
Sampai di kantor Gendis di sambut pelukan oleh teman-teman-nya.
" Hei ada apa ini ?"
" Selamat ya Mba, semoga kita yang dapet tender".
" Aamiin, semoga saja".
Dari arah belakang Pak Tio mendekat ke arah mereka,
" Ibu Gendis bisa bicara sebentar ?"
" Bisa Pak". Sambil membawa berkas yang tadi dibuat presentasi.
" Ini nggak ada hubungannya dengan Pekerjaan, tapi, maaf Ndis, Chiko beberapa hari ini rewel, aku sebetulnya sudah berusaha supaya Chiko nggak cari kamu, tapi akhir-akhir ini, setiap malam, dia selalu menangis, mencari kamu".
Gendis diam, dari dasar hati yang paling dalam, Gendis menyayangi Chiko dia juga merindukan anak itu.
" Saya harus bagaimana Pak?"
" Bolehkah aku minta tolong, datanglah kamu, sore ini sepulang kerja untuk menemui Chiko, gunakan cara apapun, supaya Chiko tidak mencarimu setiap saat ".
Gendis berfikir sejenak, dia mempertimbangkan apa yang mungkin bisa ia lakukan tanpa memberi harapan pada siapapun.
Seolah tahu apa yang difikirkan oleh Gendis Tio berujar.
" Kamu nanti langsung aja ketemu Chiko dan mami, jangan khawatirkan yang lain".
" Baiklah, nanti sore saya akan menemui Chiko".
" Kamu bisa kesana sendiri kan ? nanti sore aku ada pertemuan".
" Nggak pa pa Pak, nanti saya akan kesana sendiri pakai taxy".
" Baiklah".
Di tempat lain, di kantor Sean.
Pengacara mendatangi Sean untuk mengambil berkas perceraian .
" Bagaimana Pak Sean, berkas sudah ditanda tangani ?"
" Saya belum bisa tanda tangan sekarang. Saya akan memutuskan jika, Gendis bicara langsung pada saya ".
" Tapi beliau sedang di luar negeri Pak".
" Tidak apa-apa. akan saya tunggu sampai dia mau bertemu saya".
" Sebetulnya kami bisa lewat jalan lain pak".
" Saya tahu, tapi tanpa tanda tangan saya perpisahan tetap tidak akan sah kan ?"
" Baiklah Pak Sean, saya akan bawa berkas-nya, kami akan bicara dulu dengan ibu gendis".
" Silahkan!"
Kedua pengacara keluar dari kantor Sean, sementara Sean berdiri dengan memasukkan kedua tangan di saku.
__ADS_1
Dia ingin bertemu Gendis sekali lagi.
Gendis begitu dekat, tapi ia sama sekali tak mau menemuiku. Apakah karena luka itu terlalu dalam aku toreh ?. Sementara, atasanya sendiri, jatuh cinta padanya ? Jika terus menerus diberi perhatian oleh Tio, aku bisa kehilangan Gendis.
Pulang kerja Sean sengaja memarkir mobilnya di luar mall, dia berada di dalam mobilnya sambil menunggu, siapa tahu Gendis lewat disitu.
Dia lumayan lama menunggu Gendis, sampai ia.melihat sosok yang ia rindukan keluar dari pintu utama mall, sambil bergandengan tangan dengan wanita lain, sepertinya usia mereka sama,
Sean memandang istrinya dari kejauhan dan di dalam mobil.
Kerinduannya semakin jelas terlihat, matanya tak bisa membohonginya. Ia akan mengikuti kemana kedua wanita itu akan pergi.
Tapi, di halte mereka berpisah, Gendis tetap berada di halte, sedang temanya langsung berjalan ke arah lain.
Sean masih menunggu, saat ada taxi lewat Gendis masuk dan diikuti oleh mobil Sean.
Sean masih mengikuti saat Gendis memasuki sebuah rumah besar berpagar tinggi.
Kenapa Gendis masuk runah Tio ?. Ada apa ini ?. Ataukah ??...
Fikiran buruk berkecamuk di otak Sean. Mungkinkah diantara mereka sudah ada sesuatu ?
Fikiran buruk Sean itu semakin membuat hatinya kalut. Rasanya duduk di dalam mobil selama ini, berasa duduk di kursi penuh dengan jarum. Tak jenak, ingin sekali masuk ia khawatir ini masalah kerjaan.
Sean akan turun, saat ia lihat dari jauh, Gendis keluar sambil menggandeng anak kecil.
Bukankah itu Gendis ? siapa anak kecil itu ? apakah anaknya Tio?, jadi dia sudah sedekat itu.
Sean masuknke dalam mobil lagi, dia memperhatikan mereka berdua dari jauh.
" Mbak.Gendis, terima kasih lo mau datang".
" Ya bu, nggak pa pa, kebetulan saya juga sudah kangen sama Chiko"..
" Maaf Mbak Gendis, boleh saya tanya sesuatu, sebab jika aku tanya pada Tio, jawaban Tio selalu tak pasti".
" Nggak apa-apa bu silahkan".
" Sebenarnya, bagaimana perasaan mbak Gemdis sama Chiko ?"
" Saya itu penyuka anak-anak, jadi dengan anak-anak saya cepat akrab".
" Jika dengan Tio ?"
" Mohon maaf ibu, maksudnya bagaimana?"
" Hubungan kalian ?"
" Saya dan Pak Tio, hanya sebatas atasan dan bawahan bu".
" Tapi kalian cocok sebagai pasangan, maaf, Chiko juga terlanjur jatuh cinta sama kamu".
" Pak Tio tidak cerita siapa saya ?"
" Seperti yang ibu ceritakan di awal, dia hanya tersenyum jika ditanya mengenai mbak Gendis".
" Mungkin Pak Tio punya alasan sendiri bu?"
__ADS_1
" Ya mbak, makanya saya tanya mbak Gendis".
" Saya sudah punya suami bu, saya dekat dengan Chiko, seperti yang saya ceritakan di awal karena saya suka anak-anak".
Mami Tio langsung diam mematung, terlihat jelas di matanya tampak kekecewaan. Ia benar selama ini ia berharap lebih pada Gendis.
" Ibu tidak apa-apa?"
" Oh eh ya Mbak, saya nggak pa pa".
" Mama mama mau upu-upu ".
Chiko mengejar kupu- kupu yang berterbangan di sekitar taman depan rumah.
" Ya sayang... jangan lari-lari nanti jatuh".
Tapi yang namanya anak kecil, dan melihat sesuatu yang diinginkannya tentu apapun tak peduli.
Sampai hampir saja Chiko melewati pagar rumah yang terbuka, padahal ada security, mungkin karena Chiko masih kecil sehingga saat lewat pos, luput dari pandangan.
Sementara mami dan Gendis masih belum sadar si kecil semakin ddkat ke arah jalanan.
Untunglah Sean melihat, dengan cepat ia turun dari mobil, dan dengan cepat menyeberang jalan.
Gendis dan mami Tio masih berlari-lari mengejar Chiko, saat menyadari Chiko menghilang dari pengamatan.
Sudah di pinggir jalan saat Sean meraih tubuh mungil Chiko dan menggendongnya untuk dibawa ke halaman rumah.
Sebetulnya Sean berniat meninggalkan Chiko di halaman dalam dan ia segera pergi, saat dari belakang, Gendis memanggilnya.
" Mas Sean !"
Sean menghentikan langkahnya, sementara oma segera memeluk Chiko.
" Aduuuh sayangnya oma, cepet hangat larimu sampai oma dan mama nggak bisa mengejarmu, oooo sayaaang, jika terjadi apa-apa sama kamu, oma nggak akan memafkan diri sendiri".
Security yang baru menyadari ada rame di depan pos jaga-nya segera keluar.
" Den Chiko mau keluar ke jalanan ? aduuuh maaf bu, saya nggak lihat".
" Ya mana mungkin kamu lihat, kamu main hp mulu dari tadi", jawab oma Chiko.
Ucapan mami Tio masih berputar di otak Sean
Aduuuh sayangnya oma, cepet banget larimu sampai oma dan mama nggak bisa mengejarmu, oooo sayaaang, jika terjadi apa-apa sama kamu, oma nggak akan memafkan diri sendiri.
Mama ? Apakah ini berarti sudah ada sesuatu antara Gendis dan Tio. Kenapa ibu Tio menyebut Gendis dengan sebutan mama ?
😊😊😊😊😊😋😊
Setelah mati suri sehari ya kaaaa, alhamdulillah Gendis up lagi, maaf kemarin yang nungguin.
Karena author ada kepentinga. di dunia nyata, jadi kemarin skip sehari.
Jangan lupa, like, koment, n vote nya yaaa
Saranghaeyo 😘😘😘😘😘
__ADS_1