Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 12


__ADS_3

Sean mengantar Alexa pulang, sepanjang perjalanan mereka diam tanpa bicara, sampai di depan rumah Alexa-pun segera membuka pintu pagar dan berlari ke dalam rumah. Tidak memberikan kesempatan pada Sean untuk mengantarkannya di depan pintu.


Sean yang sedianya akan mengantar sampai depan pintu akhirnya mengurungkan niatnya. Ia kembali lagi masuk ke dalam mobil.


Kepalanya betul-betul mau meledak. Ia tahu ia salah. Tapi untuk menceraikan Gendis saat ini tentu tak mungkin.


Salah apa Gendis sehingga harus aku sakiti. Harusnya, memang dari awal aku menolak perjodohan ini.


Sean menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia mulai mengambil nafas dalam-dalam, ada penyesalan yang menelusup dalam hati,


Masalah ini tak akan datang jika dulu aku bisa ambil keputusan yang *tepat.


Salahku sendiri*.


Sekali lagi, untuk menenangkan diri, Sean menarik nafas dalam-dalam, beberapa kali.


Sean membawa mobilnya menuju ke rumah orang tuannya. Sampai di rumah ia lihat keluarganya berkumpul di ruang televisi,


" Malam", sapa Sean


Mereka menoleh sambil menjawab,


"Malam',


" Mas Sean dah makan ?", tanya Gendis sambil mendekati suaminya.


"Sudah"


" Ya udah",


" Heiii kamu mau kemana?"


Sean heran melihat istrinya akan keluar kolam renang.


" Mau tidur ",


Mendengar jawaban Gendis semua yang ada di ruang televisi tertawa.


" Kamu kan istrinya Sean, kamu bukan lagi tamu Gendis, kamar Sean ada di atas ", kata mana sambil tertawa melihat kelinglungan Gendis.


" Dia mana tahu kamar Sean, habis resepsi kan langsung diboyong Sean ke apartemen, takut kita ganggu", goda papa.


Mereka tertawa serempak,


Pipi Gendis tampak merah, dia sangat malu. Bagaimana bisa dia lupa jika sekarang harus tidur sekamar dengan Sean.


" Ayo", gandeng Sean pada istrinya tampak riang.


Arin yang melihat itu langsung rame


" cuit cuit cuit", godanya


Setelah tak terlihat baru Sean melepaskan pegangan tanganya.


" Maaf", katanya.


Dan langsung dijawab oleh istrinya dengan cepat,


" Munafik !",

__ADS_1


Gendis langsung masuk kamar, dan tak mempedulikan tercengangnya Sean, mendengar ucapan Gendis.


Ia langsung menyusul istrinya,


" Apa maksud perkataanmu ?!", tanya Sean marah pada Gendis.


" Aku tak perlu menjelaskan, kamu sudah cukup paham!"


" Aku memegang tangan istriku, salahnya dimana?"


Gendis diam saja, dia sedang malas berdebat dan ingin segera tidur.


Tapi tangan Sean yang kokoh meraih dan membalikkan tubuh Gendis dengan tiba-tiba.


Gendis terhuyung dan hampir terjatuh, jika tangan kiri Sean tak menopangnya dia pasti jatuh terjengkang.


Mereka terpana dengan kondisi seperti ini agak lama, Sean melihat istri cantiknya, berada tepat dipelukannya.


Sean memandang mata biru gelapnya, dan turun ke bawah ke bibir mungilnya.


Wajah Sean mendekat ke bibir Gendis, tapi Gendis tersadar dari kondisi ini.


Ia segera mendorong suaminya, dan dengan cepat berdiri tegak. Sementara Sean salah tingkah dengan kelakuannya.


Sean bukan malu pada Gendis, tapi ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Begitu mudahnya ia lost control bila dekat dengan Gendis.


Sementara, Gendis tidur di sofa kamar itu, ia hanya mengambil satu bantal saja.


" Kamu bisa tidur di tempat tidur".


" Nggak aku tidur disini saja".


" Oh ya, lalu tadi apa ?"


Sean berdehem,


" Maaf tidak akan terulang".


Gendis memang tidak nyaman tidur di sofa, jadi dia pindah ke tempat tidur.


Ya ampuuun kasur ini nyaman banget. fikir Gendis.


" Kamu biasa tidur pakai hijab?"


" Nggak juga".


" Lalu, kenapa nggak dilepas ?"


" Kamar ini dingin, enakan kaya gini aku jadi hangat".


Bagi Gendis, AC kamar Gendis memang sangat dingin.


" Mau yang lebih hangat ?" tanya Sean memggoda istrinya


" Jangan macam-macam".


" Macam-macam apa ? aku kan suamimu..."


Mendengar itu, Gendis segera membalikkan tubuh, yang awalnya memunggungi suaminya, sekarang ia menghadap pada suaminya.

__ADS_1


Sekarang ganti Sean yang kaget, Ia memandang Gendis dengan bingung.


" Kamu memang suamiku mas, tapi kamu tak pernah mencintai aku,,,, aku akan menjadi istrimu seutuhnya jika memang kamu sudah bisa mencintaiku", jawab Gendis tegas.


Sean takjub dengan jawaban Gendis,


Dia semakin kagum dengan istrinya ini, luar biasa. Bagaimana seorang wanita dari kota kecil ini bisa memiliki kepribadian yang sangat kuat.


Wanita mana si yang nggak mau sama aku ? cakep, kaya, ramah dan memiliki roti sobek di perut.


Memang ibu mertuanya pandai mendidik anak gadis satu-satunya. Yak lama, Sean sudah mendengar istrinya tertidur, masih dengan pakaian yang rapat.


Dia tak habis fikir, apakah dia tidak risi, tidur dengan mengenakan pakaian lengkap itu.


Sean masih berfikir dengan pikiranya sendiri sampai ia lihat istrinya ini membalikkan tubuh dan menghadap kepadanya.


tidurnya berlanjut lagi.


Sean memandangi tiap inci perempuan yang merupakan istrinya ini.


Matanya yang terpejam, bulu matanya, hidung, bibir, bibir, bibir,bibir.


Sean segera memejamkan matanya, ada dorongan kuat untuk mengecup bibir mungil istrinya.


Kalau benar aku kecup memang salahku dimana ?, toh dia memang istriku? Tapi kamu kan samasekali tidak mencintainya ? kalau kamu kecup berarti itu bukan atas nama cinta, tapi nafsu, bisa jadi setelahnya Gendis akan menampar pipimu.


Ada perang batin antara hati nurani dan ego seorang suami. Ia tentu punya hak untuk menggauli istrinya, tapi jika istrinya tak ikhlas, untuk apa?.


Wanita ini, benar-benar membuatku gila.


Sean segera membalikkan badanya. Dia akan semakin tersiksa jika terus memandangi wajah istrinya.


Lambat laun akhirnya Sean tertidur juga, sampai ia mendengar istrinya turun dari tempat tidur.


Ia tak peduli dan akan tidur lagi, saat ia lihat, Gendis membuka kerudungnya, Sean penasaran, seperti apakah istrinya tanpa mengenakan hijab.


Tapi Gendis membalikkan badanya, sehingga yang terlihat hanya rambutnya yang hitam legam sampai pundak. Sekilas, ia melihat wajah istrinya saat menghidupkan lampu kamar mandi, hanya terlihat dari samping. Tapi itu sudah cukup membuat hati Sean takjub dengan kecantikan luar biasa dari ciptaan Tuhan yang yang berbentuk istrinya.


Masyaallah, luar biasa ciptaanmu yang satu ini Tuhan.


Ia dengar dari kamar mandi suara air mengalir, sepertinya Gendis sedang mengambil air wudhu.


Sean melihat ke arah jam di dinding, pantas sudah jam dua, Ia masih menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, ia berharap melihat kecantikan wajah istrinya lagi. Tapi ia sedikit kecewa, saat keluar Gendis sudah mengenakan hijabnya dengan rapat.


Tak sadar, Sean menghembuskan nafasnya dengan kuat.


Gendis mendengar, ia mendekati Sean.


" Mas Sean terbangun? maaf aku ganggu ya?"


" Nggak, solatlah dulu, nanti aku menyusul, kamu mau turun ke bawah ?"


" Ya, kan mukenanya ada di bawah, di musholla kecil bawah".


" Ya, kamu duluan nanti aku susul".


" Ya".


Sean masih menenangkan debur jantungnya yang berdebar, sampai akhirnya dia turun ke bawah untuk menemani istrinya sholat tahajud.

__ADS_1


__ADS_2