Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 39


__ADS_3

" Boleh aku curhat ?"


" Apakah saya pantas mendengarkan curhatan Pak Tio ?"


" Kalau nggak pantas aku nggak minta kamu ikut kan?"


Gendis tersenyum. Ironis orang gagal dalam pernikahan harus mendengarkan curhatan orang yang gagal pula.


" Kenapa ?" Tanya Tio melihat senyum getir Gendis.


" Nggak pa pa Pak, silahkan ".


"Sebetulnya bukan hal yang penting, tapi rasanya disimpan sendiri kurang enak juga".


" Hmmmm ada hubunganya dengan kerjaan?" pancing Gendis


" Ini mengenai mama-nya Chiko".


" Ooooo ya, tapi maaf tadi saya nggak lihat".


" Dia memang hidup di luar negeri"


" Kami sudah berpisah?"


Gendis mwnganggukkan kepalanya


" Masalahnya apa ini Pak?"


" Kamu tahu sendiri bagaimana Chiko kan?, ia sangat merindukan mama-nya. Sementara mama-nya sendiri, tidak suka anak-anak. Yaaaa jadilah Chiko, seperti yang kamu lihat".


" Nggak ada yang salah dengan Chiko Pak, dia tumbuh dengan baik, cerdas dan tampan".


" Apakah tidak salah Chiko memanggilmu dengan sebutan mama?"


Oh ya aku lupa, kenapa aku bisa nggak ingat. Atau.... karena aku juga menikamti peranku.


Gendis menggeleng-gelengkan kepala.


" Ya Pak maaf saya lupa, mungkin karena Chiko tidak pernah bertemu mamanya, sehingga wanita lain dipanggil mama?"


" Dia butuh kasih sayang dari mama-nya Ndis, aku ingin menghubunginya, tapi aku takut orang tua Agnes justru meminta hak asuh Chiko".


" Jika Bapak menginginkan Chiko dapat kasih sayang dari mama-nya cobalah hubungi beliau Pak, misal reaksinya tidak sesuai yang kita inginkan setidaknya kita sudah pernah mencoba, Kalau masalahnya hak asuh, kita kan orang terpelajar Pak, saya fikir semua bisa dibicarakan".


" Itu yang sedang aku fikirkan, bagaimana cara supaya mama-nya Chiko mau menengok Chiko tapi tidak meminta hak asuh Chiko".


" Chiko anaknya pinter Pak, siapa yang tidak jatuh hati padanya, tapi semua bisa dibicarakan, jangan takut untuk mencoba Pak, takutnya... malah nggak jalan rencananya".


" Begitu ya?"


" Kurang lebih begitu Pak".


Tio semakin kagum pada sosok disampingnya ini.


" Mohon maaf Pak Tio, boleh kita pulang sekarang?"


" Kamu nggak nyaman jalan denganku Ndis?"


" Bukan Pak, saya menghormati Pak Tio sebagai atasan saya, tapi ... maaf Pak saya wanita bersuami, Maaf Pak ".


" Aku yang harusnya minta maaf sama kamu Ndis, bagaimana mungkin aku tidak menyadari itu".


" Ya Pak, sebaiknya kita pulang".


Tio, semakin kagum pada Gendis, dalam kondisinya seperti ini, dia masih menjaga martabat suaminya.


Sampai di depan kontrakan, Gedis segera turun,


" Bapak nggak perlu turun, terima kasih tumpanganya ".


" Ia sama-sama Ndis, selamat malam".


" Malam Pak".


Tio menjalankan mobil sambil tersenyum.


Sean beruntung kamu mendapatkan istri seperti Gendis, kalau sampai kamu lepas, aku yang akan berdiri di antrian terdepan.


" Gimana mbak si Chiko dah mau ditinggal ?"


" Chiko tidur saat aku pamit pulang".


" Kayaknya si kecil jatuh cinta deh sama mbak Gendis".

__ADS_1


" Dia dibesarkan dengan baik, dia mengira aku adalah mama-nya, setiap wanita mungkin dia kira mama-nya, kasihan dia kurang kasih sayang dari mama-nya".


" Memang mamanya kemana Mbak"


" Mereka pisah, sekarang mama Chiko di luar negeri"


" Kok Chiko nggak dibawa?"


" Siscaaaa cantiiik dont kepo berlebihan, nanti kamu pusing kepala".


" Hihihi ya Mbak maaf".


" Aku mandi dulu yaaaa".


" Ya mbak".


Minggu yang cerah, pagi sekali Gendis dan Sisca berencana untuk belanja ke pasar. Hari ini mereka ingin masak sendiri.


Mereka jogging, pulangnya baru mampir ke pasar. Pagi ini jalanan ramai orang-orang yang berolah raga. Ada yang bersepeda, jalan kaki dan seperti mereka, banyak juga yang jogging.


" Mbak Gendis, misalkan, misal ini ya, jika Pak Tio jatuh cinta sama Mbak Gendis gimana?"


" Ada satu rahasia kecil tapi kamu nggak boleh cerita pada siapapun, yang tahu hanya tiga itang di kantor kita".


" Iiiih ngeriii, apaan tuh mbaak".


Gendis tertawa mendengar jawaban Sisca


" Aku sudah bersuami".


" Haah yang bener mbak Gendis, kok selama ini aku nggak pernah lihat suami mbak Gendis"


" Sudah cukup itu saja" senyum misterius Gendis.


" Lalu Pak Tio?"


" Memang kenapa dwngan Pak Tio?"


" Bukannya dia suka sama Mbak Gendis,?? maaf mba semua sudah tahu".


" Nggak mungkin".


" Kok...nggak mungkin mbak?"


" Pak Tio sudah tahu aku punya suami".


" Pak Tio kenal suamiku".


" Oooooo, tapi Mbak jika Pak Tio bener jatuh cinta sama Mbak Gendis gimana?"


" Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, Positif berfikir aja, ok?


" Mbak, boleh aku tanya sekali lagi?"


" Boleh, yang penting aku bisa jawab".


" Mbak Gendis cinta sama suami ya?"


" Sampai saat ini aku masih mencintainya ".


" Tapi ?" uber Sisca


" Ya begitulah..."


" I see, ya udah mba kita harus segera sampai rumah".


" Yuk"


Setelah selesai memasak Gendis melanjutkan mengerjakan bahan untuk presentasi besok. Ada pertemuan dengan beberapa pengusaha mengenai bagaimana memenage keuangan secara efektif.


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah Tio si kecil Chiko sedang merengek ingin ketemu mama.


" Cobalah Io, kamu telpon si Gendis bawa kesini untuk menenangkan Chiko, dari semalam dia cari mama terus".


" Sini sayang sama papa ya ?"


" Nda, mo ma mama, mamaaaa ".


Jika tak ada perasaan Tio bisa saja dengan santai menghubungi Gendis. Tapi saat ini, ia ragu menghubunginya, sebab semalam sikap Gendis cukup jelas, dan ia menghargai itu.


Tio membawa anaknya keluar


" Chiko mau beli es cream"

__ADS_1


" Ga may ... mo mama " Chiko masih rewel


Tio membawa Chiko ke halaman, di garadi terparkir empat motor matic. Motor yang memang disediakan untuk assisten jika ingin keluar supaya lebih cepat.


" Chiko mau naik motor sama papa ?"


" Mau... mau... otong otong ".


Biasanya supir Tio yang mrngajak Chiko putar-putar di halaman rumah pakai motor matic tersebut.


Tio tersenyum, yes akhirnya berhasil.


Jika menuruti hatinya, tentu Tio mengharap kehadiran Gendis melebihi siapapun. Tapi semalam sinyal itu telah dibunyikan oleh Gendis. Dia harus tahu diri.


Nanti, jika sinyal itu meredup ia akan berjuang lagi.


Sementara Chiko sangat menikmati diajak jalan-jalan naik motor oleh papanya. Ia sudah melupakan mama, segampang itu mengalihkan perhatian anak kecil.


Tio mulai memikirkan saran Gendis semalam, bagaimanapun Agnes adalah ibu biologis Chiko, Mau tidak mau dia harus tahu kondisi anaknya.


" Ma, Nanti aku menghubungi Agnes, aku akan menunjukkan foto Chiko terbaru padanya".


" Tapi Io, aku nggak mau Chiko diambil mereka, biarkan dia sama kita"


" Nggak Ma, aku cuma menunjukkan perkembangan Chiko saja, kalau Agnes mungkin nggak masalah ".


" Tapi mami khawatir Io".


Tio mulai menekan satu nomor untuk dihubungi.


" Io, apa sebaiknya nggak usahlah, biarin mereka nggak peduli".


Tangan Tio memberi tanda supaya maminya jangan bicara dulu.


" Halo, ia ini aku Nes"


" Ada apa Io ?"


" Aku kirim foto Chiko, jika kapan-kapan kamu ingin jenguk, dia sudah besar, hmmm aku bisa bicara dengan mama atau papa?"


" Aku tidak sedang di rumah, ia kirimkan saja gambar Chiko, dia sehat kan?"


" Sangat sehat ".


" Syukurlah, aku tunggu kiriman fotonya".


"Ok aku tutup teleponya".


" Iya Io".


Tio segera mengirimkan foto Chiko semua yang ia simpan dalam ponsel.


ada notif dari Agnes


'Chiko lucu Io, dia cakep mirip kamu, aku titip padamu ya Io, jaga dia baik-baik'


'ya'


Jawab Tio singkat


Semoga Agnes tidak meminta lebih, yang penting aku sudah menunjukkan Chiko padanya, seperti saran Gendis. Tuuuh kaaan Gendis lagi


Tio tersenyum sendiri, rasanya dia memang sedang jatuh cinta pada pegawainya ini.


🙂🙂🙂🙂🙂🙂


Bingung lo kaaa, jika saat mengarang fiksi eh tetiba mood booster


Kayaknya butuh masukan neee dari emak-emak powered n kaka kaka cewriwis


Lanjutanya gimana ya ??? 🤔🤔🤔


Boleh banget tuuuh kasih masukan, aku tunggu yaaa....


Jangan lupa


like


koment


vote


and

__ADS_1


rate-nya yaaaa kencengin


Saranghaeyo 😘😘😘😘😘


__ADS_2