
Tio bingung menjawab apa, dalam kebingunganya, Gendis bertanya lagi, sehingga ia bisa memikirkan jawaban yang menurutnya pas.
" Atau sebenarnya kita sudah berpisah, tapi karena kondisi ini, Mas Tio terpaksa menampung aku di rumah ini ?"
" Bukan, bukan begitu, dokter bilang supaya kamu cepat pulih, kamu harus diberikan tempat lebih leluasa untuk istirahat". jawab Tio gelagaban.
" Tapi kasurku cukup lebar untuk aku tempati sendirian, aku juga tidak melihat sama sekali foto wedding kita ?"
" Itu, itu juga atas petunjuk dokter, supaya kamu tidak perlu berfikir keras untuk mengingat pernikahan kita".
"Tapi mas....".
" Sudahlah, kembalikan ingatanmu satu persatu dengan tenang, percayalah aku sabar menunggu sampai ingatanmu kembali ". Jawab Tio dengan lembut.
" Mas nggak pa pa nggak tidur berdua denganku ?"
Tenggorokan Tio tiba-tiba serak, kalau ditanya masalah ini, ia bisa tiba-tiba kehilangan suara.
" Mas !!"
" Ya, nggak apa-apa, tenangkan dirimu, jangan memikirkan hal yang lain, supaya kamu segera pulih kembali".
" Terima kasih mas, maafkan aku jika hal ini membuat Mas Tio menjadi tidak nyaman"
" Mama !!" Dari arah dalam Chiko memanggil Gendis. Sebelum Tio sempat menjawab kalimat Gendis.
" Sayaaang, sini Nak ".
" Lagi ngapain di dalam ?"
" gi ain, ma mba uter".
" Mama nggak boleh capek ya, Chiko nggak boleh ajak main".
" api, Iko mo ain ma mama".
" Chikooo..."
" Biarin mas, nggak pa pa, tapi di dalam aja ya ?"
" Ndaak.... ndaaak.... iko mo ain eda"
" Tio ngomong apa mas?" tanya Gendis pada Tio.
" Mau main sepeda ".
" oooooo ya sini sayang "
Chiko mulai bersepeda di halaman belakang yang memang berhalaman luas, ditutup oleh rumput yang terpangkas rapi. Sementara sebelah kanan ada kolam renang dengan ukuran untuk dewasa dan anak-anak.
Saat asik bersepeda, tanpa memperhatikan depan, sepeda yang dibawa Chiko menuju ke arah kolam renang, sebetulnya tak masalah, sebab Chiko walaupun masih kecil, dia sangat jago renang.
__ADS_1
Tapi Gendis tidak tahu itu, melihat sepeda Chiko meluncur ke arah kolam renang, sekilas ingatanya mulai kembali, ada kelebatan peristiwa yang muncul di dalam alam bawah sadarnya.
Ia dan seorang lelaki sedang di dalam mobil, mobil itu berjalan dengan cepat, dan mobil meluncur ke bawah masuk jurang. Gendis berteriak dan langsung pingsan.
Sementara, si kecil Chiko, keluar dari dalam kolam renang dengan tersenyum. Ia segera sibawa oleh baby sisternya untuk ganti pakaian yang basah.
Sementara, Gendis dibawa Tio, menuju kamarnya, ia khawatir melihat kondisi Gendis yang tiba-tiba teriak dan pingsan.
" Mbak Sri, bawa Chiko ke dalam!!"
" Teriak Tio".
" Ya Pak".
Semua merubung Gendis di dalam kamar, Tio, mami dan ibu Gendis, sebab ayah Gendis sudah kembali ke Belanda.
" Biar saya tidur sama Gendis malam ini, takut terjadi apa-apa". Kata ibu Gendis, sambil mendekatkan fresh care di depan hidung Gendis.
" Ya bu, kasihan Gendis sendirian kelihatanya ketakutan, Tio kamu sudah menghubungi dokter?"
" Sudah Mi".
Lima belas menit kemudian dokter pribadi datang, Tio menceritakan sekilas riwayat penyakit dan pwristiwa yang baru terjadi.
" Mungkin dia mengingat kejadian traumatis itu, saat Chiko terjebor kolam renang, sehingga membuatnya ketakutan".
" Bisa seperti itu ya dok ?"
" Tapi ingatanya masih bisa pulih kembali kan?"
"Tentu saja, ini hanya butuh tempo saja".
Tio mrngangguk-anggukkan kepala.
Sementara di tempat lain, Sean sedang janji bertemu dengan Alexa, dia tak tahu apa yang bisa ia lakukan selain menghibur diri. Dan yang paham betul kondisinya hanya Alexa.
" Kamu baik-baik saja". Sean memandang Alexa dengan sayu, matanya memperlihatkan kesedihan.
" Aku bersalah Lexa, gara-gara aku, Gendis menjadi sakit seperti ini".
" Memang apa yang kamu lakukan ?
Sean menarik nafas panjang, pandanganya nanar menatap ke depan.
" Saat itu, kami bertengkar hebat, dia sudah sangat ketakutan dan memperingatkanku berkali-kali, tapi aku tidak peduli, aku tetap menginjak pedal gas, sampai kami masuk jurang".
Alexa beringsut mendekati Sean, ia memeluk Sean untuk menenangkan, sebab ia lihat Sean sedang menahan tangisnya supaya tidak keluar. Justru saat dipeluk oleh Alexa, tangisnya menjadi luruh, sampai Alexa-pun turut menangis.
Di dalam mobil itu, sambil menghadap laut lepas, mereka bertangis-tangisan.
Jika kondisi Gendis membaik, aku akan menandatangani permintaanya untuk bercerai, maafkan aku Ndis.
__ADS_1
Walaupun ia yakin, ia sangat mencintai istrinya, ia sadar betul ia tak pernah membahagiakan istrinya. justru ia sering menyakiti hatinya.
Setiap hari dia selalu ke rumah Tio untuk menjenguk Gendis, tapi ia tak boleh menemuinya, sebab hal tersebut bisa membuat Gendis semakin bingung, sehingga memperlambat kesembuhannya . Biasanya ia hanya melihat Gendis dari balik tembok kaca, yang membatasi ruang keluarga dengan taman belakang.
" Kamu sudah tenang sayang?" tanya Alexa pada Sean.
" Ya, terima kasih, maaf ya Lex".
" Nggak apa-apa, beban di dalam dada memang harus dibagi, supaya dada kita makin plong".
" Kamu mau kita kemana ?" Tanya Sean pada Alexa.
Sebelum menjawab Alexa mengambil tisyu dan membersihkan sisa airmata Sean.
Alexa sangat memperhatikanku, dia baik dan masih setia menungguku. batin Sean.
" Ini sudah waktu jam makan siang, kita makan ya ?"
" Baiklah", Sean membawa mobilnya ke arah cafe yang biasa mereka berdua datangi.
Cafe ini memang tempat berkumpulnya pengusaha-pengusaha muda, biasanya mereka berkumpul sendiri dan terkadang membawa pasangannya.
Dan benar saja, banyak teman-teman Sean yang sedang makan siang disitu, melihat kedatangan Sean dan Alexa mereka berteriak.
" Sean, Alexa sini gabung". Mereka berdua bergabung dan saling ngobrol dengan seru, hanya disaat seperti inilah Sean bisa melupakan masalahnya sejenak.
Mereka saling swafoto dan membaginya ke medsos masing-masing. Bahkan ada yang memvideokan untuk di share di kanal youtubenya.
Sebab makan siang adalah hal biasa, tapi bertemu dengan tenan-teman sangat langka bagi mereka, karena kesibukan masing-masing.
Tio kembali ke kesibukannya di kantor, setiap istirahat dia memang selalu pulang untuk melihat keadaan Chiko dan Gendis. Ia selalu makan di rumah saat makan siang, sejak ada Gendis di rumah.
Karena antara kantor dan rumah hanya berjarak tiga kilometer, akhir-akhir ini dia lebih suka naik sepeda motor, supaya lekas sampai baik di rumah maupun ke kantor.
Ia kembali memeriksa berkas-berkas, saat ada notif, ia melihat ponsel dzn ditandai oleh Rico salah satu temannya.
Tio tersenyum dan membuka medsos temannya, seketika matanya terpaku melihat gambar di depannya, ada Sean dan Alexa dintara mereka. Seketika wajah Tio mengeras.
Sean, bagaimana mungkin kamu tidak sedewasa ini. Makannya Gendis ingin lari dari kamu. Kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Sean bodoh benar kamu.
Tio menarik nafas dalam, ia mengasihani wanita yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya.
Untung kamu saat ini tidak ingat Ndis, jika ingat kamu pasti tambah sakit
😊😊😊😊😊
Dah dulu ya kaaak, besok lagi
Jangan lupa banyakin votenya 😁😁
like, koment juga yaaa
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘