
Jam tujuh malam papa dan Sean pulang dari kantor. Mereka langsung makan malam, setelah berbincang sebentar Sean pamit pulang ke apartemen mereka.
Sean membawa mobilnya dengan santai, jalanan tidak begitu ramai, apa yang mereka kejar.
" Mama mindahin barang banyak banget ke mobil, emang kalian berdua tadi borongin apaan?"
" Nggak ada, keperluan sehari-hari aja".
" Banyak banget, kaya mau ada acara apaan".
" Mama yang ambil semua barang, Mama beli buat kebutuhan mama, kita dibelikan dengan jumlah yang sama juga".
" Ah dasar, emak-emak, rempong beud dah".
Mereka tertawa bersama.
Sampai di apartemen, mereka menyegerakan untuk sholat. Sean langsung menuju ke kamar mandi, badanya sudah tak nyaman.
Keluar dari kamar mandi, ia hanya menggunakan celana dalam saja. Ia lupa bahwa Gendis sekarang sudah tidur sekamar dengannya.
" Aw.... pakai baju dari kamar mandi napa mas ?"
" Aku lupa, ada kamu di kamar ini, maaf". Tapi Sean cuek aja, sia justru cari baju ganti di lemari, dimana lemari tersebut ada di atas samping kanan tempat tidur Gendis.
" Dasar bar bar".
" Kenapa emang ? aku kan suami kamu? mama juga bilang kita harus segera ngasih mereka cucu, salahku dimana ? ini salah satu bentuk baktiku untuk orang tua"
" Huh, ngarep !"
Sean tersenyum melihat ekspresi istrinya setelah ia goda.
Ponsel Sean berbunyi, dari mama.
" Hallo Ma, ada apa ?
" Gendis dimana?"
" Ini ada di kamar sama aku, kenapa ?"
" Udah pakai lingerie yang mama belikan belum ?"
" Lingerie ?? " Sean melihat Gendis memberi isarat supaya Sean bilang bahwa Gendis sudah mengenakan lingerie yang dibelikan mama.
" Nggak Ma, dia pakai baju biasa, tertutup rapat, pakai kerudung juga, mau aku fotoin ?"
" Sini mama bicara sama Gendis".
" Nih mama mau bicara ".
Gendis memandang Sean dengan gemas.
" Iya Ma".
__ADS_1
" Pakai baju yang mama belikan tadi".
" Tapi Ma, Gendis malu ".
" Itu suami kamu, bukan pria lain, pakai !!"
Sean senyum-senyum mendengar Gendis dimarahi oleh mama-nya.
" Nggih Ma".
" Emang kenapa si?"
" Mama tadi beliin aku lingerie, sexy banget masa aku suruh pake".
" Lah emang harus seperti itu, mana enak tidur pakai baju rapet gitu, kamu lihat aku kalau tidur kan pakai boxer kaos oblong kita cari yang nyamanlah".
" Pakai lingerie aku nggak nyaman mas".
" Coba aja, tih yang lihat juga cuma aku, nggak ada yang lain, nanti aku lapornya apa ke mama".
" Bilang aja, aku dah pakai ".
" Aku nggak mau bohong. Dosa".
"Huh".
Gendis membawa salah satu lingerie yang ada di paper bag. Ia ambil sekenanya. Sampai di kamar mandi ia baru tahu bahwa lingerie ysng ia ambil berwarna hijau lumut dan sangat sexy. Mungkin ada sekitar sepuluh menit Gendis ngga keluar-keluar dari kamar mandi.
Dia pasti malu, karena memang tidak terbiasa mengenakan pakaian yang terbuka.
" Kok nggak keluar Ndis? kamu ketiduran di kamar mandi ya?"
" Aku malu Mas".
" Biasakan, toh yang lihat cuma aku, suami kamu".
Dengan pelan Gendis menggeser pintu kamar mandi, ia akan keluar tapi masih ragu-ragu. Hawa dingin AC langsung ia rasakan, membuat badannya sedikit menggigil.
" Masuklah, aku tidak akan melihatmu, aku sedang menyelesaikan pekerjaan, di meja kerja".
Meja kerja menghadap ke tembok sejajar dengan televisi. Berarti dia aman. Fikir Gendis.
Yang Gendis lupa. Tembok dimana meja kerja diketakkan full dengan cermin, tujuan Sean meletakkan cermin disitu, supaya kamar terlihat luas. Tapi sekarang, memiliki keuntungan yang lain. he he he. Fikiran nakal Sean.
Gendis masuk ke kamar, dia terlihat sangat cantik dan sexy menggunakan lingerie tersebut, rambutnya terurai, dengan lingerie warna hijau dengan panjang di atas lutut, sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Lengannya terlihat sexy dengan bentuk baju seperti itu.
Melihat penampakan bidadari dihadapanya, tentu saja membuat Sean pusing kepala. Antara ingin menyelesaikan pekerjaan atau menggoda istrinya.
Tapi Gendis segera menenggelamkan tubuhnya dibalik bed cover putih yang tebal. Ia merasa kedinginan, sangat aneh memakai pakaian seperti ini.
Sean mencuri pandang istrinya dari cermin dan tersenyum.
Orang tuaku tidak salah memilihkan istri buatku, Dia betul-betul wanita sempurna.
__ADS_1
Bayang-bayang tubuh Gendis membuyarkan konsentrasi Sean. Ia menutup laptopnya dan segera menyusul Gendis untuk tidur.
Tapi mereka sama. Sama-sama tak bisa memejamkan mata. Sean memandangi punggung istrinya saat Gendis membalikkan tubuhnya. Pandangan mereka bertemu.
Sean belum tidur, dia masih memandangi Gendis.
Gendis akan membalikkan badanya saat Sean menahan tubuhnya supaya tidak membalikkan badan.
" Kalau kamu belum bisa, biarlah kita dalam posisi seperti ini, aku ingin memandangimu sampai tertidur".
Gendis diam saja, ia merasa kikuk, dan serba salah. Ia berusaha memejamkan mata. Tapi mana mungkin bisa jika suaminya terus memandanginya.
Jika sesuatu terjadi lagi malam ini, Gendis sudah pasrah, Ia tak akan menolak. Mungkin ini salah satu cara mengambil suaminya dari wanita itu.
Ada gerakan dari depannya. Suaminya mendekatinya, Gendis diam saja. Sean semakin dekat. Ia memeluk tubuh ramping istrinya.
Ia mencium rambut Gendis. Dada mereka berdetak kencang. Gendis masih tak memberikan reaksi.
Dia masih sangat malu untuk membalas sentuhan suaminya.
" Gendis..."
" Heem"
" Aku ingin memberikan cucu buat orang tua kita".
Tak ada jawaban, mana mungkin Gendis menjawab, dipeluk seperti itu saja Gendis sudah cukup malu, dan dadanya berdetak tak karuan.
Tapi Sean memang tak memerlukan jawaban, ia mulai lebih aktif.
Dagu Gendis ia dongakkan ia mencium lembut bibir istrinya.
Gendis tidak membalas, bukan tak mau, tapi ia tak tahu bagaimana cara membalas.
Sean menyadari itu. Ia semakin gencar menyerang istrinya supaya memberikan reaksi. Kalaupun tidak Sean memaklumi. Ia tadi merasakan dada istrinya ini berdegub dengan kencang, lebih kencang dari degupan dadanya.
Ia menurunkan posisi cumbuannya, semakin ke bawah, dan secara samar Sean sudah mendengar istrinya merintih, pelan dan lembut tapi terdengar merdu di telinga Sean.
Dengan lembut dan pelan Sean memulai. Terdengar rintihan Gendis agak keras, memang masih sulit, mungkin Gendis masih merasakan sakit.
" Sakit sayaaang?"
Gendis menganggukkan kepala dengan posisi mata terpejam dan mengigit bibir bawah. Benar-benar pemandangan yang sexy menurut Sean.
Rasanya ia tak ingin melepaskan pandangan dari pemandangan indah di depannya. Jika pantas ia ingin mengambil gambar istrinya dengan posisi seperti itu. Jika kangen ia bisa melihat sewaktu-waktu.
Lampu di kamar yang tadinya redup, justru sekarang menjadi mati. Mungkin dapat giliran pemadaman listrik. he he he...
Di saat lampu menyala kembali, semuanya sudah usai, Sean tidur di samping tubuh Gendis, sambil memeluk tubuh indah Gendis.
" Terima kasih sayang, sekarang istirahatlah". Sean mencium ubun-ubun istrinya.
Malam itu, mereka berdua tidur sambil berpelukan dengan badan hanya tertutup bed cover.
__ADS_1