Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 7


__ADS_3

Hari pernikahan telah tiba, acara akad nikah dilaksanakan di rumah Gendis, acara dilaksanakan dengan khidmat dan penuh haru.


Seperti yang pernah Pak Petter fikirkan, selain pengantinnya yang tampak sangat menawan, Pak Petterpun menjadi pusat perhatian.


setelah selesai acara dilanjutkan dengan pesta yang meriah, pesta ini tidak hanya dilaksanakan di Blitar saja, tapi berlanjut ke Jakarta, untuk menjamu kolega papa dan Sean.


Mereka belum sempat berfikiran untuk malam pertama, saat Sean mengajak Gendis pindah ke apartemennya.


Apartemen Sean berada di lantai sepuluh, dengan balkon langsung mengarah ke dufan.


" Aku tidur dimana ?" Tanya Gendis.


" Terserah, kamu boleh tidur di kamarku, atau kamar yang lain, sama aja ketiganya sama bersih".


" Aku tidak mau tidur di kamarmu".


" Terserah, silahkan pilih salah satu kamar itu dan itu", jawab Sean sambil menunjuk kedua kamar.


Gendis melihat-lihat kedalam kamar, dan ia memilih menempati kamar yang jendelanya langsung mengarah ke jalan, tidak ramai, tapi setidaknya bila ia suntuk ada hiburan yang bisa ia lihat.


Gendis keluar,


" Aku di kamar ini ".


Sean menyeret kedua koper Gendis.


" Sudah ada lemari dan kamar mandi di dalam, aku bantuin kamu membereskan baju".


" Nggak perlu, aku bisa sendiri".


" Aku tinggal"


" Mas sebentar, besok kita harus pulang ke rumah dulu, ibu sama ayah besok kembali ke Blitar".


" Ya, aku tahu".


Sean meninggalkan kamar, tak lupa ia menutup pintunya.


Sean berdiri di samping jendela, ia masih ingat bagaimana Alexa menangis tersedu, saat ia bilang akan menikahi wanita pilihan mama dan papa-nya.


Tapi ia berjanji pada Alexa bahwa ia tak akan meninggalkanya, cepat atau lambat ia akan meninggalkan istrinya untul menikah dengan Akexa.


Sekarang fikiranya sudah buntu, apa yang bisa ia lakukan untuk bisa melepaskan diri dari Gendis, sementara sekarang ini, ia baru saja menikah.


 


Keesokan harinya setelah sholat subuh Gendis melihat ke arah kamar Sean, ia melihat jam, pukul lima pagi, belum terlihat aktifitas, apakah Mas Sean belum sholat.


tok


tok


tok


" Mas, Mas Sean bangun".


Tak ada sahutan, Gendis membuka pintu.


" Mas bangun, sholat dulu ".


Sean bangun dengan malas-malasan, dia mengucek-ucek matanya. Dan melihat ke arah jam.


" Baru jam lima kenapa aku dibangunin, masih pagi".

__ADS_1


" Memang Mas Sean nggak pernah sholat subuh ?"


Sean segera bangkit, dia sangat malu, sudah sedewasa ini ia harus dibangunkan untuk sholat subuh.


" Ya aku bangun".


" Cepat ambil air wudhu, aku tungguin".


" Tungguin ?? emang mau kemana?"


" Sudah sana keburu habis waktu subuh".


Sean mendengus kesal.


Keluar dari kamar mandi, ia menggelar sajadah.


" Kamu mau nungguin aku sholat".


Gendis tidak menjawab, ia segera bangkit.


" Akan aku siapkan sarapan".


Sean memandang Gendis sampai keluar kamar, lalu ia sholat subuh.


Gendus menuju ke arah dapur, ia melihat ada bahan apa yang bisa dibuatnya masak.


di kulkas ia lihat, ada brokoli, tomat, kubis dan wortel, ada ayam dan daging.


Lunayan bisa bikin capcai, daging ayamnya lumayan banyak ia bisa buat ayam goreng mentega juga.


Gendis memasak sesuai kebutuhan saja, dan satu setengah jam kemudian masakanya sudah matang.


Ia menyajikan masakannya di meja makan.


Perutnya menjadi terasa lapar.


" Kamu masak Ndis ?"


" Iya", sambil membereskan bekas masakannya.


" Kamu biasa masak di rumah?"


" Ya lah, siapa yang masak kalau bukan aku".


" Ibu kamulah".


" Kalau aku di rumah, ibu aku larang memasak".


" Hmmmm, enak nggak nih".


" Cobain saja".


Sean mulai menyendok nasi dan mengambil capcay serta ayam goreng mentega buatan Gendis.


" Hmmmm not bad, enak juga.... pinter juga kamu masak ya ??"


" Biasa aja, Oh ya bahan masakan sudah nggak ada di kulkas, persediaan bumbu juga nggak ada".


" Memang kamu mau masak setiap hari ?"


" Lalu apa yang bisa dilakukan seorang istri pengangguran seperti aku, selain memasak".


" Oke, nanti aku mampir ke swalayan beli sayuran, atau kalau nggak kita belanja bareng aja, kebutuhan kamu apa kita bisa beli sama-sama".

__ADS_1


" Oke, setelah kita ngantar ayah dan ibu pulang"


Sean tidak menjawab, ia asik mengunyah masakan istrinya.


Gendis ikut bergabung, ia menyendok makananya.


" Mas Sean kalau berangkat nggak pernah sarapan?"


" Aku kan jarang di apartemen paling pas pulang kemaleman baru pulangnya kesini, sarapan biasanya di rumah aja".


" Itu ada persediaan sayur, daging dan lain-lain?"


" Aku suruh Pak Toyo buat ngisi tadi, nggak pantes kan apartemen nggak ada isinya".


Gendis hanya manggut-manggut, ia memakan sisa acar yang banyak cabenya.


" Kamu doyan pedes ya, cabe segede gaban gitu kamu makan".


Gendis tersenyum,


" Makanan mana enak kalau nggak pedes".


" Enak kok, nih buktinya aku makan tanpa cabe habis banyak".


" Itu karena masakanku enak".


Sean tersenyum,


" Ya ya ya, bener juga".


Mereka makan berdua dengan lahap.


Jam menunjukkan pukul delapan saat mereka keluar rumah, dan sudah bisa dipastikan jalanam pasti macet.


Sean yang biasa menghadapi jalanan seperti ini tampak santai, betbeda dengan Gendis, yang terlihat gelisah.


"Ketemu nggak nih kita nanti sama ayah dan ibu, kalau jalananya seperti ini?"


" Kereta berangkat jam sebelas kan? sampailaaah, kita masih bisa ketemu mereka".


banar saja, jam sembilan leboh sedikit mereka sudah sampai di rumah.


Kebetulan ayah dan ibu Gendis sudah akan berangkat ke stasiun diantar oleh mama dan papa Adinata.


" Pa, biar aku dan Mas Sean aja yang antar".


" Memang kalian ngga capek ?" tanya mama Diana menggoda.


Gendis hanya tersenyum malu, sementara Sean pura-pura tak dengar. Sambil membantu memasukkan tas dan koper ke dalam bagasi mobil.


Dalam perjalanan menuju ke stasiun KA ibu menasehati Gendis, supaya menjadi istri yang baik dan menurut apa kata suami.


Gendis mengiyakan apa yang dinasehatkan oleh ibu.


Sampai di stasiun Sean sengaja menurunkan ibu dan Gendis di depan jalan masuk, sementara ayah tetap ikut Sean menemani mencari parkiran.


Saat menemukan tempat parkir ayah berpesan kepada Sean,


" Tolong jaga Gendis baik-baik, usahakan jangan kau sakiti hatinya, cukup aku saja yang nenorehkan luka, kamu jangan, bicaralah baik bila ada masalah, jangan menjadi tak jujur meskipun mungkin kamu belum mencintainya, ayah tahu kalian dijodohkan, jadi mungkin belum ada cinta, pupuk saja, nanti lambat laun kalian akan saling mencintai".


Sean tercekat, ia merasa apa yang disampaikan oleh ayah mertuanya betul-betul menusuk si hatinya.


Aku punya Alexa,

__ADS_1


Mereka menuju dimana, ibu dan anak sedang berdiri, Sean melihat dari jauh, istrinya cantik sekali, dengan celana longgar, hem dan outfid serta dilengkapi dengan sepatu cats dia tampak cantik, tapi entah bagaimana wanita secantik itu tidak bisa meluluhkan hatinya, ia terlalu mencintai Alexa.


__ADS_2