Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 50


__ADS_3

Gendis masih asik dengan kain batik di tangannya, saat suara panggilan terdengar olehnya.


" Gendis !"


Gendis menoleh ke arah suara orang yang memanggilnya. Tio, dengan menggandeng wanita cantik dan tampak berkelas di sampingnya. Sementara Chiko tampak melihat lekat padanya, antara lupa-lupa ingat.


" Oh Pak Tio, apa kabar ?, Hallo Chiko sayang ingat tabte nggak ?"


Gendis langaung beejongkok dihadapan Chiko. Chiko menggelengkan kepalannya.


" Tentu saja Chiko nggak ingat, sudah dua tahun berlalu", sambungnya, sambil mengajak bersalaman Tio dan wanita cantik di sampingnya.


" Apa kabar Ndis ".


" Alhamdulillah baik Pak, maaf ibu ini istri bapak ?"


" Calon ", jawab Tio, tampak wanita disampingnya memandang Gendis kurang suka, bahkan beberapa kali tangannya menarik Tio untuk pergi. Gendis menyadari itu.


Ia berjongkok lagi untyk bicara dengan Chiko


" Sampai ketemu lagi sayang, kita berpisah sampai disini ya, bye ... bye...".


Chiko tidak menjawab, justru dia mengamati Gendis dengan sangat teliti, sampai tiba-tiba Chiko berucap.


" Mama, mama Ndis ?"


Mendengar itu Gendis terharu.


" Wah Chiko masih ingat tante, ia sayang, sini peluk tante. Tante mau peegi dulu ya, kapan-kapan kita jumpa lagi" Gendis mencium pipi Chiko.


" Saya cari-cari batik dulu Pak, buat oleh-oleh teman di kampung" Sambil.menjabat tangan Tio dan calon istri Tio yang tampak melengos tak mau menjabat tangan Gendis.


" Nicole", tegur Tio


" Nggak pa pa Pak Tio, saya mau melanjutkan pilih-pilih kain, salam hormat saya buat papa dan mama, jika ada waktu saya akan mampir ke rumah. silahkan Pak,. dadaah Chiko".


Chiko hanya memandang Gendis dengan bingung.


Sementara papa-nya menggendong Chiko.


" Ya nanti saya sampaikan ke mama".


" Papa... itu tadi mama Ndis, mama Ndis".


" Mama kamu itu mama Nicole Chiko, bukan dia", jawab Nicole cepat.


" Apa sih Nic, dia kan masih anak-anak".


" Tapi dia harus diberi pengertian".


" Apa-apan si kaya ABG aja kamu, nggak pantes", jawab Tio dengan jengkel.


" Menurut kamu, aku harus bagaimana menghadapi wanita yang pernah kamu sukai ?, pakai acara mau maen ke rumah lagi".


" Ya biasa ajalah, toh dia nggak mau sama aku, jadi jangan berlebihan lah sikap kamu".


" Huuuh..."


" Sudah, kita pulang saja, aku sudah nggak mood lagi jalan-jalan".


" Ini semua gara-gara cewek itu, bikin moodku juga buruk".


Tio diam saja, ia tak.mau menjawab pernyataan calon istrinya, bisa panjang utusannya bila ia menjawab.


" Kita mau jalan kemana nih, aku nggak mau pulang", sambung Nicole.


" Terserah kamu mau kemana, aku sendiri mau pulang", jawab Tio dengan kemarahan tertahan.

__ADS_1


" Apaan si Mas Tio, huuuh gara-gara perempuan itu".


Calon istri Tio memang cantik dan berkelas, dia juga sangat sayang pada Chiko, tapi rasa cemburunya yang berlebihan sering membuat Tio tak tahan.


Tio tak pernah bercerita mengenai Gendis pada Nicole, tapi keingintahuan Nicole yang besar mampu mengorek informasi mengenai Gendis pada asistennya, sebab tanpa sengaja dia pernah melihat foto Gendis tersimpan di galeri ponsel Tio.


Saat itu Nicole bertanya pada Tio, dan Tio menjawab bahwa Gendis adalah seorang teman. Tapi melihat keakraban Gendis dan Chiko dia tak percaya.


Melihat kepergian mereka Gendis hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ada-ada saja.


Gendis kembali memilih-milih kain, ia sudah mendapatkan lima kain batik, dan tiga atasan buat dia, ibu dan ayahnya dan dua gaun batik untuk dirinya sendiri. Tak lupa ia membeli oleh-oleh untuk Larry juga, atasan batik yang menurutnya sangat cocok dikenakan Larry.


Ia sudah membayangkan calon suaminya pasti terlihat tampan dan gagah dengan kemeja batik pilihanya.


Ponselnya berbunyi saat ia selesai membayar batik borongannya.


Dari Larry rupanya dia tak bisa menahan rindu, sehingga menggunakan layanan video call.


" Gendis lagi ngapain ?"


" Beli kemeja batik buat kamu".


" Keren, boleh aku lihat ?"


" Tentu", Gendis membuka paper bag yang berisi kemeja batik Larry yang dibelikannya. Dia minta bantuan penjaga stand batik untuk memvideokan batiknya, sementara ia memegangi kemeja bagik tersebut.


" Wah aku bikin ribet ya, sudahlah Ndis nggak usah, aku senang apapun pemberianmu".


" Nggak pa pa, ini nggak repot, makasih ya mba..."


" Ya sama-sama", sambil dibantu melipat kembali batik tersebut.


" Kamu sudah lihat ? suka nggak?".


" Bagus, aku suka".


" Gendis !"


Gendis masih tertawa ceria sambil membalikkan badan. Tepat dihadapannya berdiri mantan suaminya, Sean dengan wajah yang masih tampan seperti dulu, dengan badan yang masih sama seperti dulu.


Lutut Gendis langsung lemas, kenangan masa lalu berkelebat kembali ke hadapannya. Sampai saat ini, lelaki inilah yang terus menghuni sudut hatinya.


Sean segera menopang tubuh Gendis. Ia memegang tangan mantan istrinya yang terlihat hampir terjatuh.


" Gendis, are you ok ?, Ndis !" panggil Larry diseberang sana. Gendis mulai menata deburan yang bwrdetak kuat di hatinya.


" Ya Larry aku nggak pa pa".


" Ok Honey, kamu cari tempat duduk dulu, istirahat, kalau sudah baikan kamu hubungi aku".


" Baiklah".


" Love you...".


Gendis tersenyum manis memandang Larry. Dan mematikan ponselnya.


" Apa kabar Ndi, long time no see", sapa Sean yang dari tadi sabar menunggu pembicaraan antara Gendis dan tunangannya.


" Alhamdulillah aku baik", jawab Gendis sambil.menjabat tangan Sean.


" Sama siapa ?", kepala Sean celingukan mencari-cari orang yang mungkin bersama Gendis. Sebetulnya itu hanya pengalihan saja, betapa groginya dia bertemu dengan Gendis.


" Sama ayah dan ibu".


" Kemana mereka ?"


" Entahlah, aku kira tadi kami masih bersama".

__ADS_1


Sementara di stand lain, ayah dan ibu Gendis melihat mereka dari kejauhan. Mereka sengaja membiarkan pertemuan itu berlangsung. Gendis harus menetapkan hati untuk masa depannya. Dia tak boleh goyah saat pernikahan sudah ia laksanakan. Itu fikiran ayah Gendis.


Mereka sengaja kembali ke kamar.


Sementara Sean mengajak Gendis untuk ngobrol


" Cari tempat buat ngobrol..."


Bagaikan kerbau dicocok hidungnya Gendis ikut saja kemana Sean membawanya pergi.


Mereka menemukan stand penjual minuman, dan Sean memesan dan nenyerahkan pada Gendis. Sean tahu betul minuman kesukaan Gendis, jadi ia tak perlu bertanya.


" Kita duduk disana". Sambil menunjuk sofa yang berada di depan resepsionis.


Mereka duduk di tempat mana Sean menunjuk.


" Lama kita tak bertemu, sudah berapa lama ya?"


" Hampir dua tahun".


" Ya betul, di Belanda bantu usaha ayah atau...?"


" Aku kuliah lagi".


" S 2 ?"


" Ya".


kekakuan menyelimuti mereka berdua, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin mereka lontarkan, tapi ada begitu banyak pula yang berusaha mereka tekan.


" Papa mama sehat ?"


" Sukurlah mereka sehat, kamu nggak ingin bertemu mereka?"


" Tentu saja, kami berencana besok ke rumah".


" Kenapa besok ? mereka pasti sangat suka jika kamu datang hari ini".


" Aku bicarakan nanti dengan ayah dan ibu".


Sean menganggukkan kepala.


Menurut Gendis sifat Sean sudah mulai berubah, dia terlihat lebih dewasa dan pandai mengontrol diri.


Mungkin pernikahan dengan Alexa membuatnya menjadi lebih dewasa. Fikir Gendis.


Mereka berdiam diri lagi. Ada begitu banyak tanya tapi tak satupun yang terucap sampai Gendis berpamitan.


" Aku cari ayah dan ibu dulu, sampai jumpa lagi".


" Ndis, masih ada yang ingin aku bicarakan".


Gendis tersenyum.


" Nanti saja, jika kita bertemu lagi", jawaban Gendis lebih ke mengurangi debaran di hatinya sendiri. Ia tak mau pembicaraannya dengan Sean akan membuatnya ragu. Kali ini ia harus melangkah dengan pasti.


😊😊😊😊😋


Maaf ye kaaaa, besok lagi 😁😁


Jangan lupa tinggalkan jejaknya


Saranghaeyo 😍😍😍😍


Yang masih berharap Sean dan Gendis bersatu masih bisa berharap 😅😅😅


Tapi jangan mengharap banget 😎😎😎😎

__ADS_1


__ADS_2