Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 44


__ADS_3

Chiko menghambur ke arah Gendis


Mereka berpelukan penuh kerinduan, sementara mereka yang ada disitu semakin kebingungan. Sean terduduk di kursi dengan lemas, sementara Tio tampak canggung berdiri tepat di balik pintu yang tertutup.


Otak mereka dipenuhi dengan fikiran masing-masing. Keluarga Sean sudah paham kondisinya, keluarga Gendislab yang kebingungan, tak berbeda dengan keluarga Tio.


" Siapa ?" Tanya Ibu Gendis bingung.


Mama Sean mengajak ibu Gendis untuk keluar,


" Mari Bu, silahkan menengok Gendis, kami akan keluar sebentar". sapa mama Sean kepada maminya Tio.


" Oh ya ya silahkan".


Mereka berdua keluar, disusul oleh ayah Gendis dan Sean. Sementara Papa Sean masih menemani Tio yang merupakan relasinya, walaupun bisnis Tio.jauh lebih besar, tapi Mereka saling berhubungan dengan baik.


Mereka melihat bagaimana bahagianya Gendis berbicara dengan Chiko. Mereka saling tertawa ceria.


" Gendis dalam kondisi lupa dengan siappaun, tapi dengan Chiko sepertinyadia masih sangat kenal".


" Oh ya, jadi Gendis amnesia Om ?"


" Ya, kata dokter temporary, bisa berubah sewaktu-waktu, hanya butuh waktu untuk sembuh".


" Gendis " panggilan mami Tio membuatnya menoleh, Ia tersenyum dan menjabat tanganya, setelahnya dia sibuk lagi dengan Chiko.


" Sepertinya Gendis juga belum mengenali mami", kata Tio tampak sedih


" Orang tuanya sendiri juga belum dikenali, tapi itu dengan Chiko sepertinya kenal banget".


Chiko tampak turun dari tempat tidur


" Papa papa ini !"


Ia menggandeng tangan Tio dan dibawa ke hadapan Gendis. Gendis memandang pria disampingnya, tampak pria tersebut memandangnya dengan sedih sekaligus penuh cinta.


' Maaf bapak siapa?"tanya Gendis


" Saya papa Chiko", jawab Tio


"papa Chiko ? suamiku??"


Breeeeeng


Semua yang ada disitu bagaikan tersengat listrik tak terkecuali Tio.


" Maaf mas, aku nggak mengenali mas, entah apa yang terjadi padaku" Gendis menangis dengan sedih.


" Mama ais ? angan ais ma, Iko edih".


Gendis memeluk Chiko sambil berusaha mengusap air matanya.


Mami Tio mengelus elus Gendis sambil matanya bertanya-tanya pada Tio.


" Kami permisi sebentar Pak Adinata, mami bisa keluar sebentar?"


Mereka bergabung dengan orang yang ada di luar, terlihat di luar dua orang ibu itu sedang menangis sambil berpelukan.


" Mami, memori Gendis hanya beberapa yang diingatnya, selebihnya dia tidak mengingat kita".

__ADS_1


" Astagfirullah..." mama mendekat ke arah dua wanita yang sedang mengusap air mata.


" Saya turut bersedih dengan kondisi Gendis, semoga segera pulih kembali".


" Ya bu, terima kasih, maaf tadi diabaikan, kami masih dalam kondisi shok". jawab mama Tio.


" Ya saya maklum, nggak pa pa".


" Oh iiya ini ibu Gendis baru kemarin datang dari Jawa".


Mereka saling berjabat tangan


" Sabar ya bu" kata mami Tio


" Ya bu terima kasih"


Di tempat lain ruang dokter, Sean dan ayah Gemdis menghadap dokter


" Dia mengenali anak kecil yang biasa ia asuh dokter, tapi bahkan dengan papanya sendiri ia tak kenal".


Dokter menarik nafas dalam, ada hal yang ingin sekali ia sampaikan


" Begini Mas Sean, mungkin Gendis mengalami memori yang menyakitkan dengan orang-orang dewasa, di alam bawah sadar dia menolak mengingat-ingat orang dewasa karena sakit yang ia rasakan, sedangkan untuk anak kecil, mbak Gendis cepat mengenalinya, karena dia biasa bermain dengan ceria, alam bawah sadarnya meraih kenangan yang membuatnya bahagia, makanya Gendis lebih cepat mengenali anak kecil yang biasa diasuhnya karena kondisi seperti itu".


Tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar


tok


tok


tok


" Maaf dokter saya ikut bergabung, ada hal yang ingin saya sampaikan".


" Mari Pak Adinata silahkan!"


Sean berdiri dan mempersilahkan papa-nya untuk duduk


" Begini dokter, barusan Gendis mengira Tio papa dari si kecil adalah suaminya, itu bagaimana dokter ?"


Mendengar itu Sean semakin kalut, bagaimana mungkin Tio suaminya, akulah suaminya. batin Sean.


" Wajar pak, jika si kecil memanggil mbak Gendis dengan sebutan ibu atau mama hal tersebut bisa terjadi".


" Lalu nanti bagaimana jika Gendis minta pulang ke rumah orang lain ?"


Dokter memandang orang-orang di depanya dengan berat.


" Sebetulnya jika yang ada disini merasa tidak keberatan, hal itu bisa segera mengembalikan ingatan mbak Gendis, sebab hatinya tidak diliputi kesedihan dan stress, ibu mana yang tidak senang berkumpul dengan anak dan pasangan, perasaan bahagia membuatnya semakin dekat dengan kesembuhan".


" Kita perlu berembug terlebih dahulu".


" Ya Pak silahkan".


" Permisi dokter".


" Mari".


Mereka berjalan bertiga dalam diam, perasaan bersedih serta rasa tak berdaya mulai menguasai hati mereka.

__ADS_1


" Bagaimana ini ? untuk sementara kita lihat apa maunya Gendis dulu".


Papa Sean memanggil Tio, dia menjelaskan kondisi Gendis ditimpali oleh ayah Gendis.


" Kami hanya minta tolong Nak, sampai Gendis mengingat kembali, sebab saran dokter seperti itu".


Tio memandang Sean, ia lihat Sean hanya menundukkan kepala.


" Saya tak ada masalah Pak, tapi bagaimana dengan Sean dia kan suaminya? saya mengembalikan keputusan pada yang paling berhak, sedang posisi saya disini hanya membantu".


" Aku mau bicara sebentar sama kamu ", kata Sean pada Tio. Sean melangkah menjauh dari yang lain dan Tio menyusulnya.


" Jangan macam-macam kamu dengan Gendis, aku terpaksa mengikhlaskan Gendis tinggal di rumahmu hanya karena demi kesembuhanya".


" Aku tidak pernah mngkhianati amanah".


" Baguslah kalau begitu". jawab Sean dengan ketus.


Mereka semua masuk kembali ke dalam ruang rawat Gendis.


Mereka masih nelihat betapa akrabnya Gendis dengan si kecil Chiko.


Dua hari kemudian Gendis diizinkan untuk pulang, selama dua hari itu Chiko dan Tio selalu menjenguk Gendis, atas permintaan Sean, sebab keluarga menyerahkan semua keputusan pada Sean. Sebetulnya hal tersebut sangat membuat Sean sakit hati, cemburu, dan tersiksa, tapi ia tak bisa apa-apa lagi, kecuali terpaksa menghubungi Tio.


Hari ini waktunya pulang, Tio, mami dan Chiko menjemput Gendis dengan ditemani oleh ibu dan ayah Gendis, mereka meluncurk ke rumah Tio, keluarga mereka menyambut kedatangan mereka dengan baik.


Bahkan para asisten memperlakukan Gendis bak seorang nyonya rumah, hal itu memang disengaja oleh Tio, supaya Gendis merasa nyaman tinggal disana.


ibu dan ayah Gendis ditempatlan di kamar tamu, sedang Gendis dibiarkan tidur sendiri di dalam kamar utama tapi tentu saja tanpa Tio di dalamnya.


Perlakuan keluarga ini sangat manis, bahkan Tio memperlakukanya sangat istimewa, dia tahu betul apa yang disukai oleh Gendis, bahkan saat Gendis tak memintanya. Ini sesuai dwngan pengalaman Tio selama jadi atasan Gendis, ia selalu memperhatikan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Gendis.


Awalnya Gendis tidak merasa aneh dengan hal tersebut tapi lama kelaman dia merasa janggal juga, hari ini pulang kantor Gendis bicara dengan Tio setelah mereka makan malam.


" Mas bisa kita bicara sebentar ".


" Ya Ndis, kenapa?"


" terima kasih selama ini mas merawat aku dengan baik".


" Jangan difikirkan, itu sudah kewajibanku"


" Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan hubungan kita".


Tio berdebar keras, akhirnya yang dikhawatirkan terjadi juga.


" Kalau memang mas memang suamiku, kenapa mas nggak pernah tidur denganku di kamar yang sama?"


Pertanyaan Gendis yang serta merta ini membuat Tio terdiam tak bisa berbicara, ia duduk mematung tak bisa menjawab pertanyaan Gendis.


😊😊😊😊😊


Sudah dulu yaaaa


besok lagi


Terima kasih masukanya, semoga bisa menghibur readersku tercinta


Jangan lupa like, koment n vote nya yaaa

__ADS_1


Saranghaeyo 😘😘😘😘


__ADS_2