
Pagi ini Alexa bertekad untuk mendatangi Sean. Ia butuh kepastian.
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh Alexa sudah sampai di depan kantor Sean.
Ia mengetuk pintu,
tok
tok
tok
" Masuk!", jawaban dari Sean sambil.masih sibuk mempelajari berkas-berkas
Alexa melangkah masuk dalam diam, dia masih berdiri di depan pintu, saat Sean menyadari tamunya tak beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi.
" Lexa ?!"
Alexa mulai menitikkan air mata, kerinduan yang terpendam selama sebulan ini akhirnya mendapatkan balasannya. Di depannya berdiri lelaki yang sangat ia cintai dan rindukan. Sedang mengenakan kemeja warna cream berlengan pendek dan mencetak bentuk tubuhnya yang tidak sebagus dulu. Agak kurusan.
"Sayaaang, kamu kok kurusan ?"
Sean tidak menjawab pertanyaan Alexa, justru ia berbalik bertanya.
" Kamu kok kesini ?" Dengan wajah Sean yang surprise dan terkesima.
" Memang kenapa ? nggak boleh?"
" Bukan begitu, tapi aku kan sudah menikah, apa kata karyawanku di luar ?"
" Ya mau bagaimana lagi, kesinipun aku juga dengan sangat terpaksa, kamu nggak pernah datang lagi ke rumah".
" Aku sibuk Lex".
" Aku tahu, tapi masa iya nggak ada waktu buat kirim pesan atau telpon?"
" Maaf Lex", Sean menarik nafas dalam
" Duduklah".
" Ada apa sampai memberanikan diri datang ke kantor".
" Mama dan papa menanyakan. mengenai hubungan kita".
" Maksudnya ?"
" Mereka ingin kita melanjutkan ke jenjang yang lebih, untuk menuju masa depan".
Semakin berat saja masalahku, padahal aku ingin menjauh dan memperbaiki hubunganku dengan Gendis.
" Lex, apa kamu tidak bilang aku sudah menikah kepada kedua orang tuamu ?"
" Nggak".
" Kenapa ?"
" Aku nggak mau kita berpisah".
Sean terdiam agak lama.
" Inilah yang nggak suka Lex".
" Apa?"
" Menurut kamu, apa reaksi orang tua kamu jika mereka tahu aku sudah menikah dan kamu jadi istri kedua, apa menurutmu mereka akan setuju?"
" Tentu saja tidak!"
" Lalu, bagaimana jika mereka tidak mau?"
" Ya nggak usah bilang, ceraikan istrimu, kita menikah".
" Alexa !? kamu menyuruhku berbohong kepada kedua orang tuamu ?"
__ADS_1
Alexa, dia menundukkan kepala, ia tahu itu salah, tapi pikirannya sudah buntu.
" Mau bagaimana lagi, hanya itu jalan satu-satunya".
" Aku tidak mau berbohong lagi Lexa, cukup. Aku tudak nyaman dengan suasana ini".
" Tapi kita harus bagaimana?"
" Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi".
" Sean, aku mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu".
Sean berdiri dari tempat duduknya, ia melangkah mendekati Alexa. Sean duduk dengan badan ditopang dengkul di depan Alexa.
" Lexa, kamu cantik, kamu baik, jangan rusak kebaikanmu dengan hal-hal tak berguna seperti sekarang ini, percayalah, banyak pria yang diam-diam menyukaimu".
" Tapi aku tak mau yang lain, aku mau kamu". isak Alexa, ia benar-benar takut kehilangan Sean.
" Lexa, aku ingin hidup dengan benar dan tenang. Aku ingin menjadi suami yang benar, aku ingin tidak menyakiti siapapun".
" Tapi kata-katamu barusan menyakitiku".
" Aku laki-laki tak berguna Lex, aku tidak bisa memutuskan salah satu hal penting dalam hidupku. Salah jika aku harus mempertahankan kalian berdua, aku memilih untuk tidak dengan siapapun, daripada aku menyakiti salah satu dari kalian".
" Maksudmu ? kamu akan meninggalkanku ?".
" Ya, itu sebagai penebusan dosaku pada istriku, dia memilih pergi meninggalkanku, karena sakit sering melihat kita jalan berdua".
Alexa membelalakkan matanya.
" Istrimu meninggalkanmu, kapan ? kenapa kamu nggak bilang ke aku?"
" Aaah sudahlah tidak perlu dibahas", Sean tersadar dia keceplosan bicara, hal yang harusnya ia simpan rapat-rapat justru sukses ia buka, justru di depan orang yang harusnya ia tidak boleh membukanya.
" Kebeneran kan Sean, kamu tinggal menceraikan wanita itu, kita bisa menikah".
Sean jengkel pada dirinya sendiri yang memiliki mulut ember.
" Sekarang dia dimana ?"
" Belanda".
" Kalian belum cerai?"
" Tentu saja belum!", jawaban Sean dengan nada agak tinggi.
" Kok kamu marah sama aku ?" jawab Alexa sambil hampir menangis.
" Ah sudahlah jangan kita bahas masalah ini. Ini berul-betul membuat tidak nyaman".
" Sekarang kita bagaimana ?"
" Apanya ?"
" Jangan kita bahas dulu ya, pikiranku saat ini sedang buntu. Kalau sudah siap aku akan datang ke orang tuamu".
Wajah Alexa sedikit berbinar, jadi Sean akan melamarnya.
Tapi ternyata fikiran Sean dan Alexa berbeda, tujuan Sean datang ke rumah Alexa untuk mengakui bahwa ia sudah beristri.
Apapun akibatnya akan ia tanggung, penderitaan yang Gendis dan ia rasakan selama ini menurutnya sudah cukup.
Seandainya nanti dia tidak bisa kembali kepada Gendis tidak apa-apa. Menurutnya, itu adalah resiko yang harus ia tanggung. Resiko laki-laki yang tidak tegas mengambil keputusan.
" Baiklah, aku pulang dulu, aku tunggu kabar baik darimu".
Sean mengganggukkan kepala.
Saat berdiri, Alexa melihat ada bingkai foto yang membelakanginya. Entah kenapa tangannya penasaran ingin tahu, sehingga mendorongnya membalikkan foto tersebut.
Sean sudah terlambat untuk mencegah, Alexa sudah terlebih dulu membalik foto itu.
Ia seperti mengenali istri Sean, rasanya pernah melihat wajah ini. Wajah Alexa tiba-tiba memucat, terlihat air mengambang di matanya.
__ADS_1
" I ini i istri kamu ??"
" Ya" ,jawab Sean singkat, sambil mengambil bingkai itu dari tangan Alexa. Ia tak.mau foto yang tak bersalah itu dibanting oleh Alexa.
" Tadi ka kamu bilang istrimu ada di Belanda ?"
" Ya, dia di Belanda, dia pergi ke rumah orang tuannya".
Tapi kemarin aku melihatnya di mall W, bukankah itu wanita yang sama ?
" Ka...kamu yakin dia di Belanda ?"
" Ya, kemarin temannya yang bilang".
" Kamu tidak menghubungi ponselnya".
Sean terdiam, bagaimana menghubunginya jika nomornya sudah tak aktif lagi. fikir Sean.
" Sean ?!" tatap Alexa sambil meminta jawaban.
" Nomornya sudah tak aktif lagi".
Pantas, kemarin aku mencoba menghubungi tapi nomornya tidak aktif.
Alexa berusaha mengendalikan diri
" Siapa nama istrimu?"
" Kamu nggak perlu tahu !"
" Aku cuma ingin tahu, apa tidak boleh".
Ya, kenapa juga ia harus menyembunyikan nama istrinya, toh dia juga tidak ada di Indonesia.
" Gendis. namanya Gendis Wilhelmina".
" Dia keturunan bangsawan Belanda".
" Mungkin aku tidak begitu paham " jawab Sean.
Makanya wanita yang aku temui kemarin sangat cantik, layaknya manaquin. Karena dia blesteran Indonesia Belanda. Jadi itu istri Sean.
Muncul kembali lagi rasa kecil di hati Alexa. Begitulah dia, wanita cantik dan kaya tetapi tidak memiliki modal percaya diri.
Alexa menarik nafas dalam
" Aku pulang", sambil terus menundukkan kepalanya.
" Baiklah hati-hati, maaf aku tak bisa mengantarkanmu, aku sedang sibuk".
Kata-kata lain sudah tidak didengarkan lagi oleh Alexa. Ia sibuk dengan kekurangannya sendiri, sambil berjalan menuju pintu keluar.
Kemarin aku melihatnya, cantik. dan masih ada di Jakarta bukan di Belanda. Berarti Sean tidak tahu bahwa istrinya masih di Jakarta, apa yang bisa aku lakukan supaya mereka tidak daling bertemu ?.
❤❤❤❤❤
Santai.... santai... kaaaaa
nggak usah emosi, besok kita sambung lagi yaaaaa 😁😁😉😉
Sekarang, kencengin
like 👍👍👍👍👍
koment 💬💬💬💬💬
vote 🤳🤳🤳🤳🤳
and
rate - nya 🌟🌟🌟🌟🌟
Sudah aku bonusin up 1 episode
__ADS_1
Yang sudah makasih....
Saranghaeyo 😘😘😘😘