
" Kenapa Mas, itu nadi gorengnya belum dihabisin, padahal enak lo, Mas pinter masak juga".
Sean diam saja, saat ini ia malas bicara dengan Gendis. Sebetulnya tampak kekanak-kanakkan, tapi Sean tak bisa menahan diri.
" Nanti kita ke rumah sakit jam berapa ?"
" Nggak jadi, aku berangkat kerja".
" Ooooo ya udah nanti aku telepon teman aja suruh anter".
Gendis akan meraih teleponnya, saat tiba-tiba Sean teriak,
" Stop, nggak usah minta tolong teman-teman kamu, nanti aku yang antar".
Ponsel yang dipegang Gendis hampir saja terjatuh, karena Gendis kaget Sean berteriak.
" Apaan si Mas, ngomongnya biasa aja kali, aku kang nggak tahu Mas mau nganter juga, tadi kan bilang katanya mau berangkat kerja".
Sean diam saja, ia mengunyah makannya dengan diam, sambil memperlihatkan wajah kesalnya.
Melihat itu Gendis bertanya,
" Ada apa si Mas, kok sikapnya tiba-tiba berubah?"
Sean tidak menjawab,
Gendis menarik nafas dalam
" Katanya jika ada masalah harus diselesaikan saat itu juga, supaya nggak ada pikiran macam-macam. Ini kok diam saja".
" Aku lagi malas bicara"
" Kenapa?"
" Ya.... nggak usah ditanya kenapanya ?"
" Malas kan, pasti ada alasannya "
" Aaah sudahlah " pungkas Sean,
Gendis nggak akan selesai bertanya, jika Sean tidak segera menyurutkan niatnya. Begitulah Gendis, dia selalu gigih mendapatkan kemauannya.
Selesai makan, Sean membereskan dapur dan mencuci piring bekas mereka makan.
Sementara Gendis hanya memperhatikan dari tempat duduknya.
Kira-kira apa yang membuat, suaminya tiba-tiba sikapnnya berubah, padahal tadi baik-baik saja.
Gendis berusaha berdiri. Bisa. ia berjalan dengan cara mengangkat kaki sebelah kanannya dengan melompat-lompat menuju ke kamarnya. Tapi sebelum sampai ke kamarnya ia nampak kecapekan, dan bersandar pada tembok.
Tiba- tiba Sean sudah ada dihadapannya dan memepetnya di tembok, dengan secepat kilat Sean mencium bibir istrinya.
Awalnya kasar tapi lama kelamaan menjadi lembut. Dan Gendis tidak berusaha untuk menolak , ia biarkan suaminnya. Gendis ingin meihat bagaimana reaksinya dan reaksi suaminya setelah ini terjadi.
Tapi tanpa sadar, kaki kanan Gendis turun ke bawah menginjak lantai marmer, dan Gendis merasakan nyeri pada pergelangan kakinya.
" Aaaaw".
Sean kaget, sebab Gendis tiba-tiba mensorong tubuhnya dengan lembut. Dengan wajah merah bagai kepiting rebus.
" Kakiku .... sakit" ujar Gendis, sambil memandang Sean dengan mata memohon maaf.
Sean jadi malu, dia hampir saja terbawa suasana.
" Ya udah, kamu mandi, nanti aku antar ke rumah sakit"
Ia segera membopong Gendis tanpa berani memandang langsung mata Gendis. Gendispun demikian, dia sangat malu dengan kejadian yang barusan.
__ADS_1
Satu jam kemudian mereka sudah meluncur ke rumah sakit dalam diam. Mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Dan diantara mereka untuk memulai pembicaraan terasa malu. Suasanannya benar-benar caanggung.
Sampai di rumah sakit, Sean segera mencarikan kursi roda untuk istrinya. Sebelum memarkir mobil.
Ia tinggal sebentar Gendis di teras rumah sakit, untuk memarkirkan mobilnya.
Tanpa disadari Gendis ada seorang dokter yang mendekatinnya,
" Gendis ? Gendis kan ?"
Gendis menoleh ke arah sumber suara,
" Mas Desta ?"
" Ya, ini aku, kamu kenapa sakit apa ?" Sambil jongkok didepan Gendis.
" Nggak kenapa-napa Mas, cuma keseleo aja".
" Kamu sama siapa ?"
" Sama suami ".
" Suamimu mana?"
" Lagi markirin mobil".
" Mas Desta dinas disini?"
" Ya, kamu kok juga di Jakarta? suami kamu orang Jakarta ?"
" Ya, Mas, waah kesempatanku tertutup nih ya, kirain kamu belum nikah hahaha"
Mereka tertawa bersama, benar Desta dulu memang suka dengan Gendis, tapi karena suka bergurau, saat menyatakan suka pada Gendis, Gendis menganggap itu hanya gurauan juga.
Mereka masih tertawa saat Sean datang, dia bertanya-tanya, dokter apaan yang sedang genit pada istrinya.
" Ndis...", sambil Desta dengan bertanya-tanya.
Desta segera menyidorkan tanganya,
" Mas apa kabar ? saya temannya Gendis saat SMA ".
Sean mengulurkan tangannya juga.
" Oooo ya ya, Sean "
" Saya Desta".
" Saya mau daftarkan Gendis dulu Pak Dokter ".
" Nggih monggo, saya temenin Gendis, monggo Mas Sean".
" Suami kamu keren, kamu bahagia kan?"
Gendis menarik nafas dalam,
" Kelihatannya?"
" Kamu tambah kurus, kamu kelihatannya kurang bahagia".
" Sok tahu, bahagia nggak bisa dilihat dari bentuk tubuh".
" Bener, tapi yang aku lihat mata kamu, bukan hanya tubuhmu, kalau mau cerita, aku mau dengerin Ndis, kita sama-sama perantau disini dari kota yang sama lagi, aku bisa jadi kakakmu kalau kamu mau, aku nggak punya maksud apa-apa, disini aku juga sudah punya pacar, sedih aja bila lihat saudara satu kota tidak bahagia di rantau. Mana ponselmu ".
Gendis menyerahkan ponselnya ia menelpon no hp nya sendiri.
__ADS_1
" Tuh nomorku tinggal simpan aja".
" Oke, kapan-kapan kenalkan aku dengan pacarmu".
" Siaaaap".
" Ayo Ndis, permisi dokter".
" Silahkan, saya juga mau ke kantor, Gendiiiiis jangan lupa bahagia".
Gendis tersenyum sambil melambaikan tangan. Sementara Sean tercekat dengan kalimat yang baru diucapkan oleh Desta.
" Memang kamu nggak bahagia hidup denganku ?"
Tanya Sean sambil mendorong kursi roda Gendis.
" Istri mana yang bahagia, bila tahu suaminya punya kekasih di luar rumah".
Deg
deg
Salah pertanyaanku, aku lupa Gendis biasa bicara apa adanya. batin Sean.
" Maaf".
Gendis sudah terlalu jengkel dengan peristiwa yang beruntun terjadi, dari wajahnya yang terlihat jelas oleh Desta, sampai pertanyaan Sean yang menurutnya tidak masuk akal, menambah kebeteannya.
Hanya beberapa pertanyaan dari dokter yang ia jawab.
Masuk mobil sampai di rumah Gendis diam saja. Sean sadar, Gendis marah karena pertanyaannya.
Bodoh.... kenapa tadi aku kasih Gendis pertanyaan receh itu. batin Sean.
Gendis memang tidak boleh banyak bergerak. Dia harus istirahat selama dua hari ke depan. Sampai di rumah Gendis tak banyak bicara.
Biasanya dia adalah wanita yang masuk akal, tapi hari ini rasanya ia terbawa perasaan dan membuatnya menjadi melo.
Sepanjang hari ia berada di kamar, rasanya ia malas melakukan apapun, bahkan membaca bukupun hobi yang paling disukainnya, malas ia kerjakan.
Sean masuk ke dalam kamar, dia merasa bersalah, dia bermaksud minta maaf pada Gendis.
" Ndiiis, kamu tidur".
Gendis diam tak menjawab, bahkan sekarang dia pura-pura tidur, tapi Sean tahu itu.
" Gendis, maafkan aku, aku tahu aku salah".
Gendis masih diam,
" Ndis ..", panggilnya lagi dengan lembut.
" Beri aku waktu Mas, sekarang tolong jangan ganggu aku".
"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf".
Gendis masih diam, dan tak membalikkan badan, Sean memandangi istrinya dari pintu.
Sekarang dia pasti marah besar, tak pernah kulihat Gendis semarah ini. Sean keluar, dan menutup pintu dengan pelan.
Sampai di luar dia masih memikirkan Gendis.
Dia memang merasa tidak bisa hidup seperti ini terus, dia harus memilih salah satu dari mereka, istri ataukah kekasihnya?. Sean menggeleng-gelengkan kepalannya. Saat ini, dia benar-benar merasa kebingungan.
😊😊😊😋😋😋
Ayo kakaksay, dikencengin like, koment n vote-nya, Biar author makin kenceng juga bikin lanjutannya.
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘😘