
Seminggu kemudian Gendis dan ibunya sudah duduk di atas pesawat. Ia sudah tak mau lagi memikirkan apapun yang terjadi di Jakarta. Sebelum berangkat ke Belanda terlebih dulu ia menghubungi Sean lewat telepon dan sempat berpamitan kepada kedua orang tua asuhnya.
Gendis mengundurkan diri dari kantornya satu hari sebelum keberangkatan ke Belanda, sehingga tak tak ada waktu untuk Tio mencegah, sebab tiket pesawat sudah di booking.
Perjalanan Jakarta Delf kurang kebih tujuh belas jam dengan satu kali transit di bandara Schipol Amsterdam. Sebenarnya, ada rasa sedih di hati Gendis, karena harus meninggalkan Jakarta, tapi dia berusaha menekan rasa sedihnya dengan optimis, saat Bu Indri, ibunya bilang bahwa di Schipol banyak.mahasiswa Indonesia yang kuliah disana, Gemdis diizinkan untuk melanjutkan kuliah lagi baok S2 maupun S3.
Tawaran tersebut sangat menggiurkan menurut Gendis. Dulu ia bercita-cita untuk menjadi dosen, siapa tahu, disini ia bisa mewujudkannya.
Senyum optimis mengembang di wajahnya, saat ayahnya menjemput.
Ayah Gemdis memeluk kedua wanita yang dicintainya.
" Capek Ndis, kamu sudah sehat kan?"
" Sudah Yah"
" Baiklah, kita langsung pulang supaya kalian bisa langsung istirahat".
Setengah jam.kemudian mereka sampai di rumah. Ciri khas rumah Eropa, dengan halaman yang luas mengitarinya. Gendis berasa berada di abad delapan belas. Ada rasa damai yang menyelimuti hatinya.
Beberapa assisten rumah tangga segera menyeret koper Gendis dan ibunya. Sementara ibu menggandeng Gendis untuk ditunjukkan kamar tidurnya.
" Walaupun terlambat, tapi akhirnya kamu bisa merasakan kamar yang sudah disiapkan ayahmu selama ini, yuk masuk".
Kamar yang sangat indah, semuanya bergaya klasik, tapi Gendis suka. Saat ibunya membuka pintu, ia melihat balkon yang mengarah pada pemandangan kanal, agak jauh tapi terlihat jelas.
Dibalik pohon yang mengelilingi rumah Gendis.
Gendis sangat takjub melihat hal ini. Jika di Jakarta, dia sudah tak bisa melihat pemandangan seindah ini. Ini hijau dan sangat indah, rasa yang tadinya tak betah, menjadi beubah begitu melihat pemandangan di depanya.
" Kamu suka sayang ?" Tanya ayah Gendis yang tiba-tiba muncul dari luar.
" Ya Yah, aku suka".
" Sukurlah..., ayah sudah menantikanmu selama ini, akhirnya, kamu bisa menempati kamar ini".
Berkata seperti itu sambil.memandang Gendis dan merangkul istri tercintanya.
Pemandangan seperti itu, cukup.membuat Gendis bahagia. Ibunya yang selama ini berjuang membesarkanya, akhirnya menemukan kebahagiaanya kembali.
" Besok kita jalan-jalan di sekitar Delf, kamu harus tahu kota seperti apakah ayahmu lahir?"
__ADS_1
Gendis tidak menjawab perkataan ayahnya, justru dia mengajukan diri untuk sekolah lagi.
" Ayah, aku ingin kuliah lagi".
Ayah memandang ibu, sambil tersenyum beliau menjawab.
" Tentu saja, ayah pasti izinkan, di Delf, banyak mahasiswa dari Indonesia, kamu pasti betah".
" Besok kita daftar".
" Oke"
Keesokan harinya memang benar Kampus tersebut banyak mahasiswa berasal dari Indonesia, Gendis langsung mendapat banyak teman, pembawaanya yang ramah membuatnya langsung mendapat simpati.
πππππ
Tiga bulan sudah Gendis kuliah di kampus tersebut, di bulan ketiga ini ada surat dari Indonesia.
Tangan Gendis bergetar saat menerima surat tersebut, sudah ada rasa yang tak enak hinggab di hatinya, betul saja begitu surat dibuka, ada surat cerai disana.
Tak terasa air mata Gendis mengalir dengan deras. Akhirnya, dia harus berpisah dengan lelaki yang selama hampir dua tahun menikahinya, ia harus merelakan pernikahannyan kandas di tengah jalan.
Biasanya setelah pulang Gendis akan mampir ke perusahaan ayahnya, tapi kali ini fia tak ada mood untuk.melakukan apapun.
Bu Indri mengetuk pintu,
" Sayaaang, makan dulu".Beliau menuju ke temoat tidur anaknya. Ia lihat anaknya sedang menelungkupkan wajahnya di bantal.
" Sayang, kamu kenapa ?"
Gendis tidak menjawab, dia terus menelungkupkan wajah. Bu Indri memgelus-elus punggung anaknya.
Beliau melihat amplop besar berwarna coklat dari Indonesia.
Beliau meraih dan membacanya, bu Indri memeluk putriny a dari belakang,
" Sabar sayang, ini adalah konsekuensi dari permintaan kamu ke Sean, kamu harus legowo menerima ini, cepat atau lambat hal ini memang harus kamu alami. Hanya butuh waktu supaya kamu sembuh dari sakit"
Beliau mengelus lagi punggung anak tercintanya, beliau harus kuat demi anaknya, walaupun hatinya juga sedih.
Di tempat lain, jauh di benua asia. Sean tak pernah bisa melupakan Gemdis, semakin jauh semakin rindu itu ia rasakan.
__ADS_1
Kondisi ini menyebabkan dia drop, setelah surat cerai dikirim ke Belanda tidak membuat hubunganya dengan Alexa menjadi semakin.mesra, justru dia merasakan tersiksa karena cintanya pada Gendis semakin terasa setelah Gendis jauh darinya.
Selama tiga bulan ditinggal Gendis, selama itu pula dia tak pernah mau berhubungan dengan Alexa. Ia ingin menikmati cintanya pada Gemdis dengan kesendirian.
Kalau masih cinta lalu kenapa dia menceraikan Gendis?. Sebab ia tak mau lagi memyakiti Gendis. Bila masih dalam satu ikatan Gendis pasti akan terluka terus, karena iapun juga belum bisa membiasakan diri tanpa Alexa. Justru setelah merka berpisah seperti ini, dia sangat menyadari betapa besar cintanya pada Gendis.
Kali ini dia memutuskan untuk sendiri, dia akan membesarkan usaha keluarganya tanpa.pendamping. Tapi kegilaannya bekerja membuat tubuhnya yang tak kuat, dia mengalami sakit , sudah satu minggu ini dia dirawat di rumah sakit.
Dia sering menggigau memanggil-manggil nama Gendis, tanpa sadar. Hal ini membuat kedua orang tuanya sedih.
Untuk menghubungi Gendispun mereka merasa tak memiliki hak. Sebab mereka tak enak kemarin Sean sudah menyakiti hati Gendis terus-menerus.
" Bagaimana pa, ini Sean sakitnya semakin parah".
" Ya ma, tapi papa nggak enak jika harus menghubungi Gendis".
" Bagaimana bila aku coba telpon Indri saja pura-pura tanya kabar ?"
" Nggak usah ma, aku malu sama mereka. Mereka terlalu baik hanya meninggalkan kita, tidak menuntut apa-apa, tanpa marah tanpa tuntutan".
" Tapi bagaimana anak kita, dia semakin menderita?"
" Anak kita kuat, dia pasti bisa melewati ini".
Bu Adinata hanya bisa menarik nafas dalam. Sebagai seorang ibu ia merasa sedih dengan keadaan anaknya yang seperti ini. Tapi jika ingat anaknya sering menyakiti Gendis beliau juga menjadi tak berdaya.
Dua orang yang saling mencintai akhirnya harus berpisah bukan karena sudah tak cinta. Kadang keegoisan orang harus ditekan supaya kehidupan yang sejatinya diinginkan tidak akan menjadi kacau.
Sean tidak sadar bahwa ketidak tegasannya merugikan dirinya sendiri. Dia mengira tetap bisa mempertahankan pernikahan dan tetap bisa berhubungan baik dengan Alexa. Dia tak sadar betapa hal tersebut menyakitkan baik Gendis maupun Alexa.
Dan kesadaranya datang sangat terlambat, bukan karena tak paham, tapi sebagai lelaki dia tak begitu tahu bagaimana perasaan wanita, sehingga keputusannya untuk berhubungan baik dengan Alexa menyebabkannya justru kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Kesadaranya datang, sangat terlambat.
πΆπΆπΆπΆπΆπΆ
Maaf ya kaaa baru bisa up lagi, urusan di dunia nyata sudah selesai, saatnya tepekur lagi melanjutkan cerita ini. Kita lanjutkan besok lagi
Jangan lupa like, koment n vote
Saranghaeyo ππππ
__ADS_1