
Setwlah sholat Gendis tidak kembali ke kamarnya, jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, Gendis melanjutkan dengan membaca ayat suci Al Quran, walaupun bacaanya tidak merdu, cukup membuat yang mendengarnya menjadi adem.
Begitu juga dengan Sean, ia juga tidak kembali ke kamarnya, lebih baik ia tungguin Gendis di mushola kecil keluarga ini yang sengaja diletakkan berdekatan dengan kolam renang, berbentuk mirip gazebo.
Mushalla ini muat untuk sepuluh orang sebetulnya, tapi sepertinya keluarga ini lebih suka sholat di kamarnya masing-masing.
Biasanya mushola hanya digunakan oleh para asisten.
Gendis membaca Al Quran sampai adzan subuh berkumandang, ia lihat suaminya audah tertidur pulas tepat di belakangnya. Gendis melihat dan tersenyum.
" Mas, bangun, mas !"
" Eeeh ya, audah subuh ya ?"
" Ya , yuk imamin aku ", deg, dia taknpernah jadi imam, biasanya Pak Alif sopir papa yang biasa jadi imam, yang bacaan surat-suratnya sangat bagus.
" Tapi aku tidak pernah...."
" Terus, apa aku yang harus jadi imam?" tanya Gendis sambil menggoda suaminya.
"Tapi aku belum pernah jadi imam Ndis".
" Makannya sekarang belajar, mumpung cuma ada aku, sebentar lagi yang lain pada datang, nanti Mas Sean grogi lagi".
" Eh ya ya", Sean akan beranjak berdiri di depan, tapi ditegur oleh Gendis.
" Mas Sean kan belum wudhu?"
" Oh ya, tadi aku ketiduran, maaf, aku lupa".
Gendis menunggu suaminya ambil air wudhu, sambil duduk.
Ada haru menelusup di hati mereka masing-masing, terharu bisa menjadi imam dan makmum dengan pasangan.
Tak terasa setetes bening air meluncur turun di pipi mulus Gendis. Setidaknya, kali ini mereka layak disebut suami istri.
Walaupun dalam kehidupan sehari-hari pasangan ini terlihat bahagia sebagai pasangan, tapi kenyataanya tidak lebih seperti cangkang kosong.
Komunikasi mereka berjalan dengan lancar, tapi hanya itu. Selebihnya mereka bukan pemilik hati pasangan.
Saat mereka sampai pada salam, mereka baru menyadari bahwa ada beberapa asisten dan sopir sedang mengikuti mereka jadi makmum.
Pak Alif ada di sudut sebelah kiri, sehingga Gendis tidak menyadari kehadiranya, sementara yang perempuan mengambil posisi di belakang Gendis.
Setelah mereka selesai sholat baru Gendis menegur.
" Mbak-mbak harusnya kan menyusul di samping saya?, masa malah di belakang?"
"Maaf Mba Gendis, rikuh ".
" Mau menghadap Gusti Allah kok rikuh si, nanti maghrib barengan lagi ya ?"
" Njiih Mba" jawab mereka serempak.
Semua melanjutkan kegiatan masing-masing
Gendis naik lagi ke kamar Sean,
"Aku tidur sebentar ya Ndis, nanti bangunkan aku jam sembilan ".
__ADS_1
Gendis yang menyadari suaminya memang kurang tidur ia membiarkan saja.
" Ya, tapi sekali ini saja, tidur habis subuh nggak baik buat kesehatan".
" Ya Maaak", jawab Sean singkat sambil merebahkan dirinya.
Betul saja, tak lama kemudian Sean tertidur dengan pulas. Sehingga ia tak bergabung ikut sarapan.
" Sean mana Ndis ?", tanya mama
" Maaf pa ma, Mas Sean sdmalam nemenin saya sholat malam sampai pagi belum tidur, jadi sekarang dia ngantyk, nanti jam delapan saya bangunkan pa, buat kerja".
" Ya, dia tahu nanti jam sebelas ada metting".
" Nggih Pa".
Selesai sarapan Gendis naik ke atas ia lihat suaminya masih tidur dengan sangat nyenyak.
Ia duduk disamping tempat tidur, dan memandangi suaminya.
Aku istrimu mas, tapi sepertinya sebagian besar hatimu, masih kamu peruntukkan untuk wanita lain. Aku tak mungkin melepasmu, tapi kamulah yang harus melepasku untuk wanita itu. Orang tuamu terlalu baik untuk aku sakiti. Aku mulai mencintaimu....
Setetes air meluncur lagi di pipi Gendis. Hatinya teramat sakit, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Seandainya ia tega, lebih baik melepaskan Sean supaya bisa bersatu dengan wanita yang dicintainya. Tapi ia sangat menyayangi kedua orang tua asuh yang sekarang menjadi mertuannya. Ia tak mau mereka berdua terluka dengan keputusan gegabahnya.
Gendis menarik nafas dalam, sebenarnya hatinya sangat terluka. Tapi ia merasa tak kan bisa berbuat apa-apa.
Gendis beranjak dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi.
Saat Gendis sudah berada di kamar mandi, Sean membuka matanya. Sean tahu Gendis barusan memandanginya dan memikirkan sesuatu. Dari beberapa kali helaan nafas berat dan isakannya, dia tahu Gendis menyimpan beban yang ia simpan seorang diri.
Ia menarik nafas sangat berat.
Terdengar pintu kamar mandi dibuka. Sean pura-pura tidur kembali.
" Mas, Mas Sean bangun, sudah jam setwngah sembilan, Mas".
Sean membuka matanya dwngan ogah-ogahan, dihadapanya istri cantiknya memandanginya dengan mata sembab. Ia menjadi sangat sedih kenapa harus menyakiti wanita secantik ini.
Rasanya Sean ingin sekali merengkuh dan memeluknya untuk menenangkan hatinya, bahwa semuannya baik-baik saja.
Senyum manis Gendis merekah,
Senyumanmu itu, aku tak mau kehilangan senyuman manis itu.
" Aku masih ngantuk, kamu bisa ya,.nggak tidur lagi, padahal bangun jam dua dini hari".
" Sudah biasa Mas, tar lagi juga KO, udah bangun, nanti kesiangan".
Sean meregangkan tubuhnya, dan segera berdiri untuk menuju kamar mandi.
Sementara Gendis membereskan tempat tidur.
"Nanti aku pulang ke apartemen, besok aku harus wawancara kerja"
" Ya, hmmmm.... kamu nggak ingin kerja di perusahaan kita aja ?"
Gendis memandang suaminya sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Sean tidak memaksa sebab ia tahu Gendis nggak akan suka.
" Nanti aku jemput disini, kita pulang sama-sama".
Gendis menganggukkan kepala.
" Aku berangkat dulu".
Gendis mendatangi suaminya dan menciun punggung tangan suaminya.
" Hati-hati"
Sean turun diantar oleh Gendis, ia menunggu sampai suaminya tak kelihatan batang hidungnya.
" Nduk sini !!", panggil ibu mertuannya saat Gendis masuk ke dalam rumah.
" Kamu, sudah ada tanda-tanda isi apa belum"
Perih hati Gendis mendengar pertanyaan dari ibu mertuannya.
Mau hamil gimana, wong disentuh saja nggak. batin Gendis.
" Dereng ma",
" Ya udah ndak pa pa, memang belum waktunya, jane Mama pingin cucu perempuan dari kamu dan Sean, tapi bila Allah berkehendak laki-lai yo ndak po po, mama tetep seneng".
" Mama bilang aja sama Mas Sean pingin cucu perempuan", pungkas Gendis sambil tersenyum menggoda ibu mertuanya.
" Loh yo pasti, nanti mama bilang ke Sean, kok ora pinter gawe anak", sekarang senyum Gendis jadi kecut.
Sore sekitar jam lima Sean menjemput Gendis.
Benar saja, saat duduk mama Diana mendekati Sean.
" Sean, Gendis belum hamil yo ?, mama dah pingin nggendong bayimu".
Sean tercekat, ia melirik ke arah Gendis yang pura-pura tak mendengar perkataan mertuanya.
"Ya itu kan urusan yang di atas Ma"
" Tapi kelihatane kamu juga kurang upaya, yo gimana supaya mama cepet dapat cucu perempuan dari kamu, pasti cantik banget kaya Gendis, turunan Londo".
" Ya beaok aku bikinin yang kaya barbie",
" Loh cocok tenan itu, mama mau banget nek punya cucu kaya barbie"
" Ah mama", Sean tertawa ngakak, emang Sean tukang bikin boneka.
" Yo ndak to leeee, kamu kan sedang proses, pokoknya usahakan paling lambat setengah tahun lagi ada kabar baik dari kalian berdua"
" Ya Maaaa, ayo Ndis kita pulang sekarang, nanti Mama minta yang body bayinya kayak Kylie Janner, kalau lamaan disini".
" Ndak usah yang kaya Kylie, kaya Gendis aja, mama lebih suka".
" Pamit Ma, papa, Airin " Gendis mendatangi mereka satu persatu mencium tangan mereka, Seperti biasa Gendis dan Airin cipika cipiki.
" Jangan lupa Mba, kasih temen anakku, biar rumah tambah rame".
Mereka tertawa serempak, sementara Gendis tersenyum sendu, tapi tak ada yang menyadari, kecuali Sean.
__ADS_1