Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 52


__ADS_3

Tak ada harapan lagi bagiku untuk bersama Gendis. Aku berharap terlalu tinggi. Gendis sudah tidak mencintaiku lagi. Dia sudah akan menikah.


Tapi, aku tadi masih melihat, walaupun sekilas, masih ada cahaya cinta di matanya, ya, walaupun cuma sekilas aku melihatnya.


Sean tepekur, memandang ke satu arah. Ada keraguan dan kepastian berkumpul jadi satu, saling berperang dan beradu argumen di dalam otaknya.


Akhirnya dia menyerah,


Mungkin memang ini yang harus aku alami, ini adalah balasan dari perbuatanku selama ini. Aku pantas mendapatkan ini. Gendis berhak bahagia, selama ini, dia menderita karena aku. Ya, aku.


" Sean, kamu sudah dengar dari Gendis ?", tiba-tiba mama duduk di sampingnya, sambil.mengelus pundak anak kesayangannya.


Sean cuma mengangguk.


" Kalau kamu masih mencintainya berusahalah, supaya dia kembali padamu, pernikahan masih satu bulan lagi".


" Pernikahan ?, Gemdis mau menikah Ma ?", tanya Sean terkejut. Tadi Gendis sama sekali tidak membahas mengenai pernikahan, kecuali dia sudah punya punya tambatan hati.


" Loh, memang Gendis nggak cerita, tadi bu Indri cerita ke mama, aduuuh kayaknya mama yang ember ini", kata mama sambil menepuk-nepuk mulutnya. Ia menyesal membuat anak lelakinya bertambah sedih.


Ia akan meninggalkan Sean sendirian, saat Sean menahan langkahnya.


" Ma, memang ibu Indri bilang apa?"


" Entahlah, mama cuma menangkap ada yang kurang dengan hubungan Gendis dan calon suaminya".


" Ya, ibu bilang apa?".


" Sejak kenal, si ... siapa namanya mama lupa, Gendis selalu ceria, calon suaminya juga baik, walaupun begitu, jika dikatakan cinta sepertinya belum, ya kurang lebihnya seperti itu, itu menurut penangkapan mama". Ucap mama Sean.


Ada sepercik harapan di hati Sean,


mungkinkah ? walaupun sedikit sepertinya aku masih memiliki kesempatan?


Sean melihat jam, sudah pukul sepuluh malam, jika sekarang harus bertamu walaupun di hotel tetap kurang pantas, sebab mereka pasti sudah istirahat.


Baiklah besok pagi aku menemui Gendis pagi-pagi di hotel.


🍒🍒🍒🍒


Karena semalaman tidur, Sean bangun agak kesiangan, dia segera bergegas mandi untuk menuju ke hotel.


Tetap saja, macet menghalangi laju mobil Sean.


Jam sembilan siang Sean baru sampai di hotel.


Dia langsung berlari menuju ke kamar ayah Gendis yang kemarin ia lihat.


Pintu terbuka, dan terlihat OB sedang membersihkan kamar.


" Maaf, yang menginap disini ?"


" Sudah keluar satu jam yang lalu pak".


" Oh, oke makasih".


" Mama punya no telepon Ibu Indri?"


" Memang kenapa ? mama ada"


" Kirim Ma"


" Ya mama kirim"

__ADS_1


Tak lama kemudian nomor telepon bu Indri terkirim.


Sean segera menghubungi ibu mertuanya, eh mantan.


" Ibu"


" Sean tahu nomor telepon ibu dari mana?"


" Dari mama".


" Ibu dimana?"


" Ibu ada di stasiun senin".


" Tunggu aku bu, aku mau kesitu".


" Ini keret...." telepon terputus.


" Ayah, ini si Sean kenapa ya, kok kayaknya terburi-buru".


" Kamu sudah bilang kereta mau berangkat".


" Belum selesai bicara sudah dimatikan".


Mereka sudah berada di dalam kereta, walaupun kereta belum berangkat. Bu Indri melihat ke arah Gendis yang duduk di samping mereka, berbatasan dengan jalur untuk berjalan.


Tak lama kemudian kereta api berangkat.


" Ayah, ini kereta berangkat, gimana?"


" Ya sudah nggak pa pa, toh kamu tadi sudah mau menjelaskan, telepon ditutup".


Ibu melihat lagi ke arah Gendis. Anak perempuannya sedang memandang keluar jendela.


Akhirnya beliay berdiri mendekat ke tempat duduk anaknya, kebetulan kursi sebelah masih kosong.


" Nduuuk!" panggil bu Indri


" Nggih buk?"


" Sean barusan menghubungi ibu, sebetulnya suruh nunggu, tapi kereta keburu berangkat".


" Kenapa memang Buk?"


" Ibuk ndak paham, waktu ibuk bicara kereta mau jalan, Sean keburu mematikan telpon".


Gendis menarik nafas panjang, ia sudah lelah. ia ingin mengistirahatkan perasaannya sejenak.


" Sampun buk, biarkan saja". Gendis menyandarkan kepalanya di jendela. Dia sudah malas melakukan apapun, rasanya dia ingin sekali mengistirahatkan hati dan jiwanya. Hujan di luar mulai turun dengan deras, sederas air yang keluar darinmata indah Gendis.


Inilah akhirnya, aku harus ikhlas melepaskan rasa cinta ini. Larry baik, aku tidak akan menyakiti hatinya.


Sementara bu Indri sedih melihat, betapa anaknya tampak menderita, walaupun tanpa kata.


🍒🍒🍒🍒🍒


Sean sampai di Stasiun Senin, dia berlari laksana terbang, dan mencari-cari sosok Gendis, dia tak menemukan.


" Pak, kereta api yang ke Blitar sudah berangkat?"


" Sudah Mas, kurang lebih lima belas menit yang lalu".


Sean langsung duduk di kursi penumpang dengan lemas.

__ADS_1


Tepat saat aku menelpon ibu Indri, tadi beliau masih bicara aku tutup, apakah beliau memberitahu kereta akan berangkat


Tak terasa, ada air bening mengalir di pipi Sean, dia tak peduli lagi dengan beberapa orang yang memandangnya heran. Yang ia fikirkan saat ini adalah dia terlambat, ya, aku terlambat lagi.


sementara disini hujan juga mulai turun, diawali gerimis, semakin lama semakin deras.


Sean berdiri, ia berjalan menuju mobilnya terparkir.


Ia sudah tak mempedulikan hujan mengguyur sekujur tubuhnya.


Bagaikan robot, dia membawa badanya yang basah kuyub masuk ke dalam mobil.


Ia sudah tak bisa membedakan lagi mana air hujan, mana air mata. Karena matanya semakin kabur, dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Sean menangis, dia menelungkupkan wajahnya di atas stir.


Suara sedu sedanya tertutup oleh suara hujan yang sangat deras di luar.


Menurutnya, perpisahan ini semakin menyakitkan. Sakit, yang tak bisa dijabarkan lagi, bagaimana sakitnya.


Entah berapa lama Sean dalam kondisi seperti itu, Ia berusaha menguatkan diri. Membawa mobilnya lagi dengan pelan.


Sampai di rumah, mama menyambutnya dengan sedih.


" Sini mama pakaikan handuk", Sean tampak tak mempedulikan sekitarnya, bahkan tubuhnya sendiripun tak ia pedulikan.


Mama dan Airin mengeringkan badan dan rambutnya. Mereka melepas satu persatu yang melekat pada Sean.


Sean betul-betul mematung, badanya semakin lama semakin panas.


Mama membawa Sean ke atas, ia menidurkan anaknya di tempat tidur.


" Rin, bikinkan masmu minum teh manis hangat".


" Ya buk".


Mama menyelimuti badan Sean.


Kok jadi panas begini tadi cuma hangat.


Airin ke atas sambil membawa teh hangat. Ibu mendudukkan Sean.


" Minum dulu Sean ". Sean duduk dan meminum teh hangat yang disodorkan ibunya.


Di tempat lain, Gendis tampak tertidur, ibu duduk di sampingnya. Ibu menyelimuti tubuh Gendis yang hangat, saat ibu tempelkan lagi punggung tanganya, ternyata badan Gendis semakin panas. Mereka sampai di Blitar kurang sepuluh jam lagi.


" Ayah, badan Gendis panas", ucap mama khawatir.


" Aku, hubungi petugas kereta api", dengan cepat ayah menghubungi petugas, dan petugas memberikan obat sementara.


" Nduk minum obat dulu, ini biat menurunkan panas kamu".


Gendis membuka mata, dan meminum obat.


Entah kontak atau apa, bagaimana mungkin orang yang saling mencintai sakit berbarengan, hanya karena memendam rasa cinta.


😊😊😊😊


Besok lagi 😊😊😘


Jangan lupa tinggalkan jejak


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2