aku ".


Alexa nggak jadi keluar dari mobil, ia memandang kekasihnya.


" Nggak pa pa sayang, terima kasih kamu masih melindungiku, untung tadi kamu sadar, aku turun ya?"


Sean menganggukkan kepalannya. Ia menunggu sampai Al3xa masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😋😋


Yuk, bantu author like, koment n vote


__ADS_2