Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 35


__ADS_3

Makanan sebanyak itu mana mungkin mereka habis, Tio berlebihan dalam memesan.


Sebelum pergi bersama Gendis dan Sisca keluar cafe, Tio mendekat ke arah Alexa dan mama-nya diikuti oleh dua pegawainya.


Gendis sudah pernah melihat Alexa beberapa kali, sehingga wajahnya tak asing lagi di mata Gendis.


Sebelum sampai ke tujuan, tiba-tiba kepala Gendis terasa berputar, hanya dengan melihat Alexa cukup membuat Gendis pusing tyjuh keliling.


Gendis berpegangan pada sandaran kursi,


" Mbak kenapa ?" tanya Sisca yang melihat Gendis tiba-tiba tampak pucat.


" Nggak, nggak pa pa".


Tio menoleh kebelakang


" Kenapa Ndis, kamu nggak pa pa ?" Sambil memegang lengan Gendis yang tampak lemas.


" Saya... saya langsung keluar ya Pak, saya....".


Tio memahami situasi


" Ya baiklah kamu duluan, nanti aku nyusul".


Gendis dituntun oleh Sisca,


" Tio, kenapa temanmu ?" tanya mama Alexa


" Tiba-tiba pusing tante".


" Cantik sekali, teman kamu apa pegawai ?"


" Teman tante".


" Waah teman kamu cantik Tio, awas kamu sudah punya istri, nanti jatuh cinta, dia cantik sekali ". berkata seperti itu, mata mama Alexa mengikuti langkah Gendis.


Sementara Tio hanya tersenyum.


" Kami duluan tante, Alexa".


" Ya ya, silahkan".


Tio segera menyusul Gendis dan Sisca


" Ndis, tunggu, aku antar pulang".


" Ya pak, kayaknya mba Gendis lemes banget", jawab Sisca.


" pakai lift aja Sis, jadi nggak perlu jalan-jalan lagi".


" Ya Pak".


Sampai di rumah kontrakan Tio segera membuka pintu belakang mobil. Ia merasa bersalah melihat kondisi Gendis.


Apakah Gendis sudah tahu siapa Alexa, sehingga tiba-tiba saja kondisinya seperti itu. Tio bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Tapi Alexa tenang-tenang saja, seolah tidak mengenali Gendis, atau memang Alexa belum pernah melihat wajah Gendis ?


Aaah kenapa aku harus memikirkan ini. Ini bukan urusanku.


Sisca mendudukkan Gendis di kursi tamu.


" Saya ambilkan minum dulu mba, mari Pak Tio silahkan duduk".


Tio memandang Gendis dengan wajah khawatir.


" Kamu nggak pa pa Ndis ? kamu kenapa tiba-tiba ?"


" Saya tiba-tiba pusing Pak".


" Ya sudahh istirahatlah"


Sisca muncul dari dapur.


" Minum dulu mbak Gendis".

__ADS_1


Gendis minum air putih yang disodorkan oleh Sisca.


" Kalian tinggal berdua disini?"


" Ya Pak"


" Dari awal atau baru-baru ini?"


" Baru-baru ini Pak", jawab Sisca


Disaat Sisca dan Tio ngobrol, mereka tidak tahu ada setetes air bergulir di pipi mulus Gendis.


Kenapa harus bertemu dengan wanita itu. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai melupakan mas Sean, tapi kehadirannya tadi mengaingatkan bahwa aku masih mencintai mas Sean. Aku benci dengan cintaku, aku benci dengan mas Sean, aku benci dengan wanita itu.


Buliran air semakin deras mengalir di mata Gendis.


" Mbak, Mbak Gendis nggak pa pa ? apanya yang sakit, mau dibawa ke dokter ?"


" Nggak nggak perlu, maaf Pak Tio saya masuk kamar".


" Oh ya Ndis, silahkan" Tio memaklumi perasaan Gendis.


" Istirahatlah dulu, sekalian aku pamit".


" Oh ya Pak mohon maaf atas ketidaknyamanan ini".


Tio hanya menganggukkan kepalanya.


Sementara di dalam kamar, Gendis bertanya pada diri sendiri.


Kenapa aku mesti seperti ini kepada wanita itu, bukankah dia yang menghancurkan hari-hariku. Harusnya aku kuat. Kenapa aku masih selemah ini. Aku harus bangkit. Aku bukan wanita yang lemah.


Gendis masih di dalam kamar dan merenung saat ponselnya berbunyi.


"Kamu nggak pa pa Ndis ?"


" Nggak pa pa Pak".


" Maaf jika keadaan tadi membuatmu tidak nyaman".


Pak Tio tahu jika Alexa adalah kekasih suaminya.


" Nggak pa pa Pak, saya memang dalam kondisi harus adaptasi, terima kasih perhatiannya pak, mohon maaf saya akan istirahat".


" Silahkan, selamat istirahat".


*********


" Lexa, Alexa"


" Ya Ma, ada apa ?"


" Kamu lihat tadi wanita berjilbab yang bareng Tio tadi ?"


" Ya Ma, cantik ya?"


" Itu sudah pasti, tapi mama lihat ada sesuatu diantara perempuan itu dengan Tio".


" Tio kan sudah punya istri Ma, nggak lah".


" Siapa tahu, banyak lo sekarang suami yang anteng di rumah, ternyata di luar punya cem-ceman".


Alexa langsung terdiam, pas kena hatinya. Mama dan papa Alexa memang tidak tahu, bahwa Sean sudah menikah. Saat pernikahan Sean dan Gendis kebetulan mereka sedang berada di luar negeri lumayan lama, sehingga tidak tahu keadaan di Indonesia dan hal ini diperparah dengan Alexa yang tidak menceritakan bahwa Sean sudah menikah.


" Perempuan yang pakai hijab, pandangan mata Tio beda saat menatap perempuan itu".


" Wajar aja Ma, dia kan cantik"


" Ya, Agnes juga cantik, tapi kecantikan mereka beda. Ini kayaaaa sesuatu banget. Tio dan Agnes, mereka memang jarang bersama ya? mana denger Agnes sering jalan-jalan ke luar negeri bareng teman-temannya, ngga peduli lagu sama anaknya" .


Saat mama-nya bercerita seperti itu, justru Alexa ingat oleh nasibnya sendiri.


Bagaimana sekarang ini harus mengejar cintanya lagi, karena akhir-akhir ini Sean memang seperti melupakannya.


" Menurut mama, perempuan tadi gimana Ma?"

__ADS_1


" Maksudmu?"


" Jika benar ia berpacaran dengan Tio".


" Sayang sekali, dia kan berhijab cantik pula, sayang jika dia jadi orang ketiga".


" Tapi Ma siapa tahu sebetulnya dulunya Tio berpacaran dengan perempuan berhijab itu, lalu terpaksa menikahi Agnes gimana, kan bukan salah Tio dan perempuan itu?:


" Ya tetep aja salah, jika mikirin perasaan memang nggak salah, tapi kekasih kita sudah punya pasangan yang sah, harusnya dia bisa cari lelaki lain, cantik gitu", jawab mama.


" Tapi jika dia nggak bisa pindah ke lain hati?"


" Itu soal lain lagi, perasaan boleh sama tapi tetap harus tahu diri jika kekasih sudah punya pacar, kaya ngga ada lelaki lain aja".


Alexa termenung diam,


Hanya membayangkan berpisah dengan Sean saja membuatnya bersedih, apalagi jika ia harus benar-benar berpisah.


Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.


" Kenapa kamu Lexa ?"


Alexa tersadar


" Ngga Ma, nggak pa pa".


" Lalu gimana kabar Sean, mama perhatikan hampir sebulan dia nggak kesini ?"


" Dia sibuk Ma".


" Ia usahanya makin maju aja, pertahanin dia, kalian kan sudah lama berpacaran tanyakan kapan kira-kira dia melamar kamu. Sedikit ditekan nggak pa pa, trman kamu sudah menikah semua lo".


Akexa tercekat


Benar kata mama, hubungan kami sudah terlalu lama tanpa kepastian. Aku harus bicara dengan Sean.


" Ma. aku masuk kamar dulu".


Sean masih di kantor saat Alexa menghubunginya.


" Halo, selamat malam ".


" Sean, ini aku, kapan kita bisa bertemu ?"


" Lexa maafkan aku, saat ini aku masih di kantor, aku sedang sibuk".


" Lalu, kapan kita bisa ngobrol, ada hal penting yang harus bicarakan padamu".


" Aku belum ada waktu".


" Belum ada waktu atau menghindariku ?"


Senyap lama, Sean belum bisa menjawab.


" Maafkan aku Lexa, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan".


Sean menutup teleponya.


" Sean, Sean !"


Alexa menarik nafas dalam.


Dia sudah mulai menjauh dariku.


🙂🙂🙂🙂🙂


Yuk jangan lupa


like


koment


vote


n rate yaaa

__ADS_1


banyakin


Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2