Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 18


__ADS_3

Sampai di apartemen, ia lihat sepatu Gendis sudah ada di tempatnnya, berarti Gensis sudah di rumah.


Apa.mereka tak jadi nonton film, jam segini kok sudah di rumah ?


Sean membuka pintu kamar istrinya, ia lihat Gendis sudah tidur dengan rambut menutupi wajahnya. rambut ?? dia nggak pakai penutup kepalannya.


Sean mendekati istrinya. Ia duduk di pinggir tempat tidur. Ia memandangi istrinya.


Cantik, sangat cantik malah, tapi aku tak berhenti menyakiti hatinnya. Tapi pria tadi siapa, apa hubungan pria itu dengan Gendis ?, sudah dua kali ini aku memergoki mereka jalan berdua. Jika ada hubungan spesial diantara mereka berdua lalu bagaimana aku? Aku kan suaminnya? Tapi kamu kan selingkuh juga, nggak salah kan jika istrimu jadi ikut-ikutan?. Nggak bisa, aku kan laki-laki, dia perempuan, tentu saja beda. Ah kamu mau menang sendiri aja.


Ada perang di batin Sean. Ia mengelus rambut Gendis, dan menyelimuti tubuhnya.


" Maafkan aku Ndis, maaf".


Sean keluar dari kamar Gendis, dan menutup pintu dengan pelan.


Saat Sean keluar, Gendis membuka matannya, airmata menetes di pipi Gendis. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Percuma, ia berbuat sesuatu untuk mempertahankan suaminnya, Sebab suaminnya mencintai wanita lain.


Malam ini mereka berdua tak bisa memejamkan mata di kamar mereka masing-masing. Sampai mereka tak sadar entah tertidur jam berapa.


Jam tujuh pagi Sean bangun, ia lihat sudah ada makanan di meja makan untuk sarapan. Berarti Gendis sudah bangun.


" Ndis, Gendis..."


tok


tok


tok


tak ada jawaban, Sean membuka pintu kamar Gendis. Sudah rapi, dan tak terlihat ada Gendis, kamar mandi juga dalam kondisi lampu dimatikan, berarti Gendis keluar.


Sean mengambil ponselnya untuk menghubungi Gendis.


Tersambung.... tapi tidak diangkat


Sekali lagi, sama


ia.mengirim pesan


' Kamu dimana ?'


' jalan'


' Mau kemana'


' Kantor '


Apa iya kondisi kami harus seperti ini terus, ini sangat tidak nyaman.


' Tapi ini masih pagi, kantor kamu kan buka jam setengah sembilan'


Tak ada jawaban sampai Sean mandi dan habis mandi, ia lihat tak ada pesan dari Gendis, padahal pesannya sudah dibaca.


Sean menarik nafas berat.


Kenapa jadi kepikiran seperti ini, mengganggu aktifitas saja. Kenapa juga aku mikir. Gendis memang istriku, tapi aku kan tidak mencintainnya. Aku hanya mencintai Alexa.

__ADS_1


Batin Sean.


Sean berangkat ke kantor dengan mood yang kurang bagus, sehingga sampai di kantor yang bisa ia lakukan hanya duduk dan tak memiliki niatan untuk bekerja, masalah ini benar'benar menguras hati Sean.


Sean tak pernah seperti ini, hanya setelah menikah dengan Gendis, hidupnya terasa lebih berwarna, sedih, ceria, gembira dan sekarang bad mood.


tok


tok


tok


"Masuk!"


Bu Asri, sekretaris Sean masuk sambil membawa berkas.


"Pak, nanti ada metting di hotel Z jam empat sore dengan Pak Daha dari PT. Sejahtera Sentosa".


" Ya, aku masoh ingat".


" Baik Pak, saya permisi".


Bu Asri segera keluar dari ruang kerja boss-nya, sebab ia lihat Pak Sean mukannya kelihatan butek, ngga ceria seperti biasa.


Jam setengah empat Sean keluar untuk menuju tempat pertemuan. Ternyata pertemuan tidak berlangsung lama, Sean beristirahat sejenak di lobi sambil membaca majalah.


Dari luar terlihat dua orang masuk menuju ke arah kamar-kamar hotel yang tersedia di bagian belakang.


Sean yang duduk di dekat jalan masuk menghadap sebaliknya, melihat Gendis dan pria yang biasa bersamanya. Hatinya sangat panas, ia membuntuti kedua orang itu dari belakang. Ia lihat Gendis dan pria tersebut memasuki salah satu kamar.


Jadi selama ini, begini perbuatan Gendis. Dia berprilaku alim di rumah, tapi saat di luar ternyata di sangat liar. Untuk mendobrak pintu kamar hotel, dia masih menjaga nama baik Gendis.


Iya hanya bisa mondar mandir di depan kamar yang di dalamnya ada istri dan pria lain.


Harga dirinya sebagai lelaki dan suami sangat terluka, ia tak menyangka istri yang selama ini ia anggap sangat berbudi ternyata melakukan hal yang sangat menjijikkan dibelakangnya.


Sean keluar menuju ke arah lobi, ia.mengambil ponselnya, dan menghubungi Gendis. Ia mau tahu apa alasan Gendis.


Terhubung, tapi tak diangkat


Sean menghubungi Gendis untuk yang kedua kalinya, tak diangkat juga.


Pikiranya sekarang benar-benar kacau dan buruk, kalau benar apa yang disangkannya dia tak akan pernah memaafkan Gendis. Munafik !!!


Ia mengirim pesan,


' Kamu sudah pulang ?'


Lama baru ada jawaban.


' belum'


' kamu masih di kantor ?'


' Nggak aku lagi ketemu dengan teman'


' berdua saja ?'

__ADS_1


'berempat '


Bohong !!, dia benar-benar bohong. pembohong besar. Dasar wanita munafik.


Sean pulang dengan membawa mobilnya kencang, sampai di apartemen ia sengaja menunggu kedatangan Gendis, ada rasa kecewa, benci dan marah menumpuk jadi satu dalam otaknya. Bahkan saat ini kemarahannya sampai di ubun-ubun.


Sean tadi sengaja menunggu Gendis keluar dari kamar hotel, tapi sampai dua jam menunggu dua orang itu tak ada satupun yang keluar.


Apa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam satu kamar hotel, kalau bukan ....


aaaaah.... Sean membuang jauh-jauh pikiran itu. Tapi selali muncul dan muncul lagi prasangka buruk tersebut.


Ia.menghubungi Gendis lagi, sudah hampir tiga jam sejak ia lihat Gendis masuk kamar hotel dengan pria lain.


" Kamu dimana?"


" Ini aku mau pulang, tumben kenapa terlihat khawatir ?"


" Aku tunggu di rumah, aku mau bicara".


" Baik, aku segera pulang".


Gendis sampai rumah hampir jam delapan malam, dia tampak kelelahan.


" Aku mandi dulu, setelah ini kita bicara ".


Sean diam saja, ia tampak menyimpan rasa marah dan kecewa teramat dalam.


Ekspektasinya ternyata salah. Ia mengira istrinya wanita surga, ternyata....


Sepanjang menunggu Gendis mandi pikiran jeleknya selalu berseliweran.


Saat ia dengar suara kamar mandi dari kamar Gendis dibuka ia segera menghambur ke kamar Gendis. Kelihatannya setan lebih menguasai otak Sean daripada logika yang biasa ia gunakan.


Gendis terpekik kaget, sebab saat itu ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di badan. Sedang rambutnya terlihat basah.


Melihat kenyataan itu Sean semakin murka. Ia sangat yakin istrinya baru saja berbuat sesuatu dengan pria tadi. Pria yang selama ini sudah ia curigai memiliki hubungan dengan istrinya.


Pria yang sudah tiga kali ini ia pergoki jalan bareng istrinnya.


Pria yang terlihat lebih muda darinnya.


Matannya berkilat-kilat memandang tubuh Gendis. Sedangkan Gendis berusaha menutupi sebagian tubuhnya dengan apapun yang ada disitu.


Tentu saja melihat itu, Sean semakin kecewa. Kenapa dia berusaha menutupi tubuhnya di depan suaminnya sendiri. Sedang di depan pria itu....


😁😁😁😁😁😁😁


Maaf yeeee, author potong niiiiih


😂😂😂😂


Mau lanjutannya nggak???


Bagi like, koment n vote-nya dong, biar author makin semangat bikin lanjutannya.


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2