Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 27


__ADS_3

Setengah tahun sejak Gendis meninggalkan Sean. Beberapa kali papa sudah meminta kepada Gendis supaya kembali pada Sean, tapi Gendis selalu menolak dengan alasan masih sakit hati dengan Sean.


Sehingga papa tidak bisa memaksa Gendis untuk kembali pada Sean.


Sementara Sean sendiri baru menyadari kehilangan Gendis. Ia habiskan banyak waktunya untuk pekerjaan. Sesekali keluar hang out dengan teman-temannya.


Sedangkan dengan Alexa, Sean memang masih berhubungan, tapi hubungan mereka sudah tidak seperti dulu. Sean mulai menjaga jarak.


Kalau dikatakan Sean sudah tak mencintai Alexa, enggak juga. Sebab terkadang di saat sepi-nya ia masih membutuhkan Alexa untuk.menemaninya, hamya dia sudah membatasi kontak langsung dengan Alexa. Pegangan tangan, ciuman sudah tidak ia lakukan.


Ia merasa kehidupan perkawinan dengan Gendis menjadi tidak pasti.


Mana mungkin aku melepaskan Alexa begitu saja. Iya jika Gendis balik, jika tidak ? , atau aku minta izin papa aja untuk berpisah dengan Gendis, toh dia meninggalkan aku tanpa kabar?? Nggak salah jika aku menuntut kami berpisah saja


Tapi di sudut hati terdalam Sean ada rasa tak rela-nya jika suat saat ia lihat Gendis menempuh hidup dengan pria lain. Ia tak akan ikhlas.


Hanya membayangkan saja, sudah cukup membuat hatinya tersiksa, apalagi jika mereka betul-betul harus berpisah, dan melihat Gendis bersama pria lain.


Hari ini, Sean janjian dengan Alexa untuk nonton bioskop.


Seperti itulah hubungan mereka saat ini, hanya sebatas menghilangkan kejenuhan. Soal hati, Sean tak tahu lagi.


Secara bersamaan Gendis dan kawan-kawan juga nonton bioskop di tempat yang sama.


Rendy, yang sangat menyukai Gendis, selalu berusaha membuat Gendis menjadi nyaman, bila berada di dekatnya. Dia penuh perhatian.


Selama ini yang mereka semua ketahui, Gendis adalah anak angkat Pak Adinata, bukan menantunya.


Kalau menantu nggak mungkin Gendis hidup terpisah dengan suaminya.


Laksana de ja vu, petistiwa yang lama seolah terulang kembali di tempat yang sama pula.


Rendy terlihat sedang melindungi Gendis, supaya tidak bersenggolan dengan orang-orang yang ramai di gedung bioskop itu.


Sementara teman-teman mereka, ada di depan dan belakang mereka.


Langkah mereka terhenti tepat didepan Sean duduk menunggu jadwal masuk studio bwrsama Alexa.


Merwka tertegun berdua saling pandang. Gendis melihat ke arah Alexa, begitu juga dengan Sean, ia memandang Rendi dengan mata berkilat marah.


Sean sudah tidak peduli dimana ia saat ini dan


dengan siapa. Ia langsung berdiri.


Melihat situasi yang tampknya tidak akan berakhir baik.


Gendis berbisik ke Rendi.


" Kalian masuk saja dulu, aku ada yang tertinggal".


Gendis segera berbalik menerobos keramaian.


Sean tidak tinggal diam, ia mengejar Gendis, dan mendorong Rendi dengan keras. Untung Rendi ditangkap oleh teman-teman di belakangnya, jika tidak ia pasti akan jatuh terjengkang.

__ADS_1


Rendi akan mengejar pria yang kurang ajar mendorongnya tadi. Tapi teman-temannya menghalangi.


" Sudah jangan bikin masalah, ini bukan kota kita".


" Aku mau nyusul Gendis".


" Nggak usah tunggu di dalam saja" kata teman-temannya.


Sementara, di luar karena dalam kondisi panik, Gendis tak bisa berfikir dengan nalar. Ia terus berlari, tujuannya hanya satu supaya tak terkejar oleh Sean.


Tapi Gendis salah, Sean langkahnya lebar. Dia dua langkah, Sean hanya satu langkah.


Sehingga dengan cepat Sean memegang pundak Gendis.


Gendis berusaha menepis tangan Sean, tapi tak berhasil, sebab cengkeraman Sean lebih kuat dibandingkan dengan tepisan tangan Gendis.


Dengan cepat Sean membalikkan tubuh Gendis.


Gendis hampir daja terpelanting, jika sebelah tangan Sean tak menopang badanya.


" Lepaskan, lepaskan aku "


" Kenapa ?! karena kamu punya yang baru ?! Siapa laki-laki tadi ?! aku suamimu Gendis !!, kemana saja kamu, berpacaran dengan lelaki lain, makanya kamu tak ingat dengan suamimu !!"


"Dia temanku, kamulah yang sedang berjalan dengan perempuan itu, kamu selalu menyamakan aku dengan apa yang kamu lakukan, tak tahu malu, lepaskan".


Sean masih mencengkeram pundak Gendis, Ia membawa Gendis masuk ke dalam mobil.


" Lepaskan, lepas nggak ?"


" Aku nggak sudi bicara sama kamu !!"


Sean tidak mempedulikan ucapan Gendis, ia segera membawa mobilnya menuju pulang ke apartemen.


Sampai di tempat parkir apartemen, Gendis tak mau turun.


" Ok, jika kamu nggak mau turun aku akan gendong kamu sampai ke atas".


Sean tidak main-main, dia memang akan melakukan itu. Tapi Gendis segera menepis tangan Sean dan keluar dari mobil.


Mereka sebetulnya belum siap untuk saling bertemu, tapi ketidak sengajaan membuat mereka harus bertemu.


Sampai di dalam apartemen, mereka sama saja cemberut. Bukan pembicaraan ala dewasa yang mereka lakukan justru sebaliknya.


Seperti ABG yang baru berpacaran teelihat dari pembicaraan, mereka saling cemburu.


" Siapa pria tadi ?!"


" Bukan urusanmu!"


" Bukan urusanku bagaimana ? kamu istriku, tentu saja itu menjadi urusanku".


" Oh ya ? aku istrimu ?! lalu perempuan yang nonton bioskop denganmu tadi siapa ?!, asistenmu ?!"

__ADS_1


" Jangan mengalihkzn pembicaraan " .


" Susah memang kalau bicara dengan orang yang tidak paham ".


Berkata seperti itu, Gendis sambil melangkah untuk menuju keluar. Melihat itu, tentu saja Sean tidak tinggal diam. Ia segera mengejar istrinya yang sudah sampai di pintu.


Sean membalikkan tubuh Gendis, dengan cepat Sean memepet tubuh Gendis ke pintu. Dan langsung ....... bibir tipis Gendis.


Gendis berontak, ia mendorong tubuh Sean. Tapi cengkeraman tangan Sean lebih kuatl dibandingkan dengan pukulannya.


Gendis tidak mungkin berteriak, sebab orang yang memaksanya ini adalah suaminya.


Sean paham.kelemahan Gendis, jika dijamah dengan lembut, ia akan menjadi pasrah.


Benar saja, walaupun otak menolak, tapi tubuh Gendis menuntut untuk dituntaskan.


Sean ....... menurunkan ciumanya ke bawah ke leher jenjang Gendis, sementara kerudung Gendis sudah tercampak entah sejak kapan, Sambil terus mencium Gendis ia mengangkat tubuh Gendis masuk ke dalam kamar.


Sean melanjutkan aksinya, setelah meletakkan tubuh istrinya dengan pelan di atad tempat tidur.


Sean.meninggalkan beberapa kismark dimana-mana, ia tak mau istrinya menjadi milik orang lain.


Dalam kondisi seperti ini, Sean tak mengingat Alexa yang pulang ke rumah dengan tanda tanya besar karena ditinggalkan oleh Sean begitu saja.


Beberapa kali Alexa menghubungi, tapi ponsel Sean tak pernah dibuka.


Sepanjang jalan ia memaki-maki Sean dalam hati.


🍒🍒🍒🍒


Kembali ke pertemuan yang tak disangka.


Sean.melancarkan serangan pada istrinya, yang sudah pasrah.


Setiap inci tubuh Gendis tidak luput dari kissmark Sean. Dari mulut sampai ujung kaki tak lepas dari cumbuan Sean.


Itu untuk.menunjukkan bahwa Sean adalah pemilik Gendis, bukan orang lain.


" Aku ingin kamu melahirkan anak-anakku, bukan yang lain", bisik Sean pelan di telinga Gendis.


Bagaimanapun, Gendis mencintai suaminya, meskipun otaknya tak mau, tapi tubuhnya tidak menolak, belaian suaminya sungguh memabukkan dirinya.


😊😊😊😊😊😋


Yuuuuuk


koment


like


vote


vote

__ADS_1


vote


Saranghaeyo 😘😘😘🍒


__ADS_2