
Sampai di rumah seperti biasa mereka masuk ke kamar masing-masing.
Gendis keluar, ia berniat memasak sesuatu untuk makan malam, saat sibuk mengeluarkan bahan mentah Sean keluar dari kamarnya.
" Mau ngapain Ndis ?"
" Masak"
" Udah nggak usah, kita beli go food aja".
" Oke'
Malam itu mereka menghabiskan malam dengan ngobrol bersama.
Akhirnya Gendis diterima di perusahaan tersebut, tapi dia tak.melupakan kodratnya s2bagai seorang istri yaitu menyediakan sarapan untuk suami, walaupun kadang ala kadarnya, apapun yang tersedia di dapur.
Ia menikmati perannya sebagai istri dan karyawan.
Tak terasa tiga bulan Gendis bekerja di perusahaan tersebut, ia semakin akrab dengan teman-temannya.
Pak Alan, yang dulu pernah mendatanginya saat ia selesai tes, semakin jelas terlihat semakin atraktif mendekatinya.
Itu diketahui oleh seluruh karyawan, bahkan Gendis bukan tidak merasakan perbedaan sikap Pak Alan padanya.
Pak Alan berusia tiga tahun lebih tua dari Gendis, tapi beliau memiliki sifat yang membuat orang dekatnya merasa nyaman, tak terkecuali Gendis.
Lusa adalah hari ulang tahun perusahaan, tiap devisi memiliki tema yang berbeda untuk menyambut ulang tahun perusahaan.
Perbedaan konsep ini nantinya akan dilombakan, dan konsep paling mewakili perusahaan akan digunakan sebagai simbol perusahaan tahun depan.
Untuk membeli keperluan devisi yang dipegang oleh Alan, menyerahkan pembelian peralatan pada Gendis dan Alan.
Mereka memang sengaja,
Supaya hubungan Alan dan Gendis semakin dekat, tapi bukan itu yang dipikirkan oleh Gendis. Ia berfikiran ingin supaya devisinya menjadi pemenang sehingga konsepnya akan digunakan perusahaan tahun depan.
Penggagas juga akan diberikan hadiah berupa uang tunai dari perusahaan sebagai apresiasi selain hadiah untuk tim.
Pulang kerja, Gendis dan Alan menuju ke salah satu pusat perbelanjaan, mereka membeli peralatan yang diperlukan.
Bawaan mereka sudah cukup banyak, saat tanpa diduga ada beberapa anak muda yang sedang menggunakan Hoverboard melaju kencang ke arah mereka, Saking tidak siapnya, Gendis berusaha menghindar supaya tidak bertabrakan dengan pengguna hoverboard tersebut, tapi tumpuan Gendis tidak tepat, sehingga ia terjatuh dengan kaki salah posisi, ia terjatuh dengan pingiran telapak kaki menmbentur keras troli, sehingga kakinya langsung membiru setelah benturan itu.
Beberapa orang terpekik melihat kejadian itu, sebab Gendis terlihat hampir terbanting seandainya Alan tidak menopang tubuhnya.
Mereka merubung Gendis dan Alan, beberapa anak muda tadi bahkan minta maaf dan bersedia mengantar ke rumah sakit,
" Nggak pa pa de'"
" Maaf Ka, saya memang belum bisa mengendalikan hoverboard jadi hanpir menabrak kaka"
Tidak menunggu lama Alan tiba-tiba membopong tubuh Gendis supaya tidak berada di tengah perjalanan lalau lalang orang yang sedang belanja.
Sebetulnya Gendis malu, tapi untuk berjalan kakinya memang terasa sakit.
Alan membantu mengurut sedikit pergelangan kaki Gendis.
Tapi tampak Gendis meringis kesakitan,
" Sakit ?, maaf, kita ke rumah sakit aja ya?"
" Nggak perlu Pak, nanti juga sembuh, tapi kelihatannya, sedikit bengkak ya?"
" Ya sudah jangan bergerak dulu aku carikan...."
Dari arah selatan anak-anak yang membawa hoverboard tadi membawa kursi roda.
" Naik ini aja Kak, supaya nggak kesakitan jalan".
__ADS_1
" Ya dek makasih ya".
" Sekali lagi maaf ya Kak, saya benar-benar nggak sengaja".
Sekarang Alanlah yang menjawab,
" Ke depannya hati-hati, cari lapangan aja jangan di tenpat orang rame kaya gini", katanya dengan sedikit jengkel
" Ya Kak, maaf".
Mereka masih berkerumun dengan mata kagum atas perhatian Alan pada Gendis, mereka mengira Alan dan Gendis adalah sepasang kekasih.
Tapi di salah satu gerai, ada sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan marah, ia memandangi Alan dan Gendis yang tampak begitu mesra.
Disampingnya ada wanita yang sedang memilih-milih tas,
" Sayang..., bagus nggak?" sambil.menunjukkan tas yang tampak elegan.
" Bagus", jawab Sean pendek tanpa melihat ke arah Alexa. Pandangannya masih tertuju di balkon sebelah, disana terlihat, istrinya Gendis sedang di elus-elus kakinya oleh pria lain.
Dia merasa tak rela istrinya dijamah oleh orang lain. Rasanya ia ingin terbang ke sebelah dan melabrak kedua orang itu, serta menghajar pria yang mengelus istrinya.
" Sayang, tinggal dibayar, kamu lihat apa sih, kayak marah gitu ?"
Sean tergagap,
"nggak .... nggak pa pa"
Alexa melihat ke arah dimana tadi Sean memandang, tapi sudah tak ada apa-apa.
Memang pada saat yang sama Alan mendorong kursi roda yang dipakai Gendis menuju ke lift.
Sean membayar belanjaan Alexa, dan segera mengajaknya untuk pulang.
Ternyata di tempat parkir basement Sean masih sempat melihat, bagaimana istrinya dibopong pria lain dari kursi roda menuju ke dalam mobil.
Sean tidak fokus dengan kondisi Gendis, dia lebih fokus pada bagaimana istrinya diperlakukan oleh pria lain, dan bagaimana Gendis mengalungkan tanganya ke belakang kepala pria itu.
" Kamu mau kemana?, kenapa si dari tadi kamu jadi aneh gini ?"
Sean baru tersadar ada Alexa disampingnya. Ia langsung mendengus dengan keras dan membawa mobilnya dengan kencang menuju ke jalan keluar.
Saat Sean sampai di rumah, ia lihat istrinya juga sudah ada di rumah dengan masih mengelus-elus kakinya.
" Darimana kamu !?" Serta merta Sean bertanya, dengan datar.
" Darimana ? dari kantorlah ?"
Sean tersadar dengan sikapnya.
" Itu kakimu kenapa ?" sambil melunakkan suaranya.
" Oooo tadi waktu ke mall ada anak-anak main haverboard aku hampir terjatuh, eh tumpuznnya salah yaaaa jadi gini deh".
" Ngapain kamu ke mall, bukannya kamu kerja?"
Gendis baru menyadari ada rasa tak suka di suara Sean.
" Ada apa sih, kok nada suara Mas Sean aneh ?"
" Aneh apanya ?, nggak, biasa aja".
" Ya udah " Gendis berusaha untuk berdiri, tapi saat tegak kakinya terasa nyeri.
" Awawawaw", teriaknya kesakitan.
Sean sebetulnya madih marah pada Gendis, tapi melihat dia kesakitan Sean nggak tega juga.
" Mau kemana ?"
__ADS_1
" Masuk kamar, sini bantuin tuntun Mas".
Sean tidak menuntun Gendis, dia langsung membopong tubuh langsing istrinya masuk ke dalam kamar.
Dada Gendis berdetak dengan kencang. Entahlah dia tak tahu apa yang dirasakannya. Mukannya memerah saat Sean meletakkanya di tempat tidur. Muka mereja sangat dekat, hampir saja Sean mencium istrinya tanpa sengaja.
Untuk menghilangkan kecanggungan Sean berdehem dan menggida istrinya.
" eheeem, mau ditemenin tidur nggak ?"
Pipi Gendis semakin memanas, pasti mukanya mirip kepiting rebus,
" Nggak usah".
" Ntar malem kalau kamu pingin ke belakang tapi nggak bisa jalan, jangan pangil-panggil aku".
Gendis baru tersadar,
" Jangan gitu dong Mas, nanti kalau aku ngompol gimana ?"
" Ya terserah, aku kan hanya menawarkan jasa, jika kamu mau, kalau nggak ya sudah nggak pa pa".
Gendis berfikir sejenak, ia memang nggak mungkin malam-malam manggil suaminya hanya karena pingin ke belakang.
"Ya boleh Mas Sean tidur disini".
" Tapi jangan suruh aku tidur di sofa, aku nggak kuat, badanku pegel-pegel".
"Tapi ini tempat tidurnya kan kecil Mas?"
" Ya udah terserah kamu, kalau kamu nggak ikhlas aku tidur sini".
" Ya ya Mas tidur sini aja".
Sean yang awalnya berpura-pura ngambek, akhirnya tersenyum sebelum membalikkan badannya.
" Besok gimana? berangkat kerja?"
" Ya, nggak enak kalau nggak berangkat, besok kan mulai penatsan ruang tiap divisi".
" Tapi kondisi kakimu ?"
" Ya, liat besok, kalau besok enakan ya berangkat".
" Terus tadi kamu dampai rumah dianter siapa?"
" Satpam, pakai kursi roda".
" Yang ngantar sampai bawah ?", tanya Sean penuh selidik.
"Temen yang tadi barengan beli keperluan".
"Berdua aja ?"
" Ya, la wong pulang kerja kita berdua yang rumahnya searah, kita berdua yang didaulat untuk beli".
Sean manggut-manggut.
Jadi perkiraanya tadi salah, Sean senyum sendiri.
" Kok senyum-senyum sendiri si Mas ?"
Sean menoleh ke arah Gendis,
" Nggak, nggak pa pa ". pungkasnnya.
Hari ini, kembali mereka tidur berdua sebagai suami istri.
Gendis tertidur dengan pulas dengan swnyum menghiasi wajahnya. Sementara Sean beberapa kali membolak-balikkan badan, entah ada apa tampaknya ia tidak bisa tenang.
__ADS_1
Beberapa kali ia melihat ke wajah cantik Gendis, bebrapa kali pula ia harus mengekang diri sendiri untuk tidak menjamah istrinya. Matanya, hidungnya, bibirnya, aaaaah....
Sean memandangi Gendis sampai ia tak sadar tertidur, entah pukul berapa.