
tok
tok
tok
" Masuk !"
" Pak Sean, ada tamu".
" Tamu ? Siapa ? sudah ada janji?"
" Ini pengacara Pak".
" Pengacara?"
Deg...deg....deg Gendis
Sean menganggukkan kepala
" Silahkan Pak !"
Pengacara tersebut masuk
Oa menjabat tangan Sean, dan Sean mempersilahkan tamunya duduk.
" Silahkan !"
" Saya Jhonson, pengacara ibu Gendis, beliau menunjuk saya sebagai pengacara masalah perceraian". to the point pengacara tersebut bicara.
" Sebelumnya, istriku dimana, aku harus bwrtemu dengan dia dulu".
" Beliau ada di Belanda, beliau hanya menyerahkan masalah ini pada saya saja". Itu yang Gendis pesankan pada pengacaranya.
" Belanda ? tapi masih ada waktu untuk mediasi kan Pak ?
" Bu Gendis sudah tidak mau kembali pada Pak Sean".
" Tapi kenapa ? Dia mencintaiku ?"
" Tapi anda terlalu sering menyakiti, beliau sudah tidak bisa lagi bertahan".
Benar. Jika Gendis bertahan dia akan terus menyakiti, Sementara sampai saat ini ia belum bisa pergi dari Alexa.
Alexa selalu mengancam akan bunuh diri jika Sean meninggalkannya. Sean sudah mulai tersiksa dengan hubungan ini, tapi ia sudah dalam kondisi tak berdaya.
Sekarang ia yakin, ia sangat mencintai Gendis, sedangkan perasaanya untuk Alexa hanyalah rasa kasihan saja.
Tapi semua sudah terlambat. Dia mengambil jalan yang salah.
Seharusnya ia bisa mengambil keputusan yang tepat, saat Gendis memberikan doktrin bahwa ia benar-benar akan meninggalkannya jika dia salah melangkah.
" Gendis tidak akan pulang ke Indonesia ?"
" Tidak Pak !"
" Sebelumnya, tentu dia memberi alamatnya di Belanda pada Bapak kan?"
" Betul Pak, tapi atas permintaan Ibu Gendis kami tidak akan memberikan, maaf....".
Kamu ingin benar-benar pergi dariku Ndis ? Aku benar-benar menyakitimu, Ya Tuhaaan. Bertemu sebentar-pun kamu tak mau.
" Berkas akan saya tinggalkan disini, satu minggu lagi saya akan kembali kesini lagi".
Pengacara Gendis menyerahkan berkas kepada Sean. Sean menerima dengan tangan bergetar.
" Saya permisi dulu Bapak, satu kali lagi saya akan ambil berkas seminggu lagi".
" Baik, silahkan !"
Sepeninggal pengacara Gendis Sean merenung kembali.
__ADS_1
Lima bulan aku tunggu kabarmu, justru yang datang surat cerai darimu. Kesalahanku memang besar, sehingga tak layak untuk kamu maafkan.
Kesedihan benar-benar tidak bisa ia pungkiri. Bidadari yang sudah dalam genggaman, harus terlepas karena keteledorannya sendiri.
Sean hanya memandangi berkas tersebut, ia sama sekali tidak berminat untuk membaca.
Untuk meminta dukungan pada kedua orang tuannya, itu merupakan hal yang mustahil. Sebab mereka berdua lebih mendukung Gendis daripada dirinya.
Lima bulan yang lalu, papa dan mama marah besar. Mereka bicara panjang lebar dan tidak mengizinkan Sean kembali ke rumah.
Mereka sangat tidak enak dengan Bu Indri, teman sekaligus besan mereka.
Jika ia menunjukkan surat pisah ini, dia yakin untuk kedua kalinya mereka akan marah padanya. Sean memutuskan memasukkan surat tersebut dalam laci.
Sean tidak akan menceraikan Gendis, dia mencintainya. Sean yakin Gendis mencintainya juga, ia akan berpisah dengan Gendis jika sudah bertemu dengan Gendis sekali lagi, jika alasan Gendis dapat ia terima.
Di tempat lain, Alexa berusaha terus menghubungi Sean, sudah beberapa hari ini, Sean sama sekali tidak membaca pesannya atau menerima teleponya.
Ia sudah sangat rindu pada kekasihnya ini. Untuk datang ke kantornya ia tak punya keberanian.
Apakah Sean sedang sibuk, sehingga sama sekali tidak menghubungiku?. Atau dia sedang dengan istrinya saat aku hubungi sehingga dia tak berani angkat teleponnya.
Alexa mencari-cari satu nomor telepon di ponselnya. Ia mendapatkan nomor itu dari ponsel Sean, ia segera menyalin nomor tersebut saat Sean ke belakang. Nomor Gendis.
Ia akan menghubungi kedua orang itu, Alexa ingin bertemu dengan keduanya, ia ingin meminta kepada Gendis untuk mengizinkan dia terus berhubungan dengan Sean, sebab untuk berpisah dengan Sean ia tak akan sanggup.
Toh pada kenyataanya aku yang datang lebih dulu dibandingkan Gendis. Dia yang merebut Sean dariku, bukan aku. Gendis harus disadarkan tentang itu.
Yang aku dengar dia datang dari keluarga biasa aja, bukan seperti kami datang dari keluarga pengusaha. Mungkin dia takut jika bertemu denganku, ya bisa jadi.
Fikiran kekanak-kanakkan Alexa yang nantinya bisa merugikan dirinya sendiri. Dia hanya meraba-raba, tidak tahu yang sebenarnya.
Alexa menghubungi nomor tersebut, tapi tidak tersambung. Berkali-kali ia berusaha menghubungi tapi tetap tidak aktif.
Kenapa ? apakah Gemdis ganti nomor ? kok nomornya nggak aktif.
Sekali lagi Alexa menghubungi nomor Gendis, tidak aktif.
Huuuuf mungkin memang sudah ganti nomor.
" Ma, aku suntuk, kita jalan-jalan yuk !"
" Ayok, mau jalan-jalan kemana kita ?"
" Gimana kalau ke maal W ?"
" Ok, sekarang ?"
" Ya Ma..."
" Ya udah kita siap-siap dulu ".
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di mall W.
Mereka berkeliling mall sampai waktu sekitar pukul empat sore.
Belanjaan mereka lumayan banyak,
" Lex, kita ke makanan korean itu yuk, kamu belum pernah coba kan?"
" Sudah Ma, kemarin-kemarin waktu diajak Sean".
" Oke, hari ini mama yang traktir, mau makan apa saja boleh"
" Oke Ma, siap".
Mama Alexa gembira melihat keceriaannya, beberapa hari terakhir Alexa tampak uring-uringan, serba salah. Bahkan asisten rumah tangga nggak tahu apa-apa ikut dimarahi.
Alexa mengambil tempat duduk dekat jendela, dari sana mereka bisa melihat pemandangan kota jakarta, sebab cafe ini berada di tingkat empat sehingga pandangannya lumayan luas.
Saat mereka asik ngobrol, dari arah luar masuklah Gendis dan Sisca, mereka menemukan tempat duduk yang lumayan enak dekat jendela berbatasan dua baris kursi dari tempat duduk Alexa dan mama-nya.
__ADS_1
Saat Gendis dan Sisca asik mencari menu, dari arah luar muncul Tio. Tio tadi sempat melihat Gendis yang menuju masuknke arah cafe ini.
Ia celingukan mencari Gendis, saat mama Alexa memanggilnya.
" Tio, sini Nak".
Deg, dada Tio berdegub kencang, sebelah kiri ia lihat Alexa dan mama-nya. Sedang sebelah kanan ada Gendis dan Sisca yabg sedang ngobrol.
" Tante "
Sambil berjabat tangan dwngan Alexa dan mama-nya.
" Apa kabar kamu Tio, lama kita tak jumpa ?".
" baik tante ".
" Bagaimana kabar Agnes, dia baik kan ?"
" Ya baik", sambil tersenyum getir.
" Alexa apa kabar", Tio hafal benar sifat Alexa yang kurang bergaul, sehingga jika tidak ditanya pasti dia akan diam saja.
" Baik Yo".
" Sean gimana kabarnya lama aku nggak ketemu?"
" Baik kok".
Tak lama makanan pesanan mereka datang.
" Ayuk Yo, sekalian makan sini".
" Makasih tante, itu ada temanku disana, aku mau gabung mereka, mari tante, Lexa".
" Oh ya ya silahkan".
Tio berjalan menuju arah Sisca dan Gendis yang duduk saling berhadapan.
" Hallo...", Tio langsung duduk di samping Sisca.
" Pak Tio !" reflek Gendis dan Sisca berdiri.
" Nggak usah berdiri kita kan santai nggak lagi di kantor duduk saja".
" Sudah pesan?"
" Sudah Pak!"
" Baiklah, hari ini aku yang traktir ".
" Horeeeee"
Sambut Sisca otomatis, sambil tertawa renyah.
Tio dan Gendis hanya tertawa melihat tawa riang Sisca.
Tio memanggil pelayan cafe dan memesan banyak makanan, ia benar-benar mentraktir dua cewek ini dengan aneka makanan korea yang ada disini".
😁😁😁😁😁😁
Maaf ya kaaa, segitu dulu, besok banyakin lagi deeh
Jangan lupa
like 👍👍👍👍👍
koment 💬💬💬💬💬
vote 🤳🤳🤳🤳🤳
n rate 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
kalau sudah terima ķasih 😍😍
Saranghaeyo 😘😘😘😘😘