
Sekali lagi, malam ini Sean tak bisa memejamkan mata. Ia baru tertidur setelah dini hari.
Saat bangun jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia bergegas bangun dan segera menuju kamar mandi.
Tumben Gendis tak membangunkanku, sekesai berpakaian rapi, ia segera keluar, rumah dalam kondisi sepi.
Ia lihat makanan sudah tersedia di meja, ada telur balado, orek tempe dan sop ayam.
Sebelum makan Sean memanggil Gendis.
tok
tok
tok
" Gendis temani aku sarapan", tak ada jawaban, sekali lagi ia mengetuk pintu, tak ada jawaban juga, Sean membuka pintu kamar Gendis, tak terkunci.
Ia melihat ke dalam tempat tidur sudah rapi.
" Ndiiiiis, Gendis", tak ada sahutan,
Wanita jika marah awet banget, pikir Sean.
Ia menuju ke dapur basah, sepi, pandanganya tertuju pada catatan kecil di pintu kulkas.
' Aku berangkat tes tulis di perusahaan', Sean terlihat lega, tidak seperti yang ia khawatirkan Gendis pergi entah kemana.
Ia membalas lewat pesan,
' Ya, semoga sukses, aku sedang sarapan masakanmu'
Sean tersenyum dan makan dengan lahap.
Sean cocok dengan masakan Gendis, selalu pas di lidahnya, tidak pedas. Bila ingin pedas biasanya Gendis membuat sambal atau bikin acar buat dirinya sendiri.
Ia ke dapur untuk mencuci piring, sementara makanan yang masih ada dia.masukkan ke dalam lemari, Gendis bilang jangan sampai dibuang, nanti bisa dihangatkan dan dimakan lagi.
Biasanya kalau di rumah, setiap makan menunya nggak pernah sama dalam sehari, tapi setelah jadi suami Gendis, makanan dengan sayur dan lauk yang sama, bisa mereka makan sampai tiga kali, dan baginya itu nggak.masalah, selama selalu tersedia buah.
Dan hari ini Gendis sudah menyediakan mangga kupas di meja.
Sementara di tempat lain Gendis sedang mengikuti ujian tulis. pengumuman hasil akan diumumkan lewat online link perusahaan.
Mereka semua sudah dibekali link perusahaan, sehingga para peserta bisa mengakses dari rumah masing-masing.
lima peringkat ke atas akan langsung dipanggil wawancara dua hari kemudian.
Gendis malas untuk pulang ke apartemen, untuk jalan-jalanpun ia ogah, takut bertemu lagi dengan dua sejoli. ia memilih untuk bermain ke rumah mertuanya.
Tapi sampai jam ini, dia masih berada di perusahaan.
Di lobi ini ia masih termenung.
Kenapa aku harus marah, dulu sebelum aku dan mas Sean menikah, dia sudah bilang bahwa dia sudah punya kekasih, dan dia bilang, tak akan meninggalkan kekasihnya, dan gobloknya aku tidak mempermasalahkan, tapi lihatlah sekarang.... aku nggak ikhlas melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain.
Terasa sakit disini.
Gendis menarik nafas dalam.
Hanya tak ikhlaskah aku ? atau... aku mulai mencintai suamiku ?
Sekali lagi Gendis menarik nafas. Ia tak sadar, dari tadi ada seorang pria yang memperhatikannya. Dan tersenyum saat melihat Gendis menarik nafas dalam.
Dia mendekat ke arah Gendis duduk,
" Kenapa, masalahnya terlalu berat ya ?"
__ADS_1
Gendis kaget, ia menengadahkan kepalannya ke arah sumber suara, dan langsung berdiri, melihat penampilannya sepertinya orang yang berdiri dihadapannya memiliki kedudukan di perusahaan ini.
" Selamat siang Pak, maaf saya numpang istirahat", senyum Gendis.
" Nggak pa pa silahkan. Boleh saya duduk disini ?"
" Monggo Pak, silahkan".
Pria tersebut duduk di depan Gendis.
" Habis ujian pendaftaran ?"
" Ya, Pak",
" Akuntan ?"
" Saya Managemen akutansi Pak, belum jadi akuntan, nanti kalau saya diterima baru jadi akuntan".
Pria tersebut tertawa, cewek cantik ini ternyata pandai bergurau juga.
" Asli jawa ya ?"
" Kelihatan dari dialeknya ya ?"
" Bangeeet".
Mereka tertawa bersama.
" Bapak bekerja disini juga?"
" Yaaa, begitulah, bukan siapa-siapa mbak, cuma kuli".
Gendis tahu betul pria ini bohong, setidaknya pria cakep, bersih dan wangi ini pasti memiliki jabatan di perusahaan ini.
Benar saja tak lama kemudian ada cewek cantik dengan rok diatas dengkul mendatangi,
Gendis tersenyum, perkiraanya benar.
" Permisi ", pamitnya pada Gendis.
" Silahkan Pak".
Cukup bagi Gendis hari ini, ia pingin mampir ke rumah mertuanya dulu, Gendis menyusuri jalan terdekat dari perusahaan untyk membeli buah tangan untuk mertuanya.
Mertuanya ngga butuh apa-apa, yang penting Gendis datang mereka pasti senang. Tapi Gendis memang terbiasa bila berkunjung harus bawa buah tangan.
Gendis menemukan toko bakery, ia membeli banyak bread, mertuanya suka coklat pisang.
Keluar dari bread tersebut ia sudah menenteng 5 kardus. Ia memangil taxi dan menuju ke rumah mertuanuya.
Sampai disana Bu Diana dan Airin menyambutnya dengan gembira, mereka ngobrol sambil makan oleh-oleh dari Gendis.
Sementara baby kecil Airin sedang tidur di sampingnya. Mama dan papa Airin memang tidak menganjurkan Airin untuk punya baby sister,
Ada kamu dan mama di rumah, kamu nggak peelu nyewa baby sister, didik aja sendiri. Kata papa
Jadilah baby Kanza di asuh oleh mama dan eyang putrinya sendiri.
Papa Adinata pulang, ia senang ada Gendis di rumah,
" Kamu tidur sini Ndis". Bukan pertanyaan tapi berupa perintah.
" Tapi saya belum minta izin Mas Sean".
" Nanti aku yang telepon Sean".
Sementara Sean saat ini sedang berada di cafe bersama Alexa, mereka sedang menunggu waktu makan malam.
__ADS_1
Alexa marah pernikahan Sean dan Gendis sudah berjalan tiga bulan, tapi tak ada kepastian kapan Sean menceraikan Gendis.
" Sebenarnya kamu niat nggak si pisah sama Gendis, jika kamu nggak cepat memeberikan kepastian lebih baik aku cari pria lain, capek nungguin suami orang".
Sean memandang Alexa,
mereka memiliki kepribadian yang berbeda, sama-sama baik dan berkepribadian. Tapi Gendis jauh lebih tenang.
Mereka sama-sama cantik. Aaahhh tidak Gendis lebih cantik, tapi Alexa jauh lebih menarik. Dan yang jelas aku mencintainnya.
" Aku butuh waktu Lexa, kami baru menikah tiga bulan, apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku jika tiba-tiba aku menceraikan Gendis".
" Apa karena kamu sudah tidur dengannya, sehingga kamu sulit melepaskannya".
" Fikiran macam apa itu Alexa ?"
" Wajar kan jika aku berfikir seperti itu, kamu pria dia wanita, kalian sudah suami istri dalam satu rumah, apalagi yang difikirkan dua manusia dewasa selain itu".
" Aku capek menjelaskan sama kamu mengenai ini, kami memang suami istri, tapi kami...", Sean menggantungkan suarannya, dia merasa tak perlu menjelaskan yang sebenarnya, toh nanti ujung-ujungnya tetap dia yang salah.
" Kamu pikir aku nggak sakit setiap.malam mikirin kamu yang berdua dengan istrimu, kamu pikir aku bisa tidur tiap malam ?".
" Maafkan aku Lexa, kita harus dalam kondisi ini, tapi tolonglah untuk sedikit memahami masalahku".
" Kamu pikir aku nggak berusaha memahami ? sudah tiga bulan Sean ! tiga bulan ! .... aku menahan rasa sakit, sendirian".
Alexa mulai menangis, sementara Sean tidak bisa melakukan apa-apa. Iya sendiri juga bingung apa yang sekarang mesti ia lakukan.
Mau menceraikan Gendis saat ini, itu adalah hal yang tak mungkin, bagaimana ia bisa menghadapi papa dan mamanya.
" Maafkan aku Lexa, kita harus dalam situasi seperti ini", jawab Sean dengan nada sedikit memelas.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi,
Saat itu, jam menunjukkan pukul delapan malam Sean melihat ponselnya, dari papa-nya.
" Waalaikum sallam Pa, gimana ?"
" Ini Gendis disini, dia papa suruh untuk tidur di rumah, kamu nyusul kesini aja".
" Baik Pa".
" Kenapa papa kamu ?" tanya Alexa sedikit sinis. dan Sean menyadari itu.
Sejak papa menyuruh Sean untuk menikahi Gendis, Alexa memang jadi benci dengan papa Sean.
Tapi Sean memaklumi hal tersebut.
Makanan yang sudah datang dari tadi menjadi tak tersentuh, mereka sama-sama malas untuk makan.
" Kita makan, makanan sudah terlanjur kita pesan ", ajak Sean
" Malas", jawab Alexa singkat.
Sean terpaksa makan dengan ditemani pandangan pedas Akexa.
" Makanlah, nanti kamu sakit kalau nggak makan".
" Aku kan udah bilang aku malas"
" Sudah dipesan Lexa, sayang bila nggak dimakan".
" Bodo amat",
Sean menarik nafas dalam, sebetulnya Sean tak menyukai sikap Alexa, tapi dia juga menyadari bahw Alexa bersikap seperti itu, juga karena dia.
Sean menghentikan makannya. dia juga sudah tak bernafsu lagi untuk melanjutkan makan.
__ADS_1