
Tio, Oma dan Opa Chiko menyusul naik ke atas panggung.
Mama dan papa Adinata melongo bingung melihat Gendis ada di atas panggun. Apalagi saat pembawa acara menyampaiakan bahwa Gendis adalah mama dari Chiko.
Bukan bermaksud bergurau atau berbohong, tapi pembawa acara memang tidak tahu kondisi yang sebenarnya.
Alexa-pun ikut bingung dengan kondisi ini. Tapi yang di atas panggung ternyata cuek saja, mereka terus menebar senyum.
" Ma, Gendis kenapa dia di atas panggung, dan bagaimana bisa dia jadi istri Tio, Sean dan Gendis kan belum pisah".
" Mama juga bingung pa, nanti kita tanya ke Gendis saja, ini acara penting Pak Ciputra jangan bikin malu".
" Ya nggaklah, tapi papa kan bingung".
" Ya, mama juga".
Sebetulnya Gendis sendiri tidak peduli dengan penilaian orang-orang, ia lebih asik bermain dengan Chiko.
Setelah acara bebas, mereka sekeluarga berkeliling sambil.mengucapkan terima kasih kepada semua tamu.
Saat sampai di papa dan mama mertuannya Gendis tersenyum.
" Saya tadi akan menemui papa dan mama, saat Pak Tio meminta tolong saya membujuk putranya untuk mau keluar".
" Oooooo, jadi begitu ??"
" Chiko ikut papa ya, tante afa kepentingan disini".
" Ngga, Chiko mo ama mama".
Gendis tersenyum
" Tapi Chiko nggak boleh na..."
" cal", jawab Chiko cepat.
" Pinter".
" Mari bapak ibu adinata, silahkan ambil apa saja, anggap rumah sendiri".
" Ya Pak Ciputra terima kasih".
" Chiko nggak ikut Oma ?" tanya mami Tio
" Nggak Iko ma mama ja".
Bu adinata memeluk Gendis
" Kamu kerja sama Tio Nak ?" tanyanya sendu
" Ya Ma, tolong jangan kasih tahu Mas Sean".
" Tapi dia rindu kamu Nak".
" Nggak Pa, dia nggak merindukan aku, dia hanya kehilangan saja, nanti lama-lama dia akan terbiasa".
" Kamu betul-betul tidak memafkan Sean Nak".
" Saya memafkan Ma, tapi untuk kembali saya nggak bisa, saya... saya ... masih sakit".
Berkata begitu sambil menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Chiko menarik tangan Gendis
" Ma ma ayo titut ma" sambil menunjuk oma dan opanya.
" Maafkan saya papa mama, tolong sekali lagi, jangan bilang mas Sean aku masih di Jakarta".
" Ya Nduk kami nggak akan bilang".
Dari arah sekitar lima meter Alexa memandan Gendis dan orang tua Sean sedang berbincang dia merasa khawatir.
Jangan-jangan nanti mereka bilang ke Sean kalau mereka melihat Gendis. batin Alexa.
Pas sekali saat irang tua Tio dan Tio berhenti di depan orang tua Alexa.
Alexa memandang Gendis tak berkedip. Tio melirik ke arah Gendis. Tanpa sadar tangannya mengelus punggung Gendis seakan menguatkan. Gendis mengangguk tanda faham.
Karena disini posisi Gendis adalah pegawai Tio, dia hanya mengikuti mereka berjalan saja sambil menuntun Chiko.
Acara telah selesai kelihatanya Chiko kecapekan, ia memegangi Gendis terus dan tak mau ditinggal.
Saat teman-teman Tio pamit, justru Grndis diajak masuk kamar oleh Chiko.
" Mama bobo, mama bobo", sambil menyeret tangan Gendis. Gendis kebingungan.
" Kalian duluan saja Gendis yang antar ".
" Aku temani Mba Gendis?" tanya Sisca pada Gendis.
__ADS_1
" Nggak pa pa Sis, kamu pulang aja, Gendis aman disini". Tio yang menjawab.
" Oh ya Pak".
" Mba Gendis aku duluan ya..."
Gendis menganggukkan kepala dari kejauhan sambil dadah. Sementara tangan sebwlah kirinya dipegangi terus oleh Chiko.
" Yuk kita bobo Yok", ajak Gendis.
" Hari ini mami kayaknya bisa istirahat, sudah ada nanny cantik yang lebih dicintai". Goda mami Tio pada Tio.
Sedang Tio hanya tersenyum kecut,
Andai saja benar Mi, tapi dia istri orang. Batin Tio.
Gendis mengelus elus punggung Chiko, anak ini sama sekali tidak mau ditinggal Gendis, tangan mungilnya memegangi Gendis.
Sehingga Gendispun terpaksa harus merebahkan diri di samping Chiko, sehingga tanpa sadar iapun ikut tertidur.
Melihat itu baby sister menutup pintu kamar Chiko.
" Mbak Asri, Chiko sudah tidur?"
" Ya Mas, bahkan mbaknya juga ikut tertidur".
" Oh ya ?!" jawab keluarga itu serentak.
Mami berjalan pelan ke arah kamar Chiko diikuti oleh papi d Tio. Tampak di depan mereka pemandangan yang sangat mengharukan. Chiko tampak tidur dengan tangan mungilnya memegangi Gendis.
Sementara Gendis memeluk tubuh mungil Chiko, Mereka tersenyum, Mami memandang dua pria disampingnya sambil berkaca.
" Kita keluar", ucapnya pelan
Mereka keluar kamar Chiko dengan hati-hati.
" Chiko, butuh kasih sayang seorang ibu Io bukan Oma".
" Wajar, sejak lahir dia hanya diberi gambaran seorang ibu tanpa mengenalnya". jawab opa.
Keluarga ini memang baik hati, meskipun Agnes mama Chiko tidak pernah menengok anaknya sekalipun, tapi mereka tidak ingin si kecil tumbuh dengan membenci ibunya.
Mereka selalu menceritakan bahwa mama-nya adalah wanita yang cantik bak bidadari, suatu saat pasti menemui Chiko.
Tentu saja di alam bawah sadar anak kecil, hal itu terekam dalam memori dengan sangat lekat.
Dan munculah Gendis sebagai sosok yang digambarkan bak bidadari itu pas dalam gambaran memori Chiko.
" Mbak, bisa tungguin Chiko ?"
" Oh ya bisa mba" jawab si mbak
" Tempat sholat dimana ?"
" Nggak ada mbak, biasanya kami sholat di kamar masing-masing, kalau nggak di masjid sebelah rumah mbak".
" Oh ya, aku pinjam mukena ya mbak, biar aholat disini saja".
" Ooo njih mbak".
Nanny keluar untuk mengambil mukena saat Tio akan masuk kamar.
" Mbak Asri mereka sudah bangun ?"
" Si Mbak sudah bangun Pak, Chiko masih tidur".
" mba Asri mau kemana ?"
" Ambil mukena Pak, Mbaknya pinjam".
" Minta ke mami, pakai punya mami saja".
" Oh ya Pak".
Selesai sholat Tio masuk ke dalam kamar Chiko ia lihat anaknya masih tidur, sementara Gendis masih dalam kondisi berdoa membelakangi Tio.
" Ya Allah, bila Mas Sean memang jodohku dekatkan, jika bukan jauhkanlah".
Hanya itu yang terdenhar oleh Tio, mendengar itu Tio menyurutkan langkahnya. Ia menunggu di luar kamar.
Saat maminya mendatanginya merwka masuknke kamar bersama.
Tok
tok
tok
" Masuk" , jawab Gendis dari dalam
__ADS_1
Ibu dan anak itu masuk sambil tersenyum
" Chiko masih tidur?"
" Ya bu".
" Terima kasih ya Nak, ikut membantu menenangkan Chiko".
" Tidak apa ibu, oh ya sekalian saya pamit, Chiko saya tinggal".
" Ayok aku antar", Jawab Tio
Gendis menganggukkan kepala, saat akan menjabat tangan mai, mami malah merangkul dan menciumnua.
" Jangan bosen main kesini ya ? mami akan dengan senang hati jika kamu datang".
" Nggih Bu"
" Kamu dari Jawa"
" Oh ya Bu, maaf, nggak pa pa, biasanya yang jawab nggih kan orang Jawa ya Io ?"
" Nggih bu", jawab Tio sambil tertawa meledek ibunya.
" Ooo kamu dari Jawa juga ya?" Mami Tio balik menggida anaknya, mereka tertawa bersama-sama.
Sungguh, aku dipertemukan oleh orang-orang baik dan harnonis. Fikir Gendis.
" Mari Pak"
" Ya ayuk"
Mereka berjalan menuju garasi berdua dalam diam.
" Tadi ada bapak dan ibu Adinata".
" Ya Pak"
" Suxah nyapa kan?"
" Ya tadi saya nyapa beliau berdua".
" Kamu nggak pa pa kan?"
" Nggak pa pa Pak".
Tio membukakan pintu mobil untuk Gendis
" Silahkan !"
" Terima kasih Pak!"
" Bisa nggak kalai nggak di kantor jangan panggil Pak".
" Saya takut tertukar Pak, biarkan seperti ini saja".
" Mau jalan-jalan dulu ?"
" Kemana Pak ?"
" Ya jalan aja, kalau boleh aku mau ngobrol sambil jalan sama kamu".
Gendis merasa sangat nggak enak, tapi ini yang minta boss-nya ia lebih nggak enak lagi.
" Baik Pak".
πππππ
Takut diomelin emak-emak yang haluuuuu aku tambah satu episode tuuh
Jangan lupa
kencengin
likeπππππ
komentπ¬π¬π¬π¬π¬
voteπ€³π€³π€³π€³π€³
n
rate yaaaaπππππ
Tapi itu ceritanya masih nggantung Thooor...
Iya emang, sengaja ππππ
Besok datang lagi ya emak-emak dan kakaku zheyeeeng
__ADS_1
Saranghaeyo πππππ