Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 53


__ADS_3

Sampai di kota tujuan Gendis langsung dibawa ke rumah sakit, sehingga langsung mendapat perawatan dokter.


Ayah dan ibu tidak tenang, jika kondisi Gendis seperti ini.


Kata dokter Gendis tidak sakit, ia hanya perlu istirahat dan otaknya tidak boleh diajak berfikir keras. Untuk saat ini Gendis tak boleh stress. Lingkungan juga harus mendukung.


Dua hari di rumah sakit, akhirnya Gendis sembuh juga. Saudara dan tetangganya sudah menunggu kedatangannya di rumah.


Suasana seperti inilah yang sangat dirindukan oleh Gendis. Dia tak pernah menemukan suasana seperti ini di Jakarta, apalagi di Belanda.


Akhirnya kedua orang tua Gendis memutuskan satu minggu berada di Blitar, sebab mereka melihat Gendis sangat ceria disini.


Teman masa kecil, teman saat SMA setiap hari mengajaknya bepergian untuk melihat tempat wisata di kota kecil ini, yang belum pernah Gendis jamah.


Bu Indri tidak menghubungi Sean, dia takut anaknya akan sakit lagi seperti kemarin.


Padahal di Jakarta Sean juga baru sembuh dari sakitnya. Walaupun masih lemas, ia sudah ingin bekerja lagi.


Berada di rumah, hanya membuatnya semakin ingat dengan Gendis.


🍒🍒🍒🍒


Satu minggu berlalu mereka segera meninggalkan kota tercinta. Mereka harus kembali ke rutinitas seperti semula. Ayah mengelola perusahaan Gendis membantu usaha ayah.


Sampai di Belanda, mereka dijemput oleh Larry di bandara. Larry menyambut calon istri dan mertuanya dengan sangat antusias.


" Kamu sudah sehat Ndis ?"


" Aku nggak pa pa".


" Sebetulnya aku ingin menyusul kamu ke Indonesia, tapi kamu tampaknya nggak mau aku datang", kata Larry sambil menggoda Gendis.


" Bukan begitu, aku memang hanya butuh istirahat saja, kalau kamu ke Indonesia, alamat kamu pasti minta diajak keliling-keliling, lalu kapan dong aku istirahatnya".


" Kamu selalu bisa jawab, capek ?", tanya Larry penuh perhatian.


" Heeh"


" Tidurlah, Om tante istirahat aja, aku akan bawa mobil dengan aman, sampai di rumah".


" Terimakasih Larry", jawab orang tua Gendis dari belakang.


Selama berhubungan dengan Gendis, Larry selalu memperlakukan Gendis dengan sopan. Walaupun kadang ia merasa gemas pingin sekali-kali mengecup dahi Gendis.


Tapi tentu saja itu tidak ia lakukan, ia sangat menghargai Gendis.


Larry, walaupun tinggal di luar negeri tapi budaya timur tertanam kuat di sanubarinya, dia sangat menghargai didikan ayahnya, yang mengajarkan tata krama dari timur, dan displin dari barat.


Ia lihat orang-orang yang dijemputnya tampak tertidur pulas. Ia tersenyum, mungkin mereka capek, setelah menempuh empat belas jam perjalanan udara.


Hawa Belanda yang berbeda jauh dari Indonesia membuat Gendis tampak sedikit menggigil dalam tidurnya.


Larry menepikan mobil, ia membuka jaket dan meletakkan di atas tubuh Gendis. Ibu melihat perhatian Larry, tapi ia pura-pura tidur.


Beruntung kamu Nduk, lelaki yang jatuh cinta padamu sangat perhatian, Kalau kau memang memutuskan menikah dengan Larry, semoga kehidupanmu akan bahagia. Cukuplah penderitaan mu selama ini.


Larry melajukan mobilnya dengan santai, dia tak mau bidadari hatinya terbangun hanya karena kecerobohannya dalam membawa kendaraan.

__ADS_1


Satu jam kemudian mobil sudah masuk ke halaman rumah Gendis. Ayah yang sudah terbangun dari tadi, menemani Larry ngobrol


Gendis masih tidur, saat ibu akan membangunkan.


" Biar saya tante".


" Oke terserah kamu saja".


Ibu dan ayah Gendis keluar dari mobil, sedangkan para asisten segera berlari untuk membawa koper majikannya.


Ayah dan ibu bergandengan tangan saat masuk ke dalam rumah. Seperti itulah mereka, seolah menebus waktu yang terbuang sia-sia selama mereka berpisah. Romantisme selalu menyelimuti di sisa hidup mereka.


Larry menemani Gendis yang masih tertidur pulas di jok mobil depan.


Ia memandangi calon istrinya dengan tidak bosan. Selalu merah begini pipi Gendis jika cuaca menjadi dingin.


Larry memberanikan diri mengelus pipi Gendis, belum bangun. Ia mengelus sekali lagi.


Gendis menggeliat, ia Mulai membuka matanya.


" Sudah sampai rumah ? kenapa nggak dibangunkan ?"


" Kamu pulas tidurnya aku nggak tega".


Gendis menggeliat sebentar, tersenyum sambil memandang Larry.


Larry hanya bisa menarik nafas panjang, dan segera membuang muka, kalau terus seperti ini imanya bisa rontok. Bisa-bisa Gendis memecatnya sebagai calon suami.


" Kenapa ?" Tanya Gendis.


" Kita mau disini saja apa mau turun ?".


" Aku cuma mau menyesuaikan diri dengan cuaca disini lagi, musti kedinginan lagi, musti pakai baju doble-doble lagi, eh ini baju hangat kamu ?"


" Pakai saja dulu, supaya kamu nggak kedinginan".


" Baiklah, kita turun yuk'.


" Ayo".


Larry menggandeng tangan Gendis, hanya itulah yang berani Larry lakukan. Aman. Gendis nggak akan marah.


Sampai di dalam, ibu segera memanggil mereka berdua supaya langsung makan. Dan seperti biasa Larry adalah magnit mereka dalam mengundang tawa.


Larry pandai mencairkan suasana, setiap ada dia suasana selalu ceria. sepertinya Larry tak pernah merasakan sedih. Dia paling pandai menutupi perasaannya.


" Om betah di Indonesia ?"


" Betah, Om kan didampingi wanita-wanita cantik selama disana, masa nggak betah".


Nereka tertawa bersama.


Selesai makan, Larry mengajak ngobrol Gendis, masalah pernikahan yang kurang dari sebulan.


" Kamu mau kita pakai konsep apa di pernikahan ?"


" Terserah kamu aja Larry. kamu maunya apa?"

__ADS_1


" Nggak bisa gitu, ini harus kita bicarakan berdua".


" Outdoor aja gimana?"


" Oke"


" Dulu sebelum kamu berangkat ke Indonesia kamu bilang fitting baju kapan?"


" Dua minggu sebelum pernikahan".


"Kamu hubungi lagi tepatnya kapan, nanti kita kesana bareng".


"Ya".


" Aku balik ke perusahaan dulu, kamu istirahat jangan sampai sakit".


" Kamu juga".


Larry mengelus pipi Gendis sekilas,


" Love you", ucap Larry


Seperti biasa Gendis hanya tersenyum.


Larry menarik nafas dalam,


Gendis selalu hanya tersenyum bila Larry bilang begitu. Itu sebetulnya jadi beban tersendiri di hati Larry.


Kadang ia melihat cinta di mata Gendis, tapi lebih banyak matanya tampak ceria bukan cinta.


Ia mulai menggelengkan kepala untuk mengusir keraguan di hatinya.


Ini hanya perasaanku saja, perasaan yang tidak harus dipelihara.


Larry membawa mobilnya ke arah perusahaan yang terletak dipinggiran kota.


Ia tak mau memikirkan sesuatu yang tidak pasti.


Sementara Gendis, mulai merasa hatinya kosong. Ada rasa kurang yang di dalam hatinya. Tapi ia sendiri juga tak tahu entah apa.


Sekelebat bayangan Sean lewat, tapi dengan cepat ia buang jauh-jauh. Dan menghadrkan wajah Larry yang selalu ceria.


Gendis jadi tersenyum. Ia selalu seperti ini jika mengingat calon suaminya. Tapi entah mengapa Larry belum bisa mengisi hatinya yang kosong.


Larry luar biasa baik, dan sangat family man, untuk berfikir memutuskan saja tak ada dalam fikiran Gendis.


Ia akan tetap menikahi Larry apapun yang terjadi, Larry lah yang bisa membuatnya kembali lagi sebagai manusia.


Beda cerita jika Larry yang memutuskan untuk tidak menikahinya.


🍊🍊🍊🍊


Besok lagi kakaaa


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


Vote dibanyakin, tinggal beberapa episode lagi Gendis akan usai.

__ADS_1


Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2