
" Mas, mas Sean bangun, Mas "
Sean terbangun dari tidurnya, ia belum sadar betul saat ia lihat bidadari ada di hadapanya, Sean betul-betul melihat bidadari.
Tanpa sadar tangan kirinya terangkat dan mengelus pipi halus bidadari di hadapannya.
Terang saja. bidadari tersebut langsung merah mukannya.
" Maaas apaaan si ... bangun, aku udah pingin pipis".
Sean tersadar bahwa wanita yang berada dihadapannya adalah Gendis, istrinya sendiri.
Ia mengucek-ucek matannya, takut salah lihat, ternyata masih sama, dia tetap Gendis. Sean tidak habis fikir, kenapa Gendis menyembunyikan rambut indahnya ini dihadapannya.
Sean adalah suaminya dia berhak tahu bagaimana ujud istrinya yang sebenarnya, dan sekarang dia lihat itu, tidak biasanya Gendis membiarkan rambut indahnya dilihat oleh orang lain, bahkan Suaminnya sendiri. Fan itu cukup membuat Sean terpana melihat istrinya sendiri, rambut lurus sepanjang pinggang, pipi tirus dan hidung mancung, bibir mungil, yang aaaaah, ingin rasanya Sean mengecup bibir itu.
" Mas, kok malah bengong, aku dah pingin pipis".
" Eh ya", Sean nyengir sambil memandang Gendis, ia segera berdiri, dan mengangkat tubuh Gendis untuk dibawa ke kamar mandi.
Tak lepas dia memandang wajah Gendis, sementara pipi Gendis memerah menyadari ia terus-terusan dipandang oleh syaminya.
" Mau aku turunkan celananya supaya kamu lebih gampang pipisnya?" pertanyaan bloon keluar dari mulut Sean tanpa ia sadari. Dia hampir membekap mulutnya sendiri saat Gendis menjawab dengan jawaban yang tidak disangka.
" Iya Mas, tolong".
Deg
deg
deg
deg
Dada Sean berdegub dengan kencang, ia tak berani melihat mata Gendis. Ia dudukkan Gendis di closed duduk, Dan dengan perlahan Sean memelorotkan celana Gendis yang pinggangnnya dari karet.
Dadanya semakin kencang saja,
Ia lihat didalam celana Gendis, masih mengenakan celana street, entah panjangnya seberapa sebab saat Sean akan membantu membuka itu,
" Cukuo Mas, makasih ya, Mas Sean bisa nunggu aku di luar, nanti aku panggil"
Tuing tuing tuing tuing
Sean rasannya pusing, saat itu juga ia ingin pingsan, kenapa Gendis dengan nakalnya menyuruhnya untuk keluar.
Sean duduk di pinggiran tenpat tidur, dadanya masih berdegub dengan kencang.
Ada apa dengan aku ?, apakah aku mulai menyukai Gendis, atau tadi itu, hanya nafsu belaka. Tapi kenapa dadaku tak berhenti berdebar ?.
Sementara, di dalam kamar mandi, Gendis merasakan debaran yang sama, ia memang sengaja ingin melihat ekspresi suaminya, Dan ia melihat mata Sean dari tempat tidur sampai di kamar mandi, menunjukkan ada cinta disana.
Gendis mengusap air matanya yang tak sadar bergulir di pipi indahnya. Ia harus mempertahankan suaminya, ia tak mau berbagi dengan perempuan lain. Aku istri sah-nya aku lebih berhak atas suamiku dibandingkan dengan wanita lain.
" Mas, mas Sean"
" Ya aku kesitu"
__ADS_1
Sean berjalan dengan tergopoh-gopoh.
Ia memakaikan lagi celana Gendis yang masih berada sebatas lutut, sementara celana streetnya sudah ia pakai. Selama memakaikan celana tangan Sean sedikit gemetar. Sementara Gendis memperhatikan dengan cermat apa ekspresi wajah dan tindakan suaminya. Hati-hati dan terlihat penuh perhatian kelihatannya.
Sean membopong tubuh Gendis lagi, ia menghidupkan lampu,
" Sini aku lihat pergelangan kakimu", Sean melihat pergelangan kaki Gendis.
" Besok ke rumah sakit saja, kamu nggak usah berangkat, ini kelihatanya kakimu makin bengkak".
" Iya lihat besok, siapa tahu besok enakan".
" Kali ini dengar apa kataku, aku besok juga izin tidak berangkat".
" Nggak perlu sampai begitu, cuma bengkak ini ".
" Jangan diabaikan, siapa tahu ada apa-apa, besok harus dirontgen".
"Heeehmm", jawab Gendis singkat.
Mereka berangkat tidur lagi, bedanya....
" Aku pegang tanganmu supaya kamu tenang, biasanya kalau bengkak gini badan suka anget, tidurpun jadi gelisah".
Gendis tahu Sean beralasan, sesungguhnya dia hanya ingin menggenggam tangan istrinya.
" Ya"
" Tidurlah !"
Pengalaman fantatastis yang baru saja Sean alami, menimbulkan efek samping jangka panjang. Dimulai dengan pagi ini sampai seterusnya, bayangan Gendis menjadi melekat erat dalam ingatan Sean.
Setelah selesai memasak masih dengan berkeringat Sean masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang membaca buku.
" Mau makan sekarang ?"
"Jam berapa ini ?"
" Jam tujuh"
" Boleh"
Sean mendekati Gendis untuk dibopongnya, tapi,
" Nggak usah Mas biar aku coba jalan sendiri".
Sean membiarkan istrinya untuk mencoba berjalan sendiri, tapi
" Awawawaw", pekik Gendis tertahan.
" Makanya jangan sok-sok an mau jalan sendiri, sini".
Dengan cepat Sean membopong tubuh langsing istrinya, dan mendudukkanya.
" Jangan protes aku nggak pernah masak, itu atas petunjuk kamu, sambil googling".
Gendis tersenyum sambil memandang suaminya,
__ADS_1
" Ambilin dong Mas".
Sean mengambilkan semua yang ada di meja.
" Makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan". Gurau Sean.
" Memang mau ada apa ? kenyataanya menyakitkan ?"
" Ya siapa tahu kan ?" senyum Sean.
Tak lama mereka makan terdengar suara ponsel Gendis berbunyi.
" Hallo, selamat pagi Mas, tumben ada apa ?", tanya Gendis sambil tersenyum. Senyum bahagia Gendis tidak luput dari pandangan Sean.
'Aku khawatir kamu nggak pa pa kan ?'
' Enggak kok, cuma bengkak dikit, jadi aku jalan susah'.
' Ngga usah berangkat dulu ngga pa pa, besok berangkat aku jemput ya ?'
" Nggak usah Mas aku bisa sendiri, ini mau ke rumah sakit, besok paling sudah sembuh".
' Mau aku anter ke rumah sakit ?'
" Nggak usah Mas, ini namti aku ada yang anter".
' Sama siapa ?'
" Sama kakak ".
' Oh ya udah kalau gitu, jangan lama-lama liburnya, nanti aku kangen' .
Gendis tertawa.
" Mas Alan ada-ada aja ".
Di meja seberang, Sean tampak bete, dia jadi tak berselera makan, majanan dari tadi cuma diaduk-aduk, bahkan sebelum Gendis selesai bicara di telepon, dia sudah pergi ke kamarnya dengan wajah tak sedap dipandang.
" Mas, Mas Sean, ini makannya kok nggak dihabisin, masakannya enak kok".
Sean ternyata bikin nasi goreng dengan lauk cornet yang digoreng bareng telur,
tidak buruk menurut Gendis. Tapi suaminya sepertinya sedang merajuk.
" Maaaas, kenapa siiii, sini aku ditemenin makan" Gendis benar-benar tak tahu bahwa saat ini Sean sedang merasakan cemburu.
Sean tidak keluar, justru dari kamar mandi terdengar suara gemericik air.
Ooooo Mas Sean sedang mandi, tapi tafi katannya dia ngga akan berangkat kerja mau nungguin aku.
Gendis angkat bahu, dia melanjutkan makannya.
Senentara di kamar mandi Sean sedang memukul tembok kamar mandi, dia merasa jengkel dengan dirinnya sendiri, dengan rasa yang tak ia pahami. Ia begitu tidak menyukai bila Gendis dekat atau bicara dengan pria lain. Rasanya ada yang nggak beres dengan perasaannya.
Tapi apa ? hatiku sepenuhnya sudah dimiliki oleh Alexa, lalu Gendis berada dimana dalam hatiku ? apa iya masih ada ruang untuk orang lain selain Alexa?.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
Ayo kaksay.... mana bantuan like, koment n vote-nya, biar author makin semangat, sudah episode 15 lo, masa belum kasih vote, autor tunggu yaaaa
Saranghaeyo 😘😘❤