
Seperti semalam, perasaan Gendis menolak, tapi tubuhnya menuntut penuntasan
Tangan Gendis melingkar di kepala Sean, ia juga membalas ciuman suaminya.
Sekali lagi mereka menuntaskan yang tertunda setengah tahun yang lalu di atas meja makan.
Kali ini, Sean ikut membereskan sekitaran meja makan yang menjadi berantakan akibat perbuatan mereka.
Sementara Gendis langsung lari ke kamar mandi, dengan pipi yang masih memerah karena malu tapi mau.
Dalam satu hari itu, Sean tak melewatkan waktu sedikitpun untuk terus mencumbu istrinya. Ia tak mau kehilangan moment-moment bahagia ini begitu saja.
Setelah maghrib Sean diingatkan oleh Gendis untuk menemui Alexa.
" Mas jangan lupa, jam tujuh kamu harus ketemu Alexa".
" Tapi aku malas Ndis".
"Kamu harus ingat dengan janjimu"
"Oke, kalau itu maumu".
" Bukan mauku, tapi kamu harus".
Sean memang tak ingin ditinggalkan oleh Gendis apapun alasanya.
***********
Malam ini mereka bertemu di cafe dimana mereka biasa kencan, dari jauh Alexa melambaikan tangan, ternyata dia sudah datang lebih dulu.
Setelah cipika cipiki, Alexa yang memang sudah menunggu agak lama ia segera memesan makanan, ia sudah hafal betul makanan yang disukai oleh kekasihnya.
Sambil menunggu makanan datang Alexa yang masih kelihatan agak marah, tampak cemberut.
Biasanya, dalam kondisi seperti ini, Sean akan merayu dan menciumi punggung tangan Alexa, tapi kali ini, entah kenapa keinginan itu menguap begitu saja.
" Maaf yang semalam Lexa, eeemmmm tiba-tiba aku ada kepentingan".
" Kepentingan apa yang membuatmu tiba-tiba meninggalkanku, ditelpon nggak diangkat, pesan juga sama sekali nggak dibaca?"
" Maaf"
" Kamu belum menjawab, kenapa tiba-tiba kamu meninggalkanku begitu saja?!"
" Aku ..."
" Permisi", pramusaji datang sehingga Sean tidak melanjutkan pembicaraanya.
Setelah selesai meletakkan makanan, pramusaji pergi.
" Kita makan dulu, baru nanti kita lanjutkan".
Alexa menuruti perintah Sean. Ia mulai menyuapkan nasi sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya, begitu juga dengan Sean.
Mereka selesai makan, saat Sean mulai bicara,
"Sebelumnya aku minta maaf Lexa, aku tak bermaksud menyakiti hatimu, tapi keputusan ini terpaksa harus aku ambil".
Alexa mulai merasa ada yang tidak beres,
" Kenapa ? Apa yang terjadi ?"
" Seperti yang kamu ketahui, aku sudah menikah, aku.... aku.... tidak bisa meninggalkan istriku begitu saja".
" Tapi kamu sudah berjanji akan kembali lagi padaku".
" Ya Lexa, maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi janjiku itu ", jawab Sean dengan nenundukkan kepala, Sean tahu, ia tak akan tega jika menatap mata Alexa.
__ADS_1
" Tapi kenapa ? apa kamu jatuh cinta pada istrimu ?" jawab Alexa sambil berurai air mata.
Sean diam tak bisa menjawab. Bagaimana mungkin dia bisa menjawab, jika ia sendiri tak memahami hatinya.
" Jawab aku !, apa kamu mulai mencintai istrimu ?!" Suara Alexa agak keras tanpa ia sadari, sehingga memancing beberapa orang yang duduk berdekatan dengan mereka menoleh, dan memandang pasangan ini dengan pandangan tidak suka.
" Kecilkan suaramu Lexa, kita jadi perhatian orang".
" Biar, biar semua tahu kalau kita pasangan selingkuh ". Masih dengan nada keras.
" Lexa!" Antara marah dan malu, Sean membentak Alexa.
" Aku yang datang dulu, istri kamu yang merebutmu dariku, apa salah jika aku bilang istrimu adalah pelakor ?!" Masih dengan nada keras, untul meminta dukungan dari orang sekitar.
Tapi tanpa disangka, jawaban orang sekitar adalah,
" Huuuuuuu"
" Nggak tahu diri, situ yang pelakor, bilang istri orang pelakor".
Mendengar sorakan dari sekitar, Alexa segera mengambil tas-nya dan berlari sambil menangis terisak.
" Lexa !! Akexa !! "
Alexa tak mempedulikan panggilan Sean, ia tetap berlari menuju tempat parkir mobil.
Sean mengejarnya, tapi ia ingat masih belum membayar makananya, sehingga ia terpaksa harus mampir ke kasir dulu.
Saat sampai di tempat parkir, mobil Alexa sudah tak nampak. Ada kekhawatiran di hati Sean, terjadi sesuatu pada Alexa. Ia melajukan mobilnya ke arah rumah Alexa.
Dan ia lihat, mobil Alexa sudah ada di garasi, Sean bernafas lega, ia melanjukan mobilnya menuju ke apartemen.
Tapi di sudut hati Sean ada rasa sedih harus berpisah dengan Alexa dengan cara seperti ini, delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk serta merta menghilangkan kenangan yang selama ini mereka rajut.
Tanpa sadar ada setitik air mata yang luruh dari sudut mata Sean, air mata kesedihan.
Sampai di rumah Sean tampak lesu, itu tidak lepas dari pandangan Gendis, dan ia memaklumi.
" Duduklah ! mau aku buatkan teh hangat ?"
" Ya, terima kasih"
Gendis membuat teh hangat untuk suaminya, ia memandang suaminya dari jauh. Sean tampak begitu menyedihkan.
Siapapun dalam kondisi seperti ini, pasti akan mengalami hal yang sama.
Gendis meletakkan gelas di atas meja, dan duduk di samping Sean. Ia tak bertanya apa-apa. Ia tak mau menambah kesedihan di hati Sean.
" Minumlah, mumpung masih hangat !"
Gendis mengelus -elus punggung Sean. Ia berusaha memberi tabda pada Sean bahwa ia baik-baik saja.
Sean menoleh ke arah Gendis. Ia melihat wajah tulus seorang bidadari di sampingnya.
" Terima kasih sayang, maafkan aku karena harus melihatku dalam kondisi seperti ini".
Gendis hanya tersenyum, sambil menggenggam tangan Sean.
Dari senyum Gendis, Sean yakin bahwa ia tak salah pilih. Gendis memang layak untuk dipertahankan.
Tiba-tiba ponsel Sean berdering, dari Alexa ? Kenapa ?
" Hallo, Sean ?"
Papanya Alexa
" Ya Om gimana ?"
__ADS_1
" Tolong kamu ke rumah sakit Orleans sekarang, Alexa berusaha bunuh diri !!"
Wajah Sean tiba-tiba memucat
" Alexa Alexa " panggil Sean lirih
" Kenapa Mas ?, Mas Sean ?"
Gendis melihat wajah Sean memucat dengan tatapan bingung.
" Kenapa Mas Sean ?"
" Aku harus pergi Ndis, maafkan aku, aku... Alexa berusaha bunuh diri".
" Ya Tuhaaan" Teriak Gendis kaget, ia menutup mulut dengan kedua tanganya. Gendis turut merasa bersalah, seandainya ia tak meminta Sean memutuskan hubungan dengan Alexa, peristiwa ini tak bakal terjadi.
" Aku pergi dulu Ndis ".
Gendis tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa diam sambil.memikirkan sesuatu yang semakin menyiksa batinnya.
" Semoga Alexa tidak apa-apa, semoga tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Alexa", doannya.
***********
Sementara Sean membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Ia merasa bersalah karena Alexa berusaha untuk bunuh diri.
Sampai di rumah sakit, seluruh keluarga ada di dalam kamar. Sean melihat Alexa tidur di atas kasur dengan mata terpejam dan wajah pucat.
Sean mendekat ke arah Alexa berada, tapi dihalangi oleh papa Alexa.
Papa Alexa langsung mendorong tubuh atletis Sean,
" Kamu apakan anakku, kenapa setelah bertemu kamu Alexa berusaha bunuh diri, kamu apakan Alexa ?!"
Sean diam saja, ia merasa sangat bersalah.
" Sudah Pa, jangan seperti ini", mama Alexa berusaha melerai papa supaya tidak semakin marah.
" Jika terjadi sesuatu pada Alexa, akan aku masukkan kamu ke penjara, ngerti !!"
Sean hanya bisa tertunduk.
" Sudahlah Pa, ayo kita keluar, biarkan Alexa bersama Sean sebentar".
" Jangan macam-macam kamu Sean !!"
Sean menarik nafas dalam.
ππππππππ
Next ya kaaaaa π€π€π€
Jangan lupa tinggalin jejak
like πππ
koment π¬
vote π€³
voteπ€³
voteπ€³
n
rateπππππ
__ADS_1
Saranghaeyo πππ