Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 21


__ADS_3

" Gendis, jujur sama mama, kalian tidak pernah tidur sekamar?", Gendus yang awalnya gembira melihat kedatangan mama mertuannya menjadi bertambah pucat, mendengar pertanyaan mama.


Meskipun mama mertuannya orangnya sangat baik, tapi bila terlihat marah seperti ini, rasannya Gendis menjadi ciut nyalinnya.


Ia memandang Sean, meminta tolong dengan isyarat matanya.


" Ma...!"


Panggil Sean kepada mamanya.


Tapi mama segera memotong pembicaraan Sean,


" Kamu jangan ikut bicara, mama bertanya pada Gendis, jawab mama dengan jujur Ndis, selama ini kalian tidur terpisah?".


" Ya, Ma...", jawab Gendis sambil tertunduk.


" Jadi selama ini kalian belum oernah berperan sebagai suami dan istri ?"


" Sudah ", secara serempak Sean dan Gendis menjawab pertanyaan mama.


Mereka saling berpandangan dengan penuh arti, Gendis menjadi malu dan menundukkan kepala. Mereka menjawab karena merasa takut dimarahi mama sebenarnya, tapi kesannya mirip anak-anak yang takut dimarahi oleh ibunya karena melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah dilarang oleh orang tuanya.


" Bohong, selama seminggu mama akan tidur disini, mama nggak mau tahu, mama ingin dua bulan lagi mama mendengarkan kabar bahagia dari kalian berdua, Gendis harus hamil".


Sean dan Gendis bingung dengan keputusan mama.


" Ma...", panggil Gendis


" Mama nggak mau dibantah, jika tidak, mama akan melaporkan kalian ke papa, biar papa yang selesain masalah kalian, apa-apaan nikah sudah berbulan-bulan kok belum ngapa-ngapain, nikah itu salah satu tujuannya adalah membuat keturunan. Okelah kalian belum cinta, tapi ini proses sudah hampir tujuh bulan, keterlaluan jika kalian tidak ingin memberi keturunan pada orang tua kalian !!".


Mama marah benar sepertinya, sehingga bicarapun keluar panjang kali lebar, biasanya mama tidak seperti ini.


" Sean angkat Gendis ke kamar utama, mama tidur disini, nanti mama pamit ke papa".


" Ya Ma".


" Aku angkat kamu ya Ndis, maafkan mama", bisik Sean di telinga Gendis, sambil.mengangkat Gendis.


Gendis hanya menganggukkan kepala pasrah.


" Kamar Gendis mama bereskan, kalian tidur di kamar berdua, jangan berfikir sekarang kalian bisa santai".


Pipi Gendis bertambah merah mendengar kata-kata mama, ia merasa malu sekaligus bersalah pada mama mertuannya.


Setelah menidurkan Gendis di atas tempat tidurnya, Sean ke kamar mandi, ia akan ke perusahaan tempat Gendis bekerja.


Kamar Sean jauh lebih luas dibanding kamarnya, pemandangannya juga lebih bagus, sebab jendela kaca di kamar Sean memenuhi satu dinding yang menghadap kota, jika malam tentu akan lebih indah, dengan gemerlapnya lampu kota.


Sean keluar dari hanya dengan menggunakan handuk yang dililit di pinggang. Nggak pa pa, yang di luar itu toh istrinya, nggak pakai apa-apa juga sah-sah saja.


Sementara Gendis pura-pura tak melihat, ia memandang keluar, ke dinding kaca. Tapi dengan nakalnya Sean mengelilingi tempat tidur dan menghadap ke arah Gendis dengan hanya mrnggunakan lilitan handuk tadi.

__ADS_1


" Sini aku lihat, kamu masih panas nggak ?"


Gendis memejamkan matanya, pipinya juga kemerahan.


Sean melihat itu, dan entah kenapa ia merasa senang melihat ekspresi Gendis yang tampak malu. Ia berusaha untuk menggoda Gendis lagi.


" Gendis, Ndis...."


Gendis membuka matanya, dan langsung terkejut saat Sean membuka lilitan handuknya. Gendis memekik kaget.


Tapi ternyata di balik lilitan handuk, Sean sudah mengenakan celana boxer.


Melihat reaksi istrinya, Sean tertawa terbahak-bahak. Ia senang berhasil menggoda istrinya.


" Apaan si Mas?", Gendis menyembuyikan wajahnya ke dalam selimut.


"Aku ke perusahaan kamu dulu langsung ke kantor , aku berangkat ya", seperti biasa, tak lupa Sean menyodorkan punggung tanganya untuk dicium Gendis.


" Ya, hati-hati", Sementara mama sibuk menempatkan beberapa makanan yang sudah matang yang beliau bawa dari rumah.


" Ma, bawa makanan apa ?"


" Tadi mba Wati bikin ayam bumbu rujak kesukaanmu, mama bawa banyak nih, sini kamu makan dulu".


Sambil makan Sean bilang,


" Ma, titip Gendis ya, aku mau ke perusahaan langsung ke kantor, kalau nanti nggak ada kerjaan aku pulang dulu".


" Nggak pa pa biar Gendis sama mama, tapi ingat perlakukan Gendis layaknya istri, dia sudah resmi jadi pendampingmu, kamu wajib memberikan nafkah lahir maupun batin pada istrimu, mama nggak tahu, apa kamu punya wanita lain di luar sana, jika iya, mama minta putuskan. Kamu sudah ada istri".


" La, mama dan papa kan nggak tahu, lalu kenapa dulu kamu nggak.menolak perjodohan ini, kenapa kamu iyain saja?, kalau sudah gitu salah mama dan papa dimana? nggak ada. Kamu yang salah nggak mau jujur sama mama dan papa".


" Untuk mutusin nggak segampang itu Ma, aku masih mencintainnya".


" Lalu, bagaiaman dengan Gendis ? kamu pikir dia nggak tersiksa jika dia tahu suaminya punya wanita lain ?"


" Dia sudah tahu Ma".


" Apa ??!!, gila kamu ya Sean, kamu gila".


Tak terasa mama menangis. Sean bingung melihat mama-nya menangis.


" Mama kenapa kok nangis ?"


Dengan lebih merendahkan suara mama menjawab,


" Kamu fikir Gendis tidak tersiksa selama ini kamu perlakukan seperti itu. Gendis itu wanita Sean, dia pasti ekstra menyiapkan hati, supaya tidak terluka terus menerus membayangkan kamu jalan dengan perempuan lain, kamu gila Sean, putuskan, kalau kamu nggak mau putuskan, mama nggak mau bikin Gendis tersiksa terus menerus mama akan pisahkan kalian berdua. Supaya Gendis bisa hidup dengan normal. Menikah dengan pria lainnya".


" Mama, apaan si.... beri Sean waktu, Sean hanya butuh waktu untuk mengambil keputusan yang benar".


" Keputusan yang benar adalah kamu memilih istrimu, bukan kekasihmu. titik nggak perlu bantah lagi, habiskan sarapanmu dan segeralah berangkat kerja, aku mamamu yang akan ngurus istrimu".

__ADS_1


Sambil berkata seperti itu, mama segera masuk ke kamar Sean dengan membawa bubur semangkok untuk menyuapi menantunya.


Sean menarik nafas dalam.


Jika papa tahu habislah duniaku. Kenapa aku musti cerita ke mama tadi. bagaimana mungkin aku kelepasan bicara.


Mana mungkin aku putus dengan Alexa. Aku sungguh mencintainnya. Tapi untuk berpisah dengan Gendispun aku juga nggak sanggup. Aku sudah terbiasa dengan kehadiran Gendis di sampingku


Sean membawa bekas makanannya ke dapur dan mencuci sendiri bekas makannya.


Oa.keluar dari rumah dengan badan dan fikiran yang nggak fiit, serba salah.


Sean membawa mobilnya ke arah perusahaan Gendis. Sampai disana ia diterima resepsionis. Menunggu sebentar lalu dipersilahkan masuk.


Ternyata CEO perusahaan itu adalah teman Sean kuliah, mereka berbincang akrab, setelah agak.lama, barulah Sean menyampaikan tujuannya ke perusahaan itu.


" Kedatangan utamaku kemari sebetulnya yang pertama untuk meminta izin untuk Gendis, sebab hari ini dia tidak.masuk karena sakit, selanjutnya ia aku suruh untyk berhenti bekerja".


" Gendis ? emang dia apa kamu Sean?"


" Dia istriku, jika aku harus bayar finalty aku akan bayar, sebab dia sudah memanipulasi data, dan belum jalan dua tahun dia harus mengundurkan diri".


" Ya ampun, jadi Gendis istri kamu, kalau aku tahu aku perlakukan istri kamu dengan lebih baik, kukira istri kamu Alexa, gimana dengan Alexa ?"


" Ceritanya panjang, kaya novel jika aku cerita, intinya .... gitu deh".


" Kalau gitu, gini aja Sean, biarlah Gendis melanjutkan kerja disini dulu, sampai kami dapat pengganti Gendis gimana ?"


" Itu nanti akj tanyakan ke Gendis. Gitu aja dulu ya, makasih bantuannya, dan mohon maaf bila selama kerja disini Gendis ada salah".


" No Brow, Gendis justru baea angin segar ke perusahaan ini, idenya segar".


" Ok makadih, aku pamit dulu, met kerja".


" Yok sama-sama"


Mereka saling berjabat tangan, Dan Heru CEO tersebut mengantar Sean sampai keluar.


visual


Gendis



Sean



😊😊😊😊😊😊😊


Visualisasi dah aku kadi ya ka, semoga cucok

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak, like, koment n vote dibanyakin ya, biar author makin semangat nulisnya.


Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2