Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 26


__ADS_3

Hari ini Gendis memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan dan beberapa mall, kualifikasi yang ia ambil.adalah managemen akuntansi. Dua perusahaan dan dua mall yang ia masukkan lamaran ia ingin mulai bekerja lagi.


Selesai mengirim.lamaran, jam sudah menunjukkan pukul tiga kurang sedikit, sehingga ia berlari lari menuju rumah makan Cairo, kebetulan tempatnya tidak jauh dari mall terakhir yang ia datangi.


Ternyata papa sudah ada disana.


" Papa !!", Sapa Gendis sambil mencium punggung tangan papa mertuanya.


" Gendis, duduk Nduk !" Gendis duduk dihadapan Pak Adinata.


" Kamu sudah makan apa belum ?"


" Belum Pa".


" Ya udah makan dulu, baru nanti kita bicara".


" Nggih Pa".


Sambil.menunggu makanan pesanan datang Gendis dan Pak Adinata ngobrol.


" Selama tiga hari ini kamu tinggal dimana ?"


" Saya aman Pa, jangan khawatir".


" Wajarlah papa khawatir, kamu mantu papa, kamu tinggal di luar rumah, kamu fikir papa dan keluarga lain nggak kepikiran".


" Salam buat semua, Gendis baik-baik saja".


" Kamu tidak berencana pulang ke rumah ?"


" Belum Pa, Gendis masih nggak terima perlakuan Mas Sean pada Gendis".


" Sean sudah menyesal".


Gendis menggelengkan kepala


" Dia menyesal sekarang, kalau aku pulang dia akan kembal lagi pada Alexa".


" Papa yang akan bicara sama Sean".


" Nggak pa, papa kemarin bilang nggak akan maksa Gendis".


Pak Adinata tak berkutik, ia harus memenuhi janjinya.


"Papa saat ini hanya ingin kamu tetap jadi mantu papa, papa nggak ingin yang lain".


" Gendis tahu pa, tapi fikiran Mas Sean beda".


" Baiklah Gendis, lalu pertemuan kita ini tujuannya untuk apa kalau kamu nggak ingin kembali pada Sean".


" Aku sedang melamar pekerjaan Pa, jika ternyata nanti aku tidak diterima di salah satu perusahaan yang aku daftar, aku minta papa menyerahkan salah satu swalayan untuk aku kelola, bukan miliki".


Anak ini memang cerdik dan cerdas, dia berhak mendapatkan apa yang aku punya.


" Papa akan serahkan tiga swalayan sekaligus untuk kamu kelola, tapi papa beri dua tahun untuk melihat kemajuan swalayan yang kamu kelola".

__ADS_1


" Kalau tidak maju ?"


"Papa ambil yang dua, kamu kelola satu saja".


Otak bisnis mereka berdua ternyata tetap jalan, walaupun hubungan mereka adalah mertua dan menantu.


" Satu saja Pa, jika maju papa tambahin yang dua".


Papa tersenyum.


Menantuku ini tidak akan hancur hanya ditinggal Sean, ia sangat tangguh.


" Satu cukup", tanya papa


" Cukup Pa",


" Baik kelola swalayan yang ada di bekasi".


Mereka bersalaman tanda deal.


" Tapi papa jangan bilang ke Mas Sean aku yang kelola, sementara aku tak mau di ganggu mas Sean".


" Ok siap, Papa lihat perkembangannya ya?!"


" Siap Pa !"


Mereka melanjutkan ngobrol ke hal-hal yang lebih santai, sambil.menghabiskan makanan.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Pencarian selama lima bulan ini nihil, papa juga nggak cerita apa-apa. Beliau memegang amanah yang diberikan oleh Gendis.


Sementara swalayan yang ada di Bekasi dalam waktu lima bulan ini, maju dengan pesat. Tak kalah bersaing dengan swalayan lain yang ternama. Hal itu membuat Pak Adinata sangat berbangga.


Tak salah aku menyerahkan swalayan yang di Bekasi untuk di kelola Gendis.


Dalam rapat, semua karyawan memberikan selamat pada Pak Adinata, sebab swalayan yang di Bekasi menjadi primadona, sesuai laporan, omzet yang di dapat sangat luar biasa.


Setelah rapat bubar, baru Sean memberikan selamat pada papanya.


" Selamat ya pa, akhirnya swalayan kita yang di Bekasi tudak kalah bersaing dengan yang lain".


" Ya terima kasih"


" Papa sekarang kan jarang ke Bekasi, memang siapa sekarang disana yang urus".


Pak Adinata gelagapan mendapat pertanyaan mendadak seperti itu dari Sean.


" Nggak ada, papa aja yang mengendalikan dari sini".


" Kapan-kapan kita perlu kesana Pa, untuk mengapresiasi pegawai yang disana".


" Oh tentu, nanti kita cari waktu yang senggang, untuk ke Bekasi, eheem".


Sementara Gendis di swalayan itu sudah sangat terkenal. Kepemimpinanya yang humanis dan selalu menganggap pegawai adalah teman sehingga mereka bekerja dengan kompak.

__ADS_1


Gendis memang terkenal baik, dia hanya akan menegur, jika prgawainya benar-benar melakukan kesalahan atau teledor, tapi itu tidak membuat pegawai jadi marah pada Gendis, Justru mereka jadi tahu kesalahan mereka.


Hari ini, swalayan sedang mengadakan discount besar-besaran, semua sibuk dengan tugasnya masing-masing, persiapan sudah selesai, saatnya jam sembilan swalayan dibuka, ternyata yang antri di luar sudah sangat banyak.


Gendis melihat dari jendela kantor, yang letaknya di lantai tiga, dengan ditemani para staf, mereka semua tampak antusias. untuk melihat kerumunan yang ada di depan swalayanya.


Benar saja, begitu pintu dibuka para pembeli langsung menyerbu stand-stand yang mereka butuhkan.


Berisik, tapi terdengar merdu di telinga Gendis.


Dalam waktu kurang dari dua jam, rak-rak sudah mulai kosong. Banyak barang yang berceceran, tugas pegawai untuk membereskan itu semua.


Tidak ada yang mengeluh, mereka tampak bahagia. Capek tapi senang.


Hari ini, semua sepertinya akan kerja lembur. Sebab rak yang kosong harus segera dilaporkan dan diisi ulang barang dari gudang, sehingga lusa bisa beraktifitas lagi seperti biasa.


Kenapa lusa ?, sebab besok Gendis mengajak para staf dan karyawan untuk piknik ke Puncak. Sehingga, besok swalayan ditutup. Hal ini tentu saja, sudah atas persetujuan papa mertuannya. Justru beliau sangat mendukung langkah Gendis ini.


Para pegawai.mulai menata barang-barang baru dari gudang ke rak-rak yang terpajang di toko. Masih tetap melayani pembeli yang tak mau berjubel untuk antri, tetap ramai tapi tak sesibuk tadi.


Jam tujuh malam Gendis menghubungi papa mertuanya.


" Pa, Alhamdulillah, hari ini penjualan melebihi target".


" Bagus Nak, selamat ya, kamu memang layak untuk mendapatkan penghargaan".


" Aku besok bawa anak-anak buat jalan ke Puncak, jadi sepertinya swalayan besok tutup Pa".


" Menurut Papa, jangan ditutup Gendis, jadi sistemnya gantian, minggu ini kelompok satu, minggu depan kelompok dua dan seterusnya".


" Wah iya ya Pa, aku kok nggak mikir kesana, aku sudah putuskan besok pergi sama-sama biar rame, mereka juga sudah sangat antusias untuk pergi bersama-sama".


" Berapa bis itu berarti ?"


" Satu besar satu kecil".


" Ya udah, untuk ke depan jika ada acara semacam itu harus dipertimbangkan lagi supaya swalayan nggak perlu ditutup".


" Ya Pa. maaf untuk hari ini, kedepan jika ada rencana semacam itu, perlu dipertimbangkan lagi".


" Ya Nduk, hati-hati di jalan salam untuk semua karyawan".


" Nggih Pa".


Papa tersenyum, dan membalikkan badan, alangkah terkejutnya papa saat berbalik di hadapannya telah berdiri Sean, dengan wajah bertanya-tanya.


😊😊😊😊😊😊😊


Yuk Kaaa, jangan lupa tinggalin jejak


like πŸ‘


komentπŸ’¬


vote🀳

__ADS_1


Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2