Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 37


__ADS_3

Hari ini Tio dan Agnes dijadwalkan untuk ke pengadilan.


Karena menghormati pengadilan agamalah sehingga Tio datang ke keputusan itu, sedangkan Agnes, dia tak mau datang. Mereka sejatinya sudah ingin berpisah cukup lama.


Palu telah diketuk, Tio dan Agnes berpisah dengan meninggalkan satu anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan berusia dua tahun.


Agnes tidak berniat minta apapun dari Tio. Bahkan anaknyapun diserahkan pada Tio. Hal ini membuat keluarga besar Ciputra sangat bersyukur.


Sebab mereka sangat mencintai Chiko, putra Tio dan cucu mereka satu-satunya.


Tio dan Agnes menikah karena perjodohan. Bisnislah yang membuat mereka dipersatukan. Dari awal mereka memang tidak saling mencintai, awalnya merena bwrdua mencoba untuk saling memahami.


Tapi bukan rasa cinta yang mereka dapatkan, justru sebaliknya justru semakin jauh. Tio menenggelamkan diri dengan pekerjaanya, sedangkan Agnes dengan jiwa sosialitanya.


Lalu bagaimana mereka bisa punya anak? Hal itu terjadi tanpa disengaja.


Setelah pesta di rumah salah satu teman mereka entah bagaimana pulang dari pesta, mereka sama-sama bergairah.


Rasanya ada yang memasukkan sesuatu ke dalam makanan mereka, sampai di rumah, mereja bergumul tanpa bisa ditahan.


Masih ada sedikit kewarasan di otak Tio, tapi tubuhnya menuntut hal lain. Sehingga terjadilah sesuatu, yang memang harusnya terjadi sejak dulu.


Mereka bangun dalam kondisi tanpa busana, tak ada yang menyesali sebab semuanya sudah terjadi dan memang seharusnya terjadi.


" Apa yang terjafi pada kita?"


" Kita melakukan hubungan suami istri".


" Bagaimana bisa ?"


" Aku juga tidak tahu".


" Kamu menyesal ?" Tanya Tio pada istrinya.


" Apa yang harus aku sesali, semuanya telah terjadi, kamu adalah suamiku ".


Sejak saat itu sebetulnya mereka mulai mencoba untuk saling mengerti diri mereka masing-masing , tapi percuma saja.


Sebab cinta mereka tak tumbuh juga.


Dalam frustasinya Tio semakin menenggelemkan diri dalam pekerjaan, begitu juga dengan Agnes, dia semakin semangat menghabiskan uang suaminya untuk sekedar jalan-jalan atau shoping.


Hingga perutnya membesar karena hamil sampai melahirkan, dia tidak sedikitpun ingin mengaduh anaknya.


Justru setelah dia melahirkan, seperti balas dendam. Dia tak pernah ada di rumah, ketjanya hanya foya-foya di luar. Sedang anaknya diasuh oleh baby sister dan mertuanya.


Saat Tio mengingnginkan mereka berpisah, tanpa syarat Agnes menyetujuinya.


Agnes berlatar belakang keluarga yang kaya raya, sehingga uang bukan masalah baginya. Keluarga Tio, tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga Agnes. Keluarga Agnes jauh di atas Tio.


Tapi kebiasaannya yang hidup hedonis, menjadikanya kurang mau memikirkan sesuatu yang berat. Karena sama ini ia selalu diberi kemudahan oleh kedua irang tuannya.


Merawat anak menurutnya sangat menguras waktu dan emosi, sehingga membuatnya malas berlama-lama di rumah.


Perutnya hanya dibuat tumpangan hamil untuk anaknya. Setelahnya ia bukan siapa-siapaku. Itu menurut Agnes.


Berbeda dengan keluarga Tio, mereka sangat mencintai Chiko, bagaikan anak sultan apapun yang sekiranya diinginkan Chiko pasti menjadi kenyataan.

__ADS_1


Tio sendiri juga sangat mencintai anaknya. Meski kurang kasih sayang dari ibunya, Chiko tumbuh dengan sangat baik dan sarat kasih sayang.


Ia tumbuh menjadi anak yang aktif dan cerdas, dia sangat tampan, ketampananya menurun dari kedua orang tuannya, yang secara fisik merupakan pasangan ideal.


Dua hari lagi adalah ulang tahun Chiko yang kedua, mama Tio berencana merayakannya, Tio mengundang seluruh stafnya untuk hadir.


Hari sabtu ini mereka berangkat bersama-sama dari kantor menuju ke rumah Tio. Mobil kantor sudah ready di basement.


Sabtu biasanya mereka libur, tapi karena ada acara special sehingga mereka berangkat semua.


Mereka memasuki halaman yang sangat luas dan megah, tapi asri. Yang ada di dalam mobil berdecak kagum. Mereka tak pernah bermimpi masuk ke dalam rumah seperti ini.


Biasanya mereka melihat penampakan rumah seperti ini di film-film saja.


Turun dari mobil mereka sudah dijemput asisten untuk dibaea ke halaman belakang.


Disana tampak sudah ramai, mereka betul-betul jadi tamu, segala kesibukan sudah ada yang mengatur dan memegang.


Tio mendekat ke arah mereka,


" Terima kasih kalian datang ", sambil menjabat tangan anak buahnya.


Kalau menurut Gendis itu bukan ulang tahun anak-anak, tapi lebih ke pesta pertemuan relasi.


Yang datang kebanyakan adalah relasi papinya Tio, sementara Tio tidak mengundang siapapun selain beberapa pegawai yang satu kantor dengannya.


Dari jauh Alexa memandang Gendis.


Dimatanya Gendis tampak cantik dan penuh percaya diri.


Gendis melihat di salah satu sudut ada papa dan mama mertuanya, ia permisi pada teman-temanya untuk menemui orang tua asuhnya itu.


Gendis berjalan menuju ke arah mereka berdua, Saat Tio mendekatiny.


" Ndis, bisa minta tolong sebentar".


" Oh ya Pak, ada apa ?"


Tio membawa Gendis masuk ke dalam rumah untuk menemui anaknya.


Ternyata Chiko ngambek nggak mau keluar karena tamunya bukan seperti dirinya anak kecil.


" Tolong bantu mamiku bujuk Chiko, sia nggak mau keluar, sebab tamunya kelas opa oma", senyum manis menghias bibir Tio.


Baru kali ini Gendis melihat senyum manis tersungging di wajah Tio. Walaupun Tio sering mengakrabkan diri tapi Gensis jarang melihat senyum Tio.


" Baik Pak, saya coba".


Pintu kamar Chiko sudah terbuka, tapu Gendis mengetuk pintu.


" Assalamuallikum...."


" Waalaikum salam", Mami Tio memandang Gendis bingung, tapi di belakang Gendis Tio menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


" Selamat sore Oma, hallo sayaaang Chiko apa kabar ?"


Bukan jawaban yang didapat tapi, Chiko langsung berlari menuju Gendis sambil berteriak.

__ADS_1


" Mamaaaaaa", siapapun yang ada disitu menjadi terharu, mami Tio, bahkan Tio sendiri juga merasakan sedih, sebegitu rindu anaknya pada sosok mama.


" Ya sayanaang, kenapa ngambek ? kita keluar yuuuk, temuin tamu oma sama opa".


" Heeeem capi cama mama ya", kata Chiko dengan bahasa cadelnya.


" Tentu saja sayang, yuuuk, mau digendong apa jalan sendiri ?"


" Iko mo alan ndili".


" Yuk kita bergandengan tangan".


Gendis memandang mami dan bossnya ia tersenyum sambil mengangguk.


Mereka mengikuti Gendis dan Chiko dari belakang, tangan Tio merangkul ibunya, ia lihat ibunya menitikkan air mata.


" Dia merindukan seorang ibu Io", Tio menepuk nepuk pundak ibunya.


" Ya mami".


" Siapa gadis itu, dia belum bicara apa-apa anakmu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama".


" Dia manajer akuntan di mall Ma".


" Wow keren, semuda itu ?"


" Ya mam"


" Sudah punya pacar belum ?"


" Mamiiii".


" Kayaknya mami juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama", kata mami, sambil matanya mengerling pada Tio.


Sementara Tio hanya tersenyum, entah kenapa hatinya berbunga-bunga.


Sementara, Gendis sudah membawa sang sultan kecil berada di panggung yang sengaja di tata di ujung kolam renang, dengan nuansa warna biru.


Chiko terlihat sangat bahagia.


" Io, lihatlah anakmu tampak bahagia".


Sekali lagi Tio tersenyum melihat pemandangan di atas panggung.


Sangat indah dan menawan menurutnya.


😊😊😊😊😊


Besok lagi ya kaaaaa


Biar tambah penasaran


kencengin


Vote nya yaaaaa


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2